
Anggi
Tepat di atas pintu gerbang rumah Dio terpasang bendera kuning. Warna yang melambangkan kesedihan atau masa berkabung. Sementara halaman rumah Dio sudah tertutup tenda yang telah dipenuhi oleh ratusan pelayat.
Pak Pinadi, yang ia kenal sebagai Pakde Dio -kakak tertua ayah Dio-, mewakili pihak keluarga menyambut para pelayat yang akan menyampaikan bela sungkawa.
Ia yang masih bingung mau ikut mengantri bersama mamah dan ibu-ibu kompleks untuk bersalaman dengan Pak Pinadi atau tidak, terkejut saat seseorang menepuk pundaknya, Bayu. Membuatnya melipir ke pinggir keluar dari antrian.
Ia yakin Bayu mencoba tersenyum tapi tak bisa. Hanya tepukan ringan yang mendarat di bahunya beberapa kali. Menandakan Bayu juga terpukul.
"Baru datang?" ia hampir tak kuasa menahan tangis.
"Dari stasiun langsung kesini," wajah lusuh Bayu dan backpack di bahu menjelaskan segalanya.
Tentu ia tak perlu meragukan solidaritas diantara para cowok Romansa. Mereka selalu ada satu sama lain dalam setiap momen, baik suka maupun duka.
"UTS gimana?" ia perlu berbasa-basi untuk mendistraksi rasa sedih.
"Pas banget baru selesai. Kamu?"
"Di tengah jalan."
Bayu kembali menepuk bahunya pelan. "Dio lagi otw ke sini, ditemenin sama Chris yang nunggu di Gambir. Fira ikut rombongan ambulan jenazah sama Argo."
Ia tak kuasa menahan lagi. Tangisnya pecah meski telah berusaha menggigit bibir keras-keras. Bayu menuntunnya agar lebih ke pinggir, memimpin bahu untuk kemudian mendudukkannya di kursi.
Setelah ia duduk, Bayu mengangsurkan sebungkus tissue yang di ambil dari meja yang terletak dekat tempat mereka berada.
"Everything gonna be alright," bisik Bayu dengan mata berkaca-kaca. Membuatnya semakin terisak.
Tepat pukul 13.00 rombongan mobil jenazah terpantau mulai memasuki area kompleks. Ditandai dengan suara sirine yang meraung-raung menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Semua orang bersiap untuk menyambut jenazah.
Fira langsung menubruknya sambil terisak. Sementara Argo yang berjalan melewatinya di sela-sela kesibukan sebagai pihak keluarga, sempat menepuk bahunya pelan dengan mata sembab.
Semua, siapapun yang mengenal Dio pasti ikut berduka. Jika tak berlebihan, seolah seperti kehilangan orangtua sendiri.
Setelah jenazah disemayamkan di ruang tamu dan disholatkan. Tanpa menunggu kedatangan Dio, upacara pelepasan jenazah pun dimulai.
Sepanjang sambutan Fira menggenggam tangannya erat, seolah berusaha memberi kekuatan. Sementara Bayu sudah bergabung dengan Argo dan pihak keluarga membantu mempersiapkan pemakaman.
Sambutan pertama dari pihak keluarga, yang diwakili oleh Pak Pinadi. Dengan terbata-bata beliau menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pelayat yang hadir, sekaligus menyampaikan permohonan maaf jika selama hidup almarhum dan almarhumah memiliki kesalahan serta kekhilafan.
Beliau memohon agar almarhum dan almarhumah dimaafkan, diikhlaskan, dan didoakan husnul khotimah. Untuk urusan hutang piutang dan lainnya, beliau harap bisa langsung menghubungi pihak keluarga.
Sambutan kedua, dari Rektor Universitas tempat Ayah dan bunda Dio mengabdi. Menceritakan betapa berdedikasinya almarhum dan almarhumah, "Sungguh sebuah kehilangan yang sangat besar bagi kami dan civitas akademika...."
Entah seperti sudah ada yang mengatur, tepat setelah pak Rektor menyelesaikan sambutannya. Dua orang yang baru memasuki halaman langsung menarik perhatian seluruh pelayat yang hadir.
Kedatangan mereka membuat dadanya semakin berdegup kencang dan kembali menggigit bibir keras-keras. Sementara Fira semakin mengeratkan genggaman tangannya. Dua orang itu, Dio dan Chris.
__ADS_1
Pak Pinadi setengah berlari menyambut Dio, begitu juga Dio. Bahkan berlari dan menubruk Pakdenya yang langsung memeluk erat.
