
Anggi
Begitu acara wisuda selesai, Rakai sudah berdiri di belakang mereka bersama Bang Leo -ajudan Papa-. Lalu membimbing mereka menuju ke panggung.
"Kita mau foto dulu," ujar Rakai sambil membantunya melalui lautan manusia, sementara Papa sudah melenggang lebih dulu di depan dikawal Bang Leo.
Rupanya panggung menjadi spot favorit untuk berfoto para wisudawan, terbukti mereka harus mengantre. Ia pun tak bisa menyembunyikan senyum bahagia saat Rendra melambaikan tangan tinggi-tinggi kearahnya diantara kerumunan teman-teman sesama wisudawan. Setelah sesi foto bersama teman selesai, Rendra berjalan menghampiri. Wajahnya seperti matahari, dengan senyum lebar terkembang.
Saat Rendra foto berdua dengan Papa, dari gestur tubuh jelas terlihat pancaran kebanggaan seorang ayah terhadap anak laki-lakinya. Ia masih bengong menunggu, sambil memperhatikan keriaan para wisudawan lain yang ada di panggung, ketika tiba-tiba Rendra sudah meraih tangannya.
Mereka foto bertiga dengan Papa, lalu berempat dengan Rakai. Setelah itu Papa langsung pergi ke Fakultas Teknik untuk mengikuti wisuda jurusan diiringi Bang Leo.
"Cape?" tiba-tiba Rendra bertanya. "Bang, tolong fotoin lagi," pintanya pada Rakai.
Ia menggeleng.
"Oi, Ren! Selamat!"
"Congrats!"
"Yoo, finally!"
Sesi foto terpotong oleh sapaan beberapa wisudawan yang ada di sekitar panggung. Rendra, menjawab semua sapaan sambil sesekali tergelak.
Di sela-sela kilatan lampu blitz, Rendra berbisik, "Kamu pulangnya diantar Rakai nggak papa?"
"Aku bisa pulang sendiri."
"Wah, jangan."
Sesi foto selesai, kini Rakai beralih memotret hal-hal menarik lainnya di sekitar panggung.
"Aku nggak bisa nganter, ada wisuda jurusan," lanjut Rendra. "Biasanya sampai sore. Pinginnya sih kamu ikut, tapi kasihan cape. Mendingan kamu pulang duluan diantar Rakai, terus istirahat, ntar malam kujemput lagi, gimana?"
"Kemana?" ia mengernyit.
"Dinner sama keluargaku. Mau ya?" Rendra memasang wajah memohon. "Janji sebelum jam 10 udah sampai Raudhah lagi," sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf v, victory.
"Tapi...," ia sedikit ragu.
"Aku juga males. Cuma Papa nyuruh kita datang. Ki ta...," Rendra menekankan kata terakhir.
Ia akhirnya mengangguk setuju.
Rendra tersenyum.
Mereka pun berpisah, ia keluar gedung bersama Rakai, sementara Rendra kembali bergabung dengan teman-temannya untuk upacara penyambutan jurusan. Ya, setiap jurusan di Fakultas Teknik punya cara unik sendiri untuk merayakan keberhasilan para wisudawan. Upacara penyambutan jurusan bahkan masuk ke dalam proker (program kerja) rutin HMT (Himpunan Mahasiswa Teknik).
Untuk Teknik Industri, wisudawan biasanya sudah ditunggu oleh teman-teman dan adik tingkat di tangga sebelah timur laut, tangga yang paling dekat dengan jalan menuju rektorat.
Benar saja, suara gemuruh yel-yel lantang terdengar begitu mereka sampai di luar gedung GSD. Terlihat ratusan mahasiswa TI yang semuanya memakai jaket jurusan warna darkest green -seperti yang sering dipakai Rendra-, membawa spanduk, bendera identitas, alat musik, bunga, sampai tongkat bambu, berdiri di sepanjang tangga siap menyambut para wisudawan. Ulah mereka tak ayal membuat ribuan orang yang masih berada di sekitar area GSD tertarik untuk ikut memperhatikan.
"Kamu tunggu disini, aku ambil mobil. Keluarnya ngantri banget, ntar kalau udah mau keluar, kutelepon," kata Rakai begitu mereka sampai di bawah pohon rindang yang terletak paling dekat dengan tangga terakhir sebelah timur laut, sambil mengangsurkan sebotol air mineral. "Lapar nggak?" kali ini sambil memberikan sekotak snack box.
"Makasih Bang," jawabnya saat menerima botol air mineral dan snack box dari tangan Rakai. Lalu perhatiannya kembali tertuju ke arah undakan tangga di depan gedung GSD.
"HUH! HAH! HUH! HAH! TIIII!!!!"
"JAYAA!!!!"
Mereka berteriak sambil mengepalkan tangan keatas dan memukul-mukulkan tongkat bambu ke tangga. Menimbulkan keriuhan yang kompak menggelegar. Lalu di tangga paling atas, muncullah 5 orang berpakaian punakawan dan 5 orang lagi berpakaian futuristik lengkap dengan lightsaber, berjoget-joget menuruni tangga, seolah sedang membuka jalan.
