
Dio
Musim semi biasanya dimulai pada 5 Februari, tapi pertengahan Februari, Jepang justru masih berada di puncak musim dingin. Jadi jangan salah, suasana tetap sangat dingin meski matahari bersinar cerah, dengan suhu rata-rata kisaran 10 derajat Celcius di siang hari, dan akan semakin turun saat malam menjelang.
Seperti pagi ini, dengan mengenakan baju hangat berlapis, lengkap dengan coat panjang, gloves, penutup kepala, dan masker, ia berjalan kaki dari Stasiun Okayama menuju kampus Tokyo Tech.
Begitu memasuki area kampus, dilihatnya beberapa mahasiswa sudah berbaris di depan pintu masuk gedung. Ia pun ikut mengantre, saat tiba gilirannya, ia harus menyentuhkan kartu khusus yang hanya dimiliki oleh anggota Lab Nakayama, lalu memasukkan password, yang berhasil membuat pintu terbuka secara otomatis. Dilanjutkan dengan naik lift ke lantai 9.
"Irasshaimasen (selamat datang)," begitu sapaan yang didapat saat membuka pintu lift. Suara yang berasal dari sound system lift yang mengadopsi teknologi semacam robot. Merespon otomatis dan berfungsi 24 jam nonstop 7 hari dalam seminggu.
"Silahkan tekan tombol untuk menuju lantai yang ingin anda tuju."
Setelah tombol ditekan maka akan terdengar ucapan, “Ueni mairimashu (lift bergerak ke atas)”.
Ketika sampai di lantai 9, lift pun kembali berkata, “Kyu kai desu (lantai 9)."
Ia kembali harus berjalan menyusuri lorong menuju ke ruang kerjanya yang juga dilengkapi dengan pintu berpassword, hingga hanya orang yang berkepentingan saja yang bisa masuk ke dalam ruangan.
Pemandangan yang sangat nyaman langsung menyambutnya begitu ia membuka pintu ruang kerja lab. Deretan meja yang teratur lengkap dengan seperangkat komputer keluaran terbaru. Rak berisi buku-buku tentang computer science, termasuk komik dan majalah yang tersusun rapi di pojok ruangan. Mesin pembuat kopi otomatis dan kompor listrik untuk memasak. Rak kecil tempat untuk meletakkan oleh-oleh dari penghuni lab yang baru pulang dari bepergian ke suatu tempat. Menjadikan 12 jam rata-rata waktu yang dihabiskannya dalam sehari berada di dalam lab sama sekali tak terasa membosankan. Bahkan mahasiswa S2 dan Postdoc banyak yang memilih tidur di lab sepanjang semester berjalan.
Ia berjalan menuju mejanya yang terletak di deretan paling ujung. Suasana masih lengang, sepertinya ia datang terlalu pagi, karena baru ada satu orang di dalam lab.
"Ohayou (pagi)," sapanya pada Ichiro yang sepagi ini sudah berkutat di depan komputer dengan wajah berkerut.
"Ohayou. Ogenki desu ka (Pagi. Apa kabar)?"
"Hai, genki desu. Anata wa (Baik sekali. Kamu sendiri)?" ia meletakkan backpack ke kursi, dan mulai menyalakan komputer.
"Yūbe wa nemurenakattan desu. (Saya tidak bisa tidur tadi malam)."
"A, so desu ka. Doshite desu ka (Oh, begitu. Kenapa)?"
"Ashita no happyo no tame desu kara (Karena presentasi besok)."
"So desu ka (Begitu ya)."
Kalau boleh menyebut hari yang paling di benci dalam seminggu, mungkin semua penghuni lab akan menyebut hari rabu. Karena setiap hari itu semua anggota lab harus melaporkan perkembangan risetnya di hadapan anggota lab lain dan profesor-profesor yang tergabung di grup lab.
Di labnya terdapat 32 mahasiswa dengan 11 profesor, jadi bisa dibayangkan betapa groginya mereka dalam mempersiapkan bahan presentasi dan data penelitian. Walau tergabung dalam program exchange research non gelar, ia juga harus presentasi menggunakan bahasa Jepang. Meski kadang saat sesi diskusi, sesekali dicampur dengan bahasa Inggris, karena kesulitan menjelaskan hal detail dalam bahasa Jepang.
