
Anggi
Usai kuliah terakhir, ia langsung pergi menuju ke sekre Taekwondo.
"Perlu pasukan pendamping nggak?" Mala antusias menawarkan diri.
Namun langsung ditolaknya.
Masalah sepenting ini, harus diselesaikan empat mata.
Entah nanti bagaimana caranya, baik-baik atau tidak, we'll see.
"Sekarang jadwal bang Rendra jadi instruktur di kelas junior," kata salah seorang yang ditemuinya di sekre Taekwondo. "Di Stadion Garuda."
Dengan langkah memburu ia pergi menuju ke Stadion Garuda. Dimana sore yang cerah ini, ramai dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berolahraga.
Ada cowok-cowok yang sedang bermain sepakbola. Kelihatan seru sekali. Apalagi ditambah dengan teriakan supporter fanatik dari pinggir lapangan.
Juga banyak pasangan paruh baya yang jogging di lintasan. Ada pula sekelompok anak-anak berseragam olahraga SMP sedang latihan lompat jauh.
Sementara di pinggir lapangan, anak-anak Marching Band sudah berbaris rapi untuk melakukan pemanasan sebelum mulai latihan.
Ia yang bisa dibilang jarang sekali datang ke Stadion, terlebih dulu harus bertanya ke beberapa orang, "Di mana tempat latihan taekwondo?"
Ternyata latihan taekwondo sore itu dilakukan di bawah tribun penonton.
Terdapat ruang setengah terbuka seluas kurang lebih 50 M2 yang lantainya telah dilapisi matras warna merah dan biru. Dimana puluhan anak-anak usia SD tengah berlatih dengan penuh semangat.
Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memakai sabuk kuning, sedang berlatih gerakan Basic 2 dan 3 yang dipandu oleh instruktur cewek dan dua orang pendamping.
Kelompok kedua adalah anak-anak yang bersabuk hijau, mereka sedang berlatih jurus Taeguk 2 dan 3, dipandu instruktur cowok dan seorang pendamping.
"HA!" teriak anak-anak penuh semangat tiap kali menyelesaikan satu gerakan jurus.
Ia berjalan mendekat ke deretan ibu-ibu muda yang sedang menunggui anak-anaknya latihan. Kebetulan di sana terdapat 2 kursi kosong.
"Kosong Mba?" tanyanya berbasa-basi. Sengaja memanggil 'mba' untuk membahagiakan orang lain.
Dulu ia pernah memanggil seseorang dengan sebutan 'bu' di sebuah tempat makan, alhasil ia langsung didamprat.
"Bu..Bu...memangnya saya ibu-ibu!"
Padahal jelas-jelas fisiknya mendefinisikan seorang ibu-ibu. Sing waras ngalah.
"Orangnya lagi ke toilet. Duduk aja dulu nggak papa."
Ia tersenyum mengangguk, "Makasih."
Begitu duduk, ia baru bisa menemukan sosok Rendra. Yang ternyata tadi sempat terhalang deretan anak-anak bersabuk kuning. Rendra sedang berdiri diantara dua anak yang kira-kira usianya paling besar, mereka berdua memakai sabuk biru. Rendra terlihat menyuruh mereka untuk melakukan kyungrye (penghormatan), lalu memberi aba-aba,
"Iljang (satu), yeejang (dua), samjang (tiga)........Sijak (mulai)!" teriak Rendra kepada mereka berdua untuk memulai Kyorugi (pertarungan).
Ia memilih mengambil ponsel untuk mengisi waktu. Namun malah membuat emosi semakin meningkat karena sosmednya penuh dengan notifikasi masuk.
Ini pasti gara-gara tag an Adit ke instagramnya. Haduh. Mana anak-anak Romansa ramai lagi di grup. Jujur ia tak berani membuka Line Grup Romansa. Tak berani membaca komentar anak-anak, terlebih disana ada Dio. Mau nangis saja rasanya.
"Udah pada lihat postingan Sabeum (guru) yang terbaru belum?" seorang ibu yang duduk tepat di sampingnya melempar topik pembicaraan.
"Postingan opo (apa)? Ig to?"
