
Anggi
Sehari bersama Rendra? Belum satu jam berada di ruangan yang sama saja sudah berhasil membuat hati dan pikirannya campur aduk nggak karuan, bagaimana jika seharian?
Absolutely no, never ever.
Ia langsung menyebutkan 1001 alasan menolak keinginan Rendra. Tapi Rayyan, Galin, Elva, dan Jihan pastinya berbeda pendapat, mereka justru memberinya tatapan memohon sekaligus mengancam.
"Demi kelompok kita."
"Kapan lagi bisa liputan eksklusif. Majalah kampus aja kalah."
"Kalau beres sebelum tanggal lima, film kita bisa langsung masuk seleksi lomba film pendek nasionalnya Fisipol, Nggi. Kita harus all out."
"Tapi nggak seharian loh ya," ralatnya. "Setengah jam juga cukup buat tahu bagian mana yang mesti direvisi."
"Sehari semalem juga kita nggak masalah Nggi," Rayyan tertawa. "Yang penting script beres dan oke. Biar cepet take."
And here i'm, sepagi ini menunggu dijemput Rendra di teras kost.
Sengaja menunggu di teras agar Rendra tak perlu memencet bel yang akan membuat seluruh penghuni kost tahu Rendra datang menemuinya (lagi). Khawatir 'cold war' semakin menjadi.
Sambil sesekali iseng menscroll layar ponsel untuk melihat-lihat sosmed dan berita online lain. Sekalian menunggu Dio menelepon sebelum take off ke Bangkok. Iya, harapan Dio untuk dikirim ke Bangkok dulu sebelum program exchange akhirnya terkabul.
Ia sengaja memakai dress batik yang panjangnya sedikit berada di atas lutut hadiah dari bunda Dio, dipadu dengan celana jeans agar lebih casual dan fleksibel.
Rambut sebahunya diikat ekor kuda ke belakang, praktis dan simple. Tak lupa tas anyaman rotan untuk menyimpan perlengkapan interview.
Menurut kata hatinya, memakai semua hal yang berhubungan dengan Dio bisa menjadi benteng kokoh dari aura mengintimidasi Rendra yang sering membuatnya gelisah.
Bagaimanapun mereka harus tetap memiliki jarak yang membentang lebar, berdaulat tapi tak bisa mengeksplorasi apalagi mengeksploitasi seperti Zona Ekonomi Eksklusif.
"Wah, udah siap?" sapaan riang membuyarkan lamunannya.
Saking seriusnya melamun di depan layar ponsel, sampai tak mendengar suara mobil Rendra sudah parkir di depan gerbang Raudhah.
"Langsung aja nih?" lanjut Rendra tak kalah riang. Seperti anak TK yang gembira karena akan pergi piknik dengan teman sekolahnya.
Ia hanya mengangguk.
Seperti biasa, dengan tangan kanan, Rendra mempersilahkannya untuk berjalan lebih dulu di depan. Kali ini lengkap dengan membukakan pintu mobil sekaligus menutupnya.
"Kita kemana dulu?" tanya Rendra setelah mendudukkan diri di belakang kemudi.
Membuatnya menengok heran, "Kan kamu yang punya jadwal, kenapa nanya ke aku?!"
"Oke oke," Rendra tertawa, lalu berpikir sebentar. "Kita ke kantor."
"Kamu sebenernya udah punya jadwal belum sih? Nggak meyakinkan banget," gerutunya melihat sikap santai Rendra.
"Udah doong," seloroh Rendra sambil mengerling.
"Pastikan nggak ada yang terlewat, nanti bisa-bisa script mesti revisi lagi, nggak mungkin kan kalau kita mesti jalan lagi...."
Ia hanya bisa berdecak kesal. Yang begini ini nih pasti akan terjadi. Beruntung Rendra tak memperpanjang dan langsung tancap gas.
Selama beberapa menit mereka hanya berdiam diri, sibuk dengan pikiran masing-masing. Begitu mobil keluar dari jalan kompleks, Rendra mulai tak tahan untuk tak membuka pembicaraan.
