
Rendra
'Di daun yang ikut
Mengalir lembut
Terbawa sungai ke
'Ujung mata
Dan aku mulai takut
Terbawa cinta
Menghirup rindu yang
Sesakkan dada...
Jalan 'ku hampa
Dan 'ku sentuh dia
Terasa hangat
Oh di dalam hati
'Ku pegang erat dan
'Ku halangi waktu
Tak urung jua
'Ku lihatnya pergi'
(Letto, Ruang Rindu)
"All i want is you....only you....," bisiknya. She's mine, always mine, forever mine.
'Tak pernah 'ku ragu
Dan s'lalu 'ku ingat
Kerlingan matamu
Dan sentuhan hangat
(Letto, Ruang Rindu)
Kepalanya mulai menayangkan kilas adegan saat pertama kali ia melihat belahan jiwanya soon to be di Perpus pusat. Saat gadis berlesung pipi itu sedang presentasi di depan teman-teman kelompoknya. Suara yang lembut, penampilan anggun, dan senyum manis yang tak pernah lepas membuat dunianya berhenti berputar. Who is the hell she? Bagaimana bisa ia tak pernah menyadari ada keindahan sebegitu mempesona?
BRUK!
Satu hal yang sempat disesali adalah saat semesta membuat mereka tak sengaja bertabrakan di depan Mirota Kampus,
"Aduh!" sesosok wajah mungil mendongak kearahnya kaget. Tapi reaksinya terlalu menjijikkan yang tanpa sadar malah membentak, "Jalan pakai mata!"
Ia sempat menangkap kilatan kaget di kedua mata bulat nan indah itu, tapi ego membuatnya terus berlalu. Begitu sadar jika dia adalah gadis yang sama yang pernah dilihatnya di Perpus Pusat, sosoknya sudah tak terlihat lagi. Damn!
Tapi Tuhan pasti sedang berbaik hati padanya, karena sekelebatan wajah yang begitu ingin ditemuinya lagi terlihat sedang mengintip ke bawah dari balik jendela kamar lantai 2 Pitaloka, how come?
Esok pagi takdir mulai bekerja untuknya, saat melihat pemandangan paling mengusik di dapur Pitaloka. Tapi lagi-lagi kebodohannya membuat pertemuan yang seharusnya bisa menjadi kenangan terindah itu malah menjadi pertemuan paling mengerikan yang pernah ada.
"SIAPA LO?!"
"LO PEGANG-PEGANG GUE MO MACEM-MACEM?!?"
Lalu saat jiwa kerdilnya lebih mendominasi dengan memamerkan kemampuan atraktifnya yang selalu berhasil membuat cewek manapun bertekuk lutut, Anggi justru terlihat ketakutan sampai menabrak tempat sampah.
'Ku saat itu takut
Mencari makna
Tumbuhkan rasa yang
Sesakkan dada'
(Letto, Ruang Rindu)
"Hal mesum!" lontaran sarkas bernada penuh kekesalan di dalam forum. Membuatnya tak habis pikir tentang apa yang sedang Tuhan rencanakan untuknya.
Disusul perdebatan tanpa ujung, kekesalan yang selalu menguar diantara mereka. Namun pemandangan penuh syahdu mulai menyentuh sisi hatinya yang terdalam. Saat melihat Anggi bernyanyi di tengah api unggun sambil memejamkan mata. She's beautiful, really.
'Ketika senyummu hadir
Ketika hati bicara
Dan saling bertegur sapa
Terlintas bahagia
Ketika senyummu hadir
Ketika mata bicara
Dan saling memandang mesra
Di dalam cintamu'
(Tika Bisono, Ketika Senyummu Hadir)
Tapi suara batuk yang sangat dalam malah membuat dadanya terasa sakit.
Disusul darah yang keluar dari hidung, kembali mengingatkannya akan luka masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam.