Dibelakangnya menyusul seorang berjaket hijau dengan pita merah di lengan kanan, mungkin korlapnya (koordinator lapangan), berdiri di tengah tangga sambil berteriak,
"Gua....berdiri disini...bukan untuk memimpin yel! Karena gua sadar....gua bukan orang yang tepat! Dan orang yang paling tepat untuk memimpin yel kali ini adalah.....Abang terbaik kita...Rendra!!!"
"WUWUWUWUWUWWUU!!!!" semua bertepuk tangan menyambut Rendra yang kini telah berdiri dengan penuh percaya diri di tangga paling atas.
Kemudian sambil mengepalkan tangan kanan keatas, yang langsung diikuti oleh semua orang berjaket hijau. Rendra berteriak dengan lantang, "Siapa kita?!"
"TI!"
"Sekali lagi!"
"TI JAYA!"
Dengan suara lebih mantap Rendra kembali berteriak, "TI solidaritas! TI forever! TI Jaya! Sekali saudara tetap saudara! Saudara selamanya! Wani! Wani! Wani!!!"
"TI SOLIDARITAS! TI FOREVER! TI JAYA! SEKALI SAUDARA TETAP SAUDARA! SAUDARA SELAMANYA! WANI! WANI! WANI!"
Seketika tepuk tangan bergemuruh menggema. Disusul teriakan khas seperti suku Indian yang mau berperang dan suara dinamis hentakan tongkat bambu di tangga, menandai dimulainya upacara penyambutan dari teman-teman dan adik tingkat untuk para wisudawan.
Rendra yang telah berdiri di tangga paling atas, mulai berjalan menuruni tangga sambil joget-joget nggak jelas, ampun deh. Sesekali mengepalkan tangan kanan keatas, berteriak lalu melompat kegirangan, meluapkan kelegaan yang luar biasa.
Di belakang Rendra menyusul satu persatu wisudawan lain dengan gaya performance tak kalah heboh. Mulai dari gaya ala parkour, joget kekinian dangdut koplo, sobat ambyar, joget gaul baby shark, joget PPAP (pen pinneaple apple pen), sampai joget jaman batu macam Gangnam Style, Macarena, dan Asereje. Seru abis!
__ADS_1
Dan sepanjang para wisudawan lewat menuruni tangga, orang-orang berjaket hijau tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel sambil memukul-mukulkan tongkat bambu. Memperlihatkan kekompakan yang membuat dada bergetar.
Ketika ia masih takjub memperhatikan kreativitas anak-anak TI, Rakai menelepon,
"Aku udah mau keluar, bisa lihat kamu dari sini. Jalan dikit ke sebelah barat."
Ia pun segera beranjak meninggalkan keseruan anak-anak TI, menuju tempat sesuai instruksi Rakai. Banyaknya wisudawan plus keluarga yang mengantar otomatis membuat jalanan macet luar biasa. Perjalanan naik mobil dari GSD keluar lewat Jakal tersendat hampir setengah jam. Mereka bahkan disalip oleh iring-iringan pengarak wisudawan teknik yang kompak menaiki kereta api odong-odong.
Rakai yang mengetahui hal tersebut langsung membuka kaca jendela lebar-lebar. Benar saja, ketika odong-odong menyalip mereka, Rendra berteriak sambil tertawa dan melambaikan tangan, persis kayak anak kecil.
Setelah melalui perjalanan selama hampir satu jam, Rakai akhirnya berhasil menepikan kemudi di depan gerbang Raudhah, padahal waktu tempuh normal hanya lima belas menit.
Jam 19.30 Rendra sudah berdiri di teras Raudhah, kemeja putih dan dasi kupu-kupu sudah berganti menjadi kemeja biru dan jas semi formal. Sambil memamerkan senyum Pepsodent, Rendra mengulurkan tangan menyambutnya.
"Kira-kira nanti ngobrolin apa sama keluarga kamu?" tanyanya sambil menarik seat belt, tapi Rendra lebih dulu memakaikan lalu menguncinya, klik.
"Ngobrol biasa aja," Rendra tersenyum. "Santai aja, nggak usah tegang," Rendra mulai melajukan kemudi.
Rendra mengarahkan kemudi ke arah Monjali, lalu menepikannya ke pintu masuk sebuah hotel bintang 5 yang berupa gapura khas Jawa. Terasa seperti masuk ke Taman Safari karena sepanjang jalan menuju lobby mereka melewati deretan pohon rindang di sebelah kiri dan kanan jalan.
"Sebentar doang kok, habis makan kita pulang," ujar Rendra sambil merengkuh bahunya memasuki ballroom hotel yang telah terisi penuh. Ramai dengan suara orang ngobrol dan anak kecil yang berlarian kesana kemari.
"Ini semua keluarga kamu?" tanyanya bingung. Ini lebih mirip arisan satu trah daripada pertemuan satu keluarga.
"Iyap," Rendra berjalan yakin sambil tetap merengkuh bahunya menuju meja utama yang terletak di baris paling depan.
