
Rendra
Jujur, ia tahu siapa orang dibalik hal buruk yang menimpanya akhir-akhir ini. Dimulai dari kiriman paket berisi bangkai ayam ke ManjoMaju seminggu berturut-turut, kaca mobil yang mendadak pecah di pelataran sebuah cafe saat bertemu kolega, petugas pajak yang tiba-tiba jadi sering sidak, orang mabuk yang menyerangnya di parkiran Mreneo, hingga terakhir saat rumahnya disatroni sekelompok orang bersenjata tajam.
"Kita lepas, terlalu berat," begitu Rakai selalu bilang. Tapi ia tak pernah setuju. Proyek yang bisa dikatakan masterpiece ManjoMaju ini mereka lalui dengan proses yang tak mudah. Melalui jalur resmi yang menguras tenaga dan pikiran. Lagipula, bisa jadi ini akan menjadi proyek prestisius terakhirnya saat masih berstatus lajang. Karena ia telah berjanji pada diri sendiri, setelah berkeluarga kelak, akan melakoni bisnis yang lebih aman terkendali.
"Setelah semua perjuangan anak-anak, lo mo mundur gitu aja?" ia tak percaya Rakai begitu mudah menyerah.
"Bagusnya mikir jauh ke depan, daripada fighting at the wrong battle, bisa ancur!" Rakai memang lebih suka bermain aman.
"Kita bisa. Pasti bisa," ujarnya lebih ke meyakinkan diri sendiri.
"Keras kepala!" Rakai pun kehabisan akal untuk membujuknya.
Membuat sebagian besar waktunya habis untuk mengurus kekacauan yang ada. Bolak balik konsul dengan Bang Buyung -penasehat hukumnya-, Mas Sada -perwira menengah kepolisian-, Darrel -keluarga orang berpengaruh-, dan orang-orang kompeten lainnya.
"Si Harsa cuman kroco, sial banget lu dimatiin lewat Harsa. Gua yakin pasti dia dalangnya. Lu terlalu cepet nanjak, bikin orang gerah. Gua dukung lu." Darrel jelas tak mempedulikan hubungan kekerabatan dengan orang tersebut. "Harus ada yang berani ngelawan, Gua tahu lu orangnya."
Tapi info terakhir dari Mas Sada sempat membuat nyalinya ciut. "Berat, Ren. Untouchable. Kasus terakhir yang berskala nasional bisa dipetieskan." Apalah arti penyerangan terhadap mahasiswa random seperti dirinya. Cuma kasus receh.
Tapi Bang Buyung memberi wacana lain. "Gua siap pasang badan."
"Makasih Bang."
"Kalau lu maju, bisa jadi angin segar buat orang-orang yang udah muak sama dia. Bakalan banyak yang berdiri di belakang lu."
Membuat semangatnya kembali menyala.
"Tapi ibarat Bharatayuda, pilihannya cuma dua, lolos atau hancur."
"Menang kali Bang. Menang atau kalah."
Bang Buyung menggeleng, "Lolos tanpa babak belur udah prestasi besar buat lu."
Membuat Rakai semakin mewanti-wantinya untuk membuat pilihan cerdas. "Kita pemain kecil, Ren, nothing. Jangan sampai habis dipolitisasi. Kita murni cari sesuap nasi, nothing else."
"I can fixed it."
"Jangan sampai kisah lama terulang."
"Maksud ikam?!"
"Tante Pingkan hancur gara-gara orang yang benci sama lo lebih milih nyerang dia daripada nyerang lo langsung!!"
"Jangan bawa-bawa Mama!!" Ia selalu emosional tiap kali membahas hal tentang Mama.
"Kalau mereka tahu kelemahan lo sekarang, gua yakin itu yang bakal diserang."
