KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
56. Hi Heart, How Are You Today?


__ADS_3

Sejak malam itu mereka belum pernah bertemu lagi. Meski hampir setiap hari Rendra mengiriminya makanan via ojek online, entah untuk sarapan sebelum kuliah, cemilan kekinian di sore hari, es krim yang lagi hits, atau makan malam untuk seluruh penghuni Raudhah.


Rendra. : 'Jangan ditolak, please.'


Rendra. : 'Ini kompensasi kesibukanku minggu ini.'


Rendra. : 'Sorry nggak bisa ketemu langsung.'


Anggi. : 'Kamu nggak harus ngelakuin ini.'


Rendra. : 'It's my pleasure.'


Rendra juga selalu menginformasikan semua hal yang sedang dan akan dilakukan. Sepertinya always ask for permisssion bukan omong kosong, benar-benar dia lakukan. Have no idea.


Awalnya ia tak peduli dan tak pernah membalas, ratu tega begitu julukan Mala padanya, yang kini jelas-jelas ada di pihak Rendra. Phew.


Sebenarnya ia juga tak enak hati karena tak pernah membalas chat Rendra -kecuali untuk berterimakasih telah mengirim makanan-. Tapi alasannya kuat, tak ingin terlalu membuka diri, khawatir Rendra jadi berharap terlalu jauh, karena sejujurnya ia juga belum bisa memahami perasaannya sendiri.


Ia masih sering memikirkan Dio. Mengingat semua hal yang pernah mereka lakukan bersama. Setiap hari menunggunya kembali aktif di grup Romansa, hanya sekedar ingin tahu apakah baik-baik saja disana? Namun Dio tetap tak pernah muncul, hilang bagai ditelan bumi.


"Rendra udah masang taruhan terlalu besar dengan cerita masa lalunya ke elo," begitu kata Mala saat mereka sedang duduk-duduk di kantin, menunggu jam kuliah selanjutnya.


"Gue nggak minta, dia cerita sendiri," siomay lengkap dengan pare favoritnya kini terasa sedikit hambar, tak seperti biasanya, padahal ia sedang lapar berat.


"Lo ini bebal atau gimana sih?" Mala menggerutu. "Dia udah segitu terbukanya sama elo, tapi elo nya masih ora nggenah ngene ki (nggak jelas begini)."


"Gue takut Mal," bisiknya sambil memainkan sendok di atas piring siomay yang masih penuh. "Kami terlalu jauh berbeda. Dia kayak serial thriller misteri yang tiap episodenya selalu penuh jumpscare campur gore. Definitely not my type."


Mala mencibir, "Then, what's your type? Dio? Masih mau nungguin orang yang jelas-jelas...," Mala tak melanjutkan kalimatnya, mungkin sadar jika dilanjutkan pasti akan memicu pertengkaran diantara mereka berdua.


"Gue suka yang stabil, tenang, jelas, pasti, yang everything under control. Gue nggak suka kejutan, apalagi kejutan yang.....," ia menghela napas. "Yah lo tahu sendiri kejutan kayak apa yang gue maksud. Kotak hadiah dari Frida salah satu nightmare yang susah gue lupain."


"Ya kalau lo suka yang stabil, bergerak lah," Mala masih mencibir. "Apa yang lo takut dari Rendra, petakan, cari solusi."


"Terlalu banyak yang gue takutin Mal..."


"Lo takut sama sakit dia? Tanya langsung, apa dia masih sakit?"


"Yang bener aja."


"Loh, Rendra udah serius sama lo, lo juga dong nanggepin serius keseriusannya," kalimat Mala semakin membingungkan. "Pertanyaan basic kek gini nggak akan bikin dia tersinggung. Taruhan deh."


"Taruhan dosa Mal," ia mencoba berseloroh.


"Ish," tapi malah membuat Mala mengkerut. "Atau lu takut efek dari sakit nya? Suruhlah dia MCU (medical check up), kalau perlu tes HIV sekalian."


"Gila lo ya, dikira gue HRD korporat raksasa apa minta MCU segala," gerutunya kesal, ada-ada saja Mala.


