KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
41. The Rising Star


__ADS_3

Never stop trying


Never stop believing


Never give up


Your day will come


Bila pada umumnya remaja usia 17 tahun memiliki isi kepala yang tak jauh-jauh dari sekolah, main, pacaran, atau mengulik hobi, namun lain hal dengan yang ada di kepala Syailendra Darmastawa.


Rendra belia justru berpikir bagaimana caranya dapat memutar uang yang dimiliki. Bukan karena terlahir dari keluarga yang hidup pas-pasan. Rendra justru terlahir dari keluarga yang berada.


Namun, meski merupakan anak dari pemilik tambang batubara terbesar di Kalimantan, ia tak biasa diberi uang jajan berlimpah maupun fasilitas seperti raja. Otak bisnisnya jalan karena terbiasa membaca berbagai buku bertema bisnis, seperti buku milik Robert T Kiyosaki, Donald Trump, Bill Gates, Timothy Ferris, dan lainnya.


“Segala sesuatu yang kita lakukan dengan passion, akan mendapat hasil yang sangat memuaskan,” ia mengutip kalimat Rendra saat mereka menikmati gado-gado di ruangan kantornya kemarin.


Mungkin ranah bisnis yang identik dengan upaya memutar uang memang telah menjadi passion Rendra. Karena, saat masih SMU, ia tak malu untuk berjualan Snack hasil olahan mamanya sendiri di sekolah. Ia juga menjual berbagai perlengkapan alat tulis dan sekolah dengan harga miring.


Dagangannya selalu laris manis diserbu oleh teman-temannya yang malas keluar kelas saat jam istirahat. Bahkan ia tak malu menjadi kurir bagi orang-orang dewasa yang sering bermain sepakbola di lapangan dekat rumah, dengan senang hati akan membelikan mereka air minum, es, bahkan rokok, dengan imbalan tertentu.


Semua usahanya ini mampu membiayai latihan taekwondo, sparring hingga keluar kota dan mengikuti tiap jenjang UKT hingga mencapai sabuk hitam Dan 2. Membawanya sering menjuarai berbagai kompetisi taekwondo di sekitaran Kalimantan.


Selama sekolah, Rendra hanya menyukai dua mata pelajaran yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Alasannya jelas, Matematika berkaitan dengan keuangan yang sangat erat dengan bisnis, dan Bahasa Inggris perlu dikuasai agar dapat memiliki jaringan yang luas. Meski begitu, nilai raportnya selalu diatas rata-rata, ia berhasil masuk Fakultas Teknik Industri melalui jalur PBUB (Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi).


Ya, Rendra memang berbeda, jika kebanyakan pemuda yang telah mandiri secara finansial kurang memprioritaskan pendidikan formal, itu tidak berlaku baginya.


Menurutnya, pendidikan formal sangat penting untuk membangun pondasi sikap mental yang kritis dengan pola pikir sistematis, terstruktur, dan aplikatif.


Pendidikan formal juga merupakan identitas diri, sarana untuk mengembangkan diri, dan memperluas jaringan pertemanan. Ditambah ia selalu terngiang nasehat dari guru favorit saat SMU, "Tiga hal yang membuat seseorang terangkat derajatnya yaitu iman, amal, ilmu." Jika iman dan amal belum mampu direalisasikan karena gejolak jiwa muda, maka ilmu bisa diraih dari pendidikan formal setinggi-tingginya.


Begitu lulus SMU, dengan modal nekat dan tangan kosong, meninggalkan semua capaian yang telah berhasil diraih, Rendra memilih melanjutkan kuliah ke Jogja. Sengaja memilih kampus terbaik guna mendukung mimpi besar dan visi utamanya yaitu financially stable under 30 years. Membuat uang bekerja untuknya, bukan bekerja untuk uang.


Awalnya ia sempat luntang lantung di tanah rantau, tak tahu harus mulai darimana, satu tahun pertama habis untuk beradaptasi dengan lingkungan yang jauh berbeda dari tempat asalnya. Keluar masuk Rumah Sakit karena typus, homesick, stres, membuatnya bertekad untuk menjadi orang yang lebih 'kuat' lagi.


Singkat cerita, awal tahun kedua, saat kiprahnya di keorganisasian intra kampus mulai menarik perhatian banyak pihak, seorang dosen senior meminta tolong padanya untuk menjualkan mobil miliknya. Hanya dalam waktu dua hari, Rendra berhasil menjual mobil tersebut dengan harga sangat memuaskan.


