
Sore pun tiba
Reza dan Cilla tengah menunggu hasil pemeriksaan, sebelumnya Cilla sudah melakukan USG untuk mengetahui perkembangan penyembuhan paska pengobatan selama sebulan terakhir.
Seorang perawat memanggil nama Cilla untuk masuk ke ruang dokter, mereka pun masuk dengan perasaan was-was. Keduanya duduk di depan dokter yang telah memegang hasil USG dan seperti sedang membaca hasilnya.
*Percakapan dalam bahasa Inggris
" Baiklah, setelah saya melihat hasilnya, kistanya sudah mulai menyusut dari ukuran sebelumnya. Melihat ini, kami tak perlu melakukan biopsi karena di lihat dari hasilnya, dengan menggunakan obat bisa mengobati kistanya." Jelas Dokter.
" Apa bisa sembuh dalam waktu cepat?" Tanya Reza.
" Bisa di bilang begitu, di lihat pengobatan dalam sebulan ini sudah menyusutkan sampai beberapa mili itu sudah bagus."
" Berapa lama kira-kira bisa sembuh total?"
" Kita lihat nanti, semoga secepatnya bisa hilang, jika cepat mungkin bisa 3 atau 4 bulan."
" Syukurlah, kami sangat senang mendengarnya." Reza dan Cilla terlihat bahagia.
" Iya, kalau begitu saya akan meresepkan obat seperti bulan lalu dan harus di minum secara rutin dengan teratur. Sebelum itu, apa ada keluhan yang terjadi selama pengobatan ini?"
" Begini dok, selama sebulan ini kami tidak berhubungan namun terakhir kali kami mencoba berhubungan namun istri saya mengeluh sakit. Tapi setelah meminum obat, sakitnya mulai reda. Apa berhubungan juga bisa mempengaruhi kistanya?"
" Sebenarnya itu jarang terjadi, mungkin ada beberapa yang merasakan seperti itu. Mungkin karena pikiran yang menimbulkan rasa khawatir atau tegang sehingga menimbulkan sugesti sehingga rasa sakit itu terasa. Kalau masih sakit setiap berhubungan, di harap jangan duly melakukannya.Jika tetap tak bisa menahannya, Ibu Cilla harus rileks dan jangan memikirkan yang jelek-jelek."
" Baik dokter. Kemungkinan memiliki anak, kira-kira berapa persen?"
" Tenang saja, ibu dan bapak pasti akan memiliki anak, ini hanya sedikit menghambat bukan membuat tak bisa memiliki anak. Mungkin dalam kasus yang berat bisa saja tapi ini hanya masih di tahap awal jadi bapak dan ibu tak perlu khawatir."
" Baik dokter, terimakasih."
" Kalau begitu, ini resepnya dan saya sudah menambah dosisnya untuk sebulan ke depan. Semoga ibu Cilla lekas sembuh."
" Sekali lagi terimakasih banyak, dok."
Reza dan Cilla keluar dari ruang dokter dan terlihat rasa lega di wajah mereka berdua. Karena harapan mereka untuk sembuh dan memiliki seorang anak bisa dapat terealisasikan.
Tanpa di ketahui mereka berdua, tanpa sengaja Tiffany melihat Reza dan Cilla keluar dari ruangan dokter tersebut, dia penasaran kenapa Cilla dan Reza keluar dari ruangan dokter kandungan. Apakah Cilla sedang hamil? Atau hal lain yang bisa membuat mereka harus ke dokter kandungan? Banyak pertanyaan dalam pikirannya karena rasa penasarannya yang sangat besar.
Ketika Reza dan Cilla sudah cukup jauh, Tiffany pun berjalan menuju ruang dokter tersebut lalu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu sekalipun.
*Percakapan dalam bahasa Inggris
" Tiffany? Ada apa kamu kesini?" Dokter terlihat mengenal Tiffany.
" Aku cuma mau tahu soal sepasang suami istri yang baru saja keluar dari ruangan ini."
" Oh.. Bu Cilla dan Pak Reza, apa kamu kenal mereka?"
" Yah... Bisa di bilang begitu. Memangnya mereka memeriksakan apa?"
