
Setelah rangkaian panjang UAS yang menguras pikiran, ia berencana langsung pulang ke rumah. Ada begitu banyak hal yang ingin dilakukan. Melepas kangen sama orang-orang rumah, membuat SIM C, ketemu anak-anak Romansa, dan seabrek rencana lain di kampung halaman. Tapi Rendra memintanya untuk tinggal selama beberapa hari lagi, "Tiga hari lagi deh disini. Tolong temenin aku sebentar. Bukan tiga hari...empat deh...atau lima hari?" Rendra memasang wajah memohon.
Ia setuju tiga hari. Hari pertama menemani Rendra menyelesaikan Bab 3 di Perpus pusat yang mulai sepi karena libur semester telah tiba. Seharian ia menemani Rendra menunggu dosen pembimbing. Untungnya di acc, bisa lanjut bab 4. Rendra jelas langsung bersorak girang, "One step closer. Wait for me sweetie...."
Hari kedua ke ManjoMaju. Hampir sepagian ini ia bengong menunggu Rendra meeting dengan Rakai dan anak-anak ManjoMaju. Sepertinya proses penyusunan laporan akhir tahun benar-benar menguras energi.
Rendra memfasilitasinya dengan WiFi unlimited kecepatan super, makanan dan cemilan melimpah, hingga menugaskan Sari untuk menemaninya ngobrol. "Yang penting kamu terlihat dalam jangkauan," begitu wajah lelah Rendra berusaha tersenyum.
Tapi ia yang tak terbiasa bengong menunggu jelas merasa tak betah. "Kasih aku tugas deh, jangan bengong gini."
"Ini tugas kamu."
"Bengong begini?"
"Bukan bengong lah, kan tiap aku lihat kamu jadi semangat lagi."
Ia hanya memutar bola mata. Disaat anak-anak seManjoMaju pusing membuat laporan keuangan, Rendra masih bisa mikir hal begituan. Akhirnya Rendra pun menyerah.
"Ibu bos cukup mantau, nggak usah terjun ke lapangan," seloroh Rendra sambil menyerahkan setumpuk laporan keuangan. "Tapi ibu bos yang satu ini beda," lanjutnya sambil tersenyum miring.
Rendra memintanya memeriksa apakah asset yang tertera di Neraca sesuai dengan keadaan riil atau tidak sebelum diperiksa oleh akuntan publik. Gampang, batinnya dalam hati.
Tapi ternyata, membaca laporan keuangan yang akuntansi banget jelas bukan bidangnya anak Ilkom. Ia sampai harus membaca berulangkali agar mengerti apa yang tertulis di atas kertas berjudul Balance Sheet itu. Ia hanya mengerti laporan keuangan standar. Debet, kredit, saldo. Pendapatan, pengeluaran. Jadi ketika ada aktiva lancar, ia tak tahu harus cross check ke laporan keuangan yang mana. Apakah ke income statement atau ke cash flow? Lalu aktiva tetap ada akumulasi penyusutan maksudnya apa? Dan ketika Rendra break meeting untuk istirahat makan siang, ia masih belum selesai mengerjakan satupun.
"Kasih tugas yang standar-standar aja deh," ujarnya sambil meringis. "Ini sih tugas anak akuntansi. Nyerah," ia semakin meringis.
Rendra hanya tersenyum simpul, "Cukup duduk manis di tempat yang terlihat dalam jangkauan."
"Kamu jadiin aku objek?" ia jelas tak suka.
"Waduh, jangan salah paham," Rendra menghembuskan napas. "Tahun ini lumayan berat. Kalau sampai nggak dapat predikat wtp (wajar tanpa pengecualian)...," Rendra mengangkat bahu.
Ia tak mengerti apa efek jika tak mendapat predikat WTP, tapi wajah lelah Rendra akhir-akhir ini sudah menjelaskan semua.
Usai istirahat, ia membantu Puput menyusun bukti-bukti pengeluaran yang telah dijilid rapi sesuai urutan bulan dalam setahun. Ia juga membantu merapihkan file-file laporan pajak. Menjelang sore baru Rendra keluar dari ruang meeting dengan wajah kusut dan langsung mengajaknya keluar. Sampai-sampai ia tak sempat berpamitan dengan anak-anak ManjoMaju.
"Kita cari udara segar...," ujarnya mengarahkan kemudi ke Mreneo. Yang senja ini ramai dipenuhi oleh pengunjung. Begitu masuk, Rendra jelas tak berniat duduk di dalam kedai yang hiruk pikuk. Rendra mengajaknya ke bagian belakang kedai. Dan langsung merebahkan diri di atas sofa.