Fee penjualan pertama ia gunakan untuk membuka usaha clothing line, mengikuti trend yang sedang hype saat itu. Kurangnya riset, target pasar yang tidak jelas, kurang bisa melihat peluang, menjadi alasan utama usaha clothing linenya hanya berusia seumur jagung. Ia rugi besar hingga uang modal habis tak bersisa.


Namun kepiawaiannya menjual mobil semakin terasah hingga berita tentang kemampuannya tersebar dari mulut ke mulut. Membuat banyak kenalan tertarik untuk 'menitipkan' mobil padanya untuk dijual. Rekor tertinggi pernah dalam satu bulan ia berhasil menjual hingga delapan mobil, jika ditarik rata-ratanya berarti dua mobil berhasil terjual dalam rentang satu minggu. Greatest achievement.


Predikat mahasiswa perantauan yang bokek seketika berubah menjadi mahasiswa jutawan baru. Uang seolah berlomba-lomba menghampiri. Dari keuntungan yang diperoleh, ia berhasil memiliki modal usaha baru dan memberanikan diri membuka bisnis lagi di bindang kuliner, yaitu angkringan.


Kali ini ia belajar dari pengalaman, memiliki riset dan target pasar jelas, namun karena menurutnya laba yang dihasilkan kurang signifikan, usaha angkringan hanya bertahan selama satu setengah tahun.


Meski sibuk memikirkan bagaimana cara memutar uang, ia tetap komitmen dengan tujuan utama pergi ke Jogja, yaitu menyelesaikan kuliah. Dimulailah kehidupan penuh warnanya dengan kuliah, kampus, kepengurusan, kepanitiaan, dan dunia bisnis. Saking seringnya ikut berperan dalam sebuah kepanitiaan, memberi ide menantang baginya. Dengan dukungan dari teman-teman sesama mahasiswa lintas kampus, ia mulai merambah dunia baru, Event Organizer. Diawali dengan menghandle perayaan ulang tahun salah satu selebritas kampus saat itu, Event Organizer miliknya berkembang pesat jauh diluar ekspektasi.


Puas bermain-main sebagai makelar mobil dan EO, ia mulai naik pangkat ketika salah seorang kenalan meminta untuk menjualkan rumah. Berbekal pengalaman, koneksi dan jaringan yang semakin luas, ia berhasil menjual 'rumah pertama' seharga hampir 500 juta. Dari penjualan tersebut ia berhasil memperoleh fee terbesar pertamanya, sekaligus menandai sepak terjang sebagai broker muda handal.

__ADS_1


Tugasnya sekarang melihat langsung aset properti yang mungkin bisa dibeli, lalu dibenahi dan dijual dengan harga yang lebih tinggi. Di sini juga pertama kalinya ia belajar mencari aset properti melalui internet, dan menggunakan internet untuk kebutuhan marketing.


“Saya sering berkeliling Jogja untuk mencari properti yang kemudian saya pasarkan lewat internet. Setelah berjalan beberapa minggu saya baru bisa memperoleh sebuah properti dan langsung laku terjual. Ini jelas menambah kepercayaan diri dan semangat, bahwa selalu ada jalan jika kita berusaha dan terus bergerak," begitu tulisan tersebut dikutip dari majalah bisnis lokal yang memuat profilnya di halaman utama.


Meski uang terus mengalir, Rendra tak pernah merasa cukup dengan ilmu bisnis yang dimiliki. Ia tak malu untuk mempelajari banyak hal yang diperlukan dari para pelaku bisnis profesional. Sampai seorang direktur perusahaan properti terbesar di Jogja melihat potensi besar Rendra dan menyarankannya untuk belajar langsung di perusahaannya, alias magang. Semata-mata agar Rendra bisa menimba ilmu lebih jauh lagi. Ia jelas tak menolak, disela-sela kesibukan kuliah, selama empat bulan magang ia belajar mengenai sistem dan teknologi sebuah perusahaan, bagaimana membuat dan menganalisis RAB yang prospektif, how to listing and how to selling, ilmu sales dan marketing, kebijakan publik, peraturan pemerintah dalam dunia bisnis, dan ilmu lain yang pasti akan dibutuhkannya kelak.


