KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
70. Luluh Lantak


__ADS_3

Anggi


Sekarang ia takut mendengar suara getar ponsel, gemetar jika mendengar panggilan masuk, kaget kalau layar ponsel menyala, dan sama sekali tak berminat membaca atau mendengar berita lokal yang isinya inisial SD, SD dan SD.


Raudhah gempar, teman-teman sekelas ribut, anak-anak HMJ rame, Grup Excofas riuh, Salsa bahkan meneleponnya tiga kali sehari hanya untuk memastikan ia baik-baik saja di tengah-tengah kesibukan mempersiapkan pernikahan di Trenggalek.


Mala menginap di Raudhah, memeluknya, menenangkannya, mengingatkan untuk makan, menceritakan hal-hal lucu yang malah jadi terdengar menyedihkan di telinganya, melakukan semua hal yang bisa seorang sahabat lakukan.


Mala juga berperan ganda menjadi admin ponselnya. Menjawab semua chat teman -kecuali keluarga, ia membalas sendiri-, menolak semua permintaan interview, menyortir pesan tak pantas yang entah kenapa bisa nyasar masuk ke ponselnya, dan semua tugas layaknya operator hotline services.


"Grup Romansa rame, Nggi. Balas jangan?"


Ia yang sedari kemarin mencoba membuat sulam kruistik untuk menenangkan pikiran hanya mengangkat bahu.


"Bayu..," begitu Mala mulai membaca. "Nggi, itu bener Rendra? Ba jingan banget. Lo sempet diapa-apain nggak?"


Ia tak bergeming, tetap konsentrasi membuat pola bunga matahari.


"Kalau dia nyakitin elo, bilang, biar gue hajar!" Mala mengernyit. "Yang namanya Bayu ini.... apa ada rasa sama lo, kok berapi-api banget sih?!"


Ia ingin menjawab, Bayu memiliki hubungan persahabatan yang paling dekat dengan Dio. Jadi Bayy pasti tahu semua kisah mereka. Dan jargon cowok Romansa adalah 1 sakit, semua sakit. Lo sakit, gue juga sakit.


Tapi semua itu tak sampai terucap. Hanya tertahan di tenggorokan. Karena pada kenyataannya, ia tetap asyik menusukkan benang warna kuning membentuk mahkota bunga.


"Chris...ya ampun, sayang Rubiconnya punya tuan yang ba jingan," lagi-lagi Mala mengernyit. "Kok malah bahas Rubicon sih?!"


"Fira....Nggi, you okay? Everything gonna be alright," Mala tersenyum senang. "Mayan ada yang waras satu."


Tapi sore harinya, Mala sudah tak seceria seperti waktu siang. Wajah Malq mengkerut dan keruh. Sesekali melihat kearahnya khawatir.


Tengah malam setelah Mala tertidur, ia memberanikan diri membuka ponsel.Yang langsung disesalinya begitu melihat deretan headlines yang terpampang di beberapa portal berita online.


-MenitForum- 5 Fakta SD, mahasiswa berprestasi yang tersandung kasus narkoba dan skandal.


-Jpress- SD terancam gagal wisuda.


-ABonline- Sejumlah pegiat perlindungan kekerasan terhadap perempuan menuntut kampus biru menangguhkan gelar sarjana SD.


-Xyz.net- SD pantas disebut sebagai predator.


-Umbul.id- SD terancam drop out.


-AuditPress- Ikatan alumni mendesak rektorat mencopot gelar mapres SD.


-PQR.com- SD antara organisatoris, entrepreneur, narkoba, dan skandal.


Air matanya langsung tumpah ruah dalam sujud panjang di atas sajadah. Dengan tangan yang masih gemetar karena efek headlines berita yang sempat dibacanya tadi. Di sela sesak dada dan hati yang sakit, kalimat Salsa saat holaqoh terakhir mendadak melintas di kepala.


"Takdir tak pernah ada yang bisa menduga. Tak seorangpun bisa membayangkan apa yang akan menimpa dirinya, bahkan satu detik ke depan. Dan setiap dari kita telah digariskan memiliki dua jatah dalam hidup, kebaikan dan keburukan. Kita bersyukur saat mendapat kebaikan, dan bersabar saat mendapat keburukan."


Dengan air mata menggenang ia sungguh-sungguh memanjatkan doa, tentang semua hal yang telah membuat dadanya sesak akhir-akhir ini.