Dan melihat punggung Dio yang bergetar hebat naik turun dari tempat duduknya, membuat hati semakin pedih. Deepest pain, deepest sadness. Pemandangan yang membuat semua pelayat tak kuasa untuk meneteskan air mata. Be strong Dio....be strong...
Karena mamah dan ibu-ibu kompleks hanya melayat sampai ke rumah duka dan langsung pulang, tidak menunggu hingga pemakaman selesai. Maka ia meminta ijin pada mamah untuk menunggu di rumah duka sampai upacara pemakaman selesai.
Bahkan sampai anak-anak Romansa nanti pulang ke rumah masing-masing. Yang entah jam berapa. Sebelum pulang mamah sempat memeluk sambil mengelus punggungnya pelan, "Doakan saja...doakan...."
Ia mengangguk dan kembali terisak. Sesaat sebelum jenazah diberangkatkan menuju pemakaman, ia sempat melihat papah dan rekan-rekannya berada diantara para pelayat yang hendak ikut ke pemakaman. Sementara Dio, Chris, dan Bayu turut menjadi bagian dari pengusung keranda jenazah.
Ia dan pelayat perempuan lain serta pihak keluarga menunggu di rumah hingga orang-orang kembali dari pemakaman.
Selama menunggu ia hanya bisa berdiam diri sambil sesekali menggigit bibir menahan tangis yang hendak pecah demi mengingat bagaimana pertemuan terakhir mereka bertiga di awarding night beberapa waktu lalu.
Serta punggung Dio yang naik turun di pelukan Pakdenya barusan. Begitu juga Fira, mulutnya terkunci rapat sambil terus menggenggam erat tangannya dan berbisik berulang-ulang, "Kamu kuat, Dio kuat....kuat...kuat...."
Sambil menunggu, akhirnya ia dan Fira mengikuti jejak beberapa ibu-ibu dari pihak keluarga Dio yang sedang membereskan halaman dari kursi yang tak beraturan dan sampah gelas plastik bekas air mineral serta bungkus permen. Setelah semua hampir beres, orang-orang mulai berdatangan dari pemakaman.
Ia kembali duduk dengan Fira, meski mereka berdua masih berdiam diri tak ada yang berniat menjalin pembicaraan. Semua beku.
Hampir satu jam mereka menunggu, dan semua orang sepertinya sudah kembali ke rumah duka, tapi Dio tetap tak terlihat batang hidungnya.
Baru setelah ia bahkan tak lagi mencari sosok Dio di tengah kerumunan pelayat yang masih saja terus berdatangan, Dio muncul dari kejauhan bersama Bayu dan Chris.
Syukurlah, Dio dikelilingi oleh sahabat terbaik seperti Bayu dan Chris. Yang meski takkan bisa mengurangi kesedihan dan rasa kehilangan, tapi minimal membuat Dio tidak merasa sendiri. You're not alone Dio...we'll always here for you....be strong....be strong....
Tanpa banyak bicara mereka berempat membantu apapun yang bisa dikerjakan. Menyambut pelayat, memberi informasi, membereskan tempat, atau sekedar menemani para pelayat ngobrol.
Menjelang Maghrib Fira pamit pulang terlebih dahulu. Karena sejak tiba tadi siang belum sempat pulang ke rumahnya sendiri. Chris pun langsung menawarkan diri untuk mengantar. Sebelum berlalu Fira berjanji akan datang lagi jika dibutuhkan.
"Mau kuantar pulang?" membuat Bayu juga menawarkan untuk mengantarnya pulang. "Nanti pinjam motor Argo."
"Nggak usah Yu, deket ini. Pesen Ojek online aja ntar palingan...."
"Ayo kuantar pulang," tiba-tiba Dio sudah berdiri di depan mereka. Dengan wajah kusut dan lelah. "Aku perlu keluar sebentar."
Anggukan Bayu membuatnya mengikuti apa kata Dio. Dan sepanjang perjalanan mereka hanya berdiam diri. Ia pun bingung harus mulai darimana.
Sementara tak terasa perjalanan pulang yang memang tak terlalu jauh sudah hampir berakhir. Demi melihat gerbang masuk kompleks perumahan tempat tinggalnya.
Namun Dio tak membelokkan motor ke kanan ke arah rumahnya. Dio tetap mengemudi lurus mengikuti jalan utama kompleks. Kemudian berhenti di taman kompleks yang kebetulan sedang sepi. Padahal biasanya ramai ketika sore hari. Karena banyak anak kecil yang bermain-main.
Setelah memarkir motor, Dio meraih tangannya. Lalu berjalan menuju gazebo di salah satu sudut taman.