"Kan lo maunya yang aman, stabil, gimana sih," kini giliran Mala yang menggerutu. "Gue takutnya, kalau lu tetep apatis gini, Rendra bakal balik lagi ke....pribadi lamanya. Sedih nggak sih, Nggi?"


"Nggak lah Mal, gue nggak segitu berpengaruhnya buat dia," ia jelas menggeleng. Siapa dirinya bisa sampai membuat the young and dangerous macam Rendra menjadi pribadi labil dalam sekejap. Impossible.


"Kalau gitu, minimal lo respon lah chat dia. Jangan dianyepin terus," Mala memandangnya serius. "Belum bisa jadi couple, bukan berarti nggak bisa temenan kan?"


Jadi, ketika sore ini Rendra memberitahunya sedang terkantuk-kantuk menemani Rakai mengikuti public hearing dengan pihak-pihak terkait untuk proyek ManjoMaju yang baru, ia pun membalas,


Rendra. : 'Birokrasi selalu incredibly boring.'


Anggi. : 'Cheer up.'


Rendra. : 'I do sweetie.'


Tuh kan, tiap ada kesempatan, Rendra pasti langsung melancarkan keahliannya berspik-spik iblis. Dia tuh ibarat nggak bisa lihat peluang dikit aja, pasti langsung disambar.


Namun weekend ini suasana hatinya mulai sedikit berubah. Saat ia sudah berencana seharian ngendon di kost untuk beberes kamar, mencuci segunung baju yang telah menumpuk selama seminggu, santai-santai sambil streaming film rom-com yang sudah masuk wishlist dari sebuah platform nonton film berbayar, atau leyeh-leyeh maskeran sambil baca-baca trit seleb di menit forum agar tak ketinggalan gosip yang lagi hits. Tapi baru juga memasukkan baju ke mesin cuci, sebuah panggilan membuyarkan segalanya.


"Nggi, ada yang nyari tuh," Nila muncul dari arah ruang tamu sambil tersenyum simpul.


Siapa kira-kira orang yang niat banget bertamu di hari Minggu sepagi ini? batinnya sambil melirik jam dinding, 07.10. Dan pemilik senyum lebar yang akhir-akhir ini mulai sering mengusik kepalanya sudah duduk manis di teras kost.


"Hai, lama nggak ketemu?" Rendra tersenyum. "Kamu kelihatan baik-baik aja," sambil memperhatikan intens dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuatnya jengah.


"Ada perlu apa?" ini menjadi pertemuan pertama mereka setelah cerita panjang masa lalu.


"Udah sarapan belum?" Rendra jelas bukan tipe mengalir yang mengikuti arus. He always has his own style. .

__ADS_1


"Aku bawa lontong opor enak nih," ujar Rendra lagi sambil mengangkat kresek putih berisi dua bungkus lontong opor.


"Kesini cuma mau numpang sarapan doang?" Ia mencibir, Rendra memang selalu penuh kejutan.


"Kamu maunya straight to the point terus," gerutu Rendra. "Bisa nggak kita step by step, menikmati tiap momennya."


"Apa sih?" ia mengkerut.


"Sarapan dulu," Rendra menepuk kursi di sampingnya. Membuatnya mau tak mau masuk ke dalam, mengambil dua buah mangkok, sendok, dan gelas untuk mereka berdua.


"Sarapan doang kan? Aku lagi banyak kerjaan," ia sekedar memastikan. Namun Rendra hanya tersenyum samar.


Mereka lalu menikmati lontong opor yang memang terkenal lezat, salah satu sarapan favoritnya juga. Setelah licin tandas ia buru-buru berkata, "Kamu bisa pulang sekarang," bukan bermaksud tak sopan, tapi ia memang sedang menggiling cucian di mesin cuci kost, setelah antri sejak subuh baru dapat giliran sekarang.


"Waduh, aku belum selesai. Emang kamu ada kerjaan apa?"


"Nyuci."


"Ya udah, aku tungguin sampai cucian beres."


Ia jelas menolak, "Masih lama, baru ngegiling soalnya. Emang kita ada urusan apalagi?"