"Ya Allah, dengan rahmatMu aku meminta pertolongan. Perbaikilah keadaan dan urusan kami. Jangan engkau bebankan padaku meski sekejap mata tanpa pertolonganMu."


Ia tersungkur dalam lautan kesedihan. Hantaman masalah yang bertubi-tubi menimpa Rendra justru semakin membuka matanya. Menyentuh relung hati terdalam.


"Ini yang terbaik buat kamu," ia tak pernah lupa cara Rendra memandangnya dengan mata penuh luka. "Kamu bakalan lebih sakit kalau kita terus sama-sama..."


"Memangnya siapa kamu? Manusia super?" isaknya. "Mengambil semua bentuk tanggungjawab buat dipikul sendiri."


"Kamu....," ia semakin terisak, "Baik-baik disana. Be strong...be brave...."


Tapi esok hari, permasalahan justru bertambah rumit, dengan muncul berita terbaru yang membuat hatinya semakin luluh lantak.


HEBOH! Seorang mahasiswi kampus bela negara mengaku menjadi korban SD.


Ia memandang Mala yang juga sedang menatapnya. Apa lagi Ya Allah? Dengan menguat-nguatkan hati ia mencoba membaca isi berita.


Jogja - R (22 th) mahasiswi kampus bela negara mendatangi Rayani, sebuah lembaga independen perlindungan kekerasan terhadap perempuan dan anak, pada Senin (18/2). Dia mengaku telah menjadi korban SD (24 th), mahasiswa berprestasi yang viral karena tersandung kasus narkoba dan skandal.


Tim relawan divisi pendampingan Rayani bergerak cepat dengan membuat laporan resmi di Polda DIY tentang dugaan tindak pelecehan yang dilakukan SD terhadap R.


"Kami meminta petugas bertindak cepat, sebagai pembelajaran," kata Lelhy, perwakilan Rayani. "Karena tanpa proses hukum, SD bisa jadi mengulangi perbuatannya pada perempuan lain."


Hingga berita ini diturunkan, R masih berada dalam pendampingan konselor psikologi Rayani.


Dan dalam hitungan menit, sejumlah portal berita online menampilkan headlines yang hampir mirip.


-AntenaJogja- Korban SD mulai bermunculan.


-JPress- Skandal terbesar mahasiswa kampus biru.


Bahkan portal berita online berskala nasional mulai memuat berita tentang Rendra.


-NewsPos- Kasus Jogja! Netizen sandingkan foto pelaku dengan entrepreneur muda sukses, mirip 100%.


Jika kemarin adalah hujan badai, maka hari ini adalah hujan badai disertai topan dan tsunami sekaligus muntahan lahar panas dari letusan gunung berapi. Luar biasa menyakitkan, sangat menyakitkan.


"Siapa kira-kira R?" ia berusaha keras mengingat semua nama orang-orang di sekitar Rendra, tapi nihil.


"Nggak usah dipikirin," Mala menepuk bahunya pelan.


"Menurut lo siapa R ini?!"


Mala menggeleng sambil menatapnya iba.


"Kita harus cari tahu siapa R," ujarnya yakin. Tamparan bertubi-tubi yang diterima dalam waktu singkat mulai menunjukkan multiefek tak terduga terhadap dirinya, yaitu air mata yang mengering serta pola pikir logis dan kritis.


"Jangan percaya semua yang ditulis sama berita online. Memang ada yang bener, tapi juga ada yang keliru."

__ADS_1


Kalimat Rendra kembali terngiang di telinga. Membuatnya optimis ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk menguak kebenaran.


"Soalnya nggak make sense banget coba Mal, kalau R rugi 6 bulan, sementara sejak 6 bulan lalu Rendra ngekorin gue mulu."


"Kecuali emang Rendra kumat dan bener-bener ...." Mala tercekat dengan omongannya sendiri.


"Kecuali Frida masih make sense," sebelum Mala sempat bicara ia sudah lebih dulu menyahut.


"Lo nggak harus kek gini, Nggi," Mala kembali menatapnya iba. "Biar petugas berwenang aja yang ngurus...."


Tapi ia tak peduli, "Kita mesti ketemu Rakai, dia pasti tahu siapa R."


"Nggi...," Mala semakin iba menatapnya.