" Sepertinya kamu penasaran, tapi om tak bisa memberitahu kamu begitu saja, karena ini menyangkut privasi pasien."
" Ayolah om... Aku kan keponakan kesayangannya om, aku keponakan om satu-satunya kan. Ayolah, mereka teman-teman aku jadi aku khawatir, maka kasih tahu aku apa masalah mereka. Please ... " Tiffany mencoba merengek untuk mengetahui sesuatu yang membuatnya penasaran.
" Ok lah, tapi ini hanya kali ini saja. Karena mereka teman kamu, om akan memberitahu kamu. Mereka datang ke sini untuk memeriksakan bu Cilla yang memiliki riwayat penyakit Kista dan untung saja masih tahap awal dan tidak mengganggu kehamilan. Makanya mereka berobat pada Om."
" Apa mereka akan punya anak?"
" Tentu saja, jika kistanya sembuh mereka pasti akan memiliki anak."
" Oh begitu... Apa... Om bisa membuat mereka untuk tak memiliki anak?" Ucap Tiffany seperti banyak rencana dalam kepalanya.
" Apa maksud kamu?" Dokter tersebut terlihat terkejut.
" Bukan benar-benar tak akan memiliki anak, tapi aku minta om untuk membuat mereka menunda memiliki anak, seperti om bilang kalau penyakitnya semakin parah atau membuat mereka untuk tak berhubungan suami istri, atau apalah yang membuat mereka bisa menunda kehamilan."
" Maaf om tak bisa, itu perbuatan buruk dan pasti akan merusak reputasi Om sebagai dokter. Dan juga itu melanggar kode etik kedokteran." Om dokter menolak permintaan Tiffany.
" Tapi Om...."
" Udah, kamu jangan aneh-aneh, cepat keluar. Sebentar lagi pasien om selanjutnya akan masuk, kalau tak ada urusan lagi, keluarlah." Ucap dokter tegas.
Dengan terpaksa Tiffany pun keluar dari ruangan tersebut, dengan tampang kesal dan kecewa, rencana yang tadinya ingin dia susun malah tak terlaksana.
__ADS_1
" Sialan, kenapa sih si Om sok suci, cuma kayak gitu saja tak bisa bantu ponakan sendiri. Lihat saja, aku punya cara lain untuk membuat hubungan Cilla dan Reza merenggang, setelah itu aku akan masuk dalam kehidupan Reza dan membuatnya meninggalkan Cilla memilihku." Gerutu Tiffany.
___________
Di dalam perjalanan, ponsel Cilla bergetar, lalu Cilla mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Bundanya.
Cilla : Hallo bunda!!
Sarah : Hallo sayang, kamu sedang apa? Belakangan kamu sudah jarang menghubungi bunda.
Cilla : Aku sedang dalam perjalanan pulang, oh iya maaf yah bunda soalnya aku sedikit kurang enak badan.
Sarah : Ya ampun, pantas saja perasaan Bunda belakangan ini tidak enak dan Bunda kepikiran kamu terus. Kamu sakit apa?
Cilla : Cuma sakit ringan aja, mungkin aku kena flue karena memang cuaca di sini sedang musim dingin.
Sarah : Kamu harus selalu jaga kesehatan, jangan lupa pakai pakaian yang hangat. Bunda gak mau kamu sakit, apalagi kita berjauhan seperti ini.
Cilla : Iya Bunda, aku akan mengikuti saran Bunda.
Sarah : Apa kamu bersama suamimu?
Cilla : Iya, Reza sedang menyetir. ( Cilla meletakkan ponsel di telinga Reza).
Reza : Hallo bunda, apa kabar? Maaf kami tak sering menghubungi, kami terlalu sibuk dan Cilla juga kurang sehat.
Sarah : Iya gak apa-apa, tolong jaga Cilla dan perlakukan putri bunda dengan baik, bunda yakin kamu pasti bisa melindungi Cilla.
Reza : Iya bunda, aku pasti menjaga dan melindungi Cilla.
Cilla : Bunda juga harus jaga kesehatan, aku kangen banget sama bunda. Kalau aku sudah ada waktu, aku akan pulang ke Indonesia.