Anggi adalah kelemahannya sekarang. Tapi ia selalu menjaga dengan tak pernah mengeluhkan masalahnya, sama sekali tak berniat melibatkan gadis yang telah susah payah diraihnya. Sampai sejauh ini, Anggi bahkan tak pernah tahu seberapa besar masalah yang sedang dihadapinya. Bagi gadis itu, masalah terbesar adalah skripsi yang mulai mangkrak di tengah jalan.
"Kamu khawatir wisudaku molor? Khawatir acara lamaran mundur....," godanya antusias.
"Bukan gitu," ia selalu menyukai ekspresi saat Anggi mencibir. Menggemaskan. "Hubungan yang sehat itu saling. Kamu udah support aku ngelewatin challenge kemandirian, sekarang giliran aku support kamu."
Ia terpesona mendengar kalimat terakhir Anggi. Membuatnya merasa still fall for her day by day.
"Atau kamu ada challenge lain diluar skripsi?"
His big problem. Namun ia lebih memilih untuk menggeleng, "No."
"Then, just do it."
Membuat semangat nyekripsinya kembali menyala di tengah-tengah kesibukan proses pembuatan BAP sebagai saksi pelapor dalam dua kasus berbeda yang tengah menimpanya.
Anggi berperan penting mengingatkannya tentang manajemen waktu yang sehat, "Buat tenggat waktu. Jangan sampai seharian enggak tidur."
Baik, sweetie.
"Makan teratur, jangan sampai kena maag," sambil tak pernah lupa membawakannya makanan home made bergizi tinggi, membuatnya takjub, "Masak sendiri?"
"Kenapa? Nggak enak?"
__ADS_1
"Bukan gitu. Kamu juga banyak tugas, jangan jadi repot. Go food aja gampang."
"Masak lebih ekonomis. Sekalian mengasah skill memasak."
Oke, sweetie.
"Sering minum air putih, jangan sampai dehidrasi."
Siap, sweetie.
Namun semangatnya kembali menguap saat si hitam kesayangan yang baru beberapa hari keluar bengkel, kembali dirusak oleh orang tak dikenal saat sedang parkir di Mreneo. Kali ini bukan kaca yang dipecahkan, tapi kap mobil yang menjadi sasaran aksi vandalisme, dicorat-coret dengan cat semprot. Brengsek! Kesabarannya jelas tak bersisa.
"Jangan jadi batu! Ini saatnya mundur!" reaksi Rakai lebih keras dibanding sebelumnya.
"Never ever."
Membuat proses pendaftaran seminar pra pendadarannya terbengkalai hampir dua minggu, karena malas mengurus syarat-syarat yang segambreng banyaknya.
"Ciri orang efektif salah satunya memiliki skala prioritas," ujar Anggi dengan nada nggak santai saat ia mengantarnya pulang ke Rhaudah. Pasti karena seminar pra yang molor.
"Dan standar skala prioritas adalah kepentingan umum diatas pribadi," ia terkekeh melanjutkan kalimat andalan yang pernah diucapkannya sendiri berbulan-bulan lalu. "Masih inget aja. Jangan-jangan waktu itu kamu udah ngerasa something sama aku. Wah wah wah..."
Anggi mencibir, "Bukan kesana arahnya."
"Terus kemana?"
"Apa semua hal yang kamu ucapkan ke orang lain, nggak pernah kamu lakuin?"
"Not action talk only. Ya ya ya," ia semakin terkekeh. "Pak Drajat sama Pak Edi udah acc. Tinggal Pak Indradi, duh, males banget ngejarnya."
Kernyitan khas Anggi membuatnya kembali berujar, "Oke, akan Abang kejar Pak Indradi ke ujung dunia sekalipun!"
Dan setelah beberapa hari bolak-balik bagian pengajaran, akhirnya keluarlah jadwal seminar pra pendadaran. Tahap awal yang menggambarkan bagaimana suasana sidang skripsi nanti.
Dengan dukungan pasukan berani mati anak-anak sekre, senat, BEM, dan lainnya yang sangat bisa diandalkan, ia pun siap menggelar hajatan seminar pra pendadaran.
