KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
74. Seberapa Pantaskah Kau untuk Kutunggu?


__ADS_3

Anggi


Sejujurnya ia masih sangat ragu, sekaligus takut tentang....apakah Rendra memang yang terbaik untuknya? Dengan begitu banyak perbedaan yang membentang. Perbedaan karakter, latarbelakang keluarga, rekam jejak hidup, lingkungan, dan segudang perbedaan lain yang sangat mengkhawatirkan, sangat bisa menimbulkan potensi konflik.


Namun, masalah mengerikan yang menyerang Rendra secara bertubi-tubi, mulai membuka mata hatinya.


"Fitrah manusia itu suci, baik, cenderung pada kebenaran," begitu Salsa menasehatinya via telepon. "Cuma saat melalui kehidupan dunia yang keras, ada pertarungan antara akal dan nafsu. Kadang akal menang, kadang nafsu yang menang. Hidup manusia bisa seolah kayak malaikat, tapi bisa jadi kayak...maaf....binatang...."


"Terus...fitrah manusia itu nggak gratis, tapi diusahain, harus ada kemauan. Nah, Rendra....dengan semua pengalaman hidupnya yang yah...kamu sendiri tahu kayak gimana, mungkin selama ini nafsunya yang menang. Tapi aku yakin....dia fitrahnya baik...."


"Aku yakin.....kamu...orang yang bisa membantu akalnya untuk tetap di jalur yang benar. Tetap waras...."


"Cuma memang nanti...kamu harus sabar....karena mungkin ada banyak benturan, perlu proses adaptasi yang nggak sebentar, dan...perlu ilmu juga buat ngadepinnya...."


"Jadi....aku mesti gimana Mba?" sebenarnya setengah hatinya sudah dimiliki Rendra, tapi setengah lainnya masih berjibaku dengan kekhawatiran.


"Coba istikharah...berdoa terus mohon petunjuk...sama...minta restu orangtua jangan lupa. Kalau tiga-tiganya udah dijalanin....kamu nggak perlu mikir yang lain lagi...."


Dan isakan Rengganis semakin meyakinkan dirinya bahwa Rendra tak seburuk yang semua orang kira.


"Lo harusnya nggak bawa gue ke Rumah Sakit waktu itu. Biar aja gue mati, toh gue cuman bawa masalah buat orang lain...."


Tanpa berpikir ia memeluk Rengganis, lalu mereka terisak bersama.


Rengganis, potret masa kini kebanyakan gadis muda yang bingung dengan jati diri. Berasal dari keluarga kurang harmonis, lingkungan yang sama sekali tak kondusif, nihil tauladan, lalu dengan mudah terseret derasnya arus hedonisme.


Fisik nyaris sempurna menjadi modal tak terbantahkan untuk melakoni peran yang sebenarnya tak diinginkan.


"Gue juga nggak mau hidup kayak gini. Tapi udah terlanjur. Nggak usah kerja duit ngalir, materi terjamin, mau apa tinggal tunjuk...."


"Gue udah berkali-kali berbuat dosa," kali ini dengan mata menerawang.


"Gue udah mau pergi, mau urus diri sendiri gimanapun caranya. Gue....udah terlanjur sayang sama dia," sambil mengelus perutnya yang membuncit.


"Tapi Mas Sapta ketakutan gue bakal ngelakuin hal yang bisa ngancurin dia. Padahal enggak...," Rengganis mulai berapi-api.


"Gue tahu gimana sakitnya perceraian orangtua. Gue nggak mau anak-anak Mas Sapta yang masih kecil-kecil itu ngerasain apa yang gue rasain."


"Gue cinta sama Mas Sapta...gue sayang sama dia...gue nggak mau dia sedih. Tapi...nggak ada yang percaya...."


"Gue dikira mau macem-macem, mau ngancurin karir dia, mau....," sepertinya air mata Rengganis sudah kering.