"Sabeum sopo (siapa)? Uakeh sabeume ngono (banyak sabeum begitu)."
"Sabeum Rendra lah. Sopo meneh (siapa lagi)."
"Iyo nang Ig (iya di Ig). Aduh, itu siapa ya calon istrinya. Jadi penasaran."
"Memang postingan opo to (apa sih)?"
"Iki (ini)...iki (ini). Deloken dewe (lihat saja sendiri)."
"Haduuu captionnya, silaturahmi ke rumah mertua."
Begitu mendengar kalimat terakhir, ponsel yang sedang di pegangnya mendadak jatuh ke lantai. Membuat ibu-ibu yang duduk disana menoleh kearahnya semua.
"Ngelamun to Mba?"
Ia hanya bisa meringis malu sambil memungut ponsel dari lantai. Lalu buru-buru mengeceknya khawatir ada yang rusak. Ini ponsel perjuangan, ia beli pakai uang sendiri hasil magang liburan tahun lalu. Kalau sampai rusak, ia bisa nangis darah.
"Arcawinangun iku daerah ndi to (itu daerah mana)?"
"Ra ngerti (nggak tau). Koyoe dudu ning kene (kayaknya bukan disini)."
"Loh, pacarnya bukan yang putri-putrian itu to?"
"Uwis putus jarene ponakanku (udah putus kata keponakanku)."
__ADS_1
"Loh, eman (wah, sayang)."
Matanya mendadak berkunang-kunang, kepalanya pusing tujuh keliling, dan perutnya mulas bukan main. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sana, tapi apa daya, tubuhnya letih seolah tiada daya dan upaya. Lemas selemas-lemasnya.
"HA!" teriak seluruh anak-anak serempak. Rupanya latihan telah selesai. Kini mereka sudah duduk santai, beberapa sambil selonjoran diatas matras, mendengarkan pengarahan yang disampaikan oleh Rendra.
"Ono pengumuman opo to (ada pengumuman apa ya)?" Ibu-ibu mulai berbisik-bisik lagi.
"Delo meneh rep ono UKT (sebentar lagi mau ada UKT)."
"Ra kroso (nggak terasa -sudah mau UKT lagi-)."
"Dudu (bukan). Iku pengumuman kompetisi sesuk nang Solo (itu pengumuman kompetisi besok di Solo)."
Ia tak terlalu jelas mendengar apa saja yang sedang dibicarakan Rendra di depan anak-anak. Lumayan lama sambil sesekali anak-anak menyahut,
"Iya Sabeum..."
"Baik Sabeum...."
"Semangatt!"
"Jangan lupa gerakannya dihapalin di rumah ya," kali ini suara Rendra terdengar jelas.
Setelah selesai mereka berdoa bersama. Disusul anak-anak yang mengerubuti Rendra dan teman-teman taekwondonya untuk bersalaman. Ketika anak terakhir selesai menyalami Rendra, saat itulah mata mereka bertautan.
Dari jarak 20M lebih, Rendra jelas terkejut melihat keberadaannya diantara deretan ibu-ibu, meski akhirnya dia menyunggingkan seulas senyum, senyum penuh kemenangan. I know i hate you now. Really.
Kini Rendra sedang berjalan lurus menuju kearahnya, dengan bibir tetap menyunggingkan senyum. Membuat jantungnya seperti mau meloncat keluar.
Mendadak ia kehilangan orientasi, lupa tujuan datang kesini. Ia bingung, ingin melarikan diri, ingin segera pergi, tapi tak bisa, ia terlalu lemah, hanya bisa tetap duduk dalam diam, bagai menunggu algojo datang.
"Sabeum, mau tanya....," langkah Rendra terhenti di tengah ruangan karena beberapa ibu-ibu kini telah mengerumuninya.
Sebelum kerumunan bertambah banyak, Rendra dengan tubuh tinggi menjulangnya masih sempat memberi kode melalui gerakan tangan dan isyarat mulut, memintanya untuk menunggu, dan diakhiri dengan senyum. How dare you!