"Bukankah presentasi bagian favoritmu. Besok juga pasti bukan masalah besar," Ichiro hampir tak pernah mengeluhkan kerasnya kehidupan di lab karena otak encer yang dimiliki. Ichiro juga menjadi satu dari sedikit penghuni lab yang sering membantunya saat menemui kendala dalam riset.
"Tidak jika hari ini bukan malam valentine."
"Valentine?" ia bahkan tak ingat hari apa sekarang.
"Ha, kau juga lupa kan?" Ichiro tertawa senang. "Pikiran kita terlalu dipenuhi riset dan presentasi."
Ia tertawa setuju, "Kau benar."
"Apa kekasihmu tak marah kau melupakan hari valentine?" sambil menunjuk bingkai foto di atas meja.
Ia tersenyum samar, "Dia tak pernah marah."
"So desu ka (begitu ya). Dia pasti gadis yang luar biasa."
"Dia tak pernah marah karena akan menikah dengan orang lain." Bukan tanpa alasan ia masih memajang foto Anggi. Selain bersifat menenangkan, foto 'kekasih' di atas meja bisa menjadi senjata andalan saat ada yang berusaha mendekat. Karena tujuannya datang ke Jepang bukan untuk menjalin hubungan semusim, tapi menimba ilmu demi masa depan. Sedikit manipulatif ya. So sorry.
Mulut Ichiro menganga, "Ya ampun, kupikir hubungan LDR kalian sangat manis dibanding kami yang bertemu setiap hari. Tapi ternyata?" Ichiro masih melongo. "Jika dia akan menikah dengan orang lain, bagaimana bisa kau masih memajang fotonya. Sungguh menyedihkan!"
Ia tertawa sumbang, "Di tempat kami, ada pepatah 'sebelum janur kuning melengkung, apapun masih bisa terjadi.'
"Artinya?" Ichiro mengernyit.
"Sebelum sah menikah, semua orang masih memiliki kesempatan."
__ADS_1
"Hee, sugoi (wah, hebat)! Kalian benar-benar pantang menyerah."
Ia terkekeh.
"Kalau pria itu tahu, kau masih memajang wajah kekasihnya di meja kerja, dia pasti sanggup menyeberangi samudra hanya untuk membunuhmu!"
Kali ini ia terbahak, "Pastinya."
"Karena itu juga yang akan kulakukan!"
Ia mendesis, "Level bucinmu juga parah."
"Apa?"
"Lupakan."
"Aku pusing karena tingkah Yuriko."
Ia tersenyum, Yuriko, mahasiswi S2 jurusan matematika adalah kekasih Ichiro. Mereka pernah bertemu saat pesta akhir tahun di apartemen Ichiro beberapa waktu lalu.
"Dia mengajakku dinner nanti malam. Kau tahu aku takkan bisa, bahan presentasi belum selesai."
Sesi presentasi riset akan sangat membahagiakan ketika penelitian kita selama seminggu mendapat progress yang bagus. Begitu pula sebaliknya, akan terasa seperti neraka jika tidak menunjukkan progress.
"Sō desu ka. Taihen desu yo ne (Begitu ya. Berat juga ya)."
"Kau punya ide apa yang harus kulakukan?"
"Terus terang padanya."
"Bukan ide bagus. Dia terlanjur memesan satu tempat di Menara Tokyo. Akan sangat rugi kalau dibatalkan."
"Maka kau harus menyelesaikannya sekarang juga."
"Memang itu satu-satunya cara. Aku benci diriku sendiri."
Menjelang siang hari, Kyoko dan Tomoko membuat suasana hari valentine semakin terasa, dengan membagikan giri-choco untuk mereka semua. Giri-choco atau “cokelat wajib” adalah hadiah cokelat yang diberikan kepada bos, teman, anggota keluarga, rekan kerja, atau pria lain yang dekat namun tidak memiliki hubungan asmara dengan si pemberi.
