
Rendra
Hari ini menjadi hari paling chaos baginya. Dimulai tepat jam 7 pagi jadwal pertemuan dengan dosen pembimbing untuk mendengarkan preferensi pribadi dari beberapa calon dosen penguji dalam mempersiapkan fase seminar.
Disusul dengan menjadi peserta pemakalah di Seminar Nasional Tahunan Mahasiswa Teknik Industri hingga siang hari.
Lalu mewakili Manjomaju bersama Rakai mengawal Groundbreaking pembangunan RS di Kulonprogo.
Ditutup dengan menjadi salah satu speaker di Konferensi yang diselenggarakan oleh Kementrian Tenaga Kerja dengan tema Peran Pemuda di Era Digital.
Setelah tugas mendampingi Menaker dan acara ramah tamah selesai. Dandy, seorang kenalan sesama anggota himpunan pengusaha muda mengajaknya kongkow di sebuah Grha Spa, Massage & Reflexiology ternama yang terletak tak jauh dari hotel tempat konferensi berlangsung.
"Rileks diluk bro, nggo menghilangkan stres (Rileks sebentar bro, untuk menghilangkan stres)," seloroh Dandy ringan.
Ia merasa sudah lama sekali tak melakukan hal-hal semacam ini. sampai lupa kapan kali terakhir.
Terutama sejak setahun kemarin ia memutuskan untuk mulai 'bergaya hidup sehat'. Melepas adrenalin hanya dengan pasangan tetap yang jelas terjamin kesehatannya.
Kunjungan ke tempat-tempat seperti Spa dan sejenisnya langsung terhenti. Meski banyak teman dan kenalan yang mengajak, ia tak bergeming.
Bahkan setelah putus dengan Frida, pemenuhan kebutuhan biologis tidak lagi menjadi prioritas. Terutama sejak si judes galak mulai mengusik kehidupannya, kegiatan 'enjoy enjoy' menjadi sangat tidak penting dan perlahan mulai sedikit terlupakan.
Bersama lima orang kenalan lain yang sepakat untuk 'rileks', mereka pun mulai bergerak menuju destinasi berikut. Namun begitu sampai di pintu masuk, petugas menginformasikan bahwa parkir hanya bisa menampung tiga mobil lagi. Sementara ia berada di urutan terakhir.
"Mas bisa parkir di luar kalau mau," begitu informasi dari petugas. "Nanti ada yang jaga."
Tapi aneh, entah darimana datangnya sikap impulsif yang mendadak lebih mendominasi kali ini, "Wah, kalau gitu nanti aja deh."
"Lha, piye? Ra sido? (Lha, bagaimana? Tak jadi?)," Dandy yang telah selesai parkir dan keluar dari mobil heran melihatnya ragu.
"Aman kok, ono (ada) kang parkir," sahut pemilik mobil keempat yang akhirnya parkir di bahu jalan.
"Sesuk meneh. Saiki lagi nggak mood (Besok lagi. Sekarang sedang tidak mood)," jawabnya asal.
"Yo wis, ngko tak calling calling (Ya sudah, nanti tak calling calling)," Dandy mengangkat bahu membiarkannya pergi.
"Siaappp," jawabnya sambil mengacungkan jempol langsung tancap gas keluar dari area Spa.
Lalu kemana ia akan pergi? Ya, as usual, Mreneo selalu menjadi destinasi favorit di saat gabut. Hitung-hitung sekalian mengecek kerjaan Bagus dan teamnya.
Disinilah ia, menyusuri jalanan petang hari yang padat di jam sibuk orang pulang kantor. Membuat pergerakannya jadi sedikit terhambat. Sambil menunggu lampu merah berganti hijau, tangannya iseng menyalakan radio.
'Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri'
(Arsy Widianto feat Brisia Jody, Dengan caraku)
Ia mendecak begitu mendengar lagu yang sedang diputar dan langsung mengganti chanel.
'Aku tresno karo kowe
Nanging aku iso opo
Ngerteni kowe uwes nyanding uwong liyo
Aku kudu iso nerimo
Snadyan ati loro rasane
Mungkin kabeh iki wes dalan e'
__ADS_1
(Happy Asmara, Balik kanan wae)
"Sialan!" gerutunya demi mendengar lagu di chanel kedua dan langsung menggantinya lagi.