"Kamu nggak nanya apa-apa?" Rendra memecah kesunyian. "Namanya interview pasti ada tanya jawab."
Ia menelan ludah. "Daftar pertanyaan udah ada di dalam," tunjuknya ke tas yang sedang dipakainya. "Buat nanti."
"Oh ya ya...," Rendra terlihat berpikir sebentar. "Kalau gitu aku yang cerita, boleh?"
Ia mengangkat alis.
"Jadwal harianku, biasanya bangun pagi... terus sholat subuh," begitu Rendra mulai.
"Apa???" ujar Rendra kocak seolah ia sedang bertanya, padahal tidak.
"Yah, begitulah, aku memang orang yang taat beribadah," seringaian Rendra membuatnya mencibir.
"Habis itu olahraga bentar. Kadang lari, kalau enggak berenang, atau kalau lagi males cukup pemanasan pukul-pukul samsak. Mmm, apalagi ya...," Rendra terlihat berpikir.
"Eh, kamu nggak nyatat?"
Membuatnya tak mampu lagi menahan emosi. "Catat apanya?! Semua orang juga melakukan hal yang sama, nggak ada yang aneh."
Rendra tergelak. "Nah, tuh tahu. Aku sama kayak orang lain. Begitu juga perasaanku. Digalakkin terus-terusan, dijudesin, dicuekin, gimana rasanya coba?"
Ia tak menjawab, lebih memilih melemparkan pandangan ke luar jendela. Belum juga setengah jam, tapi Rendra sudah mulai aneh-aneh. Ia tak berani menebak apa yang akan terjadi seharian nanti saat mereka bersama.
Dddrrrttttttt Dddrrrttttttt Dddrrrttttttt
Keheningan yang kembali tercipta terusik oleh suara getaran ponselnya yang disimpan di dalam tas, menggelepar-gelepar tanda ada panggilan masuk. Ketika dilihat, my love calling, Dio.
Tanpa menunggu ia langsung mengangkatnya. "Halo?"
"Ohayou..."
Ia tersenyum mendengar sapaan Dio. Mengabaikan Rendra yang menoleh kearahnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Aku lagi otw bandara. Pesawat jam 9.35."
"Take care," ia tak bisa bicara banyak karena ada telinga lain yang juga sedang awas mendengarkan.
"Of kors. How bout you? Ngampus?"
"Nugas," jawabnya pelan. "Ngerjain film yang kemarin aku cerita."
"Ok, good luck. Jangan lupa sarapan."
"Tengkiu. Oceh."
"Nanti kukabari lagi. Love you...."
"Love you too," bisiknya membalas salam perpisahan yang selalu mereka ucapkan tiap kali mengakhiri pembicaraan.
__ADS_1
Terdengar desisan sinis dari arah samping kanan saat ia lamat-lamat mengucapkan kalimat love you too.
"Dia yang nelepon?" Rendra tak mau membuang waktu dengan langsung bertanya.
"Dia itu punya nama," gerutunya sambil menyimpan ponsel kembali ke dalam tas.
"Mau pergi?" Rendra tak mempedulikan protes darinya.
"Bangkok," jawabnya ketus.
"Acara?" Rendra semakin penasaran.
"Kompetisi."
"Dia emang cerdas..."
Ia baru akan menanggapi kalimat Rendra, namun sebelum sempat terucap, Rendra sudah lebih dulu menyambung kalimatnya.
"Bisa lihat semua kelebihan kamu yang nggak ada di cewek lain, langsung gercep jadiin pacar. Cadassss," lanjut Rendra sambil mengerling. Membuatnya spontan mencibir lalu memilih membuang muka ke jendela samping daripada menanggapi kalimat Rendra yang menjurus.