Sarah : Iya, Bunda sangat berharap kamu bisa pulang. Yasudah, selalu jaga kesehatan dan jadilah istri yang berbakti, bunda juga berharap kalian memikirkan untuk segera memiliki anak.
Cilla : Iya Bunda, kami juga sedang berusaha dan semoga secepatnya bisa memberi kabar baik untuk Ayah dan Bunda.
Sarah : Yasudah, kamu istirahat saja biar cepat sembuh, Bunda sayang kamu.
Cilla : Aku juga sayang bunda.
" Mas dengar Cilla tak enak badan, apa dia tak apa-apa?"
" Katanya sih hanya kena flu biasa, katanya baik-baik saja."
" Syukurlah, mungkin rasa tak enak kamu itu karena Cilla sakit."
" Iya mas, firasat seorang ibu selalu benar."
" Terimakasih sudah menjadi ibu yang baik untuk Cilla."
" Iya mas, Cilla kan putri kita satu-satunya."
___________
Elya dan Adrian berada di sebuah taman dimana banyak sekali orang untuk berolahraga. Mereka pun telah menggunakan pakaian olahraga, untuk joging pagi bersama.
Warna pakaian mereka pun senada, sebenarnya mereka tak berencana memakai pakaian yang mirip namun kebetulan yang membahagiakan sehingga mereka benar-benar terlihat sebagai pasangan.
Setelah 2 kali putaran mengelilingi taman, Elya merasa capai lalu meminta untuk beristirahat di sebuah bangku yang berada di taman tersebut, Adrian memilih bangku yang terletak di bawah pohon yang rindang agar teduh terhindar dari panas.
Mereka pun duduk di bangku tersebut, Adrian memperhatikan keringat yang menetes dari wajah Elya maka ia berinisiatif untuk pergi membeli minuman untuk mereka.
" Kamu pasti haus, aku beli minuman dulu yah. Tunggu di sini sebentar."
Elya hanya menjawab dengan anggukkan, dia melap keringat yang membasahi dahi dan wajahnya. Adrian segera pergi untuk mencari minuman untuk mereka berdua. Tak butuh waktu lama Adrian membawa 2 botol air mineral dingin dan memberikannya kepada Elya.
" Makasih ian." Ucap Elya sambil tersenyum.
" Kamu sepertinya jarang berolahraga, terlihat kamu sangat kelelahan walaupun kita hanya keliling taman sebanyak 2 kali."
" Iya, semenjak aku kesini, aku gak pernah olahraga selain sibuk dengan pekerjaan, aku juga tak ada teman untuk di ajak berolahraga."
" Oh gitu, kamu beruntung dong kenal sama aku, biar kita bisa sering olahraga. Kita jadi bisa sehat dan bugar bareng-bareng."
" Iya, bener." Elya menyeka keringat di dahi Adrian, mendapat perhatian seperti itu membuat Adrian merasa senang tanpa sadar wajahnya menjadi memerah.
__ADS_1
" Kamu kenapa?"
" Ah, gak, gak apa-apa." Adrian meneguk airnya dengan cepat hingga ia pun tersedak.
" Kamu itu kenapa sih? Kalau minum pelan pelan-pelan.
" Uhuk... Uhuk... Iya... Uhuk... Habisnya, aku haus." Ucap Adrian mencari alasan sambil tetap menahan batuknya.
Elya mencoba membantu Adrian dengan menepuk pelan punggungnya yang mungkin saja bisa sedikit meredakan rasa tersedaknya.
" Bagaimana kalau kita sarapan? Aku ada tempat yang biasa aku datangi setelah olahraga, makanan di sana rendah kalori hingga baik untuk kesehatan."
" Boleh juga, kebetulan sekarang aku mulai laper."
" Yasudah, kita kesana. Kamu masih kuat jalan, kan? Apa mau aku gendong?"
" Apaan sih? Yah aku masih bisa lah, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan."
" Yah gak apa, kali-kali hehehe."
Mereka pun berjalan menuju tempat yang di tuju, terlihat tempat tersebut cukup ramai dengan orang-orang yang telah selesai berolahraga. Elya dan Adrian masuk ke tempat tersebut lalu duduk di kursi kosong yang masih tersedia.
