
Yu Muha terus terbang menggunakan pedang terbang selama setengah hari dan sekarang sudah sore hari. Yu Muha memang terbang dengan kecepatan yang lambat karena sedang tidak terburu-buru tapi Yu Muha tidak menyangka kalau hutan ini sangat luas dari yang dibayangkannya.
Yu Muha turun untuk beristirahat karena Yu Muha kelelahan juga sudah tebang selama setengah hari.
“sebaiknya aku berkemah disini saja hari ini”
Yu Muha mengeluarkan sebuah tenda yang dia beli di kota Tosan dulu. Dan mendirikan tenda tersebut
“akhirnya aku menggunakan tenda ini juga”
Yu Muha juga mengeluarkan sebuah mangkuk besar dan seekor ayam segar dari cincin angkasa.
“luar biasa ini masih seperti saat aku masukan dulu”
Yu Muha membuat api untuk memanggang ayam tersebut sekarang Yu Muha sudah memiliki bumbu untuk ayam tersebut yang membuat Yu Muha cukup senang karena merindukan saat –saat seperti ini dia teringat saat dulu setelah desanya hancur dia harus berjuang mencari makan dihutan sembari menyembuhkan kakinya yang terluka dan kenangan bersama dengan gurunya.
Cukup lama Yu Muha memanggang ayamnya tapi itu semua terbayarkan dengan hasil yang didapatnya ayam yang dipanggangnya masak dengan sempurna dan bumbunya meresap dengan baik.
Yu Muha bergegas memakan ayam tersebut dan setelah makan Yu Muha masuk kedalam tenda untuk beristirahat.
Ning Hilan yang pulang ke panti asuhan seperti biasa anak-anak panti menyambutnya, Ning Hilan masuk kedalam panti asuhan dan tidak melihat siapapun. Dan masuk ke dapur ada Ning Yubin yang sedang memasak untuk makan siang.
“Yu’er ibu tidak melihat tuan Yu apa dia keluar”tanya Ning Hilan
“apa tuan Yu tidak ke ladang menemui ibu, tadi pagi setelah serapan dia berkata ingin melihat ibu di ladang” jawab Ning Yubin.
__ADS_1
“apa dia mengatakan akan melihat ke ladang ibu tidak bertemu dengan tuan Yu di ladang bahkan dia tidak terlihat di ladang tadi” ucap Ning Hilan.
Ning Hilan keluar dari panti asuhan dan saat melewati meja yang berada di teras Ning Hilan melihat ada sesuatu itu adalah sebuah kantong Ning Hilan mengangkat kantong tersebut dan didalamnya terdapat 100 koin emas dan ada juga sebuah kertas di bawah kantong tersebut. Ning Hilan mengambil dan membacanya.
“maaf bibi Ning aku pergi tanpa pamit kepada bibi aku sudah melihat bibi berkerja di ladang sebelum aku pergi, aku merasa senang melihat semua yang ada di panti asuhan bisa hidup dengan baik, aku akan pergi berkelana entah kemana untuk mencari orang-orang yang bernasib kurang baik” Yu Muha.
Membaca itu Ning Hilan meneteskan air matanya karena dia merasa tidak akan bertemu dengan penolongnya tersebut dalam waktu yang lama.
Semua sekte aliran putih sudah mulai berangkat menuju sekte Gunung Seratus Pedang untuk mengikuti turnamen bela diri walaupun sekte kecil dan juga menengah sudah mengetahui tidak akan bisa memenangkan turnamen karena sudah pasti akan dimenangkan oleh murid sekte besar seperti yang sebelumnya tapi mereka tetap akan hadir mengikuti turnamen guna memperkuat ikatan antara sekte aliran putih.
Di sekte pedang api murid yang akan mengikuti turnamen bela diri yaitu Lu Yun dan Sin Tong berangkat bersama dengan Lin Chen dan Lin Wenli menuju turnamen mereka tidak menggunakan kendaraan untuk pergi melainkan dengan berjalan kaki karena jalan yang akan dilalui kebanyakan adalah hutan demi menghemat waktu perjalanan begitu juga dengan semua sekte yang menghadiri turnamen.