"Dan gue nggak pernah nyangka kalau orang yang bakalan ditembak Mas Sapta itu Rendra."


"Konselor gue udah tahu cerita yang sebenernya," Rengganis menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat. "Yang gue lakuin ini atas saran konselor gue."


Ia menerima amplop cokelat dengan bingung.


"Anggap ini balas budi gue atas pertolongan lo dulu, udah bawa gue ke Rumah Sakit. Sori...baru bisa begini, belum bisa bantu banyak."


Ia membuka amplop cokelat dan terperanjat begitu melihat isinya. "Mba?"


"Tolong sampaiin maaf gue ke Rendra. Selama kenal, dia nggak pernah bersikap kurang ajar ke gue. Nggak kayak cowok lain yang begitu tahu status gue...langsung ngehina atau kalau enggak, nyoba manfaatin...."


Sebelum pulang ia sempatkan memeluk erat Rengganis, mencoba menyalurkan energi positif agar tahu bahwa dia tak sendiri. "Ditunggu kabar bahagianya," bisiknya pelan. "Pas ade bayi lahir..."


Rengganis berusaha tersenyum.


"Kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu kasih tahu aku, Mba. Aku seneng banget kalau bisa bantu Mba..."


"Bantu doa aja....biar aku kuat ngejalani semua...."


Begitu sulitkah ex sinner saat ingin berubah menjadi lebih baik? Rendra, Rengganis, atau mungkin banyak contoh diluar sana yang ia tak pernah tahu. Begitu banyak cobaan, hambatan, rintangan, ujian yang harus dilewati ketika ingin berubah kearah lebih baik. Atau ini propaganda nafsu agar selalu bisa menguasai akal manusia?


"Jujur kami sempat kecolongan berita awal yang sempat beredar luas. Kami ini relawan, tugasnya membantu, tak pernah mau dipolitisasi," ujar Mba Lelhy sebagai koordinator tim relawan Rayani Woman Crisis Center saat mereka hendak pamit pulang.


"Untung R nggak terlambat menceritakan yang sebenarnya dan bersedia bekerja sama dengan tidak ikut mempolitisasi keadaan. Saudara SD juga tidak menggugat balik dengan pasal pencemaran nama baik."


"Sekarang konsentrasi kami hanya satu, memulihkan kondisi psikis R agar siap melanjutkan hidup secara mandiri."


Pertemuan dengan Rengganis semakin membuka matanya tentang sosok Rendra.


"Jadi rencananya....gue mau ngasih jarak dan ruang dulu ama Rendra," ujarnya yakin. "Biar dia konsentrasi selesain masalahnya. Biar gue juga bisa mikir jernih...."


"Tapi nggak pakai datengin dia juga kali. Ntar kalau lo diapa-apain gimana?" Mala mencibir.


"Ya kan sekalian ngetes dia..."


"Ngetes gimana? Jangan main-main, Nggi!"


"Dia berani nggak?"


Tapi Rendra benar, kalau saja Papa dan Rakai tak muncul, ia tak tahu apa yang akan terjadi diantara mereka. Tapi Tuhan masih menjaganya.


Kini ia tinggal menunggu. Cincin lamaran dan amplop berisi surat dari Rengganis dan surat pernyataan berkekuatan hukum di atas materai telah ia simpan di atas kompor legend -karena sampai sekarang ia masih sering teringat scene mendebarkan saat perut keras Rendra sekilas menyentuh punggungnya. My Gosh! Anggi, stop it!-.


Apakah Rendra akan datang lagi dengan membawa cincin itu padanya, atau justru terus berjalan lalu melupakannya. Ia sudah siap apapun jawabannya. Really siap, Nggi?


Dan video call dari Papah malam ini membuat asa kembali terjaga.


"Barusan Rendra datang ke rumah....sama keluarganya...."


Yeah, the young and dangerous memang tak pernah bisa ditebak. Selalu berhasil membuat dirinya merasa diinginkan sekaligus dicintai.