Untungnya lalu lintas pagi yang tak terlalu padat sedikit banyak menolongnya dari situasi kaku dan tak nyaman menjadi semakin berkepanjangan, karena kini Rendra telah membelokkan kemudinya ke deretan sebuah ruko, lalu menepikan mobilnya di halaman ruko yang memiliki desain paling unik, berbeda dengan deretan ruko lain di sebelahnya.
Gaya desainnya hampir mirip dengan Mreneo, modern minimalis mengusung konsep ruang kerja terbuka, dimana kita bisa melihat aktivitas karyawan yang sedang bekerja dari luar gedung.
"Assalamualaikum!!" teriak Rendra begitu mereka masuk ke dalam. Gayanya penuh semangat seperti anak kecil yang sedang bertandang ke rumah temannya untuk mengajak bermain bola di lapangan.
"Wa'alaikumsalam, sugeng rawuh Abang bos, lak tumben pagi-pagi datang kesini," seorang wanita kira-kira usia awal 40an tersenyum ramah menyambut mereka di meja resepsionis.
"Piye kabare Mba Sari?" Rendra balas menyapa.
"Uapik tenan bang. Jos gandoss."
"Bagoos," Rendra mengacungkan jempol. "Oya, kenalin nih....Anggi," dengan gerakkan tangan kanan Rendra menunjuk ke arahnya.
"Perkenalkan, saya Sari asli Wonosari, resepsionis disini. Mba nya mau PKL atau magang?"
"Dudu," sergah Rendra cepat. "Dia tamu spesial saya hari ini."
Itu menjadi titik awal bagaimana Rendra mengenalkannya hampir ke semua orang yang mereka lewati. Di ruang meeting Rendra bahkan mengenalkannya secara resmi pada semua orang yang sedang berkumpul disana.
"Ini Anggi, mahasiswi Ilkom yang menjadi tamu spesial kita hari ini," Rendra menatapnya bangga. "Itu Yoga, Enggar, Danu....," lanjut Rendra menyebut nama mereka satu per satu.
Dari pengamatannya sekilas, 80% pegawai di kantor Rendra berjenis kelamin laki-laki. Hanya 3 orang perempuan yang terlihat, benar-benar menjadi kaum minoritas.
Setelah mulutnya kaku karena kebanyakan tersenyum dan berbasa-basi, sampailah mereka di lantai 2, di depan sebuah pintu kaca bertuliskan Pimpinan, dimana Rendra mengajaknya masuk.
Ruangan selebar 6 x 6 meter itu juga berdesain terbuka dengan kaca mengelilingi seluruh ruangan. Isinya lengkap selain seperangkat meja dan kursi kerja berdesain minimalis, juga sofa empuk, mesin pembuat kopi, kulkas mini, rak berisi makanan dan beberapa pigura berisi piagam penghargaan yang memenuhi rak kecil di sudut ruangan.
"Duduk," Rendra menepuk sofa di sebelahnya. Namun ia lebih memilih untuk duduk di seberang Rendra. Jaga jarak it's a must.
"Minum apa?" tanya Rendra serius.
"Apa aja. Cuma sebentar ini," jawabnya mulai membongkar peralatan interview dari dalam tas.
"Yakin cuma sebentar?" Rendra tersenyum menggoda. "Kamu udah sarapan belum? Di sebelah ada yang jual gado-gado enak."
Sebelum ia selesai mempersiapkan kamera yang akan dipakai, seseorang masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
"Oy, sungsung kesini?" serunya heran melihat Rendra tapi sambil memandang penuh selidik kearahnya.
"Hi ih. Mampir lah."
"Inya siapa?"
"Oiya, kenalin nih Anggi, tamu spesial hari ini. Anggi ini Rakai, dia adalah sebenar-benarnya bos disini," seloroh Rendra.
Rakai adalah kakak sepupu Rendra dari pihak ibu. Lulusan Manajemen dari Universitas swasta ternama di bilangan Condong Catur dua tahun lalu yang kini menjadi tangan kanan Rendra dalam menjalankan semua bisnisnya.
