
Sejak sore itu ia tak pernah bertemu lagi dengan Rendra. Tapi efek domino dari postingan Instagram Rendra langsung terasa, tanpa jeda. Karena bagi yang jeli, akan dengan mudah menemukan komentar Adit yang mentagnya. Membuat teman-teman followersnya (yang cuma puluhan biji, teman di real life) yang juga followers Rendra langsung mempraktekkan ilmu cocoklogi.
'Ini sih Anggi nak Ilkom.'
'Anggi, is dat yu? Ga nyangka eung.'
'Fixed Anggi rumahnya di Arca.'
"Congrats Bu Sekumku (sekretaris umum, jabatan dalam organisasi kampus).'
'Ndang mangan mangan Nggi.'
(buruan makan-makan Nggi)
Ditambah followers Rendra yang ke trigger sama komentar orang yang kenal dengannya,
'Senapsaran sama penampakannya.'
'Cangtip ga?'
'Cah ndi (anak mana)? Ga reti (nggak tau).'
'Abangku bentar lagi taken.' -emoticon menangis-
'Ga rela ga rela ga rela.'
Ia yang cuma stalking saja sampai pusing membaca komentar yang jumlahnya sampai ratusan, rata-rata curious tingkat dewa, meski banyak juga yang nyinyir. Tapi si pemilik akun malah santai kayak di pantai. Cuek-cuek saja tanpa ada itikad baik untuk meredam situasi dan kondisi followersnya yang semakin memanas. Sekalinya komen malah bikin followers tambah hopeless,
'Tunggu aja undangannya ya semua, soon.'
Rendra ini ya...ggggrjrjrhrhrhh! Ampun! Belum anak-anak kost, membuatnya semakin dikucilkan. Tapi sebuah ketukan di pintu kamarnya malam ini menjadi surprise yang tak pernah disangka.
"Anggi?" kepala Salsa muncul dari balik pintu.
Membuatnya yang sedang tengkurap diatas kasur membaca buku Theories of Human Communicationnya Stephen W. Littlejohn & Karen Foss langsung terduduk.
"Nggak papa, santai aja," Salsa memberi kode dengan tangan. "Boleh masuk?"
"Masuk Mba...masuk...," ia langsung bangkit menyambut Salsa.
"Ada apa ya Mba?" ia mengernyit. "Apa ada iqob yang belum kuselesaiin?"
Salsa tertawa, -wah, baru kali ini ia melihat Salsa tertawa selebar ini, ternyata cantik banget Salsa kalau lagi ketawa- , "Ya ampun, jadi kamu kalau lihat aku langsung inget iqob gitu?"
"Hehe...enggak juga sih Mba," ia hanya bisa meringis malu.
"Maaf ya kalau selama ini mungkin sikapku agak...kurang...ya kamu tahu sendiri...."
Ia mencoba tertawa, "Kurang apa Mba? Enggak ah, biasa aja. Justru Mba Salsa itu bagus, cocok jadi pemimpin, tegas, jadi semua nurut."
Ini serius, coba kalau Salsa tipe nggak enakan, nggak akan tegak tuh peraturan di Raudhah.
Ucapannya membuat Salsa ikut tertawa, "Lebay ah. Kamu pasti pernah kesel kan sama aku karena sering diiqob."
Ia meringis, "Hehe....iya juga sih Mba. Tapi nggak masalah kok, no hurt feeling."
"Yang kayak begini ini nih yang bikin Rendra jatuh hati sama kamu," diluar dugaan Salsa menyebut nama -seseorang-yang-tak-boleh-disebut-namanya- dengan sangat luwes.
"Gimana maksudnya Mba?" ia sampai deg-deg an sendiri menunggu jawaban dari Salsa.
Salsa tersenyum misterius, "Emang kamu nggak tahu? Anak-anak Raudhah nggak ada yang cerita?"
__ADS_1
Ia menggeleng.
"Pasti kamu nggak nyangka, kalau dulu...kami pernah deket..."
Kalimat Salsa selanjutnya bagai air bah yang menghancurkan seluruh bayangan tentang kehidupan idealnya di muka bumi.
"Rendra langsung ditunjuk jadi ketua gugus. Dan kami semua sepakat untuk mempertahankan kebersamaan gugus meski ospek dan AP (action plan) udah selesai. Singkat cerita....kami jadi lebih dekat...."
"Eh, tapi Mba, kalau dari cerita biografi ManjoMaju, waktu setahun pertama Ren...mm, Bang Rendra masih adaptasi, nggak ada temen, masih cupu. Itu salah dong?"
"Enggak lah," Salsa tersenyum -Salsa banyak senyum malam ini- .
"Bener kok. Dia masih struggle di tahun pertama. Maksudku banyak temen ya temen segugus sama kenalan pas ospek aja, jangan bayangin kenalan sebanyak sekarang."
"Tapi Rendra baik banget, always treat me like a princess...."