Memberikan giri-choco bukan berarti menyatakan cinta tapi juga tidak harus dianggap sebagai sebuah paksaan. Hanya sebagai simbol kasih sayang secara platonik karena sudah menjadi teman atau rekan yang baik.
Dan di Lab Nakayama, ia menjadi penerima giri-choco terbanyak, karena beberapa mahasiswi jurusan lain di Tokyo Tech yang sempat dikenalnya, juga memberikan giri-choco. Ada yang diberikan langsung, ada juga yang dititipkan melalui Kyoko dan Tomoko.
"Oku no fan ga imashu (kau punya banyak penggemar)," seloroh teman-teman labnya. Membuatnya sampai melewatkan makan siang karena merasa kenyang menghabiskan giri-choco yang bejibun.
Sore hari saat ia masih lieur menyusun ulang data riset, Ichiro sudah tersenyum lebar bersiap pergi ke acara dinner spesial. Luar biasa. Membuktikan seberapa ambis dan bekerja kerasnya orang Jepang.
Ia bahkan masih berjibaku di lab hingga jam 8 malam. Meski belum yakin benar dengan bahan presentasi untuk besok, tapi perut lapar yang berteriak minta diisi lebih mendominasi. Membuatnya memutuskan untuk pulang lebih awal dan berjanji besok akan datang lebih pagi.
Saat ia sedang berpikir akan langsung pulang ke asrama atau mampir ke supermarket untuk membeli beberapa bumbu dapur yang hampir habis, seseorang yang berdiri tepat di depan pintu keluar gedung menyambutnya hangat.
"Dio-san!"
"Hibiki?"
"Gomennasai (maaf), O Genki desu ka (apakabar)?"
"Hai, genki desu. Anata wa (Baik sekali. Kamu)?"
"Konban, watashi to isshoni shokuji o shimasenka (Malam ini maukah makan malam bersamaku)?"
Sepertinya agak lama mereka tak bertemu. Terutama sejak ia sering pulang larut malam dari ngelab. Terakhir bertemu saat ia memenuhi undangan minum teh dari nenek Shimada, hampir dua minggu yang lalu.
"Yorokonde (dengan senang hati)." Sepertinya akan menyenangkan makan malam sambil mengobrol dengan orang lain, tak ada salahnya.
Hibiki mengajaknya berjalan kaki melewati deretan pertokoan, supermarket, kedai kopi, toko buku, dan galeri seni yang membentang sepanjang jalan utama Okayama. Kemeriahan valentine terasa sangat kental dengan semaraknya hiasan warna pink dan gambar hati yang terpampang hampir di setiap toko dan tempat keramaian. Beberapa bahkan menyelenggarakan promo valentine bagi pasangan yang datang berkunjung. Mulai dari diskon souvernir couple unik hingga gadget terbaru. Wah.
__ADS_1
Di salah satu sisi jalan yang paling ramai pengunjung, Hibiki berbelok ke sebuah restoran sederhana bernama Mamakari-tei.
"Disini tempat terbaik untuk merasakan masakan lokal Okayama," terang Hibiki. "Sashimi, sushi, dan nanban-zukenya paling enak."
Mereka memesan special menu hari itu, dan tanpa diduga berhasil mendapat diskon sebesar 50%, karena sedang berlangsung program promo dinner for couple.
"Sugoi (hebat)!" Ia pun senang karena bisa makan enak tapi hemat.
Tanpa harus menunggu lama, pesanan sudah diantar. Perut kosong yang menagih untuk diisi sejak tadi membuatnya segera mengucapkan, "Itadakimasu (selamat makan)."
"Kimi tte itsu made mo suteki na egao o shite ru ne (kamu memang selalu tersenyum mempesona)."
Komentar Hibiki membuatnya tersedak sampai terbatuk-batuk, karena sepotong sushi membelot masuk ke tenggorokan, membuat hidungnya pedih.
"Gomennasai (maaf). Daijobu desu ka (kau tak apa)?"
"Daijobu desu (saya baik-baik saja)," sambil berusaha mengatur nafas yang tersengal dan menetralkan hidung yang terasa semakin pedih.