Ia tentu akan merasa semakin tak enak kalau sampai harus membuat Rendra menunggu lama.


"Nggak papa lama juga, tenang aja," Rendra tersenyum menenangkan. "Hari ini aku libur, free, seharian khusus buat kamu."


As always, ia menyerah, karena semua yang keluar dari mulut Rendra bukan untuk didiskusikan apalagi didebat.


"Terserah. Tapi jangan marah kalau lama," sungutnya sambil menumpuk mangkok kotor untuk dibawa masuk ke dalam.


Setelah mencuci peralatan bekas makan mereka tadi, ia buru-buru menyelesaikan cucian, saat itulah Nila mengingatkan, "Bang Rendra masih di teras, Nggi? Udah dikasih minum belum?"


Membuatnya -terpaksa- membawa segelas air putih dan Medium square round isi biskuit Malkist ke teras.


"Waduh, nggak usah repot-repot," mata Rendra jelas-jelas berbinar melihatnya muncul lagi sambil membawa cemilan. "Makasih ya."


Namun ia hanya tersenyum tak menjawab, lalu buru-buru masuk ke dalam. Menyelesaikan cucian, menjemur, dan sedikit membereskan kamar yang berantakan. Setelah semua selesai jam sudah menunjukkan pukul 08.35. Begitu sampai di teras, ternyata Rendra sedang tertidur dengan posisi memanjang diatas kursi, berbantalkan sandaran tangan kursi.


Sambil menelan ludah ia mendekat, mencoba memperhatikan apakah Rendra benar-benar tertidur atau hanya pura-pura. Nafasnya teratur turun naik, matanya diam tak bergerak, dan mulutnya sedikit terbuka. Kalau sedang dalam keadaan tidur begini, Rendra terlihat menyenangkan. Lebih seperti anak kecil dibanding most wanted to die for yang berbahaya.


Namun setelah menunggu selama 1 menit, 10 menit, tak ada tanda-tanda Rendra akan bangun, justru semakin lelap. Sepertinya ia benar-benar tertidur kelelahan. Apa yang dikerjakannya seminggu ini? Apakah begitu menguras tenaga? Sudah sampai bab berapa skripsinya? Apa semua lancar tanpa kendala?


"Kamu senang merhatiin orang tidur?"


Sebuah kalimat terlontar dari mulut Rendra, masih dengan mata terpejam. Ya ampun, ia ketahuan.


"Merhatiinnya pas bangun dong," Rendra tersenyum melihatnya mencibir.


"Kalau ngantuk pulang aja," ujarnya sungguh-sungguh, wajah Rendra terlihat sangat lelah.


Tapi Rendra justru terduduk, lalu merentangkan kedua tangan sambil berkata, "Siap untuk tantangan baru?"


Ia kembali mencibir ketika Rendra dengan sengaja mengangkat sebuah kunci motor yang digerak-gerakkan tepat di depan kedua matanya. Membuatnya menyadari kalau Rendra datang kesini bukan mengendarai si hitam gagah yang biasa, tapi motor matic sejuta umat.


"Proker (program kerja) pertama relationship goals kita adalah....," Rendra jelas sengaja menghentikan kalimatnya untuk membuat orang penasaran. Tapi justru mengundang tawa, begini nih kalau ngobrol sama so called aktivis, bahasanya nggak jauh-jauh dari proker dan goals. Ampun.


"Naik motor....," lanjut Rendra bangga sambil menimang-nimang kunci motor.


Membuatnya lagi-lagi mencibir, "Belum ada SK (surat keputusan) pelantikan udah ngomongin proker."


"Kita memakai timeline yang extraordinary, menganut alur mundur," jawab Rendra mantap.


Berkomunikasi dengan Rendra yang orator ulung jelas memerlukan energi ekstra. "Kamu nungguin aku nyuci cuma buat ngajak naik motor?"


"Yup," Rendra tersenyum penuh arti. "Ngerasa nggak sih selama ini kamu nggak efisien?"


"Maksudnya?"


"Tiap hari ngandelin angkutan umum sama Ojol. Gerak kamu jadi terbatas karena tergantung sama orang lain."