"Sori, aku ngadem sebentar," ujarnya sambil memejamkan mata. Ia yang tak mengerti harus melakukan apa memilih duduk menunggu. Instingnya menyuruh untuk mendekati dan menghibur Rendra. Tapi akal sehat memintanya tetap diam menunggu. 1 menit, 5 menit, nafas Rendra semakin teratur. Apa ia tertidur? Saat ingin memastikan apakah Rendra tertidur atau tidak, seseorang membuka pintu ruangan.
"Bos...," kalimatnya menggantung di udara begitu melihat Rendra berbaring di atas sofa. "Tidur?" tanya orang tersebut dengan bahasa isyarat.
Ia mengangguk sambil meletakkan jari telunjuk di bibir, memberi isyarat jangan berisik. Orang itu balas mengangguk lalu pergi. Tak lama kemudian datang lagi sambil membawa dua botol air mineral dingin.
"Minum dulu mba," ujarnya sopan sambil meletakkan botol air mineral ke atas meja.
"Makasih," ia tersenyum mengangguk.
"Kayaknya kita pernah ketemu...dimana ya...," orang itu terlihat berpikir.
"Saya dulu pernah kesini," ia masih tersenyum. "Sama temen-temen rame-rame..."
Orang itu manggut-manggut dengan raut masih berpikir. Namun sepertinya masih belum bisa mengingat. "Kalau gitu tak tinggal dulu ke depan mba."
"Silahkan..silahkan..."
Setengah jam lebih Rendra tertidur. Selama itu pula ia menunggu sambil membaca versi e-book The Witness nya Sandra Brown. Meski sudah berkali-kali dibaca, tapi tak membuatnya bosan. Ia baru sampai Bab enam, saat Kendall diganggu berandalan di pom bensin ketika Rendra bersuara, "Aku ketiduran ya?"
Ia buru-buru menutup ponsel dan menghampiri Rendra sambil membawa sebotol air mineral. "Kamu kalau cape mending pulang ke rumah," ujarnya sambil mengangsurkan botol air mineral. Rendra menerima sambil tersenyum, lalu meneguknya sampai habis.
"Udah lihat kamu...nggak cape lagi...," baru bangun tidur pun Rendra bisa langsung action. Membuatnya hanya mengangkat alis, malas menanggapi.
"Apa tiap akhir tahun selalu begini?" wajah letih Rendra semakin jelas terlihat meski sudah sempat tidur.
"Ya biasa tutup tahun suka rada crowdit."
"Nggak hire profesional?"
"Anak-anak profesional kok."
"Bukan gitu...maksudku...."
Rendra menghela napas, "Awal tahun ada orang lama yang gelapin dana. Padahal laporan dia yang pegang semua. Aku sama Rakai selama ini tahu beres. Ternyata banyak masalah. Imbasnya sekarang..."
Ia hanya bisa memandang Rendra, "Nggak ngerti harus ngomong apa..."
Rendra tersenyum, "Nggak harus ngomong." Kali ini senyumnya semakin miring, "Kamu ada disini udah support banget buat aku..."
Antara ikut sedih karena Rendra sedang mengalami hal sulit, sekaligus sebal karena masih saja berusaha memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Kita ke depan yuk, cari makanan," Rendra mengajaknya pindah duduk ke ruangan utama kedai. Dan langsung menuju meja bar, "Gus, ada makanan apa hari ini?"
Orang yang dipanggil langsung menghampiri, "Siap, manis opo asin?"
"Manis deh," Rendra beralih kearahnya. "Kamu mau makan apa?"
"Terserah."
Rendra sempat mengkerut mendengar jawabannya, lalu berkata, "Sing legi-legi loro (yang manis-manis dua)."
Tak lama kemudian dua piring kecil berisi Apple pie yang masih mengepul terhidang di depan mereka. Plus dua cangkir minuman yang harum. "Saya ndak tahu mba nya suka apa, kayaknya hot chocolate cocok," ujar orang yang tadi sempat ke ruang belakang saat Rendra tidur sambil menyorongkan secangkir hot chocolate yang wangi.
"Wah, makasih," ia tersenyum. Sementara Rendra langsung melahap Apple pie nya cepat-cepat.
__ADS_1
"Ora kegedean iki porsine (nggak kebesaran ini porsinya)?" Rendra menyorongkan piring Apple pie yang telah kosong, sarkas.
"Madhang yo (makan ya)."
"Yo."
"Arep lawuh opo (mau lauk apa)?"
"Sakarepmu (terserah kamu)."