"Keluarga yang mana Pah?"


"Papa sama sepupunya...siapa itu namanya...."


"Rakai," suara Mamah terdengar menjawab dari arah lain.


"Oh, ya...Rakai....mereka datang ngelamar kamu...."


Ya ampun! Kalau yang ini tak pernah terlintas. Melamar? Hei bung, masalah pelikmu aja belum selesai, berani-beraninya ngelamar. Ampun!


"Papanya cerita semua masalah yang lagi dihadapi Rendra sekarang...."


Maka ia tak lagi punya muka di depan Papah Mamah. Amat sangat memalukan punya calon suami yang pernah tersandung kasus video mesum.


"Papah nggak pernah nyangka kalau sampai serumit itu masalahnya."


Ia hanya diam tak berani menjawab. Bayangan video yang sempat diputar Mala mendadak melintas di kepalanya. No no no.


"Papanya Rendra juga minta maaf atas semua kelakuan buruk Rendra di masa lalu."


"Dia berani jamin kalau Rendra itu sebenarnya anak baik. Nggak akan melakukan hal-hal kayak begitu lagi."


"Ya...Papah juga tahu dia baik. Terbukti selama ini sikapnya sama orangtua selalu tahu unggah-ungguh (sopan santun)."


"Yang lucunya tahu nggak Ndo (panggilan untuk anak perempuan, berasal dari kata Gendhuk, Nduk.), Lik Joko ternyata kerja di perusahaan Papanya Rendra di Kalimantan."


Lik Joko adalah adik Mamah yang bungsu dan saat ini tinggal di Kalimantan.

__ADS_1


"Dunia memang selebar daun kelor...," Papah terkekeh.


Tapi ia justru tegang, karena jawaban belum diperoleh. "Jadi....Papah jawab apa ke mereka?" tanyanya hati-hati.


"Ya sama kayak yang Papah bilang ke kamu dulu...."


Ia mengernyit.


"Nunggu kamu selesai kuliah baru boleh....sekarang temenan aja dulu."


Setahun lagi? Ia masih harus KKN dan skripsi. Apakah ia dan Rendra sanggup menunggu selama setahun? Apakah selama setahun itu diantara mereka tidak ada yang berubah pikiran?


'Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu


Cukup indahkah dirimu untuk selalu ku nantikan


Mampukan kau hadir dalam setiap mimpi burukku


Mampukah kita bertahan di saat kita jauh


Seberapa hebat kau untuk ku banggakan


Cukup tangguhkah dirimu untuk selalu ku andalkan


Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang


Sanggupkah kau menyakinkan di saat aku bimbang'


(Sheila On 7, Seberapa Pantas)


"How i miss you sweetie...," beberapa hari setelah video call Papah, Rendra meneleponnya.


"Papah kamu galak nggak bisa dinego."


"Kamu tuh ya...bukannya selesaiin dulu masalah, malah main dateng ke rumah," gerutunya.


"Masalah udah mulai kelar kan? Rektorat tahu duduk masalahnya, nggak terpancing media, aku masih bisa wisuda. Berita bombastis mulai berkurang, surat pernyataan Rengganis siap meluncur kalau Sapta berulah. Terus...kemarin...kamu tahu nggak..."


"Apa?"


"Mantan kamu ngirim email ke aku," Rendra terkekeh.


Mantan?


"Boljug banget punya koneksi anak jago IT," kekehan Rendra semakin dalam.


"Emang.....dia ngirim apa?"


"Ada deeeh, pastinya bisa jadi bukti kuat kalau ada yang rese lagi."


Ia hanya mengernyit.


"Anak-anak kantor aja nggak ada yang bisa nge trace, tapi ini bisa. Keren...keren...," ia membayangkan Rendra sedang geleng-geleng kepala mengagumi kecerdasan Dio.