Dio pun mendudukkan diri di sana, sambil masih terus menggenggam tangannya. Lalu tanpa diduga Dio menyembunyikan kepala diantara kedua kakinya, mulai terisak.
Semakin lama suara isakan semakin keras, membuat bahu Dio terguncang naik turun. Ia yang bingung tak mengerti harus berbuat apa hanya bisa menepuk-nepuk punggung Dio dengan sebelah tangan, sembari ikut terisak juga.
***
__ADS_1
Rendra
Ini adalah hari yang paling dinantikannya.
Setelah hampir tiga hari tak bertemu si judes galak karena proses editing. Ditambah kali terakhir mereka bertemu wajah yang biasanya jutek menjadi pucat pasi. Dan itu sedikit banyak membuatnya khawatir -apakah dia sakit?-
Kini masa membosankan dan penasaran karena tak melihat wajah judes galak namun mempesona itu telah berakhir.
Karena semalam Rayyan menelpon memberi tahu bahwa editing finished, film sudah siap tayang dan paginya akan langsung didaftarkan ke seleksi film pendek nasional Fisipol. Membuatnya kembali bersemangat.
"Besok langsung ke rumah, ajak semuanya, kita syukuran kecil-kecilan," jika mengajaknya sendiri pasti ditolak. Maka beramai-ramai dengan rekan satu tim, si judes galak takkan bisa menghindar. Ahay!
Dan tadi pagi ia sudah berpesan pada Yu Jam -asisten rumah tangganya- untuk memasak masakan spesial.
"Masak semua makanan favoritku," ujarnya penuh semangat.
Entah mengapa tiap kali ada kesempatan untuk bertemu dengan si judes galak, saat itu pula hormon adrenalinnya langsung meningkat tajam. Tubuhnya seolah bereaksi dengan langsung memiliki banyak energi. Wow!
Ia juga telah memanggil jasa cleaning service panggilan untuk membersihkan rumahnya agar terlihat lebih kinclong. Demi menyambut pujaan hati yang pertama kali akan menginjakkan kaki ke rumahnya. Mantap!
Tapi kenyataan tak seindah harapan, hanya empat orang yang hadir, tanpa si judes galak.
"Cuman berempat? Anggi mana?" bahasa dan gerak tubuhnya jelas tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahu yang begitu besar.
"Nggak mau kesini?" ia mulai merasa kesal karena selalu diabaikan.
"Oh, bukan, Anggi memang nggak saya kasih tahu," Rayyan terkekeh tanpa merasa bersalah.
"Loh, kenapa nggak dikasih tahu?" ia hampir meledak sebelum Elva buru-buru menjawab, "Anggi lagi mudik Bang, pulang kampung."
"Kenapa?" bukannya ini musim UTS malah pulang kampung. Benar-benar deh itu anak udahlah judes, galak, keras kepala, kepala batu.
"Orangtuanya atau siapanya gitu meninggal," Rayyan sudah tak terkekeh lagi.
"Orangtuanya meninggal?" jawaban dari Rayyan membuatnya terperanjat.
"Bukan orangtuanya," Elva merengut mendengar ke sotoy an Rayyan.
"Orangtua pacarnya...orangtua Dio yang meninggal. Ada beritanya di portal berita online....."
Saat anak-anak mulai menikmati santapan yang dihidangkan, ia menjadi tak sabar untuk segera membuka portal berita online. Di sana tertulis judul dengan huruf besar yang lumayan mencolok,
Pasutri dosen yang juga Dekan PTN tewas dalam kecelakaan maut di Semarang.
Kecelakaan maut menimpa pasangan suami istri yang juga dosen dan Guru Besar sebuah PTN. Pasutri dosen yang merupakan Dekan dan Guru Besar tersebut adalah Prof. Rasdan Kamadibrata dan istrinya DR. Wening Sayekti. Mereka meninggal dunia dalam kecelakan maut di tol Tembalang, Semarang, Jawa Tengah.
Info yang dihimpun menyebutkan bahwa sebuah truk yang kelebihan muatan dan rem blong tak mampu mengendalikan laju di jalur tol Tembalang hingga menabrak pagar pembatas dan melompat ke jalur berlawanan. Truk menghantam mobil yang ditumpangi pasutri dosen tersebut yang sedang melaju dari arah Gayamsari menuju Tembalang.
Pengemudi tewas di tempat, sementara pasutri dosen mengalami luka parah di bagian kepala dan kaki. Sempat dilarikan ke RS Karyadi tapi nyawanya tak tertolong.
__ADS_1