KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
43. Deepest Pain


__ADS_3

"Barusan dapet berita dari Argo ....," suara Bayu mulai bergetar. -Argo, sepupu Dio yang seangkatan dengan mereka saat di SMANSA dulu, yang sekarang sekampus dengan Fira-


"Iya gimana Yu?" hatinya ikut berdebar menunggu kelanjutan kalimat Bayu.


"Ayah bundanya Dio kecelakaan di tol......sekarang kritis di Rumah Sakit Karyadi....."


Apa yang ku berikan untuk mama


Untuk mama tersayang


Tak ku miliki sesuatu berharga


Untuk mama tercinta


Hanya ini ku nyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Air mata tak berhenti mengalir membasahi kedua pipinya sepanjang perjalanan pulang diatas Bus Efisiensi. Menjadi bus pertama yang berangkat dari terminal, belum banyak penumpang yang naik, membuat kursi masih banyak yang kosong, termasuk di sebelahnya. Menjadikannya semakin leluasa untuk menumpahkan kesedihan dengan menangis, tanpa harus kikuk di hadapan orang lain.


Walau tak dapat selalu ku ungkapkan


Kata cintaku tuk mama


Namun dengarkanlah hatiku berkata


Sungguh ku sayang padamu mama


Hanya ini ku nyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Lagu cintaku untuk mama, mama


Ingatannya melayang saat acara perpisahan SMU, dimana kelas mereka menyuguhkan penampilan paduan suara sebanyak beberapa lagu, salah satunya adalah lagu Cinta untuk Mama, dengan diiringi dentingan piano dari Dio.


Ia takkan lupa bagaimana cara bunda Dio memandang putranya diatas panggung, pandangan yang sama seperti saat awarding night di ballroom hotel beberapa waktu lalu. Pandangan yang kini membuat hatinya bagai tercabik-cabik. Membuat air mata semakin deras menetes, hingga membasahi foto yang sedari tadi dipegang erat. Fotonya bersama bunda Dio sesaat sebelum membatik bersama di Mirota Batik beberapa waktu lalu. Foto yang kini basah oleh airmata.


Semalam setelah Bayu menelepon, secara berturut-turut menyusul rentetan chat masuk dan telepon ke ponselnya. Dari Chris, Fira, Mamah, dan.....Dio,


Dio. : 'We did it again.'


-disertai foto mereka bertiga (Dio, Fayyad, Gerry) memakai setelan jas lengkap memegang papan bertuliskan


No.1!


Winning The Championship


Welcome to the DECCON final @Tokyo


dan sebuah piala transparan berbentuk futuristik-


Sambil menangis dalam hati ia turut bahagia dengan capaian yang berhasil Dio raih,


Anggi. : 'Congrats. So proud. Have no words. Love you.'


Dio. : 'Love you more.'


Semalaman ia tak bisa memejamkan mata, pikirannya melanglang buana entah kemana, hatinya berdebar cemas menanti kabar....yang semoga menjadi kabar bahagia. Semoga.


Berita yang dinantikannya datang lebih cepat dan tak terduga, sebuah pesan chat dari Argo masuk ke ponselnya. Tidak...jangan...


Argo. : Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un,


telah wafat ayahanda dan ibunda dari sahabat Dio Kamadibrata,


Mohon doa semoga beliau berdua husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

__ADS_1


Dan semoga keluarga yang ditinggalkan dikaruniai keikhlasan dan kesabaran.


Airmatanya langsung luruh, ia jatuh terduduk di lantai kamar. Innalilahi wa inna ilaihi raji'un.....Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada Allah lah kami kembali. Ya Allah, tuliskanlah beliau di sisi-Mu termasuk golongan orang-orang yang baik. Jadikanlah catatannya di 'illiyyin. Gantilah beliau di keluarganya dari orang-orang yang meninggalkan. Janganlah Engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya.


Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk tas rotan hadiah dari bunda Dio. Mendekapnya dengan segenap perasaan. Membuat air mata semakin deras mengalir begitu ia mengingat kali terakhir mereka bertemu,


"Anggi sayang....apakabar? Akhirnya ketemu disini," saat pertama kali ia muncul dibalik pintu kamar hotel dan bunda langsung memeluknya hangat.