And i told you when you left me
There's nothing to forgive
But i always thought you'd come back
Tell me all you found was heartbreak and misery
It's hard for me to say, i'm jealous of the way
You're happy without me
(Labrinth, Jealous)
"Oy brengsek! Lagunya nggak ada akhlak semua!" makinya tertawa sumbang sambil memukul kemudi. Akhirnya lebih memilih untuk mematikannya.
Background suara knalpot mobil dan motor yang ada di sekitar serta lengkingan klakson tanda pengemudi yang tak sabar sepertinya terdengar lebih menyenangkan daripada harus mendengar lagu patah hati.
Akhirnya setelah berkutat dengan kemacetan yang menjemukan, ia sampai di halaman Mreneo yang parkirannya penuh tak bersisa.
"Penuh, bang," Mas Sono, petugas parkir Mreneo datang tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Disini aja dulu," saran Mas Sono menginstruksikan untuk parkir secara paralel di bahu jalan.
"Okeh," ia menurut.
"Nanti kalau kosong tolong pindahin biar nggak bikin macet," ujarnya setelah turun sambil menyerahkan kunci mobil.
"Siap, Bang."
"Piye kabare?" ia menepuk bahu Mas Sono sekilas sebelum melangkah masuk ke dalam.
Mreneo di malam hari hampir selalu ramai pengunjung. Kebanyakan mahasiswa yang nongkrong mengisi waktu luang atau malah sibuk mengerjakan tugas di depan laptop masing-masing.
Beberapa spot tempat duduk yang sedikit tersembunyi dan cozy menjadi tempat paling menyenangkan untuk berkutat mengerjakan tugas kuliah yang seabrek.
Ditambah hiburan live action perfomance dari homeband favorit yang lagunya bisa di request. Membuat tingkat kebetahan meningkat drastis.
Dan kali ini suasana Mreneo lumayan riuh karena seorang pengunjung sedang menyumbangkan lagu diatas panggung, diiringi sorakan teman-temannya.
Kali ini ia langsung menuju bagian belakang kedai karena tempat duduk favoritnya telah terisi oleh pengunjung, sambil terus menyapa setiap pegawai yang dilewatinya.
"Oy, bos!" Bagus yang sedang meracik kopi mengangkat tangan menyapa.
Membuatnya memberi kode dengan tangan bahwa ia menuju ke bagian belakang.
"Siap!" Bagus mengacungkan jempol.
Begitu sampai di ruang belakang yang juga berfungsi sebagai kantor Mreneo, ia langsung menjatuhkan diri di atas sofa tamu. Sambil mulai membuka ponsel melihat apa ada yang menarik di dalamnya.
Hampir 15 menit ia memainkan game Fortnite, sampai Bagus muncul sambil membawa secangkir Long Black favoritnya.
"Sori, bos, uakeh (banyak) tamu."
"Apik no (Bagus dong)," ia pun exit dari Fortnite dan mulai menyesap Long Blacknya. "Suwun (Makasih)."
"Raimu kucel tenan (Wajahmu dekil sekali)," Bagus tak menjawab, justru menunjuk wajahnya.
"Raiku yo ngene ki (Wajahku ya begini ini)," ia meletakkan cangkir ke atas meja dan kembali telentang di atas sofa berbantalkan kedua tangan.
"Nek gak seger ngunu ki tanda-tanda suwe ga oleh jatah (Kalau tidak segar begitu tanda-tanda lama tak dapat jatah)," Bagus memang selalu tendensius campur kepo.
"Ngomong opo (Bicara apa)," ia memilih untuk memejamkan mata. Kechaosan jadwal sehari ini terasa sedikit melelahkan.
"Mau ono wong nggoleki (Tadi ada orang nyari). Ngenteni rodo suwe (Menunggu lumayan lama)."
__ADS_1
"Sopo (Siapa)?"
"Gak kenal aku. Nembe weruh (Baru lihat). Ketoke dudu cah kene (Sepertinya bukan anak sini)."