"Nggak juga."


"Buktinya dulu sampai terlambat workshop, salah satunya karena kendala transportasi kan?"


Ya ampun, masih ingat aja bagian ia terlambat.

__ADS_1


"Jadi....hari ini....kamu mau latihan naik motor....," ujar Rendra yakin sambil menepuk dada. "Dengan instruktur spesial."


Lalu memperhatikan keseluruhan penampilannya. "Kostum udah oke. Celana jeans bisa meminimalisir luka kalau jatuh. Kaos cakep. Sama topi dong kurang, biar kamu nggak kepanasan."


Ia jelas menolak mentah-mentah. Naik motor adalah hal yang paling dihindarinya. Dulu waktu SMU, ia pernah belajar naik motor. Begitu lumayan lancar dan percaya diri, ia langsung turun ke jalan raya. Baru sampai depan kompleks, sudah nyusruk menabrak pagar rumah orang. Sejak saat itu nyalinya menguap tanpa bekas.


"Ayo dong, aku yakin kamu bisa," Rendra menatapnya sungguh-sungguh. "Buat kebaikan kamu sendiri. Kalau bisa naik motor kan jadi gampang kemana-mana."


Ia masih tak bergeming.


"Atau mau langsung belajar mobil? Oke, dengan senang hati," Rendra tersenyum menantang.


'Dengan senang hati,' batinnya sebal tak bisa menghindar dari ajakan Rendra.


Dan akhirnya, disinilah mereka. Di lapangan sepakbola kampung yang terletak tak jauh dari kompleks Raudhah.


Heran, bagaimana Rendra bisa tahu ada lapangan sepakbola di dekat sini. Ia yang sudah berbulan-bulan tinggal disini malah sama sekali belum tahu.


"Mantap, cuaca cerah berawan, nggak terlalu panas," Rendra memperhatikan seantero lapangan. Di salah satu sudut tampak seorang anak laki-laki usia sekitar SD kelas 6 sedang diajari naik motor oleh kakaknya.


"Kamu udah pernah bisa, jadi aku nggak perlu ngomong apa-apa," Rendra tersenyum. "Yang penting....berani. Aku yakin kamu pemberani."


Di awal latihan, Rendra mencoba membiarkannya duduk di depan dan dia membonceng di belakang.


Namun, hal itu justru membuatnya tak bisa konsentrasi, karena jarak mereka berdua yang terlalu dekat, dengan sesekali tangan Rendra mengambil alih setang motor saat laju motor mulai tak terkendali. Ditambah badan yang masih belum luwes dan seimbang, serta cara menarik gas yang masih semrawut membuat laju motor ajrut-ajrutan bikin mau muntah.


Akhirnya teknik latihan pun diganti, kini Rendra membiarkannya mengelilingi lapangan sendirian untuk melatih keseimbangan dan bagaimana menarik gas dengan baik.


Tapi ia masih merasa sangat kesulitan, hingga beberapa kali hampir menabrak pinggiran lapangan. Membuat Rendra langsung lari tergopoh-gopoh menghampirinya, "Kamu nggak papa?"


Ia menggeleng cepat dan mulai latihan lagi. Merasa malu dengan anak kelas 6 SD yang kini sudah bisa berputar keliling lapangan dengan luwes.


Tapi cuaca yang semakin panas, membuatnya merasa lelah dan kehilangan konsentrasi. Menjadikannya kurang bisa mengendalikan motor, hingga motor terguling ke samping kanan dan menindih tubuhnya.


Rendra langsung berlari menghampiri dengan wajah cemas, "Sakit nggak?" tanya Rendra sambil buru-buru memberdirikan motor yang menindihnya.


Tapi sayang, ia tak menyadari tangan kanan masih memegang setang. Gerakan cepat Rendra membuat gelang yang ada di pergelangan tangan kanannya menyangkut ke tuas rem, lalu putus tepat saat motor berhasil berdiri. Gelang dari Dio.....


Seperti gerakan slow motion, ia menatap nanar gelang yang terputus dengan butiran batu ruby dan topaz yang terlepas berjatuhan menyebar di atas rumput lapangan. Membuatnya buru-buru jongkok untuk mengais-ngais rumput guna mencari batu-batu yang terlepas tadi.


