
Jangan pernah ragukan kemampuan 'mencari tahu' seorang cewek kalau sedang kepepet. Ilmu detektif yang dimiliki bahkan bisa lebih jago dibanding Shinichi Kudo yang badannya menyusut dan hingga kini terjebak di tubuh anak SD.
Cewek kalau mau dan memang niat plus ada misi tertentu, akan mampu menganalisis segala aspek dengan detail dan tak ada yang luput satu pun. Karena memastikan sebuah informasi harus jelas dan lengkap adalah jalan ninja seorang cewek. Absolutely. Jadi, jangan pernah remehkan cewek, meski ia terlihat seperti tak tahu apa-apa, padahal sesungguhnya dia sudah memegang kartu As mu. Right.
Begitulah ia, setelah seharian mencoba menganalisa arti percakapan Rendra di telepon yang sangat mengusik rasa ingin tahunya, stalking sana sini, akhirnya bisa diambil kesimpulan bahwa Mamanya Rendra mau datang ke Jogja.
Ia yang merasa berhutang budi karena Rendra telah bersikap sangat baik selama Papah Mamah di Jogja, tetap tersenyum meski Adit menyebut-nyebut nama Dio -dan membanggakannya, haduh tuh bocah emang mulut nggak ada filter banget-, dan Rendra tak lagi mengungkit-ungkit tentang perasaan diantara mereka, ia mengambil keputusan mantap untuk memberi Rendra surprise yaitu dengan menyambut dan menemani Mamanya selama di Jogja.
Cukup nekat memang, dan terus terang ia tak bisa menebak apakah Rendra suka atau tidak dengan tindakannya ini. Tapi mengingat Rendra juga nekat datang ke rumahnya tanpa memberitahunya, plus berkomunikasi secara intens dengan keluarganya di balik punggungnya, opsi menemani Mama di Jogja akan membuat skor mereka menjadi 1:1.
"Bang Rendra nggak bisa nemenin karena hari Rabu ada acara seharian di Surabaya," begitu info dari Puput -sekali lagi jangan ragukan kemampuan spionasenya. Bagaimana bisa dapat nomor ponsel Puput, dsb.-
"Sementara Mama juga cuma sebentar disini, besok pagi udah harus ke Jakarta."
"Sebentar banget?"
"Nggak pernah lama malah."
"Kok bisa?"
Puput mengangkat bahu lalu bertanya menyelidik, "Tapi Mba emang bener diminta sama Bang Rendra buat nemenin Mamanya?"
"Iya," ia tercekat karena berbohong. "Kenapa emang?"
"Aneh banget," Puput mengernyit. "Soalnya tiap Mama kesini juga Bang Rendra jarang nemenin. Paling ketemu pas Mama mau pulang skalian nganterin ke bandara."
"Kayak jaga jarak gitu. Minimalis hubungannya. Jadi agak aneh kalau Bang Rendra justru minta calon istrinya buat nemenin Mamanya."
Ia langsung keselek, "Eh, sebentar...saya bukan calon istri. Kami nggak ada hubungan apa-apa."
Puput tersenyum menggoda, "Nggak ada hubungan gimana Mba, habis Mba datang ke kantor waktu itu kan Bang Rendra langsung jajak pendapat sama anak-anak di kantor, gini, 'Eh, gimana calon istri gua kemaren, keren kan?', gitu Mba. Rame di kantor. Soalnya kita semua tahu si bos sering gonta ganti pacar, tapi nggak ada yang pernah diajak ke kantor, kecuali...Mba Anggi, hehehe....Makanya waktu Mba Anggi tiba-tiba nelpon saya jadi kaget," Puput menyeringai lebar.
Ia mencibir -campur deg-degan-, tak perlu diragukan seberapa gesreknya otak Rendra, membuatnya buru-buru mengalihkan topik. "Jadi Ren....mm, Bang Rendra jarang nemenin Mamanya selama disini? Kenapa?"
Lagi-lagi Puput mengangkat bahu, "Malah pernah cuma Bang Rakai aja yang nemuin Mama, padahal waktu itu Bang Rendra ada di Jogja, seharian di kantor malah, tapi nggak nemuin."
Kok bisa? Hubungan orangtua-anak seperti apa yang ada di keluarga Rendra. Apakah berbeda dengan hubungan orangtua-anak yang ada di keluarganya? Hm, menarik.
"Apa....mereka ada masalah?" tanyanya hati-hati.
Entah untuk keberapa kali Puput mengangkat bahu, "Wa nda tahu Mba, nggak berani ngulik-ngulik bos," jawabnya sambil nyengir.