Hmm, sudah bawaan orok berarti sikap yang melekat di Rendra, bukan karena sengaja dibuat-buat. Skor : 1.
"Tahun pertama berat banget buat dia. Nggak pernah dapat kiriman dari orangtua, sekalinya dapat habis buat bayar hutang...."
Rendra pernah hidup susah dan punya hutang? Unbelievable. Skor : 2.
"Eh, Mba, maaf nih....bukannya orangtua Ren...mm, Bang Rendra itu pemilik tambang batubara terbesar di Kalimantan? Kok bisa nggak dikirimin uang sama orangtuanya, kok bisa punya hutang? Bukannya anak sultan?" ia mengernyit.
"Aku nggak pernah tahu gimana hubungan Rendra sama keluarganya. Yang katanya anak pemilik tambang bisa blangsak gitu hidupnya. Tapi nggak tahu juga kalau dia cerita ke temen cowok, misal Aji, mereka berdua akrab banget soalnya."
Ia hanya bisa tersenyum getir. The other side dari seorang rising star. Skor : 3.
"Intinya, hidup Rendra cuma ngandelin dari uang beasiswa yang nggak seberapa jumlahnya."
"Sampai pernah kerja part time jadi montir di bengkel, jadi SPB (sales promotion boy), buka jasa bikin proposal, makalah, nerjemahin, bikin laprak (laporan praktikum) juga. Pokoknya semua yang dia bisa kerjain, pasti dikejar. Termasuk ngelatih taekwondo ke sekolah-sekolah sama anak-anak sekre."
Pekerja keras, mendefinisikan dengan sangat baik tipe risk takernya saat ini. Skor : 4.
"Numpang sama kating kenalannya anak KU (kedokteran umum) yang jadi takmir Masjid disana. Jadi dapat fasilitas tempat tinggal di salah satu ruangan Masjid."
Seriously? Syailendra Darmastawa si pengusaha muda sukses pernah numpang tidur di Masjid? Unbelievable 2,0. Skor : 5.
"Waktu itu karena nggak bisa bayar kost. Uangnya habis untuk berobat. Aku selalu ingin bantu, tapi dia nggak pernah mau nerima bantuanku," Salsa menerawang.
Memiliki harga diri tinggi. Skor : 6.
"Kondisi yang nggak stabil bikin kesehatannya jadi terganggu. Seringnya kena Typus sih, langganan anak kost," Salsa tertawa.
"Pernah sebulan dua kali masuk rumah sakit. Uang yang susah payah dikumpulin dari kerja part time dan ngerjain laprak orang, habis buat bayar biaya rumah sakit. Malah kurang. Kita semua patungan buat bayarin. Tapi langsung dikembaliin bahkan dilebihin pas dia bisa jual mobil untuk pertama kali, mobilnya Pak Drajat (dosen senior FT)."
Tidak melupakan teman yang membantu di kala susah. Skor : 7.
"Makanya sekarang temennya banyak ada dimana-mana. Gampang bikin link buat bisnisnya. Karena dari dulu Rendra nggak pernah mau ngerepotin orang lain. Justru selalu berusaha bantu orang lain."
Teman yang baik. Skor : 8.
"Kamu...belum tahu sampai sejauh ini ya?" Salsa tersenyum melihatnya melongo sepanjang cerita. Ia hanya menggeleng tak mampu berkata apa-apa.
"Aku bersyukur dia udah nemuin orang yang tepat," Salsa menggenggam erat tangannya.
"Rendra orang baik, Nggi, jangan dilihat dari casingnya aja yang...ya gitu kan Rendra suka rada-rada," Salsa tertawa.
"Aku...kita nggak ada hubungan apa-apa kok mba," ia meringis bingung. Benar kan, saat ini mereka tak ada hubungan apa-apa? Atau belum?
"Terus...kenapa....Mba Salsa cerita semua? Kupikir, Mba Salsa nggak suka sama aku," ia tersipu malu mengingat kejutekan Salsa selama ini.
__ADS_1
"Kupikir malah Mba Salsa....suka sama Ren...mmm, Bang Rendra," ia kembali meringis, berjaga-jaga jika Salsa marah.
"Enggak lah," Salsa tertawa.
"Dulu iya pernah suka...sekarang enggak lah. Aku tuh jutek karena kupikir kamu sama kayak cewek kebanyakan yang ngejar-ngejar Rendra pakai pemikat fisik, trus cuma mau morotin uangnya aja. Maaf karena ternyata aku salah," Salsa gantian meringis malu karena telah salah sangka kepadanya.
Ia menggeleng sambil tersenyum, "Nggak papa Mba, tak kenal maka tak sayang. Hee...."
"Aku langsung tahu kamu orangnya waktu kita lagi rapat buat baksos di teras, Rendra nungguin kamu di halaman. Dia nggak pernah segitu care nya sama cewek, sampai aku ngelihat dengan mata kepala sendiri gimana sikap Rendra ke kamu."