"Mau banget. Belum sempet kemana-mana. Dari kemarin bunda di hotel terus," saat ia menawarkan untuk menemani mencari oleh-oleh.


"Anggi juga ya," begitu bunda membujuknya untuk ikut praktek membatik.


"Cantik," bunda mengelus bahunya sekilas saat ia keluar dari ruang ganti telah memakai pakaian adat Jawa lengkap dan rambut disanggul.


"Ayo, kapan lagi foto berdua...," bunda yang tersenyum menarik lengannya agar mendekat.


"Nanti ingetin bunda buat kasih ke Dio ya sayang," bagaimana excitednya bunda menambah satu lembar cetakan foto untuk diberikan ke putra bungsunya.


"Buat di ruangan Ayah. Jam dindingnya udah lama rusak," bunda tersenyum sambil memilih jam dinding yang terbuat dari kayu.


"Bagus yang mana?" begitu bunda mengangsurkan dua buah tas berbahan rotan muda yang cantik. Dan memaksanya untuk mengambil tas yang sama, "Kita kembaran ya...," bunda tersenyum.


"Buat kenang-kenangan," bisikan lembut bunda saat menggenggamkan kantong plastik berisi tas rotan dan dress batik.


Ia tersungkur di atas tempat tidur dengan air mata menggenang. Dadanya terasa sakit bukan main, seperti terhimpit dinding yang sangat berat. Dio...be strong....be strong...be strong.....


Dini hari ia kembali terbangun karena sebuah pesan chat yang masuk ke ponselnya,


Dio. : 'Can u tell me what happened?'


Dio. : 'Bang Nizam nyuruh cepet pulang. Even though the party isn't over yet.'


Dio. : 'Heading home with the last flight.'


Dio. : 'Very confused.'


Ia hanya bisa membalas sambil kembali berlinang air mata,


Anggi. : 'Be strong.....'


Sepagi mungkin ia pergi ke kampus guna mengurus ijin ke bagian akademik untuk mengajukan UTS susulan, dengan alasan kepentingan mendesak keluarga. Menitipkan semua tugas esay dan paper yang berhubungan dengan penilaian UTS kepada Mala, yang langsung menawarkan diri untuk mengantar ke terminal lalu memeluknya erat sambil berkaca-kaca, "Nggak usah mikir UTS. Everything gonna be alright."


Perjalanan pulang selama kurang lebih 4 jam dengan Bus Patas AC yang nyaman terasa seperti siksaan berabad-abad lamanya. Ia terlebih dulu pulang ke rumah, didepan pintu mamah menyambut dengan wajah sedih dan langsung memeluknya.


Tak berlama-lama di rumah, bersama dengan rombongan ibu-ibu kompleksnya yang memang beberapa ada yang kenal baik dengan orangtua Dio, pergi bersama menuju rumah duka. Ia kebagian semobil dengan mamah, Bu Seno, Bu Cipto, Bu Titi, dan Bu Wiryo, yang menyesalkan keadaan.


"Jan melasi banget putra-putrane langka sing menangi."


("Kasihan sekali anak-anaknya nggak ada yang menemani -disaat terakhir-.")


"Iyo mesakke tenan, ora iso mbayangke...."


("Iya, kasihan banget, nggak bisa membayangkan....")


"Crita sebenere pripun jane?"


("Kisah yang sebenarnya gimana?")


"Nek jere critane Pak RT mau, Mas Rasdan sekalian bar sekang konferensi, arep lanjut maring undangan pengantenan anake sedulure. Tapi malah neng tol kedadean...."


("Menurut Pak RT tadi, Mas Rasdan dan istri baru pulang dari konferensi, mau lanjut menghadiri resepsi pernikahan anak saudaranya. Tapi di jalan tol terjadi musibah....")


"Berarti bener langka putrane sing menangi..."


("Jadi benar nggak ada anaknya yang menemani?")


"Sing ngancani malah jere putrane Mas Pri sing lagi kuliah neng Semarang. Sapa kae jenenge lah nganti kelalen, ganu pas SMA tau sekelas koh karo Tika."