Rendra meminta Rakai untuk membantunya memberi semua informasi yang dibutuhkan. Selama Rakai menjelaskan, Rendra sibuk sendiri di depan laptop. Sambil beberapa kali meminta laporan dari orang-orang kantor. Ia hampir tertawa sendiri melihatnya -untung bisa ditahan- dari kating sengak yang suka nyolot dan mau menang sendiri, mendadak berubah menjadi bos yang disegani dan lumayan wise. Bisa-bisanya.
Setelah ia merasa informasi yang diberikan Rakai cukup memuaskan, Rakai kemudian memanggil seseorang melalui sambungan extension. Disusul dengan tiga kali ketukan pintu dan sembulan kepala, "Iya Bang?"
"Masuk Nggar."
Seorang berwajah ceria masuk.
"Anggi, Enggar. Enggar, Anggi," Rakai memperkenalkan mereka berdua. "Anggi perlu soft copy company profile kita sama beberapa file lain."
Sebelum Enggar sempat menjawab, Rendra lebih dulu bersuara, "Bawa semua filenya kesini. Kamu yang kesini, bukan Anggi yang kesana," ujar Rendra cepat.
"Anggi kamu duduk diam disini, nggak perlu pergi kemana-mana. Biar anak-anak yang ngasih semua keperluan kamu," lanjut Rendra lagi. Diikuti pandangan mata menyelidik Rakai ke arahnya.
"Siap Bang," Enggar mengangguk mengerti.
Rupanya Enggar tipe IT yang well organized, semua file tersusun rapi dan mudah dicari, sehingga acara mengcopy dan mentransfer file selesai lebih cepat dari yang diperkirakannya.
Begitu Enggar keluar ruangan, seorang berseragam OB masuk membawa nampan berisi 3 piring gado-gado untuk mereka bertiga. Selama makan, sesekali Rendra dan Rakai berbicara dalam bahasa daerah yang belum pernah didengarnya. Meski akhirnya Rendra berulang kali meminta maaf demi melihat wajahnya yang bingung.
"Sori...kamu roaming ya?" ujar Rendra sambil tertawa geli.
Setelah gado-gado habis, Puput -satu-satunya pegawai perempuan usia 20an- mengetuk ruangan untuk mengingatkan jadwal Rendra hari ini.
"Waduh, bentrok dong," Rendra terlihat kebingungan.
"Bang, ikam pergi kesana," lalu Rendra dan Rakai terlibat negosiasi yang cukup alot tentang siapa pergi kemana. Setelah tercapai kesepakatan, kini mereka sudah meluncur menuju tempat selanjutnya.
"Jadwal kamu amburadul," cibirnya demi melihat betapa tidak terorganisirnya agenda Rendra. Kantor sih keren, tapi jadwal berantakan.
"Iya nih," Rendra menggaruk kepala yang tidak gatal. "Kayaknya udah butuh aspri," lanjut Rendra sambil mengerling. Membuatnya kembali mencibir.
"Kamu cocok jadi aspri," kali ini sambil tersenyum. "Galak soalnya, siapapun bosnya pasti nurut," Rendra tergelak.
Tuh kan, mulai lagi. Tapi ia tak menanggapi, lebih memilih pura-pura memperhatikan arus lalu lintas siang yang lumayan padat. Tak berapa lama kemudian Rendra sudah menepikan mobil, kali ini di sebuah cafe. Dimana seseorang sudah menunggu.
"Dienteni ra teko-teko (ditunggu dari tadi nggak datang-datang)," ujar orang itu begitu mereka datang.
"Sori, ngrampungke kantor sik (sori, menyelesaikan tugas kantor dulu)," Rendra beralasan. Padahal memang pembagian waktunya yang berantakan.
__ADS_1
"Oiya, kenalin ini Anggi. Anggi, Darrel. Darrel, Anggi."
Setelah memesan minuman, Rendra mulai melakukan pembicaraan serius dengan Darrel. Mereka yang sama-sama memiliki hobi otomotif sedang memfollow up rencana membuka bengkel dengan tema one stop shopping. Sesekali ia meminta ijin untuk memfoto mereka.