Beberapa pertanyaan mulai mengganggu, apakah dia sakit? Apakah dia baik-baik saja? Meski secara kasat mata kondisi fisik dan tubuhnya terlalu segar untuk dikategorikan sakit, namun ia tetap khawatir.
Pikirannya kembali melanglang buana. Saat betapa kelimpungannya mencari sosok Anggi di antara ratusan panitia Ospek berkemeja biru.
Lalu bernapas lega saat menemukan sesosok kepala tanpa topi yang membuatnya menerjang setengah lapangan GSD hanya untuk memakaikan topi di kepala mungil itu.
Tapi feedback yang ia dapat selalu jauh dari ekspektasi,
"Elo seenaknya nyuruh-nyuruh orang lain buat minta maaf, sementara lo sendiri nggak bisa minta maaf. So pathetic."
"Elo jelas-jelas tipe orang yang nggak bisa bilang maaf. Jadi jangan pernah nyuruh orang lain untuk minta maaf, apalagi itu bukan urusan lo!"
"Lo masih utang maaf ke gue!"
'Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua 'ku terima
__ADS_1
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu...'
(Letto, Ruang Rindu)
"Saya mau ngembaliin ini!"
"Saya udah bilang, nggak usah kirim-kirim!"
Kesalahpahaman tentang sekotak hampers berhasil menohoknya telak bahwa ia tak sendiri, ada orang lain di luar sana yang telah memiliki tempat spesial di hati Anggi.
"Aku minta maaf," uluran tangannya bahkan tak pernah berbalas. Telak menyentil egonya yang setinggi gunung.
"Sorry, i can't."
"Dio," jabatan tangan mereka di teras Raudhah jelas mendeklarasikan, "Kita rival!"
'Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua 'ku terima
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu...'
(Letto, Ruang Rindu)
"Kalau saya perginya seharian nggak pulang-pulang, kamu masih nungguin juga?"
"Apa-apaan sih?! Kita udah selesai. Nggak ada yang perlu diomongin lagi!"
"Kan kamu yang punya jadwal, kenapa nanya ke aku?!"
"Kamu sebenernya udah punya jadwal belum sih? Nggak meyakinkan banget!"
'Jalan 'ku hampa
Dan 'ku sentuh dia
Terasa hangat
Oh di dalam hati'
(Letto, Ruang Rindu)
Hari itu bisa dipastikan menjadi best day ever. Seharian bersama Anggi, membuatnya semakin yakin bahwa she's the one.
"Love you more....", kalimat lirih yang terucap saat Anggi menerima telepon dari seseorang kembali menikam tepat di tengah jantungnya. Bahwa the only one sudah menyimpan orang lain di hati, dan bisa dipastikan itu bukan dirinya.
"Maaf, saya nggak bisa. Saya pacar orang, nggak etis jalan sama cowok lain tanpa alasan penting."
(Aku cinta sama kamu)
Nanging aku iso opo
(Tapi aku bisa apa)
Ngerteni kowe uwes nyanding uwong liyo
(Melihat kamu sudah memiliki kekasih)
(Happy Asmara, Balik Kanan Wae)
Ia hampir masuk menjadi member tetap sadboy tapi takdir masih berbaik hati dengan mengirimkan rival berat tepat di depan mata, "Take care of her...."
Lelehan air mata kesedihan di pipi mungil itu membuatnya berjanji sepenuh hati takkan pernah membiarkan the one and only nya menangis sedih. She must be happy.
Ketika tiba-tiba terdengar bunyi ceklek dari arah pintu.
Ia mengira sedang berhalusinasi karena kartu akses jelas hanya ada 2, yang dipegangnya dan Rakai. Yang juga dipakai Anggi untuk masuk tadi.
Jadi, suara pintu terbuka pasti hanya ilusi karena seluruh tubuhnya kini sedang dikuasai oleh hormon dopamine, serotonin, oksitosin, you name it karena saking bahagianya.
