KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
15. "Ketika Senyummu Hadir"


__ADS_3

Anggi


Bonding cluster dimulai tepat setelah kenyang acara makan bersama. Dibuka oleh Zaki sebagai korsubdiv (koordinator sub divisi). Dilanjutkan sambutan dari Damas korcofas (koordinator co fasilitator), mewakili kordum (koordinator umum) yang terlambat, sebab masih harus menghadiri acara di tempat lain.


Bonding kali ini termasuk spesial, karena kehadiran panitia lintas divisi yang lumayan lengkap. Jadilah usai sambutan, acara dilanjutkan dengan perkenalan. Ada Rayyan PSDM (pengembangan sumber daya manusia), Kahfi DDD (desain, dekorasi, dan dokumentasi), Angky keamanan, Maya dan Okta medis, serta Johan materi.


Meski yang hadir hampir full team, tapi acara malam ini no spaneng spaneng club. Usai perkenalan, agenda selanjutnya diisi dengan games seru.


Dimulai dengan games tebak nama, tebak kata, lalu tebak karakter orang -ini yang paling seru-. Dan seperti biasa, kelompok yang kalah akan mendapat hukuman. Apalagi kalau bukan menyanyi dangdut.


'Hei sayangku


hari ini aku syantik


syantik bagai bidadari


bidadari di hatimu'


'Hei, sayangku


Perlakukanlah diriku


Seperti seorang ratu


Kuingin dimanja kamu'


(Siti Badriah, Lagi Syantik)


Elva dengan semangat 45 memimpin kelompoknya yang mendapat hukuman.


Bahkan Angky yang memiliki setelan angker khas anak Menwa, ternyata bocor banget dan hafal lagu Konco Mesra.


'Yen tak sawang sorote mripatmu


jane ku ngerti ono ati sliramu


nanging onone mung sewates konco


podo ra wanine ngungkapke tresno'


'Yen ku pandang gemerlap nyang mripatmu


Terpampang gambar waru ning atimu


Nganti kapan abot iku ora mok dukung


Mung dadi konco mesra mergo kependem cinta'


(Nella Kharisma, Konco Mesra)


Tak kalah semangat dari Elva, Angky tanpa ragu menuntaskan Konco Mesra dengan suara lumayan merdu. Angky bahkan ingin kembali menyanyikan lagu Sayang. Namun langsung ditolak mentah-mentah oleh seluruh audiens. Sebab, semua juga ingin mendapat hukuman, untuk seru-seruan bernyanyi dangdut.


Semua terbahak-bahak menertawakan mereka yang mendapat hukuman. Melepas penat tenaga dan pikiran yang terforsir. Guna mempersiapkan agenda terbesar tahunan, yaitu Ospek Universitas.


"Hatsyii ... hatsyii ...." sambil tertawa, ia sering tak mampu menahan bersin. Membuat Jihan dan Difa yang sekelompok dengannya beberapa kali menoleh.


"Maaf, dingin ...." ia meringis sambil menyusut hidung menggunakan tissue. Untungnya, ia telah membekali diri dengan tissue yang cukup banyak.


Usai saling menertawakan satu sama lain, games dilanjut dengan simulasi ice breaking, yang akan dipakai saat hari H.


Ini pun tak kalah seru, beberapa ice breaking adalah yang terbaru dan pastinya sangat mengasyikkan.


Keriaan tak berhenti di sini, karena acara dilanjutkan dengan api unggun dan barbekyu di halaman villa.


Terlihat Zaki dan teman-teman telah mempersiapkan api unggun lumayan besar, yang mampu menghangatkan mereka di tengah suasana dingin yang menusuk.


Tak lupa dilengkapi dengan hidangan jagung dan sosis, untuk menemani mereka bermalam panjang.


Ia masih bergabung dengan Ayu, Dini, dan beberapa cofas teknik yang dikenalnya lumayan dekat. Sedang bersama-sama mengupas jagung, dan mempersiapkan bumbu olesan. Ketika terdengar petikan gitar dari arah api unggun.


Rupanya Zaki dan Rayyan berduet memetik nada Cinta dan Rahasia nya Yura dan Glenn. Alunan nada yang apik, otomatis mengalihkan perhatian mereka semua. Membuat konsentrasi berpindah ke tengah api unggun. Mengitari duet gitar yang mengalunkan nada enerjik.


Untunglah acara kupas mengupas telah selesai. Usai mencuci tangan, ia pun bergabung di antara Ayu dan Elva, yang kali ini sedang menikmati lagu Sayang dari Angky. Wah, belum tuntas rupanya ndan menwa yang satu ini. Yah, daripada penasaran yekan.


'Sayang, opo kowe krungu jerite atiku?