"Masalah kamu kan bukan cuma ini," terus terang ia merasa tak nyaman berlama-lama mengobrolkan Dio dengan cowok lain -yang kini dicintainya-


"Ya, aku lepas proyek. Gimana lagi daripada ancur."


"Tapi masih main di subkon, lumayan," lanjut Rendra cepat. "Om SJW nggak seserem itu ternyata. Cuma ulah segelintir orang-orang di sekitarnya yang ambis sering bikin panas."


"Tapi emang kerjaannya kemarin bener-bener serem. Di grand design sedemikian rupa buat ngancurin karakter orang. Gila!"


"Nggak tahu juga kalau berubah jadi welcome karena tahu aku anak Papa."


Rendra terdengar menghela napas sebelum menjawab malas, "Tahu."


Ia tersenyum karena jalan sudah mulai terbuka untuk Rendra dan Papanya.


"Papah kamu beneran nggak bisa dinego ya."


"Coba dong kamu bujuk Papah kamu biar ngerestuin kita nikah abis aku wisuda."


"Itu kan minggu depan!" gerutunya kesal.


"Emang," Rendra terkekeh. "Kamu mau kan kita nikah minggu depan?"


"Aku tutup nih telponnya!" gerutunya dengan suara bergetar.


Rendra terkekeh. "Iya iya....setahun cincai. Nggak ada apa-apanya dibanding 6 bulan kemarin."


"I'm still here. Still want you, more than anything."


Dan H-1 wisuda, Rendra datang ke Raudhah,


"Undangan ada dua, buat Papa sama kamu."


"Mama kamu?"


"Nggak akan cukup, secara mereka mau pada kesini semua."


Ia hanya tersenyum sambil membayangkan berapa banyak sebenarnya jumlah istri Papanya Rendra.


"Udah paling bener kamu sama Papa. Pinginnya sih kamu aja...."


Ia melotot.


"Kamu mau tidur di hotel atau di apartemen?"


"Kenapa?"


"Biar ke wisudanya bareng lah," Rendra mengernyit. "Tapi hotel not recommended. Ada Naja sama yang lainnya. Pasti kamu nggak nyaman. Tidur di apartemen....gimana?" mata Rendra membelalak jenaka.


Membuatnya buru-buru menjewer telinga Rendra. "Aku tidur di kost aja."


"Ke wisudanya?"


"Pakai motor."


Rendra berpikir sejenak, "Kujemput, tapi nyubuh, gimana? Kamu kelamaan nunggu nggak papa?"


Esoknya jam 05.30 Rendra sudah berdiri di depan gerbang Raudhah, terlihat gagah mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih. Saatnya congraduation.


"Beautiful," Rendra tersenyum penuh arti begitu melihatnya keluar dari pintu.


"Kamu pakai sneakers dulu ya, aku bawa motor soalnya. Heels dikantongin aja," ujar Rendra sambil memakaikan jaket padanya.


"Pakai motor biar nggak macet," lanjut Rendra seolah mengerti isi kepalanya.


Rendra melajukan motor matic sejuta umatnya ke arah Jakal, tersendat saat memasuki area GSD yang sudah dipenuhi oleh kendaraan dan orang. Dari tempat parkir mereka menuju meja pendaftaran ulang. Di tengah jalan banyak berpapasan dengan para calon wisudawan yang berwajah sumringah.


"Oy, Ren!

__ADS_1


"Buruan!"


"Wah, dikawal nyonya terus nih!"


"Iya doooong," Rendra menjawab sambil memasang senyum lebar. "Iri bilang bos!"


"Walah!"


"Mana toga mana toga?!"


Rendra mengangkat kresek berisi toganya tinggi-tinggi.


"Ntar dipakai di tenda," Rendra jelas sedang menenangkannya yang mengernyit karena semua calon wisudawan sudah memakai toga kecuali Rendra.