Setelah insiden tersedak, mereka makan dalam diam. Hidangan yang benar-benar lezat berhasil licin tandas dalam waktu singkat.
"Gochisousama (terima kasih makanan lezatnya)."
Hibiki tersenyum, "Douitashimashite (sama-sama)," sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, honmei-choco.
Honmei-choco biasa diberikan kepada orang yang spesial dalam hidup pemberi. Biasanya tidak dibeli di toko, namun membuatnya sendiri di rumah, dengan tujuan kasih sayang akan lebih tersalurkan.
"Anata no tame no chokoreto (cokelat untukmu.)"
"Chokoreto o moratte ureshii (merasa senang karena menerima cokelat)."
"Okashii yo ne. Anata no soba ni iru to, tottemo ochitsuku no. Maru de zutto mae kara no shiriai mitai ni (Aneh ya. Kalau aku bersamamu, aku merasa damai. Seolah-olah kita sudah lama saling mengenal)."
Ia hanya bisa tersenyum.
"Kimi ni deatte yokatta (aku senang bisa bertemu denganmu)."
"......"
"Suteki na anata ga dai suki desu (kamu orang yang menarik, aku menyukainya)."
"......."
"Anata no koto ga daisuki (aku sayang banget sama kamu)."
"......."
"Gomennasai (maaf). Korekara mo okarada ni ki o tsukete genki de ite kudasai (jaga kesehatan dan sehat-sehat selalu). Suteki na ichi-nen ni narukoto o kokoro kara negatte imasu (aku berdoa sungguh-sungguh, semoga tahun ini menjadi tahun yang menyenangkan bagimu)."
Ia tak tahu harus mengatakan apa. Tak pernah menyangka Hibiki akan seterus terang ini. Sepanjang perjalanan pulang dari Mamakari-tei menuju Stasiun Okayama, naik densha ke Stasiun Nagatsuta, hingga berjalan kaki menuju rumah Hibiki, mereka lalui dalam diam dan canggung.
"Gomen ne (maafkan aku)," berkali-kali Hibiki meminta maaf. "Anata o konran sa semashita (telah membuatmu bingung)."
"Iie, do itashimashite (Tidak, tidak apa-apa). Kochira koso (seharusnya aku yang bilang begitu)."
"Mata ashita (sampai besok)," Hibiki tersenyum sambil membuka pagar rumahnya.
"Mata aimashou ( sampai jumpa lagi)," jawabnya sambil sedikit menundukkan bahu seperti layaknya orang Jepang saat hendak berpisah. "Obasaan ni yoroshiku (Salam untuk nenek)."
Ia melangkah cepat menyusuri jalanan yang sedikit basah karena salju yang mencair. Berusaha mengusir dingin yang semakin menggigit seiring beranjaknya malam. Pendar cahaya lampu jalanan menampakkan salju di pucuk-pucuk pohon maple yang banyak tumbuh berderet di sepanjang jalan yang ia lewati. Daun yang awalnya berwarna hijau berubah kuning, lalu menjadi orange, dan di musim gugur menjadi merah menyala, akhirnya rontok di musim dingin seperti sekarang ini.
Begitu sampai di dorm, ia langsung mencuci tangan, kaki, dan menggosok gigi, yang kesemuanya dilakukan dengan secepat kilat, sebelum rasa lelah dan kantuk semakin mendominasi. Sambil berbaring bersiap untuk tidur, ia menyetel alarm ponsel agar besok pagi tak terlambat bangun. Sebelum menyimpan ponsel di atas nakas, sebuah notifikasi pesan masuk. Khawatir penting, ia coba untuk membukanya. Ternyata Bayu, yang mengirimkan beberapa file dengan caption,
Bayu. : "Dia bener-bener ba jingan."
Yang berhasil membuat kepalanya mendadak pening, dengan kalimat Ichiro mulai terngiang kembali, mendengung tak karuan, namun dalam versi terbalik, karena sekarang ia yang sanggup menyeberangi samudra hanya untuk membunuhnya.
__ADS_1
Dari jendela kamarnya yang tak tertutup korden, terlihat sehelai daun maple terakhir yang masih tertinggal di atas dahan jatuh tertiup angin.