Karena hubungannya dengan orangtua baik-baik saja, begitu juga dulu hubungannya dengan orangtua Dio, mendadak timbul semangat dalam dirinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi agar bisa membantu memperbaiki hubungan antara Rendra dan orangtuanya. Apa ini namanya melanggar batas?
Tapi begitu mengingat bagaimana cara Rendra men treat keluarganya sedemikian rupa, semangatnya kembali muncul. Yah, meski perasaannya terhadap Rendra masih ragu dan bimbang, minimal dengan sedikit berbuat baik bisa meminimalisir rasa bersalah yang sering muncul karena terus meng ignore and rejected him.
Hari yang dinanti pun tiba, agar tak kelamaan menunggu sekaligus menghindari suasana lobi ruang tunggu yang hampir selalu penuh dengan para pengantar dan calon penumpang, mereka baru berangkat 15 menit sebelum jadwal kedatangan pesawat jam 12.45.
"Belum kalau delay Mba," begitu info Puput.
Ia menurut saja, mereka diantar oleh Amin, OB ManjoMaju menggunakan CR-V Turbo Prestige hitam metalik yang masih gress.
"Bang Rendra memang jarang nemenin Mamanya, tapi selalu menyediakan fasilitas terbaik," bisik Puput seolah mengerti isi kepalanya.
"Ini yang terbaru," sambil menunjuk jok berbahan kulit nyaman yang mereka duduki.
Sekilas sebelum naik tadi, ia sempat melihat plat nomor mobil masih berwarna putih dengan tulisan merah. Hm, fresh from the oven.
Di tengah jalan firasat buruk dimulai, Rakai menelepon Puput memintanya untuk segera putar balik ke ManjoMaju karena ada sidak pemeriksaan pajak. Rakai sedang tak ada di kantor, sedangkan data hanya mereka bertiga (Rendra, Rakai, Puput) yang bisa akses.
"Aku udah pesen Ojol," Puput meminta diturunkan di depan sebuah restoran cepat saji.
"Mba Anggi, haduh maaf ya, nggak papa kan sendirian? Mas Amin udah hapal sama Mama kok, jangan khawatir. Kutinggal ya Mba," Puput melambai dan langsung naik ke Ojek online yang telah menunggunya.
Dan disinilah ia, menunggu di bagian kedatangan Terminal A sambil harap-harap cemas karena akan bertemu untuk pertama kalinya dengan orangtua Rendra. Tunjukan tangan Amin kepada tiga orang dengan penampilan paling menarik perhatian -dengan penampilan fisik diatas rata-rata, tak jauh beda dengan Rendra- menjadi petaka yang tak pernah ia sangka.
__ADS_1
Sikap Mama, Naja, dan Qeva berbanding terbalik dengan basic manner yang biasa Rendra tampilkan padanya selama ini, sweet and act like a gentleman. No more.
Berawal dari uluran tangan untuk salim (jabat tangan kepada orangtua, biasanya diikuti dengan mencium tangan) yang ditepis, menyuruhnya membawa barang bawaan karena penampilannya yang apa adanya membuat mereka bertiga mengira ia adalah orang suruhan Rendra untuk melayani mereka, hingga provokasi terang-terangan Naja yang membuatnya merasakan perasaan yang sama persis seperti saat Rendra memeluknya di dapur Pitaloka. Scared, feel insulted.
Pikiran menyuruhnya pergi saja, tapi hati meminta tinggal untuk menunaikan kewajiban menghormati orangtua. Berusaha menerangkan tapi tak ada yang mau mendengar. Bahkan Amin yang berusaha membantu menjelaskan tentang siapa dirinya pun tak digubris. Membuat surprise yang ia rencanakan sendiri dalam sekejap mata berubah menjadi bencana. Membuatnya semakin paham bahwa niat baik tak selalu berakhir baik. Membuatnya tiba-tiba merindukan Bunda Dio yang selalu bersikap lembut padanya, dan juga membuatnya kangen kepada...Dio. Crying so hard.
Sambil menekan emosi ke level terendah, ia berusaha menenangkan diri sendiri dan terus mendampingi mereka untuk beristirahat di Hotel bintang lima yang telah dipesankan Rendra. Mendengarkan semua percakapan hedon tingkat tinggi yang bahkan tak pernah terlintas di kepalanya. Sangat berbanding terbalik dengan Rendra yang selalu menampilkan sisi humanis dan kepedulian terhadap orang lain.
Sekarang ia memahami alasan Rendra yang tak pernah lama mendampingi Mama ketika sedang berkunjung ke Jogja. Apakah ini juga yang menjadi pemicu 'sakitnya' Rendra seperti yang Salsa ceritakan?