Mengharap engkau kembali


Sayang, nganti memutih rambutku


Ra bakal luntur tresnoku'


'Wes tak cobo nglalekke jenengmu soko atiku


Sak tenane ra ngapusi isih tresno sliramu


Pepuja neng ati nanging kowe ora ngerti


Kowe sing tak wanti-wanti malah jebul saiki'


'Kowe mblenjani janji


Jare sehidup semati nanging opo bukti


Kowe medot tresnoku demi wedokan liyo


Yowes ora popo Insya Allah aku iso, lilo'


'Meh sambat kalih sinten


Yen sampun mekaten


Merana uripku


Aku welasno, kangmas

__ADS_1


Aku mesakno, aku


Aku nangis


Nganti metu eluh getih putih'


(Via Valen, Sayang)


Setelah Angky puas unjuk gigi, kini giliran Elva menyumbang puisi.


"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana ...."


Semua terhanyut dalam romantisme. Kalimat puisi yang syahdu ditambah petikan gitar nan lembut yang seolah tercipta khusus untuk mengiringi. Membuatnya otomatis mengencangkan pelukan pada diri sendiri. Yang telah berbalut jaket warna biru terfavorit. Jaket berinisial DK.


Bukan Elva namanya jika tak semangat, satu puisi manalah cukup. Elva pun menutup performnya dengan lantunan puisi berjudul Hanya. Dengan diringi petikan gitar apik nan syahdu, duet kece dari Zaki dan Rayyan.


'Hanya doaku yang bergetar malam ini,


dan tak pernah kau lihat siapa aku,


tapi yakin aku ada dalam dirimu ....'


(Sapardi Joko Darmono, Hanya)


Semua bertepuk tangan. Beberapa orang bahkan memberikan standing ovation, bagai menyaksikan gol kemenangan tim favorit di laga final Liga Champions Eropa.


Acara terus berlanjut mengisi malam yang dingin. Beberapa penampilan tak kalah apik disuguhkan para peserta bonding.


Kini, ia baru saja menghabiskan jagung bakarnya. Ketika alunan gitar break sesaat dan Zaki angkat suara.


"Hampir semua yang mewakili kelompoknya udah tampil. Beberapa dengan partner masing-masing. Partner aku mana nih ...."


Wah, ia jelas menolak mentah-mentah usul Zaki.


"Anggi, ayo kita tampilkan sesuatu untuk teman-teman semua ...." Zaki melihat ke arahnya.


Ia meringis kesal sambil memberi kode BIG NO. Tapi Zaki tak peduli. Terus saja memanggil namanya.


"Come on ...." Zaki tertawa.


"Anggi! Anggi!" Elva si jahil malah menjadi kompor meleduk.


"Nih orangnya nih!" dengan entengnya Elva menunjuk hidungnya. Membuat semua mata tertuju padanya, dan tepuk tangan mulai menggema.


"Ayo ... kapan lagi ...." Zaki makasih berusaha membujuknya. "Hitung-hitung latihan buat hari H."


Akhirnya, dengan berat hati ia pun bangkit. Setelah sebelumnya kembali bersin-bersin.


"Semangkaaa! Semangat kaka!" Elva dan Ayu memasang senyum dari telinga ke telinga. Sementara ia hanya mencibir.


"Nggak bener, deh," gerutunya setelah duduk di antara Zaki dan Rayyan.


"Kenapa sik ... takut amat?" Zaki tertawa. "Kemarin debat sama kating ... segarang harimau."


"Debat sama siapa?" di sela-sela petikan gitar, Rayyan tertarik ingin tahu.


"Siapa lagi ...." Zaki kembali tertawa. Senang pancingannya berhasil. Sementara Rayyan mengangkat alis meminta clue.


"Aku balik lagi, nih," ancamnya kesal.


"Pisss ...." Zaki meringis sambil mengacungkan tanda V.


"Yuk, Nggi, favorit kamu, ya," Rayyan yang sekelas dengannya, tentu hapal betul setelan show time andalannya. Jika dipaksa tampil di acara kampus.


Namun ia berpendapat lain. Suasana malam yang dingin, angin berhembus perlahan menerpa wajah, api unggun yang menghangatkan, serta wajah-wajah ceria penuh tawa, mengingatkannya pada suatu masa.


"Lagu jadul nggak apa-apa?" ia tersenyum dengan hati berbunga.


"Siaapppp," Zaki dan Rayyan menjawab bersamaan.


'Detik-detik tlah berlalu


aku sabar menantinya


sampai nanti kan saatnya ....'


(Tika Bisono, Ketika Senyummu Hadir)


***


Rendra


Malam ini jelas menjadi malam panjang baginya. Bersama dengan Aji dan Faisal, mereka harus menghadiri empat acara bonding sekaligus, di empat tempat yang berbeda.


Mereka akhirnya harus memetakan rencana, agar semua bisa terakomodasi dengan baik. Dan memilih rute dari jarak yang terdekat.


Hingga sekarang, tempat bonding dengan jarak yang terjauh mendapat giliran terakhir. Sekaligus menjadi tempat mereka menginap malam ini.