"Mba...mau makan juga?" ia tak luput dari penawaran. Tapi perutnya masih kenyang setelah tadi seharian ngemil di ManjoMaju.
"Enggak...makasih."
Tak lama menunggu, orang itu kembali membawa sepiring nasi putih dan garang asem. Yang langsung dilahap Rendra tanpa ampun.
"Urung mangan seminggu laken (belum makan seminggu ya)?" orang itu mengernyit melihat cara makan Rendra. Tapi tak ditanggapi. Dan dalam waktu singkat, nasi garang asem ludes tak berbekas.
"Tengs, Gus," ujar Rendra sambil meneguk air mineral botol.
"Lho, tengs tengs tapi ora dikenalke (makasih makasih tapi nggak dikenalin)."
Rendra terbahak. "Lali sori (lupa maaf). Anggi, Bagus. Bagus, Anggi."
Mereka bersalaman, dengan Bagus yang sepertinya masih mencoba berpikir. Membuat Rendra menepuk lengan Bagus. "Ojo suwe suwe (jangan lama-lama)."
Bagus mengernyit, "Lah aku lagi mikir je, tau ruh mba iki nandi (Lah, aku sedang berpikir, pernah melihat mba ini dimana)."
Rendra mencibir.
"Dulu saya pernah kesini sama temen-temen," ia akhirnya menjelaskan. "Waktu mau bikin film pendek."
"Oh, sek (sebentar)..sek....," Bagus sepertinya memerlukan waktu untuk mengingat, setelah agak lama ia bersorak girang, "Iyo iyo...kemutan aku. Barengan karo Mas Rayyan to."
"Nah, iya, Rayyan!" ia ikut lega karena Bagus berhasil ingat.
"Lho saiki Mas Rayyan jadi pengunjung setia Mreneo kok bareng mbe Mba Elva..."
"Waduh," ia mengernyit surprise. "Serius?" dua pentolan Ilkom itu akhirnya jadian juga. Waduh, kok bisa nggak tahu ya? Kemana aja selama ini. Hmm.
'Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja 'kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
(Kahitna, Cantik)
Sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari arah panggung kecil. Membuatnya spontan menoleh, dan hanya bisa memutar bola mata mendapati Rendra sedang memainkan gitar sambil bernyanyi.
"Walah, bos turun gunung," Bagus menyeringai melihat Rendra yang sedang tersenyum penuh arti ke arah Anggi. Sementara seluruh pengunjung kedai bertepuk tangan sambil bersuit-suit melihat penampilan Rendra.
"Lagi nggak?" Rendra terkekeh sambil memainkan gitar.
"Lagi! Lagi!" teriak sekelompok cewek-cewek yang duduk di pojok heboh.
"Lagi!" sambung pengunjung yang lain.
"Kalau dia denger pasti dibilang lagu gombal nih," Rendra terkekeh sambil mulai memainkan sebuah nada.
'Ku temukan dalam pencarian
Cinta sejati untuk hidupku
Kurang lebih yang seperti dia
Ku harap dalam cintaku
Ku tak mau menjanjikannya
Pasti bahagia bila denganku
Biar dia rasakan sendiri
Betapa gilanya cintaku
Aku memang pencinta wanita
Namun ku bukan buaya
Yang setia pada seribu gadis
Ku hanya mencintai dia
Aku memang pencinta wanita
Yang lembut seperti dia
Ini saat ku akhiri semua
__ADS_1
Pencarian dalam hidup
Dan cintaku ternyata yang ku mau hanyalah dia'
(Irwansyah, Pencinta Wanita)
Wah, tepuk tangan tak henti-hentinya terdengar di setiap sudut kedai. Membuatnya geleng-geleng kepala sambil memutar bola mata ketika Rendra tersenyum lebar sambil melihat kearahnya.
"Lagi! Lagi!" suara yang meminta kini lebih banyak. Membuat Rendra terkekeh-kekeh.
"Mau yang lebih gombal lagi nggak?" Rendra jelas senang memancing.
"Mauuuu!" teriak cewek-cewek heboh.
Rendra masih tersenyum saat mulai memainkan sebuah intro, "Ini spesial buat seseorang... always you...," sambil melihat kearahnya yang masih geleng-geleng kepala demi melihat kelakuan norak Rendra.
'Oh Ade rambut sebahu
yang cantik dan juga ayu
dapat salam dari Papa Mama
tamat kuliah jadi menantu'
"Udah siap kan?" Rendra masih tersenyum melihat kearahnya. "Siap dong." Diikuti pekikan riuh pengunjung.