"RENDRA!!"
Sebuah suara yang terdengar tak asing namun sangat ingin dilupakannya mendadak menggelegar mengisi udara di seluruh ruangan.
Dengan memasang wajah kesal, ia pun menoleh ke arah pintu dimana si pengganggu berada.
Di sana, telah berdiri dua orang yang sangat dikenalnya.
Di bagian paling belakang ada Rakai yang memasang wajah melotot sampai bola matanya seperti mau keluar, sekaligus mencemooh, pasti karena sempat melihatnya barusan.
Dan seorang pria berambut perak yang sangat dibencinya, "Papa?!?"
***
Anggi
Ia ikut menoleh kearah pintu demi mendengar sebutan yang diucapkan Rendra. Papa?
Di pintu masuk apartemen telah berdiri angkuh seorang pria berambut perak. Berusia sekitar awal 60 an, bertubuh atletis, tegap, gagah, tak jauh berbeda dengan orang yang ada di depannya.
Ekspresi melongo sekaligus melotot Rakai yang berdiri di belakang pria berambut perak tersebut semakin membuatnya merasa malu.
"Aduh," Rendra bergumam pelan saat ia mencubit.
"Papa sengaja datang nyari kamu," Rakai dipastikan sedang berusaha menjadi penyambung lidah dalam suasana menegangkan seperti sekarang ini.
Pria berambut perak itu tak mengatakan apapun, berjalan angkuh melewati mereka berdua lalu mendudukkan diri di meja makan yang masih dipenuhi hidangan.
"Duduk!" perintahnya seperti bicara kepada anak SD.
Rakai mendahului dengan segera duduk di meja makan. Sementara Rendra dengan gaya malas yang sengaja diperlihatkan, masih sempat meraih tangannya untuk ikut duduk di meja makan. Ia sempat menolak halus, tapi Rendra menggenggam tangannya erat, "It's okay...."
Kini mereka berempat duduk berhadapan di meja makan. Pria berambut perak, Rakai, Rendra, dan dirinya, dengan Rendra masih menggenggam erat tangannya di bawah meja.
Semua diam seribu bahasa tanpa ada yang berniat membuka pembicaraan. Pria berambut perak dan Rendra yang duduk tepat segaris berhadapan, saling melempar tatapan sengit tanpa ada yang bersuara. Sementara Rakai terlihat gelisah sambil sesekali merubah posisi duduk.
__ADS_1
Suasana sunyi sekaligus menegangkan membuat hatinya sedikit mengkerut. Dan mengambil kesimpulan bahwa ia tak seharusnya berada disini.
"Aku....kayaknya mau pulang dulu," bisiknya ke telinga Rendra. Yang langsung dijawab dengan menambah erat genggaman tangan mereka.
"Om," ujarnya sambil mengangguk sesopan mungkin. "Saya pulang dulu....," lalu beralih melihat kearah Rakai yang hanya meringis memandangnya, pasti juga bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
Pria berambut perak tetap tak bergeming, hanya melihat kearahnya sekilas. Keadaan yang semakin tak menyenangkan ini membangkitkan inisiatif Rendra, "Perkenalkan, Papa....," kata Papa ditekankan dengan intonasi tinggi. "Ini Anggi, calon istriku."
Ia hanya bisa menelan ludah melewati tenggorokannya yang mendadak seperti dipenuhi duri.
"Anggi...ini Papa aku," Rendra tersenyum lembut memandangnya, namun masih menekankan kata Papa dengan intonasi yang berbeda.
Namun pria berambut perak masih tetap tak bergeming, hanya memandang lurus kearah mereka berdua tanpa ekspresi. Membuat Rendra memutuskan untuk berdiri, "Aku antar Anggi ke bawah," kali ini sambil mengerling kearah Rakai yang merespon dengan anggukan pelan.