Dari cafe mereka beranjak ke daerah Gunungkidul untuk meninjau proyek pembangunan Rumah Sakit Umum yang sedang dikerjakan oleh Manjomaju.
Rumah Sakit dengan konsep modern ini sedang dikebut pembangunannya agar bisa segera memberikan pelayanan kesehatan bagi seluruh warga yang membutuhkan, terutama warga yang tinggal jauh dari pusat kota.
Rumah Sakit yang dibangun sejak akhir tahun lalu ini ditargetkan rampung pada 2 bulan ke depan.
Perjalanan ke Gunungkidul ditutup dengan mampir makan siang ke warung lesehan yang merupakan kuliner terkenal Gunungkidul yang telah melegenda.
"Kamu sebenernya siapa?" sampai disini ia tak tahan untuk tak berkomentar. Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan ke dalam kota.
"Kenapa?" Rendra menyeringai.
"Kayak bukan mahasiswa...."
"Ini kan sisi lain," Rendra tersenyum. "Kalau kehidupan kampus kan kamu udah diluar kepala. Kelas, Perpus, kantin, dosbing, sekre, kepanitiaan, apalagi? Atau kamu mau nambah sehari buat tahu kegiatanku di kampus apa aja?" kerling Rendra penuh arti.
Ia hanya memutar bola mata. "Memang berapa waktu yang kamu punya. 24 jam kayaknya ngga cukup buat ngurus semua aktivitas kamu kayak barusan. Belum waktu buat godain cewek....," kalimat terakhir meluncur tanpa permisi dari mulutnya. Haduh.
Membuat Rendra terbahak, "Aku nggak pernah godain cewek. Mereka yang ngedeketin aku," lanjut Rendra yakin dengan penuh percaya diri. Ya ya ya, terserah.
"Yaaa...kecuali kamu," kerling Rendra jahil. "Udah dikejar malah lari, begitu dibiarin eh kamunya sendiri nyamperin...."
"Nyamperin gimana?!" ia mengkerut.
"Kemarin ke kedai, bukannya nyamperin nggak ada angin nggak ada hujan," Rendra tertawa penuh kemenangan.
"Itu bukan nyamperin. Ini kan resmi profesional, dalam rangka tugas kampus. Lagian kalau bukan karena anak-anak ngotot jadiin kamu tokoh, aku sih ogah," gerutunya kesal.
"Iya iya," Rendra tersenyum mengalah. "Apapun istilahnya yang penting sekarang kamu akhirnya mau deket-deket sama aku."
Ia kembali memutar bola mata. "Bukan mau, tapi terpaksa!"
"Iya terpaksa...gimana kata kamu aja lah," ujarnya masih tersenyum.
"Aku nggak sehebat itu kok, kebetulan aja hari ini lagi nggak ada bimbingan, nggak ada latihan, jadi bisa ngecek sana sini," lanjut Rendra dengan mimik serius. "Biasanya di handle semua sama anak-anak kantor terutama Bang Rakai. He's my savior."
Rendra kembali menepikan mobil, kali ini di halaman sebuah Baby Shop terkemuka.
"Sebelum nanti sore kita ke baksos, mampir sebentar ke temen yang ngadain baby shower," info Rendra begitu mereka masuk ke dalam, sekalian memintanya untuk memilihkan kado yang akan dibawa.
"Berapa budgetnya?" tanyanya sambil melihat-lihat perlengkapan bayi yang lucu-lucu.
"Berapapun yang penting bagus menurut kamu," Rendra mengikuti dari belakang.
"Selamat siang....ada yang bisa dibantu," seorang pramuniaga berseragam tersenyum menyambut mereka. Tapi karena ia telah berhasil ke depan lebih dulu, jadi Rendra yang menjawab, "Oh iya lagi lihat-lihat Mba."
"Untuk anak pertama ya Mas?"