"Masa naik motor pakai toga, bisa kesrimpet ntar," lanjut Rendra sambil masih menjawab sapaan teman-temannya.


Usai dari meja daftar ulang, Rendra langsung bergabung dengan teman-temannya sesama FT di tenda sebelah barat GSD.


"Help me please...," Rendra mengangsurkan sebuah dasi kearahnya sambil mengangkat alis.


Walau Rendra sudah membungkukkan badan, ia masih harus berjinjit untuk memakaikan dasi kupu-kupu yang entah kenapa susah sekali diatur pagi ini. Ia sampai harus bongkar pasang beberapa kali untuk mendapat bentuk yang sempurna, diiringi cie cie an dari anak-anak FT.


"Jangan grogi dong," bisik Rendra tak kuasa menahan senyum. Ia yang ingin menjewer telinga Rendra hanya bisa melotot kesal.


Setelah Rendra selesai memakai toga, Rakai datang menghampiri, "Papa udah disini."


Ia pun mengikuti Rakai untuk menuju kursi undangan. Sementara Rendra mulai berbaris sesuai nama fakultas dan urutan nomor.


Alunan gamelan Jawa yang mendayu menyambut kedatangan mereka begitu memasuki lantai utama GSD, dibantu Rakai sebagai penunjuk tempat duduk mereka yang berada di barisan paling strategis. Setelah mereka duduk, Rakai pamit pergi menuju tribun tempat keluarga besar Rendra berada.


Dan duduk berdua bersebelahan dengan Papa Rendra ternyata sangat menegangkan, meski ia tahu Papa berusaha terlihat cair, tak seseram saat pertama kali melihatnya. Setelah ngobrol basa-basi sebentar, kini mereka saling berdiam diri mengikuti rangkaian acara wisuda yang telah dimulai.


Hatinya mendadak berbunga saat mendengar nama, "Syailendra Darmastawa, dengan predikat Cumlaude," disebut oleh MC di atas panggung. Saat melirik ke sebelah, terlihat Papa sedang menahan air mata haru demi menyaksikan anak laki-lakinya di wisuda.


"Anak-anak Papa pada malas sekolah. Banyakan nggak kuliah," begitu Rendra pernah bercerita. "Udah keenakan dapat duit gampang. Nggak minat sekolah."


Semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan harmonis antara ayah dan anak, doanya sungguh-sungguh.


Hidung Papa tambah kembang kempis saat nama Syailendra Darmastawa kembali dipanggil oleh MC maju keatas panggung, untuk menyampaikan kata sambutan sebagai wakil dari wisudawan.


Setelah menyampaikan rangkaian ucapan terima kasih sekaligus permohonan maaf seperti kata sambutan pada umumnya, Rendra mulai memberikan penyemangat yang berapi-api, "Selamat berjuang di dunia nyata kawan. Selamat berperang dengan apapun yang menghalangi langkah kita. Seperti Sun Tzu bilang, perang itu bukan banyaknya pertempuran dan kemenangan yang bisa kita peroleh. Tapi perang adalah bagaimana mengalahkan musuh tanpa berperang!"


"Dasar go blok!" desis Papa begitu mendengar kalimat berapi-api Rendra yang langsung disambut tepukan tangan hadirin, dengan suara cukup keras yang membuatnya terperanjat. Tapi saat ia menengok ke samping, Papa justru sedang tersenyum lebar. Apa tadi mengumpat sambil tersenyum? Hmm, sebuah cara mengekspresikan perasaan yang antimainstream.


Dan ketika sesi sajian lagu di akhir acara, mereka kembali mendapat kejutan. Sesi yang biasanya di monopoli oleh PSM (paduan suara mahasiswa), namun untuk wisuda kali ini sedikit berbeda. Karena diselingi oleh special appearance dari band yang beranggotakan para Dekan dan Guru Besar. Wow, luar biasa!