"Lah ngopo (Ngapain)?"
Bagus mengambil kertas yang dari tadi disimpan di saku lalu meletakkannya di meja. "Titip pesen iki (ini)."
Dengan malas ia mengambil secarik kertas post it berwarna kuning lalu membacanya,
'Someone needs ur help, Stasiun Tugu 9 pm.'
-Dio, 0811238331-
Ia langsung melotot membaca nama yang tertulis di kertas. Dio?! Nggak salah? Ada berapa banyak orang bernama Dio yang dikenalnya? Tapi hati dan pikirannya langsung tertuju pada satu orang.
"Cahe kocomotoan (Anaknya pakai kaca mata)?"
Bagus mengangguk. "Suwe lek ngenteni (Lama nunggunya), ono sejam luwih (ada satu jam lebih). Sopo to (siapa sih)? Kenal?"
Ia mengernyit sambil membaca kembali deretan tulisan diatas post it. Saat itu juga hatinya langsung terkesiap. "Dekne ngomong opo (Dia ngomong apa)?"
"Gak, njaluk nomermu gak tak kei (minta nomormu tidak kukasih)."
"Wong aku gak kenal (orang aku nggak kenal)."
Ia pun segera melihat jam di pergelangan tangan, 20.45, "Brengsek!" makinya kesal.
"Ngopo to (Kenapa)?" Bagus mengernyit bingung.
"Pinjem motor," ia langsung berdiri sambil buru-buru memasukkan nomor yang tertulis di kertas ke dalam contact list ponselnya.
Bagus masih bingung, tapi diambilnya juga kunci motor dari atas mejanya.
"Sama helm dua."
"Lah ngopo to...."
"Gua pinjem motor, lu pulang pakai mobil gua, kunci ada di Mas Sono," jawabnya sambil setengah berlari keluar ruangan.
Melewati hirup pikuk para pengunjung Mreneo, meminta kunci mobil untuk mengambil jaket, dan langsung terbang memakai motor Bagus.
"Brengsek!" makinya berulang kali karena lalu lintas menuju stasiun yang lumayan padat. Jika feeling dan intuisinya benar, maka ia harus secepat mungkin tiba di stasiun.
Akhirnya setelah mengemudikan motor dengan gaya Marc Marquez yang agresif seruduk sana seruduk sini. Ia pun sampai dengan selamat di Stasiun. Hal yang patut disyukuri demi mengingat caranya mengemudi barusan.
Dengan tergesa ia langsung masuk ke dalam, sambil matanya nyalang mencari-cari seseorang.
"Tepat pada waktunya pada pukul 21.18, kereta api eksekutif Turangga tujuan Bandung dengan tujuan akhir stasiun Jakarta Gambir....," suara announcement dari speaker menggema di seantero Stasiun, membuatnya makin nyalang mencari.
"Jalur nomer lima persiapan berangkat. Bagi anda calon penumpang kereta api eksekutif Turangga, yang masih berada di luar kereta, mohon untuk segera menempatkan diri...."
"Dimana...dimana.....," ia mengumpat-umpat sambil berlari kesana-kemari.
"Kami yang bertugas mengucapkan selamat jalan, selamat menikmati perjalanan sampai tujuan. Kereta api eksekutif Turangga, tujuan akhir Jakarta Gambir, jalur nomer lima diberangkatkan.....," begitu pengumuman dari PT KAI diikuti suara lagu Sepasang Mata Bola yang kali ini terdengar sangat menyayat hati demi melihat seseorang yang dicarinya sedang berdiri di depan peron sambil melambaikan tangan.
Ia langsung mengambil ponsel dan mendial nomor yang telah menjadi kontak baru, Dio.
"Halo?"
"Udah ketemu....," ujarnya sambil mengatur nafas yang memburu karena berlari tadi. "Di depan peron...."
"Take care of her....."
Ia terperanjat mendengar kalimat Dio, menimbulkan sebuah lubang luka baru yang dalam dan menyakitkan kembali menganga di hatinya tatkala melihat Anggi terisak di depan peron.
Talk to me about it, sweetie. I'll always be here for you.
***
__ADS_1