"Atau kita tanya ke Rayyan," ia menjentikkan jari merasa punya ide cemerlang. "Anak-anak majalah kampus pasti tahu siapa R. Portal mereka juga udah nurunin berita ini kan?"


Mala jelas tak mampu menghalangi pergerakan reaktifnya. Mala bahkan mengikuti kemanapun ia pergi dan berhasil menempatkan diri menjadi the real best friend forever.


Akhirnya setelah mencari informasi kesana kemari, menurut sumber yang bisa dipercaya, R tengah berada di Rayani Woman's Crisis Center. Dengan memasang wajah polos mengaku sahabat yang ingin berkunjung, mereka akhirnya bisa ketemu dengan R, yang ternyata adalah,


"Mba?" ia kaget setengah mati demi melihat sesosok wajah pucat yang sedang duduk di kursi. "Mba....," ia tak mampu berkata-kata.


"Harusnya lo dulu nggak nolongin gue," ujar wajah pucat itu tanpa ekspresi.


"Harusnya lo dulu biarin gue mati," lanjut wajah pucat itu lagi sambil berlinang airmata.


***


Rendra


Masalah ini jelas membunuhnya, pelan namun pasti. Tapi, apakah ia ingin benar-benar mati? Tidak, kepalanya masih dipenuhi dengan impian life happily ever after dengan yang tercinta.


Wait me sweetie, i'll fixed it. Meski harus berdarah-darah dan hancur lebur, ia berjanji akan menyelesaikan semua kekacauan dengan cepat.


"Lu siap?!" telepon Sada sore itu saat ia asyik bersiul sambil memilih kemeja terbaik untuk menikmati sunset dengan sang pujaan hati terdengar seperti lengkingan terompet kematian.


"Siap, Mas!"


"Lu pasti abis. Saran gua sebelum terlambat, turuti maunya, as simple as that."


"Enggak Mas, gua nggak akan pernah berhenti."


"Kalau gitu siap-siap mulai besok ombak besar bakalan ngegulung lu dan semua yang ada di sekitar lo."


Ia mulai menghubungi Rakai, agar mempersiapkan semuanya.


"Gila lu!" Rakai jelas punya pendapat sama dengan Sada, tapi ia tak bergeming.


"Kita jelas bukan lawan yang sepadan! Cari mati?!"


"Gua udah ngalah dengan lepasin si Harsa," ujarnya berang. "Dengan perjanjian yang gua yakin nggak bakal bisa ditepati. Terus sekarang minta yang lain?! Bullshit!"


"Emang tujuan utama mereka lu lepas tuh proyek, bukan si Harsa!" Rakai tak kalah berang.


Rakai tak bisa apa-apa lagi.


"Lu maju gua back up, lu nyerah gua nggak masalah," Bang Buyung berhasil membuat asa tetap terjaga.


"Maju Bang!"


Dan hal pertama yang harus dilakukan adalah, menyelamatkan pemilik hatinya ke tempat paling tak terjangkau, di sudut terluar hidupnya. Karena ia tahu takkan pernah bisa memaafkan diri sendiri jika Anggi ikut tergulung ombak.


Just stay away for a while, sweetie.


"Ini baru awal," ujar Sada saat menggerebek rumahnya yang telah disewakan kepada orang lain.


Oke, ia siap. Meski berita-berita bombastis lumayan mengusiknya. Everything under control. Narkoba jelas hal mudah untuk dilewati. Karena ia anak lama, sudah tahu seluk beluknya, meski kini tak bermain lagi disana.


Penggrebekan jilid 2 di Mreneo lumayan mengejutkan, tapi masih bisa diatasi. Komunikasi dengan pihak-pihak terkait tetap lancar.


Namun he's just a human. Dengan kemampuan sangat terbatas, jauh dari sempurna. Tak pernah menyangka peluru pembawa kematian menyerang di sisi paling rawan dirinya. Seperti kisah Achilles heels. Bidikan mereka tepat sasaran, his darkest side.


"Itu buktinya! Gila! Kalau kek gini bukan lu aja yang ancur, kita semua ancur!!"


Itulah bodohnya, gejolak jiwa muda membuat otaknya tak mampu berpikir panjang.


Ia menyangka ini adalah peluru terakhir. Yang meski berhasil membuatnya terkapar, tapi masih bisa menegakkan kepala. Namun perkiraannya salah besar. Karena masih ada peluru selanjutnya, yang benar-benar meluluhlantakan seluruh hidupnya.