Rendra masih tetap menggenggam tangannya erat, namun saat ia bermaksud mengulurkan tangan menyalami pria berambut perak untuk berpamitan, Rendra tak mengijinkan dengan meremas tangannya erat, "Nggak usah," bisiknya pelan.
Ia menurut dan hanya mengangguk sebelum beranjak dari meja makan paling menyeramkan seumur hidupnya.
"Sebentar," Rendra lebih dulu mengambil sebuah topi dan kacamata hitam dari rak lalu memakainya. Saat Rendra melakukan itu semua, ia juga buru-buru menuntaskan misi utamanya tanpa sepengetahuan Rendra yang sedang sibuk mencari dompet. Done, mission accomplished.
Akhirnya mereka berhasil melangkah keluar dari apartemen rasa pertumpahan darah, menyusuri lorong menuju lift, dengan lengan Rendra merengkuh lembut bahunya sementara satu tangan mereka saling bertautan.
"Maafin Papa," Rendra membimbingnya memasuki lift. Ia hanya tersenyum mengangguk.
"Lantai dasar? Kamu bawa motor atau mau naik Ojol?"
"Aku diantar Mala kesini, lagi nunggu di lounge."
Rendra mengangguk, "Oke," sambil memencet angka 1. "Mala nunggu lama dong," Rendra tersenyum miring. "Apalagi kalau tadi Papa nggak muncul, bisa-bisa sampai sore kamu nggak pulang pulang...," lanjut Rendra sambil tersenyum simpul.
Membuatnya mencibir, "Ngapain sampai sore?! Habis makan juga langsung pulang."
"Beneran langsung pulang.....," Rendra menyentil hidung dengan telunjuknya. "Tadi bukannya kita lagi asyik....Aduhh!" Rendra meringis karena ia keburu mencubit pinggangnya.
"Jangan macem-macem!" gerutunya berusaha menyembunyikan semburat merah yang dengan lancang muncul seenaknya.
Rendra hanya terkekeh pelan. Sementara lift terus melaju ke lantai bawah. Beberapa orang naik di setiap lantai, namun tak terlalu penuh, masih menyisakan banyak ruang di dalam lift, membuatnya bisa menatap pantulan diri di dinding kaca yang mengelilingi ruangan dalam lift.
Di sana, berdiri seorang gadis yang hampir tak dikenalnya, berwajah kemerahan seperti sedang menahan malu.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 1, Rendra meraih bahunya lembut membimbingnya keluar dari lift. Lalu mereka kembali berjalan menuju lounge.
"Papa kamu sering kesini nengokin kamu?" ia menemukan topik paling umum untuk mengisi kesunyian.
"Never," Rendra menggeleng.
"Ini pertama kalinya kesini?!"
"Iyap!"
"Ada hal penting berarti," ia bergumam pelan.
"Hal sepenting apa sih, sampai ganggu orang lagi asyik...aduh!!" Rendra kembali meringis karena ia memukul lengannya, kali ini memukul sungguhan.
"Lagian apa banget deh, tiba-tiba nongol ganggu....hehehe," Rendra meringis demi melihatnya bersiap-siap mengayunkan tinju. "Ganggu kita mau makan maksudnya," lanjut Rendra buru-buru. "Kamu jangan suudzon dulu dong, sensitif amat....," kekehnya dengan memasang muka jahil.
Ia hanya mencibir. "Papa kamu pasti udah tahu masalah yang nimpa kamu...."
"Pastinya," mereka mulai memasuki lounge, yang siang ini terlihat ramai pengunjung.
"Kira-kira kamu bakalan diapain sama Papa kamu?" ia bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan pria berambut perak berwajah dingin terhadap anak laki-laki bandelnya itu.
"Ah, biasa," Rendra mendesis. "Paling juga dihajar, digebukin, dicekek, di.... aduh!" Rendra kembali mengaduh untuk kesekian kali setelah cubitan pedasnya mampir di lengan Rendra.