Rendra sempat bengong sebelum akhirnya menjawab dengan gaya kocak. "Oh, iya, untuk anak pertama....kami," sambil menarik tangannya agar sedikit mundur ke belakang. "Iya kan sweetie..."
Kalimat menyebalkan Rendra langsung membuatnya mendelik marah. "Bukan Mba...bukan...."
Namun Mba pramuniaga lebih cepat menimpali kalimat Rendra, "Calon debay cowok atau cewek?"
"Anak pertama...cowok," jawab Rendra mantap.
"Silahkan bisa di sebelah sini untuk kategori bayi laki-laki," Mba pramuniaga memandu mereka untuk menuju ke deretan baby boy. "Silahkan dipilih, jika ada yang ingin ditanyakan bisa panggil saya."
Begitu Mba pramuniaga pergi, ia spontan memukul lengan Rendra, "Apa-apaan sih!"
Yang dibalas dengan kekehan panjang, "Tuh kan kita dikira pasangan suami istri. Suami istri muda, keren kan?"
Dengan muka sebal ia kembali melanjutkan aktivitas melihat-lihat aneka perlengkapan bayi yang dipajang.
"Mau kado yang spesial atau biasa?" tanyanya di depan deretan selimut bayi.
"Ngikut aja."
"Kamu ini gimana sih!" semburnya tambah kesal. "Kalau mau beli sesuatu itu harus terprogram. Budget berapa, kualifikasi barang yang gimana. Jangan mentang-mentang ada duit main beli aja!"
"Iya Bu....baik Bu....," jawab Rendra dengan muka jahil. "Bener deh, kamu cocok jadi aspri. Jadi aspriku aja ya mau?"
Tapi ia sama sekali tak peduli. "Seberapa deket hubungan kamu sama yang ngadain baby shower?"
"Mau ngado mesti ribet gini ya," Rendra garuk-garuk kepala.
"Biar dapet kado yang pas dan mengesankan."
"Mereka dulu waktu kawin pakai WO kita. Yang cowok beberapa kali beli mobil lewat kita. So far masih keep contact."
Ia mengangguk-angguk mengerti, lalu mengambil sebuah alat sterilisasi botol bayi. "Alat-alat gini bisa longlast, kepakai lama," ujarnya sambil menunjuk deretan breast pump elektrik, bouncing set, baby monitor, hingga termometer elektrik.
"Tapi kalau mau yang bisa langsung dipakai baby nya bisa selimut, baju baby, yang kayak gitu-gitu. Kepake juga, cuma ngga longlast, karena baby kan cepet besar. Kecuali kamu belinya dalam berbagai ukuran."
Rendra memandangnya dengan mata berbinar.
"Kenapa?" ia jadi mengkerut, merasa jengah dipandang sedemikian rupa oleh sepasang mata elang yang tajam.
"Kamu pengalaman banget. Keren...keren....," ucap Rendra sambil tetap memandangnya sungguh-sungguh.
"Bukan pengalaman, cuma sering nemenin Mamah nyari kado baby buat sepupu-sepupu yang segambreng, trus kalau lahiran suka berturut-turut."
"Beneran idaman...," gumam Rendra sambil menggelengkan kepala takjub yang langsung mendapat pelototan darinya.
Setelah memilih kado yang menurut mereka paling pas, Rendra kembali mengarahkan kemudi ke sebuah hotel berbintang di kawasan Adisucipto.
Sebelum mereka turun Rendra sempat meminta ijin, "Sori...," ujar Rendra dengan nada sungkan sambil menunjuk kearah rambutnya.
Sebelum ia sempat menjawab, Rendra sudah menarik ikatan rambutnya hingga terlepas.
"Nah, begini makin cantik," lanjut Rendra sambil mengangsurkan sebuah sisir.
Dengan hati tak karuan, ia menurut untuk menyisir rambutnya memakai sisir pemberian dari Rendra. Selesai menyisir -yang selama menyisir Rendra memperhatikannya lekat-lekat- Rendra langsung berujar semangat, "Let's go!"
__ADS_1