Ia ingat, pasti saat Rendra mengajaknya jalan kaki ke depan kompleks, yang membuatnya mengatakan sorry, i can't.
"Ditambah kejadian-kejadian setelah itu," Salsa lagi-lagi tersenyum. "Dia bener-bener serius sama kamu."
"Berarti...sekarang....dia...masih sakit Mba?" ia harus tahu kebenarannya.
"Setahu aku sih terapi obat sama terapi psikologisnya udah beres."
"Perilakunya udah terkendali. Bukan termasuk pasien lagi. Tapi nggak tahu ya untuk kehidupan pribadinya."
Ia hanya bisa menelan ludah berkali-kali. Rendra itu bagai sekotak cokelat luxury yang kita tak pernah tahu isi di dalamnya. Apakah rasa cokelat yang kita sukai atau justru sebaliknya. Cerita panjang Salsa kali ini jelas rasa cokelat yang paling ia takuti sekaligus benci.
"Intinya dia baik kok Nggi."
"Yang aku ceritain tadi kan udah masa lalu. Yang penting sekarang, dia udah lebih dewasa dan dia serius sama kamu," Salsa tersenyum menenangkan.
"Nanti, habis wisuda sarjana dokter gigi, aku mau nikah," Salsa mengerjap bahagia. "Aku udah di khitbah (lamar) bulan kemarin...."
"Ya ampuuun Mba Salsa?" Ia ikut mengerjap bahagia, lalu spontan memeluk Salsa.
Salsa menepuk-nepuk bahunya. Setelah selesai berpelukan, Salsa kemudian memperlihatkan cincin bermata putih berkilauan yang tersemat di jari manis tangan kanan.
"Cantik bangeeeet Mba," ia terkesima melihat cincin cantik yang berkilauan di jari Salsa.
"Selamat ya Mba," ucapnya tulus dari hati, turut berbahagia.
"Makasih. Doakan lancar sampai waktunya ya," Salsa tersenyum. "Kamu datang ya, nanti kukasih undangan spesial."
Ia mengangguk-angguk semangat. "Pasti kuusahain Mba," sambil tersenyum lebar. "Jadi yang waktu Mba Salsa tiba-tiba pulang ke Trenggalek bulan lalu itu lagi lamaran?"
Salsa mengangguk-angguk, "Kamu tahu nggak siapa calon suamiku?"
Ia menggeleng.
"Sama orang yang pernah ditebengin Rendra nginep waktu dia nggak punya kost an," Salsa tersenyum lebar.
Membuatnya semakin melongo, "Y-yang Ren...mm, Bang Rendra ikut nginep di masjid? Yang kating anak KU jadi takmir masjid? Iya Mba?"
Salsa mengangguk sambil terus tersenyum. "Entah gimana takdir bekerja, meski udah berusaha agar bisa mengabdi di Jambi daerah asalnya, tapi Bang Hafidz malah diangkat jadi dokter PTT di salah satu RS pemerintah di Trenggalek. Jadi nanti rencananya....habis lulus aku mau pulang kampung, mau ambil coass disana. Mengabdi berdua sama Abang," Salsa menyebut kata Abang sambil pipinya bersemburat malu.
"Rendra juga ikut ke rumah kok waktu khitbah," Salsa kembali mengerjap. "Berdua sama Aji. Mereka bertiga udah kenal lama soalnya."
Ya ampuuun Salsa, kisah hidupmu cocok dijadikan inspirasi cerita sebuah novel. Luar biasa. Mungkin nanti kalau ia punya waktu luang bisa menuangkannya ke dalam sebuah cerita. Someday.
"Semoga semua ceritaku ini bisa diambil hikmahnya ya Nggi. Dan semoga juga mulai sekarang, kamu bisa melihat Rendra dari sudut yang berbeda. Many worst things surrounds his life. He deserves to be happy."
Setelah Salsa kembali ke kamarnya sendiri, ia hanya bisa menatap nyalang langit-langit. Cerita Salsa yang panjang dan sangat mengejutkan itu berhasil membuat hatinya bertambah nyeri. Luka lama yang masih basah seperti ditimpa luka baru yang penuh darah.
Entah apa yang ia pikirkan ketika tiba-tiba tangannya bergerak untuk mengeluarkan jaket biru Dio dari dalam lemari, lalu digantung tepat di samping jaket hijau Rendra.
Kini dua jaket sama-sama tergantung di belakang pintu kamar. Satu jaket dari masa lalunya : jaket Dio, dan satu jaket lagi masih membuatnya diselimuti keraguan sekaligus ketakutan, apakah akan menjadi masa depannya atau sekedar kisah semusim yang lewat sekejap mata.
__ADS_1
Semalaman ia tak bisa tidur, matanya nyalang memandang dua jaket yang membuat hati tak karuan. God, help me please.