Sekitar 15 menit lamanya ibu-ibu menahan Rendra. Ada yang memang bertanya serius, ada juga yang sengaja memperlama dengan percakapan basa-basi, bahkan ada yang hanya ikut-ikutan berkerumun. Really most wanted to die for hah. Dan ia melihat Rendra melayani ibu-ibu dengan sopan, baik, sekaligus penuh kesabaran.
Begitu ibu-ibu yang mengerumuni bubar, Rendra langsung berjalan menghampirinya. Kini mereka sudah berhadapan. Dan Rendra hanya tersenyum memandangnya tanpa mengatakan sepatah katapun. 1 menit, 5 menit.
"Sore Sabeum," suara seorang anak mengagetkan mereka berdua, pamit sambil melambaikan tangan.
"Sore Kiara," Rendra balas melambai. "Hati-hati di jalan ya."
"Iya Sabeum."
"Wa'alaikumsalam Syafa, udah dijemput?"
"Udah, Ayah nunggu di tempat parkir."
"Oh ya, hati-hati di jalan ya."
"Iya Sabeum."
"Dadah Sabeum."
"Sampai ketemu minggu depan ya Sabeum."
"Sabeum Rendra, ada snack dari Mama, udah aku titipin di Sabeum Tommy ya."
"Waduh, repot-repot, makasih Rafa. Salam buat Mama Papa ya."
"Siaaaappp."
Dan rangkaian upacara lepas pamitan baru selesai beberapa menit kemudian, sampai semua anak-anak yang tadi mengikuti latihan habis tak bersisa.
Tanpa sadar tawa kecil lolos dari mulutnya tanpa bisa dicegah. Ya ampun, sepertinya ia sudah gila sampai-sampai tertawa sendiri.
"Kenapa ketawa?" Rendra memandangnya heran sambil ikut tertawa.
"Ada yang lucu?" Rendra masih berdiri dengan jarak kurang dari 2 meter di depannya yang duduk di kursi. Dengan tangan berkacak pinggang, rambut dan seragam taekwondonya basah karena keringat.
Membuatnya harus menelan ludah berkali-kali sebelum akhirnya berkata, "Aku marah banget sama kamu."
Namun belum sempat Rendra menjawab, seseorang yang masih duduk melingkar di atas matras memanggilnya, "Oy, Ren, eval dulu."
"Sori, kamu tunggu sebentar, nggak akan lama, jangan kemana-mana...," Rendra memperingatkan dengan tatapan mata tajam sebelum berbalik untuk bergabung dengan teman-temannya.
Ia harus duduk menunggu di kursi seperti orang bodoh. Kalau dipikir-pikir, kenapa ia yang selalu nyamperin Rendra? Aneh sekali. Padahal -sebagian- dirinya sangat membenci Rendra.
Apakah seperti ada kekuatan lain yang menggerakkan? Ah ya tentu tidak, ini memang murni kebodohannya sendiri. Mau-maunya selalu mendekati Rendra lebih dulu, entah itu untuk sekedar konfirmasi, meluruskan, atau....ah, entahlah.
Padahal bisa saja ia bersikap cuek, masa bodoh, bodo amat, you name it. Tak akan rugi. Tapi kenyataannya....Seperti ada yang salah dengan dirinya sendiri. Sesuatu yang diluar jangkauannya.
"Sori lama, sekalian beberes dulu," tiba-tiba Rendra sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
Mencangklong messenger bag hijau andalan, dengan seragam taekwondo yang telah berganti kaos putih bertuliskan panitia Pekan Olahraga Daerah yang berlangsung beberapa bulan lalu, dan celana putih taekwondo yang digulung hingga diatas mata kaki.
Ia tak menjawab, karena teman-teman taekwondo Rendra sedang saling berpamitan satu sama lain. Beberapa diantara mereka tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu saat melihatnya duduk di kursi.
Setelah semua pergi dan hanya tinggal mereka berdua, Rendra mendudukkan diri tepat di sebelahnya sambil berkata, "Kamu kenapa marah?"
"Aku bener-bener marah banget. Sampai selelah ini," ia menghela napas panjang. Tubuh dan jiwanya benar-benar lelah.
Rendra tak menjawab, justru mengangsurkan sekotak dessert box yang menggiurkan.