"Udah api unggun," komentar Faisal yang pertama keluar dari mobil, saat melihat jilatan api yang menyala-nyala di halaman villa.


"Asyiiik, nih!" Aji menyusul keluar sambil menarik resleting jaketnya. "Dingin banget."


Ia menjadi yang terakhir keluar. Setelah memakai jaket favorit, jaket hijau, sekaligus menenteng sebuah gitar.


"Wah, siapa yang lagi nampil, tuh?" Faisal penasaran, dan mulai berjalan dengan langkah cepat memasuki halaman villa.


"Boljug, serasa acara golden memories," Aji mengikuti langkah Faisal. Disusul dirinya yang setengah berlari.


"Ketika senyummu hadir


ketika hati bicara


dan saling bertegur sapa


terlintas bahagia....."

__ADS_1


(Tika Bisono, Ketika Senyummu Hadir)


Faisal dan Aji langsung mengambil duduk, di tempat yang kosong di antara barisan peserta laki-laki. Sementara ia masih berdiri terpaku di barisan paling belakang. Dengan dada yang mendadak berdesir aneh. Demi mendengar suara lembut, yang kini tengah memenuhi udara di atas api unggun.


"Ketika senyummu hadir


ketika mata bicara


dan saling memandang mesra


di dalam cintamu...."


(Tika Bisono, Ketika Senyummu Hadir)


Ia sampai harus menelan ludah untuk mengatur degup jantung yang mendadak tak beraturan. Kemudian menyipitkan mata dengan rahang mengeras. Sembari memperhatikan lekat-lekat, gadis yang kini sedang duduk di antara Zaki dan Rayyan. Bernyanyi sambil memejamkan mata. Seolah begitu menikmati setiap nadanya.


She's beautiful (dia cantik). Really (sungguh).


***


Anggi


Ia tak pernah lupa waktu itu, kemah Persami ambalan Pandawa Srikandi di lapangan sekolah. Saat api unggun, tak ada yang bersedia tampil untuk mewakili sangga kelas mereka. Semua mundur kebelakang. Bahkan Chris yang bocor pun menggelengkan kepala dengan malas.


Dan siapa lagi yang tampil kalau bukan ketua sangga, Dio. Yang mau tak mau harus maju sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang pemimpin. Ceile.


"Sama kamu, ya," tanpa basa-basi Dio telah menarik tangannya.


Ia yang sedang bengong tak sempat menghindar. Mau- mau saja ditarik ke tengah lapangan. Jika orang lain yang menariknya, bisa dipastikan ia akan marah-marah, tapi ini Dio ....


"Aku nggak bisa," bisiknya antara grogi dan malu. Grogi karena berdiri di tengah lapangan atau grogi karena ditarik Dio, nah ini yang rancu.


"Kita nyanyi yang kayak waktu dulu," bisik Dio. "Waktu anniv ayah sama bundaku."


"Tapi kan dulu kamu pakai piano ...."


"Anggap aja ini piano," Dio terkekeh sambil meraih gitar yang diangsurkan kakak pembina.


"Tapi suaraku jelek," ia jelas tak percaya diri dengan suaranya yang sangat standar. Bagai remahan rengginang di dasar toples.


"Suara kamu lumayan, kok," Dio, seperti biasa, tersenyum menenangkan.


Tanpa harus menunggu lama, alunan lembut petikan gitar mulai terdengar.


"Kamu bisa main gitar?" ia jelas terkejut. Sepanjang pengetahuannya, Dio lebih dikenal jago bermain piano. Tak pernah sekalipun terlihat memegang gitar, apalagi memainkannya.


"Kalau salah-salah dikit ... harap maklum, ya," lagi-lagi Dio terkekeh. "Masih hapal liriknya?"


Ia mengangguk sambil tersipu malu. Karena terpesona dengan gaya elegan Dio. Pipinya bahkan mendadak memanas dengan sendirinya.


Kemudian Dio mengedipkan sebelah mata, membuatnya semakin terpana dengan wajah yang semakin memanas, pertanda apakah itu? Jangan jangan ....


"Mulai," bisik Dio.


Oh, ternyata kedipan tadi artinya mulai bernyanyi. Baiklah. Ia pikir ....


'Detik-detik tlah berlalu


Aku sabar menantinya


Sampai nanti kan saatnya


Hadirnya apa yang kudamba


Dalam cinta


Kutunggu isyarat matamu


Adakah perhatianmu


Sementara hati ini telah bicara


Menanti saat...


Ketika senyummu hadir


Ketika hati bicara


Dan saling bertegur sapa


Terlintas bahagia


Ketika senyummu hadir


Ketika mata bicara


Dan saling memandang mesra


Di dalam cintamu


Cintaku...


(Tika Bisono, Ketika Senyummu Hadir)


***


Catatan :


Bonding cluster : kebersamaan gugus


Korsubdiv. : koordinator subdivisi


Korcofas : koordinator cofas


DDD. : desain, dekorasi, dokumentasi

__ADS_1


__ADS_2