"Lu gila main-main sama mistressnya tangan kanan?!?" Akhir-akhir ini Rakai terlihat lebih tua dibanding usia sebenarnya. Masalah berturut-turut yang menimpa ManjoMaju dan dirinya berhasil merenggut cahaya di wajah Rakai.


"Gua masih waras!" teriaknya geram.


For sure? Dari segitu banyak cewek lalu memilih bermain api dengan Rengganis? What a cruel world. Rengganis definitely not his type. Dan ia tak pernah melanggar batas, apalagi bermain-main dengan milik orang lain.


Rengganis, sudah rahasia umum, jelas kekepan abadi seseanggota dewan yang juga tangan kanan orang itu.


Kalau boleh memilih, ia lebih suka diserang puluhan orang bersenjata tajam dibanding pembunuhan karakter seperti ini. Luka fisik bisa sembuh dan hilang. Tapi karakter yang hancur, sulit untuk diperbaiki. Bahkan hampir mustahil.


"Sapta jelas putus asa, selalu ditekan keluarga besar bininya, karier politik jadi taruhan," Sada geleng-geleng kepala begitu mengetahui serangan terbaru terhadapnya.


"Kasus lu jelas jadi emergency exit paling empuk. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Kekepan beres, cari muka ke bos jalan."


"Masih mau lanjut?"


Jujur ia tak tahu. Benar kata Bang Buyung dulu, lolos tanpa babak belur adalah luar biasa. Kini, ia bahkan tak tahu apakah bisa lolos dari cengkeraman masalah atau justru hancur lebur jadi abu.


Yang langsung mendapat pelototan Rakai. "Serius dong, Ren! Hidup mati kita disini!"


Ia hanya mengangkat alis malas menanggapi Rakai.

__ADS_1


"Tapi yang ini cacat hukum, kita punya celah. Kecuali lu emang sial, ada bukti fisik!"


"Nggak, Bang! Yang ini aman," ia yakin, ngobrol dengan Rengganis saja jarang, hampir tak pernah malah. Bagaimana mau ada bukti fisik? Kecuali mereka punya tim canggih yang bisa merekayasa sedemikian rupa.


Tapi yang paling dikhawatirkan adalah reaksi pihak kampus, yang tak mau nama besarnya tercoreng. Hampir tiga kali ia dipanggil oleh pihak rektorat, untuk menuntaskan kasus yang sedang dihadapi.


SP (surat peringatan) 1, SP2, dan SP3 sudah ia terima dalam waktu yang sangat singkat. Jika kemudian muncul SP yang ke 4, bisa dipastikan ia telah di DO dari Kampus. Hal terburuk dari yang paling buruk baginya.


"Kamu ini bikin pusing aja!" Pak Akhyar yang berpembawaan tenang sampai menegurnya langsung. "Kasus A belum tuntas, kamu ikut-ikutan!"


Kasus dugaan pelecehan terhadap salah satu mahasiswi yang terjadi saat pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat di wilayah timur Indonesia memang masih bergulir panas di media nasional.


"Maaf Pak, mohon doa semua bisa cepat selesai," ia hanya bisa menunduk malu.


Pak Drajat bahkan memanggilnya secara pribadi ke kediamannya, "Kowe iki ora mikir opo piye?! Uwis lulus kur gari wisuda, ndadakan keno kasus koyo ngene ki!"


(Kamu itu nggak berpikir atau gimana? Sudah lulus tinggal wisuda, malah kena kasus seperti ini).


"Nggolek opo to (nyari apa kamu)!"


"Saiki rame koyo ngene, sing rugi dudu kowe, tapi almamater (Sekarang jadi ramai begini, yang rugi bukan kamu saja, tapi almamater)!"


"Ojo nganti masa depanmu bubrah goro-goro kasus iki (Jangan sampai masa depanmu hancur gara-gara kasus ini)!"


"Mohon maaf telah mengecewakan Bapak," Pak Drajat sudah seperti seorang ayah baginya. "Saya juga nggak pernah menyangka jadi begini."


"Uwis, saiki tugasmu lak ngrampungke kuliah (Sudah, sekarang tugasmu menyelesaikan kuliah). Bersikaplah seperti mahasiswa pada umumnya. Masalah bisnis bisnis itu serahkan saja pada ahlinya. Kamu ini masih anak bawang berani-beraninya main-main di lahan orang!"