"Anak-anak kecil itu adik-adik kamu?" ia melongo melihat begitu banyak anak kecil berseliweran membuat ballroom lebih mirip lomba menggambar daripada acara keluarga.
"Nggak semua lah, ada keponakan juga."
Ia ber oh panjang. Dari tempatnya berjalan terlihat Mama Amy, Naja, dan Qeva duduk persis di sebelah meja utama. Melihat kearahnya dan Rendra dengan tatapan tajam.
"Pa," sapa Rendra begitu mereka sampai di meja utama. Dimana duduk Papa Rendra, empat orang usia sekitar 50 tahun an, dan Rakai.
"Duduk," Papa menyuruh mereka duduk.
Rendra lebih dulu menarik kursi untuknya sebelum ia sendiri duduk. Lalu percakapan mulai mengalir. Papa memperkenalkan empat pria yang duduk di meja sebagai rekanan bisnisnya.
"Ini anakku yang baru wisuda tadi siang," ujar Papa dengan hidung terkembang sambil menepuk bahu Rendra yang duduk tepat di sebelahnya. "Cumlaude."
"Wah, ini yang kemarin bikin ontran-ontran sama SJW?"
Papa terbahak. "Iya, dasar anak go blok. Nggak pakai otak."
Membuatnya melirik heran ke arah Rendra yang justru mengedipkan sebelah mata. Ih.
"Bukan hebat tapi go blok."
"Kalau yang ini minantu," ujar Papa memperkenalkannya. "Nikah tahun depan. Iya, Ren?"
Rendra mengangguk.
Ternyata makan malam tidak seseram yang dibayangkan. Di tengah-tengah acara, Papa berdiri sambil membunyikan gelas dengan suara dentingan sendok, lalu memperkenalkannya di depan semua orang.
"Perhatian semua, ini Anggi, calon istri Rendra. Mereka menikah tahun depan."
Ia hanya bisa tersenyum malu di hadapan semua yang hadir. Begitu acara makan selesai, Rendra menepati janji dengan pamit pulang. Sebelum meninggalkan ballroom, Rendra membimbingnya menuju beberapa meja, untuk memperkenalkannya kepada istri-istri Papa. Termasuk Mama Amy yang terus saja menatapnya sengit.
"Jadi tadi gimana, lupa...," ujarnya saat mobil Rendra mulai membelah lalu lintas malam yang tak begitu padat. "Istri pertama nggak ikut..."
"Mama Dina nggak ikut."
"Istri kedua nggak ikut juga."
"Mama Evi nggak ikut."
"Istri ketiga Mama kamu."
Rendra mengangguk.
"Istri keempat Mama Amy."
"Tul."
"Jadi yang di sana tadi...istri siri Papa kamu semua??" ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Makanya kubilang juga....jangan kaget," Rendra terkekeh.
Mendadak ia teringat sesuatu, "Like father like son berlaku di poin ini nggak?"
"Seperti buah jatuh tak jauh dari pohonnya?" Rendra mengerling sambil tertawa.
"Lebih pas air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua!" gerutunya kesal.
Membuat Rendra tergelak, lalu dengan gerakan secepat kilat berhasil menangkap tangannya, "Tapi aku punya peribahasa sendiri."
__ADS_1
Ia mencibir, "Apa?" sambil berusaha melepaskan diri, namun gagal karena genggaman Rendra terlalu kuat.
"Save the best for the last!" jawabnya mantap sambil mencium tangannya. "Only you. Always you."
Ia semakin mencibir.
Ia langsung berkemas begitu Rendra menepikan kemudi di depan gerbang Raudhah, tapi Rendra lebih dulu meraih tangannya sambil berkata, "Sesuai saran dari suhu Mala, sebagai pakar percintaan," lalu tersenyum simpul. "Kali ini nggak usah jauh-jauh cari spot menarik. Yang penting...."
Rendra mengeluarkan sesuatu dari saku jas. "Momennya," lalu memasukkan sebuah cincin berkilau ke jari manisnya sambil menatap penuh kesungguhan.
"Rahayu Anggiantisa....once again....will you marry me?"
'I met you in the dark, you lit me up
You made me feel as though I was enough
We danced the night away, we drank too much
I held your hair back when
You were throwing up
Then you smiled over your shoulder
For a minute, I was stone-cold sober
I pulled you closer to my chest
And you asked me to stay over
I said, I already told ya
I think that you should get some rest
I knew I loved you then
But you'd never know
'Cause I played it cool when I was scared of letting go
I know I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you until we're grey and old
Just say you won't let go
I'll wake you up with some breakfast in bed
I'll bring you coffee with a kiss on your head
And I'll take the kids to school
Wave them goodbye
And I'll thank my lucky stars for that night
When you looked over your shoulder
For a minute, I forget that I'm older
I wanna dance with you right now
Oh, and you look as beautiful as ever
And I swear that everyday you'll get better
You make me feel this way somehow
I'm so in love with you
And I hope you know
Darling, your love is more than worth its weight in gold
We've come so far, my dear
Look how we've grown
And I wanna stay with you until we're grey and old
Just say you won't let go
(James Arthur, Say You Won't Let Go)
__ADS_1
***