Seorang pelayan menghampiri mereka, menyerahkan buku menu untuk memilih makanan yang akan mereka pesan. Namun Adrian langsung saja memesan salad yang biasa dia santap setelah olahraga, jus mangga kesukaannya dan Elya memesan jus strawberry agar terasa segar setelah berolahraga.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, pesanan pun datang dengan tampilan yang sangat cantik. Salad buah yang terlihat segar dan enak walaupun hanya di sajikan tanpa banyak hiasan.
Elya memakannya dan dia sangat terkejut dengan rasanya yang begitu enak, saus yang di bubuhkan pada berbagai macam buah-buahan yang sangat lengkap sangat lezat dan lumer dalam mulutnya. Elya sangat lahap memakannya hingga Adrian hanya bisa menatap pacarnya itu dengan senyum senang.
_________
Sesampainya di rumah, Cilla dan Reza segera memasuki kamar dan mereka duduk bersantai di sofa kamar mereka.
" Kamu kenapa tak jujur saja sama bunda tentang penyakit kamu?"
" Tak perlu Za, aku gak mau membuat Bunda khawatir."
" Tapi tetap saja Bunda masih terlihat khawatir, tadi aku dengar saat telpon, Bunda katanya merasakan perasaan tak enak. Mungkin ikatan batin kalian sangat erat."
" Iya, maka dari itu aku ingin menutupinya sampai pengobatan selesai. Kamu jangan kasih tahu bunda tanpa mengkonfirmasikannya terlebih dahulu padaku."
" Aku tak akan begitu, kamu tenang saja."
Cilla diam sejenak lalu berkata dengan ragu, " Za!"
" Yah ada apa?" Reza menatap Cilla dan memegang tangannya.
" Kamu janji yah, jangan pindah kelain hati atau mencari perempuan lain."
" Kok kamu bilang begitu sayang? Tak ada terlintas sedikitpun dalam pikiranku untuk mencari wanita lain. Kamu kenapa sih tiba-tiba seperti ini?"
" Bukan apa-apa, hanya saja.... Kita kan dalam sebulan ini harus menahan untuk berhubungan, aku takut kamu tak bisa menahannya hingga mencari pelampiasan pada orang lain."
" Apa? Gak akan, aku gak akan seperti itu. Kamu itu wanita satu-satunya yang aku inginkan, aku tak sepicik itu tega mengkhianati kamu hanya karena masalah *****." Reza sedikit meninggikan nada suaranya.
" Maaf, aku hanya khawatir saja." Cilla menundukkan kepalanya merasa menyesal dengan perkataan yang ia ucapkan.
" Percayalah, aku tak akan melirik wanita lain. Aku bisa menahannya, kamu tak perlu khawatir." Reza merangkul tubuh istrinya hingga kepala Cilla bersandar di dadanya.
Terimakasih tuhan, Kau telah memberiku suami yang baik. Semoga aku tak memiliki keraguan lagi pada suamiku agar pernikahan kami selalu di penuhi oleh kepercayaan dan kasih sayang
_________
Sementara itu, terlihat di sebuah parkiran. Tiffani dan seorang pria berkulit hitam dengan tubuh tinggi besar dan berotot seperti sedang berbincang sesuatu yang serius.
Tiffany memberikan sebuah amplop coklat yang terlihat tebal di berikannya kepada pria tersebut. Tiffany seperti memberi instruksi kepada pria tersebut, entah tentang apa namun pria tersebut hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang di katakan Tiffany.
" Lakukan sesuai yang aku katakan."
" Baik."
Tiffany tersenyum menyeringai, ia merencanakan sesuatu dan menyuruh orang tersebut untuk melakukan sesuatu sesuai rencananya.
" Lihat saja nanti, dengan rencana ini berjalan dengan lancar, kamu pasti akan menjadi milikku dan meninggalkan wanita yang tak berguna itu." Gumam Tiffany dengan percaya diri, ia masuk kedalam mobilnya yang berwarna merah dan melakukannya keluar dari parkiran tersebut.
Bersambung...
__ADS_1