Tiga hari berlalu Lin Wenli yang merupakan satu-satunya perempuan, yang memiliki stamina yang tidak sama dengan laki-laki sudah merasa kecapekan karena sudah berjalan tanpa henti dari pagi hari tanpa beristirahat
“kita harus sampai di sebuah kota sebelum malam hari” ucap Ruan Yukai.
“ayo kakak jangan menyusahkan tetua Ruan” ucap Lin Chen.
Lin Chen walaupun dia juga kelelahan tapi dia tetap memaksakan dirinya terus berjalan begitu juga dengan Sin Tong dan Lu Yun mereka juga kelelahan tapi masih memaksakan diri, Ruan Yukai yang mengetahui bahwa semua murid yang bersamanya sudah kelelahan tetap melanjutkan perjalanan dia menganggap ini adalah latihan fisik untuk mereka.
Ruan Yukai di temani oleh seorang lagi yang bernama Tung Lung yang juga tetua yang baru saja di angkat menggantikan seorang tetua yang sudah pensiun.
“Tetua Ruan apa kita tidak bisa berhenti sejenak” ucap Tung Lung.
“tetua Tung apa tetua juga kelelahan” ucap Ruan Yukai.
__ADS_1
“tentu tidak aku hanya kasihan kepada mereka” ucap Tung Lung.
“biarkan saja tetua Tung, biar mereka bisa melatih stamina mereka sedikit” ucap Ruan Yukai.
Tung Lung tidak bersuara kembali hanya berjalan disamping Ruan Yukai. Jalan yang dilalui adalah jalanan menanjak dan turunan karena mereka naik turun bukit untuk memotong jalan. Akhirnya kelompok sekte pedang api sampai di kota yang di tujunya tepat disore hari. Keempat murid itu langsung terduduk di depan gerbang kota.
“ahhh. Itu melelahkan sekali” Ucap Lu Yun.
“aku kira kakiku akan lepas” ucap Lin Wenli.
“sepertinya kalian harus berlatih fisik setelah kalian pulang ke sekte nanti” ucap Ruan Yukai.
Sekte Pedang Api memang memiliki peraturan tentang latihan fisik untuk muridnya latihan fisik akan mulai ditekankan untuk murid yang sudah mencapai pendekar Sakti tapi apabila mau melatih fisik sebelum mencapai pendekar suci diperbolehkan itu semua diserahkan kepada muridnya, tapi kalau sudah mencapai pendekar suci maka akan ada tetua yang akan membimbing latihan fisiknya dan itu sudah dipastikan akan sangat berat. Karena latihan yang dijalani sangat berat sehingga peraturan tersebut dibuat.
“dan kau Lin Chen teknik yang diberikan oleh gurumu sebuah teknik yang cukup hebat apabila kau melatih fisikmu dengan baik itu akan menjadikan sebuah teknik yang sangat mematikan” ucap Ruan Yukai.
Semua tetua di sekte pedang api sudah mengetahui jurus tarian burung merak yang di berikan Yu Muha kepada Lin Chen tapi mereka tidak ada yang berkeinginan untuk meniru atau mencoba mempelajarinya karena menghormati Yu Muha sebagai pemiliki jurus tersebut, tapi Ruan Yukai berkeinginan untuk meminta izin kepada Yu Muha apabila bertemu dengannya untuk memperbolehkan sekte pedang api mempelajari jurus tersebut.
Setelah memberikan waktu beristirahat untuk murid-murid, Ruan Yukai mulai bersuara.
“apa kalian akan terus disini ayo kita masuk ke kota untuk mencari tempat istirahat yang lebih baik dan apa kalian tidak lapar” ucap Ruan Yukai sambil berjalan kearah gerbang kota.
Mendengar itu semua murid langsung semangat karena Ruan Yukai akan membawa mereka makan enak karena beberapa hari kemarin mereka hanya makan seadanya.
Kelompok sekte pedang api memasuki kota dan langsung mencari restoran untuk makan karena tidak makan dari pagi hari tadi. Setelah menemukan sebuah restoran mereka masuk dan memesan makanan. Mereka semua tidak akan khawatir soal uang karena sudah dibekali sejumlah uang oleh sekte pedang api dan keluarga Lin karena kedua anaknya juga pergi bersama
__ADS_1