Pun Naja dan Qeva, sama sekali jauh panggang dari api untuk disebut sebagai adik dari seorang Rendra. Seluruh sikap manis dan gentle Rendra benar-benar hilang tak berbekas. Naja bahkan berkali-kali memprovokasinya dengan kalimat vulgar yang tak pantas diucapkan kepada orang yang baru ditemui hanya dalam beberapa jam.
"Lama-lama gue lihat, lo lumayan juga," Naja menyeringai. "Udah pernah dipake Rendra kan? Kapan-kapan kita mesti coba. Atau nanti malam?"
"Jaga mulut kamu!" kesabarannya sudah habis. Sejak pertama kali bertemu di bandara, Naja jelas terlihat hard to handle puluhan kali lipat dibanding Rendra versi pertama kali mereka bertemu dulu.
"Lo yang jaga mulut!" persis seperti Rendra dulu yang juga meradang saat ia mendorongnya ke belakang hingga kejatuhan panci. "Gue tahu lo cewek macem apa!"
"Asal lo tahu," Naja jelas sedang meremehkannya. "Semua cewek bekas Rendra bisa gue pakai kapanpun gue mau!"
It's one of the worst things that ever came up in my life. Mama Rendra yang ekstrim menampilkan keangkuhan eksplisit, ternyata belum ada apa-apanya dibanding Naja yang nasty, hobi underestimate-in cewek dan insulting.
Jalan keluar mulai terbuka saat makan malam, sepasang mata tajam yang sangat dikenalnya terperanjat melihat kemunculannya dari dalam lift. Ia yang baru saja kembali dari kamar untuk mengambil ponsel Qeva yang tertinggal pun tak kalah kagetnya.
"Kamu?" Rendra langsung berdiri dari kursinya. Tapi ia tak mampu berkata apa-apa, sibuk menenangkan hati yang berdesir, karena baru kali ini ia merasa senang bertemu muka dengan Rendra.
"Lagi ngapain?" kilatan kaget dan bingung di mata Rendra dalam sekejap berubah menjadi api yang menyala-nyala demi melihatnya menyerahkan ponsel kearah Qeva.
"Saya...."
"Kusuruh ambil ponsel yang ketinggalan di kamar," jawab Qeva acuh.
"Dia yang jemput kami di bandara," Naja menambahkan sambil menyeringai.
"Lain kali suruhlah karyawan yang agak kompeten dikit. Jangan yang nggak tahu apa-apa kek gini."
Semua yang ada di meja terperanjat mendengar ucapan Rendra. Membuat Naja meradang, "Siapa brengsek?! Dia..."
Rendra menarik tangannya cepat, lalu menggenggamnya erat, "Anggi ini....calon istriku. Jangan macam-macam sama dia!"
Ia berniat langsung memprotes deklarasi sepihak ini, tapi Rendra jelas tidak sedang membuka forum diskusi.
Dan karena saking kagetnya, Mama sampai menjatuhkan sendok yang sedang dipegang.
"Lo berdua harus minta maaf sama Anggi!" Rendra menunjuk muka Naja dan Qeva yang masih terlolong. Rahang yang mengeras menunjukkan seberapa keras usaha Rendra menekan emosi.
"Sekarang kami harus pergi, ini jelas bukan acara makan malam yang menyenangkan," Rendra sedikit menundukkan kepala kearah Mama yang masih kaget.
"Semua keperluan kalian sudah kusiapkan. Hubungi saja Amin. Permisi," tanpa menoleh lagi, Rendra merengkuh bahu dan menuntunnya menuju pintu keluar. Begitu masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong, Rendra langsung mengunci tubuhnya ke salah satu sisi dinding lift dengan kedua tangan lalu menunduk menatapnya khawatir, "Kamu nggak papa?"
Ia yang masih merasa senang sekaligus surprise dengan kemunculan Rendra hanya bisa mengangguk-angguk. Kepalanya benar-benar tak bisa diajak konsentrasi demi menyadari jarak wajah mereka yang hanya beberapa senti, sangat dekat hingga hembusan nafas Rendra terasa hangat di dahinya.
"Mereka nyakitin kamu?"
Pertanyaan kedua Rendra membuatnya menghela napas mengingat semua ucapan yang tadi dilontarkan Naja. Dan diluar dugaan, melihat reaksinya, Rendra langsung memukul dinding lift tepat di samping kepalanya, "Brengsek!"
"I'm okay....i'm okay....," ujarnya cepat merasa takut dengan reaksi Rendra.
"So sorry......," Rendra menatapnya penuh penyesalan.