"Aduh, cubitan kamu...ampuuun," Rendra meringis tapi masih memasang muka menggoda.
Seseorang yang duduk paling ujung melambaikan tangan tinggi-tinggi, "Itu Mala," ujarnya senang.
"Hai, Mal," Rendra tersenyum menyapa Mala. "Makasih ya udah nganterin my sweetie kesini," sambil mendudukkan diri di sofa lounge.
Mala hanya nyengir mendengar panggilan Rendra untuknya, "Santai, Bang."
Ia mendudukkan diri di sebelah Mala.
"Udah selesai?" tanya Mala. "Urusan udah selesai?" kali ini bertanya kearah Rendra.
"Belum sih, keburu ada gangguan...."
Ia buru-buru melotot, membuat Rendra terkekeh.
"Kalau belum diselesaiin aja dulu, gue free kok hari ini," Mala mengerling kearahnya. "Lumayan kongkow sambil dengerin live accoustic. Suaranya keren gila," Mala menunjuk kearah panggung live music.
"Udah selesai kok Mal," ia menyahut. "Rendra juga ada tamu yang lagi nungguin."
"Oh, gitu, oke," Mala mengangkat bahu.
"Sekali lagi tengs berat ya Mal," Rendra kembali mengucap terima kasih. Sepertinya paham betul peranan Mala dalam hubungan mereka.
"Sans, Bang," Mala tersenyum. "Oiya, kenapa pakai topi sama kacamata item segala, kan nggak kemana-mana?" Mala menanyakan hal yang juga penasaran ingin diketahui jawabannya.
"Jaga-jaga aja, kemarin ada wartawan sampai nungguin di lobby seharian. Parah," Rendra menggelengkan kepala. Membuatnya dan Mala ber oh panjang.
"Oiya bang, sebelum pulang nih, gue mau nyampaiin uneg-uneg," Mala mendadak mengatakan sesuatu yang diluar dugaan.
"Uneg-uneg apa?!" Renda mengernyit penasaran.
"Lain kali, kalau mau propose tuh ngumpulin data yang valid dong, jangan ngelamar di tempa...."
"Udah, Mal, Rendra udah ditungguin sama tamunya," ia buru-buru memotong kalimat Mala. "Ya kan, Papa kamu udah lama nunggu, ntar marah lagi," ia beralih kearah Rendra yang masih penasaran.
"Ya intinya kalau mau propose di tempat yang nggak ada mitosnya," ujar Mala sebelum ia menarik tangannya agar segera pergi.
Ia sempat tersenyum kearah Rendra sebelum pergi meninggalkan lounge, sementara Rendra membalas dengan melambaikan tangan tinggi-tinggi. "Hati-hati di jalan. Bawanya jangan ngebut, Mal," begitu yang masih sempat terdengar sebelum mereka benar-benar keluar dari lounge.
Kini mereka telah berada di dalam mobil Mala menembus lalu lintas macet dan jalanan panas di siang hari.
"Ngapain senyum-senyum sendiri?" Mala mencibir melihatnya yang tersenyum-senyum sambil melihat kearah jendela samping.
"Itu di jalan ada yang lucu," ujarnya berbohong.
Ia buru-buru memalingkan muka ke jendela samping lagi, pura-pura tak mendengar tuduhan Mala. Ia hanya mendecak tak berminat menanggapi ejekan Mala.
"Oh, my loveee...my darlin....," Mala justru menyanyi dengan gaya dibuat-buat.
"Apa sih, Maaaallll....," gerutunya kesal.
"Etapi, sukses tadi?" Mala berubah serius.
Ia mengangguk, "Mission accomplished," sambil mengingat apa yang telah dilakukannya tadi. "Tinggal nunggu. Bola udah di tangan Rendra. Gue tinggal nunggu...."
Mala mengangguk puas, "Semoga semua sesuai rencana..."
__ADS_1
"Aamiin."
***