Acara dimulai jam 9, Salsa menjadi koordinator presensi, yang sigap menodong para peserta untuk mengisi presensi sebelum masuk ruangan. Lalu Angky yang tangkas membagikan snack box. Aji yang sukarela menjadi operator. Tak ketinggalan Tommy dengan senang hati mencatat setiap pertanyaan dan saran saat presentasi berlangsung.
Setelah semua peserta duduk manis, presentasi dimulai. Cukup 20 menit, lanjut sesi diskusi dan tanya jawab. Semua aman terkendali. Sesi ditutup dengan sedikit pengarahan dari Pak Drajat. The end. Acara dilanjutkan dengan menikmati makan bersama dan foto-foto, sambil semua berucap,
"Selamat yaaa!"
"Semangat revisi!"
"Semangat pejuang Februari!"
"Ditunggu undangan syukuran sidangnya!"
Kini, setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan, hanya tersisa mereka berdua, duduk berhadapan dalam jarak kurang dari lima meter, dan saling melempar senyum selama lima menit terakhir.
"Selamat ya..."
"Because of you."
'You're my sunshine after the rain
You're the cure against my fear and my pain
'Cause I'm losing my mind when you're not around
It's all
It's all because of you
Baby I really know by now
Since we met that day
You showed me the way
I felt it then you gave me love, I can't describe
__ADS_1
How much I feel for you
I said baby I should have known by now
Should have been right there whenever you gave me love
And if only you were here
I'd tell you
Yes I'd tell you'
(98 Degrees, Because Of You)
"Nggak lah, ini semua hasil kerja keras kamu sendiri."
Ia tersenyum, hatinya selalu merasa damai saat berlama-lama memandang wajah kekasih hati.
"Padahal kamu kayaknya lagi banyak masalah. Tapi bisa melalui semua. Kamu...lagi ada masalah apa sih?"
Apa gadisku ini punya indra keenam?
"Hak kamu buat nggak cerita ke aku."
No no no.
"Tapi aku ingin kamu tahu, aku disini nggak kemana-mana."
Definitely, you're the best person i've ever had.
"Apa ada hubungan sama hancurnya rumah kamu kemarin?"
Ilmu komunikasi yang dimiliki jelas sedang dipraktekkan, mencecarnya dengan pertanyaan.
"Udah ketahuan siapa dalangnya?"
"Nope."
"Aku baru tahu kenapa waktu itu kamu selalu pakai motor."
"Kenapa?"
"Bukan semata-mata ngajarin aku naik motor. Tapi karena mobil kamu masuk bengkel."
Ia tertawa.
"Karena dirusak orang."
Ia tak jadi tertawa.
"Sekarang, hampir seminggu ini kamu pakai motor. Apa mobil kamu dirusak orang lagi?"
Ia tak suka percakapan seperti ini, harus dihentikan. "Ntar malem kamu ada waktu nggak? Kita dinner spesial yuk. Aku reserve di salah satu hotel ya. Atau kamu yang pil...."
"Jangan ngeles."
Ia bangkit dan mulai membereskan laptop, "Kamu yang pilih tempatnya kalau gitu."
"Kalau kamu nggak cerita, gimana aku bisa bantu?"
"Kamu senyum manis tiap kita ketemu, itu udah bantuan paling indah."
1 detik, 10 detik, ruangan sunyi, membuatnya menelan ego dengan menghampiri Anggi. Menarik kursi lalu duduk tepat di depannya.
"I'm okay, nggak ada apa-apa, kamu jangan khawatir."
Anggi masih menatapnya tak percaya.
"Jadi....kamu pilih dimana? Jam 8 kujemput?"
Anggi menghela napas sebelum menjawab, "Dinner nanti aja kalau udah lulus sidang. Hari ini nggak bisa, ada rapat LPJ."
__ADS_1