Tapi episode mendebarkan pengunciannya di dinding segera berakhir karena lift terbuka dan beberapa orang pengunjung hotel masuk, membuat mereka langsung berpura-pura menjaga jarak seolah tak terjadi apapun. Begitu pintu lift terbuka di basement, Rendra langsung menggenggam tangannya menuju tempat parkir. Dan baru dilepaskan saat membukakan pintu mobil.
Setelah duduk di belakang kemudi dengan penuh kehati-hatian Rendra bertanya, "Udah makan belum?"
Ia hanya bisa meringis.
__ADS_1
"Wanna tell you something," lanjut Rendra dengan nada lebih serius.
"Boleh minta waktunya malam ini? Janji nggak akan melewati batas," pungkas Rendra sambil mengangkat kedua tangan keatas.
***
Rendra mengarahkan kemudi menyusuri jalan Malioboro menuju perempatan titik 0 kilometer, lalu lurus menuju Alun-Alun. Dari kejauhan saat masih melintas di Kauman (sisi barat Alun-Alun utara), sudah terlihat kelap-kelip lampu bak lampion kuning berjajar di langit.
Rasa ingin tahunya terjawab begitu Rendra menepikan kemudi di pojok timur Alun-Alun utara tepat di depan kelap-kelip lampu yang ternyata adalah sebuah tempat makan berkonsep outdoor yang ramai pengunjung.
Rendra kembali menggenggam tangannya saat berjalan menuju keramaian di bagian tengah dimana terdapat pendopo tempat menyajikan makanan, melewati kursi-kursi dan meja kayu yang tertata apik dan dipenuhi pengunjung, dengan pencahayaan lampu kuning kecil menggantung diatas, ditambah dengan pemandangan Alun-Alun utara, membuat suasana tampak sangat romantis.
Rendra lalu mengajaknya untuk duduk di deretan tengah menghadap ke barat, yang lumayan leluasa dibanding deretan lain yang lebih dipenuhi oleh pengunjung. Matanya langsung dimanjakan oleh pemandangan malam, regol Keraton di sebelah selatan, dan wilayah Kauman nun jauh di sisi barat.
"Menurut penelitian, makan bisa merubah suasana hati jadi lebih baik," bisik Rendra ketika mereka mulai memilih makanan.
Ia memilih bakmie jawa dan minuman cokelat panas, sementara Rendra memilih nasi oseng mercon rica-rica daging dan wedang uwuh. Sambil menunggu pesanan datang ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, hampir semua meja dipenuhi pengunjung, yang juga dihibur oleh live music.
"Bang, apakabar?" sapa seseorang yang menghampiri meja mereka. "Suwe ra ketok."
"Ho oh," Rendra bersalaman dengan orang tersebut. "Rame terus saiki?"
"Yo lumayan, promosine isih terbatas."
"Oh, iki kenalke, Anggi....," Rendra mengarahkan tangan padanya.
"Fahmi," orang itu tersenyum ramah kearahnya. "Wah, spesial iki, jarang-jarang ngenalke...," kali ini sambil menyeringai.
Membuat Rendra tertawa, "Oh iya, Nggi, Mas Fahmi ini salah satu pengelola angkringan di Pendopo Lawas. Keren konsep sama pemikirannya yang selalu out of the box," seloroh Rendra.
Rupanya Fahmi adalah rekan lama Rendra saat masih membuka usaha angkringan. Obrolan mereka terputus oleh kedatangan makanan yang dipesan.
"Monggo...monggo...selamat menikmati, tak tinggal sek yo," Fahmi pamit undur diri.
Di tengah-tengah acara makan, mereka kembali dikagetkan oleh sapaan dari penyanyi yang sedang mengisi live music,
"Saya baru dapat info kalau kita kedatangan tamu spesial malam ini. Duduknya di situ tuh...," tunjuk penyanyi tersebut pada mereka berdua.
Membuatnya gelagapan karena semua mata tertuju kearah mereka, berbeda dengan Rendra yang langsung tertawa lebar sambil mengangkat jempol. Apakah semua orang di kota ini mengenal Rendra? So weird.
"Welcome back Bang Rendra dan pasangan...," ujar penyanyi itu lagi. "Kekasih baru atau udah calon nih Bang? Jangan lupa kenalin nanti ya Bang," seloroh penyanyi itu sambil tertawa kecil.
"Yap, lagu spesial ini diperuntukkan bagi tamu spesial juga......"
'Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
'Ku harus milikimu
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa'
(Dewa, Risalah Hati)
__ADS_1
Membuat makanan yang sedang dikunyahnya hampir muncrat mendengar lagu yang dinyanyikan. What a song, what a night.