'Ade janganlah ragu-ragu
mentang Abang orang nggak bener
Abang berani ngelamar ade
Tinggal berdoa Allah yang bantu
Abang janji bakal setia
bimbing ade sampai ke surga
dunia ini hanya sementara
ayo cepat kita ke KUA'
(Imam Nahla, Adek Jilbab Ungu)
Haduh, seisi Mreneo riuh rendah serasa berada di tengah supporter dua tim sepakbola yang sedang memperebutkan gelar juara. Sementara di atas panggung Rendra tersenyum penuh kemenangan.
Dan sebelum meninggalkan kedai, Bagus buru-buru menghampirinya, "Mba...ini ada sesuatu buat mba."
"Oya, apa?" ia menerima amplop putih dari tangan Bagus sambil mengernyit heran. Rendra yang berdiri di sebelahnya tak kalah heran. "Opo Gus?"
"Voucher free special menu Mreneo sebulan full," kali ini Bagus yang tersenyum penuh kemenangan.
"Wah, nggak usah repot-repot," ia semakin mengernyit heran. Sementara Rendra malah mencibir.
"Hoo, nda repot mba (nggak repot mba). Ini saya lagi nepatin janji," Bagus berujar serius. "Saya pernah nazar (janji) mau nraktir full sebulan cewek yang nolak si bos. Loh pasti mba nya to yang dulu pernah nolak si bos."
Ia harus menahan diri sampai tempat parkir sebelum akhirnya melepaskan tawa.
"Seneng banget sih," Rendra mencibir.
Ia masih tertawa ketika tiba-tiba ada orang yang sengaja menghalangi jalan mereka. Rendra mengajaknya untuk jalan lebih ke pinggir. Tapi orang itu juga ikut ke pinggir. Rendra meraih tangannya ke sisi yang satu lagi, orang itu juga kembali mengikuti.
"Nggak bisa diem lu?! Maunya apa?!?" Rendra mulai nggak sabar. Membuatnya buru-buru menarik lengan Rendra memintanya untuk sedikit lebih tenang.
"Mau gue," mulut orang itu jelas menguapkan bau aneh yang baru kali ini diketahuinya. "Lu bebasin Harsa, proyek, atau cari mati!" lalu tanpa diduga orang itu berusaha memukul Rendra, tapi hanya mengenai angin karena Rendra lebih dulu menghindar.
"Lu pilih cari mati!!" orang itu kembali berusaha memukul Rendra, kali ini juga meleset. Tapi berhasil dengan telak memancing emosi Rendra.
"Bang," ia berusaha menahan lengan Rendra, tapi gerakan Rendra lebih cepat.
BUG!
Rendra memukul tepat di bagian rahang bawah, membuat orang tersebut terhuyung ke belakang. Menarik beberapa pengunjung yang ada di tempat parkir untuk mulai memperhatikan mereka.
Tapi rupanya orang itu tak mau kalah, dia kembali maju sambil mengepalkan tangan menyiapkan pukulan.
BUG!
Tapi gerakan tangan Rendra lebih cepat mengenai pelipis kiri orang tersebut, darah segar langsung mengucur. Membuat beberapa pengunjung perempuan menjerit.
Meski sudah terhuyung-huyung, orang itu tetap tak mau kalah, masih berusaha memukul Rendra. Kali ini bukan angin yang dipukul, karena dia lebih dulu tersungkur ke depan. Dengan mata penuh api Rendra memeriksa orang tersebut yang kini tergeletak tak berdaya di atas paving blok. Sementara orang-orang semakin banyak berkerumun.
"Mas Sono!" teriak Rendra dengan suara penuh amarah. "Urus nih! Panggil Bagus!"
Mas Sono tergopoh-gopoh masuk ke dalam, tak lama kemudian keluar diikuti oleh Bagus dan beberapa pegawai Mreneo.
"Urus Gus!" Rendra yang masih marah rupanya tak ingin berlama-lama disana, dia langsung menarik tangannya menuju tempat dimana mobil diparkir.
Di dalam, Rendra masih sempat memakaikan seat belt padanya meski dengan rahang mengeras dan nafas memburu. Sepertinya masih emosi. Membuatnya tak berani bertanya.
"Maaf," Rendra memandangnya penuh penyesalan. "Kamu nggak papa?"
Ia mengangguk sambil mencoba tersenyum.
__ADS_1
"Bagus," Rendra mengemudikan mobil dalam diam. Sepanjang jalan ia berusaha membuka percakapan, tapi urung. Rendra juga tak berusaha angkat bicara, matanya lurus menatap jalan di depan, dengan rahang yang semakin mengeras. Ia tahu Rendra sedang marah, dan ia tahu semua mulai tidak baik-baik saja.