Merasa bekal dan pengetahuan yang diperlukan sudah cukup, di medio akhir tahun kedua kuliah saat genap menginjak usia 20 tahun, ia memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri yang diberi nama PT ManjoMaju. ManjoMaju dalam bahasa Manado, daerah asal ibu kandungnya, berarti ayo maju, mengisyaratkan semangat untuk selalu bergerak maju, membawahi beberapa bidang usaha antara lain properti, otomotif (jual beli mobil second, bengkel, rental mobil), Event Organizer, dan usaha rintisan lainnya.


Tapi jalan hidup Rendra tak selalu mulus. Di sela-sela mimpi besar, nyatanya ia juga sering tertipu. Dari jumlah ratusan ribu hingga jutaan, oleh teman sendiri atau kenalan baru.


Ia mengakui bahwa jiwa muda yang berapi-api membuatnya sering mengambil keputusan serampangan, tak berpikir dua kali.


Pengalaman tertipu dengan jumlah terbesar adalah saat ponsel pintar canggih iPhone sedang hangat dan menjadi acuan strata sosial bagi masyarakat Indonesia. Rendra melihat ada peluang di balik kegandrungan masyarakat Indonesia akan iPhone.


Ia pun memutuskan untuk mencari jaringan agar dapat mengimpor langsung ponsel pintar tersebut. Akhirnya ia berhasil menemukan jaringan importir yang menjual iPhone jauh dari harga normal. Tergiur oleh peluang di depan mata, Rendra pun berani memutuskan untuk berinvestasi besar-besaran.


Ia langsung memesan 100 unit iPhone dengan DP Rp 400 juta. Uang yang dipakainya itu benar-benar uang dari tabungan pribadinya sendiri. Sebelumnya Rendra juga sempat mengajak rekanan bisnis seniornya, Panji Danisworo pengusaha muda sukses asli Jogja, untuk bergabung, tapi menolak karena merasa ada yang ganjil dengan si importir.


“Mas Panji bilang, harganya nggak masuk akal karena harga pokok penjualan (HPP) untuk gadget-nya aja bisa lebih dari itu. Orang nggak mungkin menjual semurah itu. Tapi saya nggak ngedengerin,” kisah Rendra tertulis di dokumen file yang ia copy dari Enggar.


Alhasil, minggu demi minggu berlalu sejak Rendra mengirimkan uangnya kepada importir tapi barang yang dipesan tak kunjung tiba. Rendra sempat menghubungi si importir dan bertanya kenapa barangnya tak kunjung datang, tapi si importir berdalih bahwa ada kebijakan baru minimum pembelian. Rendra pun diminta menambah 50 unit lagi.


Tapi tabungannya saat itu sudah ludes. Sadar ada yang aneh, Rendra akhirnya berselancar di internet dan menemukan modus penipuan yang menimpanya itu. Rendra mencoba menghubungi si importir lagi, tapi tak bisa. Saat itulah Rendra sadar dirinya sudah ditipu sampai-sampai menangis karena harus kehilangan uang tabungan pribadinya sebesar Rp 400 juta.


“Itu pertama kalinya saya menangis untuk bisnis,” akunya masih dalam file tersebut. -Membuatnya penasaran seperti apa penampakan saat seorang Rendra menangis. Pasti seru. Ha!-


Maksudnya adalah ketika pertama kali terjun di dunia bisnis, jangan tergesa untuk berusaha mencari untung besar, membesarkan bisnis, atau membuka cabang dimana-mana. Tapi, utamakan pengalaman untuk belajar, memperbaiki pola pikir, dan cara mencari solusi demi memecahkan masalah. Karena seorang pengusaha harus memiliki visi yang besar. Uang dan keuntungan adalah side effect, efek samping yang diterima seiring meningkatnya kemampuan mengelola bisnis.


Sebagai bentuk dedikasinya untuk rekan sesama mahasiswa, ia mendirikan komunitas pengusaha muda Young Entrepreneur Club (YEC), yang aktif mengembangkan kemampuan bisnis mahasiswa melalui berbagai seminar, workshop, boothcamp, trial dan error terjun langsung di dunia bisnis/bisnis kreatif sampai mereka mandiri memiliki bisnis sendiri. YEC bahkan sudah memiliki cabang di luar kota Jogja.


Akhirnya, Syailendra Darmastawa, di usia menginjak 24 tahun, dan sedang menyelesaikan skripsi mengejar wisuda strata 1 pertengahan tahun depan, telah berhasil menampilkan sisi lain seorang mahasiswa. Memberi angin segar sekaligus semangat baru bahwa tidak ada yang tak mungkin saat kita terus berusaha tak kenal lelah. Membuktikan bahwa usaha takkan mengkhianati hasil. Maka,


Never stop trying


Never stop believing


Never give up


Your day will come


It's all about passion, hard work, and never give up.