"Perkenalkan, saya Abimanyu, Dekan Fakultas Filsafat. Kami disini, ingin memberi persembahan spesial untuk para wisudawan periode kedua tahun ini."


Tepuk tangan riuh menggema.


"Akan saya perkenalkan satu persatu anggota band kami yang beranggotakan para Dekan dan Guru Besar."


"Tolong diapresiasi kerja keras kami dalam berlatih ya."


Tepuk tangan kembali menggema, kali ini diiringi senyum para hadirin.


"Kami profesional nge-band nya, cuma memang sengaja tidak menampilkan kemampuan terbaik, ini pemberitahuan saja biar nanti tidak kaget begitu menyaksikan tampilan kami."


Semua hadirin tertawa.


"Kami khawatir kalau terlalu all out nge-band nya nanti malah dipertanyakan tentang keilmiahan kami," rupanya Pak Dekan Filsafat jago ngocol.


"Oh ya, jangan lupa beri applause seekspresif mungkin. Ingat, kalian memang sudah di wisuda, tapi ijazah masih ada di kami, belum keluar. Jadi, jangan macam-macam."


Ia melirik ke samping demi mendengar Papa terkekeh-kekeh mendengar jokes Pak Dekan Filsafat. Hm, kalau sedang tertawa begini terlihat semakin mirip dengan Rendra. Atau kebalik, Rendra mirip Papa?


"Kita sambut dengan meriah, pada drum ada...Pak Muhadi Dekan Fakultas Pertanian, beliau salah satu Guru Besar senior."


Durumdumdumdum cassss


"Keyboard oleh Pak Adnan Dekan Fakultas Kedokteran."


Lalu mengalun reffrain Cinta Luar Biasanya Andmesh Kamaleng. Membuat hadirin semakin riuh.


"Vokal oleh Pak Harland Dekan Fakultas Ekonomi, beliau baru seminggu dikukuhkan menjadi Guru Besar."


Teriakan dan suitan dari para wisudawan di seantero gedung GSD mulai tak terkendali, demi menyaksikan penampilan The Most Eligible Dean ever, Prof. Harland Armagan, sedang tersenyum-senyum simpul mengecek microphone. Kilatan blitz kamera ponsel semakin menghujani panggung.


"Lalu bassist...ini ada dua....Pak Drajat Dekan sekaligus Guru Besar Fakultas Teknik dan satu additional player. Terus terang kami kekurangan personil, jadi nyomot satu tadi di jalan."


Kali ini hadirin tergelak.


"Satu-satunya mahasiswa disini. Oh, sudah jadi mantan mahasiswa ya sekarang, barusan selesai di wisuda. Resmi menyandang gelar ST. Nyempil disini. Tadi juga di belakang sempat diusir sama panitia disuruh pergi, 'Hei, kamu bukan Dekan..turun...turun'."


Semua hadirin semakin tergelak mendengar jokes dari Pak Dekan Filsafat. Kecuali ia dan Papa yang justru terpesona demi melihat siapa yang sedang berdiri di antara bapak-bapak bertoga yang beruban itu.


"Itu si gob....Rendra?" tanya Papa sambil memakai kacamata yang baru diambilnya dari saku jas.


"Iya Pa, itu Rendra," jawabnya sambil tak kuasa menahan senyum melihat Rendra di ceng ceng in oleh para Dekan.


"Ya semoga ini jadi doa ya Ren," Pak Dekan Filsafat menepuk bahu Rendra yang sedang tertawa-tawa malu di atas panggung sambil mempersiapkan bassnya. "Kelak kamu yang jadi Dekan dan mewisuda disini."


Dalam hati diam-diam ia mengaminkan ucapan Pak Dekan Filsafat dengan sungguh-sungguh. Saat ia belum selesai mengaminkan, nada intro sebuah lagu yang sangat familiar mulai terdengar,


'Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia

__ADS_1


Tulus padamu'


(Andmesh Kamaleng, Cinta luar biasa)


__ADS_2