"Lepas saja lepas! Uang bisa dicari, bisnis bisa dibangun lagi, tapi nama baik dan nyawa nggak ada gantinya!"


Hingga sore ia masih merenungkan ucapan Pak Drajat, apakah menyerah adalah keputusan terbaik atau terus lanjut? Saat Rakai tiba-tiba muncul di depan pintu apartemennya sambil berkata, "Ada yang nyari."


"Siapa?"


"Katanya kenalan lu, nunggu lama di kantor, tadinya gue nggak ngasih, tapi mak...."


"Hai," seseorang tiba-tiba muncul di belakang tubuh Rakai. "Sori nggak ngabarin dulu."


"Oh, elu?" ia sedikit surprise mendapati Bayu yang datang. "Masuk...masuk...tumben ada apa jauh-jauh kesini?"


"Yang punya Surabaya nih," selorohnya ke arah Rakai yang terus saja melihat ke arah Bayu dengan tatapan curiga.


Kemudian ia mengangguk memberi isyarat jika Bayu aman. Rakai pun mengerti, memilih berlalu ke dapur, untuk menyimpan persediaan bahan makanan yang dibawanya.


"Apa kabar?" ia mengulurkan tangan mengajak bersalaman, tapi Bayu justru melayangkan tinjunya.


"Ini dari Dio!" Bayu melayangkan kepalan tinju tepat mengenai rahang bawahnya.


BUG!


Keras, menyakitkan, membuatnya hampir KO di detik pertama.


"Ini dari Anggi!" Bayu kembali menyerang tempat yang sama, rahang bawah.


Kali ini berhasil membuat darah mengalir keluar. Sakit, pedih, terasa asin di mulut.


"Ini dari gue, Chris, Fira!" Bayu menyarangkan kepalan tepat ke arah pelipisnya. Luka yang belum lama sembuh kembali terkoyak.


"Lawan brengsek! Jangan diem aja!"


Ia tak menjawab, masih berusaha menyeimbangkan badan karena tiga pukulan telak mendarat di daerah paling rawan tubuhnya.


"Berani-beraninya lo rusak Anggi! Dasar ba jingan!!"


BUG!


Kali ini ulu hati yang menjadi sasaran. Membuatnya ingin memuntahkan isi perut saat itu juga.


"Wo! wo! wo! Apa-apaan nih?!?" Rakai yang mendengar suara pukulan berlari dari arah dapur. Dan terkejut melihatnya berdiri sempoyongan dengan wajah berlumuran darah.


"Brengsek!!!" Rakai menerjang Bayu sambil menarik kerah bajunya kasar.


"Cari masalah?!?" maki Rakai yang bersiap untuk menyarangkan pukulan ke arah Bayu. Tapi ia lebih dulu mencegah,


"Jangan!"


Rakai melihatnya nyalang, dengan tangan masih menarik kerah baju Bayu.


"Biar! Lepasin dia Bang! Gua pantas nerima ini...."


Begitu kerah bajunya terlepas, Bayu kembali merangsek ke depan dan berhasil menyarangkan pukulan ke lehernya.


BUG!


Membuat kepalanya terlempar ke belakang.


"Brengsek!" Rakai berteriak marah sambil berusaha menangkap lengan Bayu.


"Biar, Bang, biar!" teriakannya tak kalah keras.


"Lu mau mati?!?" napas Rakai mulai tersengal karena emosi gagal menangkap lengan Bayu. "Dipukulin begini lu mau mati hah?!?!"


Tapi Bayu tak mau menyia-nyiakan kesempatan, saat ia dan Rakai masih saling berteriak, dengan gerakan secepat kilat Bayu kembali memukuli dada, ulu hati, dan perutnya secara bertubi-tubi.


"Lawan gue brengsek! Lawan gue! Jangan diem aja!" teriak Bayu sambil terus memukulinya sekuat tenaga.


Rakai kembali naik pitam lalu berusaha meringkus Bayu. Kali ini berhasil.


"Biar, Bang, biar. I deserves it," ujarnya lirih dengan wajah babak belur dan perut mual ingin muntah.

__ADS_1


Rakai semakin mengeratkan cekalannya ke tangan Bayu. Namun kini Bayu tak lagi memberontak.


Bayu hanya berujar dengan napas tersengal karena marah, "Jangan...pernah...mempermainkan...salah satu...dari kami berenam!!!"


__ADS_2