Maafkan aku Dio...maafkan aku....gelangnya putus....gelangnya rusak.....so sorry...really sorry...., batinnya hampir menangis sambil terus mencari-cari di atas rerumputan yang lumayan tebal.


Beberapa butir berhasil ketemu, tapi kebanyakan enggak. Ia hampir berteriak marah ketika sebuah tangan mengangsurkan untaian gelang yang paling panjang, "Ini...," Rendra yang juga jongkok menatapnya tanpa ekspresi. "Masih bisa disambung lagi."


Rendra kemudian mengajaknya duduk berteduh di bawah pohon Kiara Payung yang terletak di pinggir lapangan. Dengan tinggi mencapai 11 meter lebih dan daun-daunnya yang rimbun meneduhkan, menjadi tempat istirahat paling tepat. Sementara itu dari jauh masih terlihat anak SD yang semakin lincah memutari lapangan.


Rendra terus saja menunduk, konsentrasi memperbaiki gelang. Sementara hatinya berkecamuk tak karuan. Antara sedih gelang kenang-kenangan dari Dio putus, sekaligus marah pada diri sendiri karena telah ceroboh menjadi penyebab gelang putus. Ditambah tak semua batu berhasil ia temukan.


Rendra masih saja menunduk memperbaiki gelang, yang sepertinya agak sulit karena beberapa bagian hilang tak berhasil diketemukan. Membuatnya mencoba mengalihkan rasa kesal pada diri sendiri dengan memperhatikan anak SD yang semakin lihai mengendarai motor, sambil sesekali meminum air putih dari Tumbler yang sengaja dibawanya dari kost.


"Ini," Rendra menyerahkan gelang yang sudah berhasil tersambung.


"Sementara," ujar Rendra lagi sambil tersenyum. "Masih bisa putus. Harus dibawa ke toko perak buat dipatri biar nyambung permanen."


"Makasih," ia mengambil gelang dari tangan Rendra lalu memasukkannya dengan penuh kehati-hatian ke saku celana. Jika benar apa yang dikatakan Rendra barusan, akan berisiko jika ia langsung kembali memakainya.


"Kamu ada yang luka?" Rendra memperhatikan seluruh tubuhnya dengan seksama. "Tadi pas jatuh terakhir sakit ya?"


Ia menggeleng mencoba tersenyum.


"Untuk latihan hari pertama, kamu keren," Rendra mengacungkan jempol. "Kuncinya sering latihan sama....berani."


"Aku.....masih belum berani," ujarnya sambil memandang ke kejauhan dimana anak SD masih konsisten mengelilingi lapangan.


"Aku yakin kamu berani," suara Rendra terdengar mantap. "Bentar lagi pasti bisa."


Ia hanya menelan ludah. "Kamu....kenapa ngotot ngajarin aku naik motor?" ia menoleh ke samping dimana Rendra juga sedang memandang kearahnya.


"Papah kamu pernah cerita....kalau kamu trauma naik motor," Rendra tersenyum. "Gara-gara nabrak pagar tetangga sampai hancur."


"Ya ampun," ia menepuk jidat sambil tertawa. "Papah cerita begitu?" kira-kira apalagi yang diceritakan Papah Ke Rendra ya, semoga bukan kisah memalukannya yang lain. Aduh.


Rendra mengangguk. "Sebagai cewek aktif, mobilitas kamu jelas tinggi. Tapi nggak didukung dengan kemampuan untuk mobile, kayak naik motor atau mobil. Jelas jadi kendala buat kamu."


"Kamu juga nggak mungkin kan terus ngandelin orang lain tiap waktu. Harus bisa mandiri," Rendra tersenyum menatapnya. "Jadi, masih semangat latihan motor?"

__ADS_1


Ia meringis, sambil tangannya meraba saku celana jeans dimana terdapat gelang Dio yang putus. Wahai hati, apa pendapatmu setelah mendengar ucapan Rendra barusan? Apakah it's worth the pain jika mulai membuka hati?


__ADS_2