("Yang menemani katanya anak Mas Pri yang sedang kuliah di Semarang. Siapa itu namanya jadi lupa, dulu waktu SMA pernah sekelas dengan Tika -anaknya-")


"Argo....," jawabnya sambil tetap memalingkan muka kearah jendela, berusaha menyembunyikan air mata yang dari tadi mendesak ingin keluar.


"Oiya, Argo. Jan...wis tuwa kelalenan."


("Oiya, Argo. Sudah tua jadi pelupa.")

__ADS_1


"Bisa pas kayakuwe...."


("Kebetulan sekali....")


"Iya alhamdulillah, pas keluarga ngene olih kabar sekang polisi, langsung Argo kon maring Rumah Sakit, men nek ana apa-apa gampang wis ana pihak keluarga...."


("Iya alhamdulillah, begitu pihak keluarga dapat kabar dari polisi, langsung meminta Argo untuk datang ke Rumah Sakit, kalau ada apa-apa lebih mudah karena sudah ada pihak keluarga...")


"Melasi banget, keluarga sukses ujiane kaya kiye...."


("Kasihan sekali, keluarga sukses dapat ujiannya seperti ini...")


"Loh, putrane sing ragil mbok neng mBandung?"


("Loh, anak yang bungsu bukannya di Bandung?")


"Neng mBandung nana ya ora sempat menangi lah. Mbok adoh Bandung-Semarang, kedadeane cepet maning, priwe sih."


("Di Bandung juga nggak sempat. Jauh Bandung-Semarang, kejadiannya cepat sekali, gimana sih.")


"Mengko priwe jere pemakamane, arep nunggu putra-putrane apa ora?"


("Nanti gimana pemakamannya, mau nunggu anak-anaknya atau enggak?")


"Kayane tah nunggu sing ragil tok ndean. Sing mbarep kan lagi lanjut kuliah neng Amerika, adoh pisan, kapan tekane nek ngenteni."


("Sepertinya hanya menunggu yang bungsu pulang. Yang sulung sedang melanjutkan kuliah di Amerika, jauh sekali, kapan datangnya kalau harus menunggu.")


"Sing mbarep kuwe sing nembe ngundhuh mantu winginane urung suwe apa ya?"


("Yang sulung itu yang kemarin baru menyelenggarakan ngundhuh mantu ya?")


"Iya...Tio...bar pengantenan langsung lanjut Phd bareng bojone..."


("Iya...Tio...setelah menikah langsung lanjut Phd dengan istrinya...")


"Sing tengah nyong paling ora apal."


("Anak kedua paling enggak hapal.")


"Sing tengah..Rio.. lagi master neng Jepang apa ya?"


("Yang kedua, namanya Rio, sedang master di Jepang sepertinya?")


"Iya kayane. Sakuan Mba Wening tau crita gemiyen pas ketemu neng Balai Haji, putrane arep mangkat maning maring Jepang."


("Iya sepertinya. Dulu Mba Wening pernah cerita waktu kami ketemu di Balai Haji, anaknya mau berangkat lagi ke Jepang.")


"Jan, telu lanang kabeh, kakang adi dadi kabeh."


("Wah, anak tiga laki-laki semua, kakak adik sukses semua.")


"Sing ragil apa wis wisuda sih?"


("Yang bungsu apa sudah wisuda?")


"Urung lah, mbok seangkatan karo Tika. Esih suwe. Seangkatan karo Anggi juga ya?"


("Belum, seangkatan dengan Tika. Masih lama. Seangkatan sama Anggi juga ya?")


Ia mengangguk lemah sambil tetap menghadap jendela. Percakapan ibu-ibu di dalam mobil semakin menambah perih hatinya.


"Melasi banget...ujiane wong pancen beda-beda....."


("Kasihan sekali....ujian tiap orang berbeda-beda...")


"Ya dongakna husnul khotimah."


("Kita doakan semoga husnul khotimah")


"Wong apik In syaAllah."


("-mereka- Orang baik In syaAllah.")


"Aamiin....."

__ADS_1


Mobil yang mereka tumpangi harus berhenti jauh sebelum sampai ke rumah Dio, karena jalan menuju kesana sudah dipenuhi oleh mobil para pelayat yang parkir. Mereka harus berjalan cukup jauh.


__ADS_2