Menjadi opening dan closing yang tepat untuk film pendek ini. Diikuti senyum penuh kepuasan yang jelas terpancar di wajah Rendra yang duduk tepat di depannya dengan jarak kurang dari dua meter. Senyum Rendra sekaligus melegakan seluruh anggota tim yang sejak awal dibacanya script harus menahan napas karena khawatir ditolak lagi.


"Berarti bisa langsung take ya Bang?" Rayyan paling bersemangat. "Kapan ada waktu?"


"Sekarang juga bisa, kebetulan lagi kosong," Rendra masih tersenyum melihat kertas script di tangannya.

__ADS_1


"Wah, kalau sekarang kami belum siap Bang," Rayyan tertawa tak menyangka Rendra seantusias ini. "Besok bisa jam berapa? Nanti kita ambil scene yang penting-penting aja dulu."


"Pagi bisa sebelum bimbingan."


"Siap!" Rayyan mengacungkan jempol setuju. Diikuti senyum lega Galin, Elva, dan Jihan. Kecuali dirinya, yang mendadak merasa mulas mengharuskannya ijin ke toilet. Sebelum ia sempat beranjak, Bagus lebih dulu datang bersama seorang pegawai yang membawa nampan berisi makan siang mereka.


"Wah, makan besar," seloroh Galin riang melihat makanan di nampan.


"Ojo suwe-suwe mikire, mangan sek," Bagus membantu meletakkan makanan ke meja. Ia ikut tersenyum sebelum melangkah pergi.


Ia sengaja berlama-lama di toilet, memandangi cermin yang memantulkan wajahnya sendiri.


Ada lingkaran hitam tertangkap dibawah mata, setelah semalaman bergadang menyelesaikan script berdasarkan data dari Rakai dan apa yang dilihat oleh matanya sendiri selama seharian kemarin.


Sedikit banyak merubah cara pandangnya terhadap Rendra. Jika selama ini ia melihat Rendra sebagai badboy merangkap fakboy yang sombong, sengak, mau menang sendiri, mesum, dan sederet predikat negatif lainnya yang menyertai, maka dari setengah perjalanan kisah hidup yang berhasil diketahuinya ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa Rendra adalah pemuda pekerja keras tipe risk taker yang tahu betul dengan apa yang diinginkan, sekaligus paham bagaimana cara mewujudkan keinginannya tersebut. Luar biasa, kalau istilah anak Romansa, ambis tingkat dewa. Young and dangerous.


Ia terpaksa keluar dari toilet meski masih ingin berlama-lama disana, selain karena malas kembali bertemu muka dengan Rendra, toiletnya juga nyaman dan wangi, toilet standar hotel. Lagipula ia tak ingin anak-anak di meja bertanya-tanya kenapa ia tak kunjung muncul. Tapi baru juga membuka pintu, sesuatu yang mengagetkan langsung menyambutnya di luar.


"Lama amat?" Rendra tersenyum sambil bersandar ke dinding dengan tangan dilipat di depan dada.


Ia hanya bisa meringis, selalu mati gaya tiap kali face to face dengan young and dangerous yang satu ini. Hhh.


"Tulisan kamu bagus," lanjut Rendra tanpa berniat menunggu jawaban darinya. "Yakin deh kamu berbakat di bidang menulis."


"Makasih," ia masih meringis kaku, berniat untuk lewat namun terhalang tubuh menjulang Rendra yang menutupi jalan keluar.


"Seharian kemarin berarti bener-bener dimanfaatin dengan baik," sorot mata Rendra melembut. "You know me so well."


Ia harus mulai menahan napas.


"Sebagai ucapan terima kasih, kutraktir ya, kamu lebih suka yang mana? Makan, nonton, jalan?"


Saat ini, menelan ludah menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Tapi ia harus, "Maaf, saya nggak bisa," jawabnya cepat sebelum Rendra mulai bicara menjurus lagi. Sambil menunjukkan pergelangan tangan kanan, "Saya pacar orang, nggak etis jalan sama cowok lain tanpa alasan penting."


***


Catatan :


Sparring. : latih tanding


UKT. : ujian kenaikan tingkat (dalam taekwondo)


Ojo suwe-suwe. : jangan lama-lama


Mikire. : berpikir


Mangan sek. : makan dulu

__ADS_1


__ADS_2