"Tulisannya Belgium Chocolate. Kayaknya enak. Cobain yuk. Nih sendok nya, pas banget ada dua," Rendra terkekeh sambil mengangsurkan sendok ke arahnya, tapi ia hanya diam mematung dengan pandangan kosong.
Rendra menghela napas, "Cokelat bisa bikin hepi loh. Kamu bukannya suka cokelat? Hampers waktu itu isinya....," Rendra terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Sori...," Rendra sadar telah mengatakan hal yang sangat salah.
Sementara orang-orang yang berolah raga mulai berkurang, berganti dengan anak-anak Marching Band yang mulai berlatih. Display lagu Kebyar-kebyar mulai terdengar mengalun memenuhi udara di seantero Stadion.
Sementara matahari semakin tenggelam di ufuk barat, cahaya jingga muncul di ujung cakrawala. Entah kebetulan atau tidak, lembayung senja saat ini benar-benar menjadi pemandangan indah yang sayang untuk dilewatkan. Suasana syahdu itu dilengkapi dengan angin sepoi yang mulai mempermainkan anak rambutnya.
Mereka masih saling berdiam diri dengan background lagu Kebyar-kebyar by Marching Band, membuat ingatannya melayang pada masa-masa kepanitiaan Ospek. Dan setelah berbulan-bulan berlalu, ia masih berurusan dengan orang yang sama seperti waktu dulu, yaitu Rendra. Ya ampun.
Rendra mencoba mengulurkan sebotol air mineral yang telah dibuka sealnya, "Minum dulu."
Karena memang haus, tanpa berpikir ia menerima botol tersebut dan langsung meminumnya, "Makasih."
Rendra tersenyum, "Papah kamu udah cerita kalau...."
"Kenapa kamu lakuin itu?" Ia menoleh ke samping, menatap tepat di manik Rendra.
Rendra masih tersenyum, "Tell me how to win your heart. Why is it so hard to trust me?"
"Harusnya kamu bilang dulu ke aku..."
"Emang kalau aku bilang mau datang ke rumah, kamu bakal ngebolehin?"
Ia mencibir. "Mau kamu apa sih?"
Rendra tak menjawab, tapi malah menyuapkan sesendok Belgium Chocolate ke mulutnya, "Cobain deh, enak. Mamanya Rafa punya toko bakery. Katanya ini jadi salah satu best seller."
Mulutnya terbuka dengan sendirinya menerima suapan Rendra. Sudah diluar rasionalitas memang perilakunya saat ini. Help me! Tapi rasa manis dan lezat cokelat Belgia yang lumer di mulut langsung membuat hatinya melembut.
"Enak kan? Coba lagi nih," Rendra kembali menyuapkan sesendok Belgium Chocolate ke mulutnya. Suapan kedua, suapan ketiga...
"Kamu lapar?" Rendra tertawa.
Membuatnya sadar sudah berperilaku berlebihan yang sangat diluar nalar.
"Nggak papa lapar juga. Sini kusuapin lagi..."
Ia menolak, lebih memilih untuk meminum air mineral, "Udah, makasih."
Kali ini Rendra menyuap untuk dirinya sendiri, "Eh, bener enak loh. Lebih enak dibanding yang tiramisu."
Membuatnya mencibir dan memandang Rendra kesal, "Jangan ngeles...kamu maunya apa?"
Rendra menelan suapan terakhir Belgium Chocolatenya dengan terburu-buru sampai tersedak dan terbatuk-batuk.
Usai minum Rendra berkata dengan penuh keyakinan, "Lemme love you."
Sementara itu di lapangan Stadion, entah kebetulan atau memang sudah ada yang mengatur hingga sedemikian rupa, Marching Band sedang memainkan lagu Can't take my eyes off you.
'I love you, baby
And if it's quite alright
I need you, baby
To warm the lonely night
I love you, baby
Trust in me when I say
Oh, pretty baby
Don't bring me down, I pray
Oh, pretty baby
Now that I've found you, stay
And let me love you, baby
Let me love you'
__ADS_1
(Frankie Valli, Can't take my eyes off you)