KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
37. Iam A Fighter!


__ADS_3

Anggi


Rendra berdiri mencangkung dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana jeans. Ekspresi visual Rendra jelas mendefinisikan muka bantal, mengantuk berat. Meski begitu mata Rendra masih saja tajam mengawasi pergelangan tangan kanannya yang kini telah berhiaskan gelang perak hadiah dari Dio. Saking tajamnya tatapan mata Rendra, membuatnya pelan-pelan menyembunyikan pergelangan tangan ke belakang sling bag.


"B-belum pulang?" ia tergeragap sambil terus berusaha menyembunyikan pergelangan tangan kanan ke balik sling bag. Sementara itu mata Rendra masih saja awas mengikuti gerak-gerik tangannya.


"Kan udah bilang mau nunggu," mata Rendra bagai elang yang siap mencaplok mangsa. Kilatan marah persis seperti semalam kini muncul lagi.


Ia harus menelan ludah, "Kamu kenapa sih?"


"Kenapa gimana?" tanpa dipersilahkan Rendra sudah mendudukkan diri di kursi teras.


"Kalau saya perginya seharian nggak pulang-pulang, kamu masih nungguin juga?"


"Iyap."


Ia menghela napas panjang.


"Minum dong, haus nih," pandangan Rendra tak lagi fokus ke pergelangan tangan, sekarang pindah ke kedua matanya, berkilat-kilat tajam seolah mampu membakar apapun yang ada diantara mereka berdua.


"H-habis minum pulang?" ia nekat bertanya straight to the point.


"Lihat nanti," jawab Rendra santai. "Urusan kita udah selesai atau belum."


Ia pun terpaksa masuk ke dalam untuk mengambil sebotol air mineral. Di depan pintu kamar ia berpapasan dengan Nila yang baru selesai memasak di dapur.


"Cepet suruh Bang Rendra pulang," bisik Nila hati-hati. "Keburu Mba Salsa pulang, ntar ketahuan Bang Rendra masih nongkrong disini, bisa-bisa kamu di....," kalimat Nila terpotong di udara bersamaan dengan suara pintu kamar yang terbuka dengan cukup kasar, Shelly.


"Biarin aja napa Nil, resiko ditanggung sendiri," Shelly jelas terlihat kesal, entah kesal pada siapa atau karena apa.


Tak mau bertambah pusing dengan masalah lain, ia lebih memilih memberi kode kearah Nila jika dirinya 'baik-baik saja', dan langsung masuk ke kamar untuk mengambil air mineral.


"Ini," ia menyorongkan botol dengan tangan kanan, lagi-lagi fokus Rendra tersedot pada area pergelangan tangan. Membuatnya buru-buru menarik tangan kembali setelah botol diterima Rendra. As usual, isi botol dihabiskan dalam sekali tegukan.


"Makasih," ujar Rendra sambil melempar botol air mineral yang telah kosong ke dalam tong sampah yang berjarak beberapa meter di depan. "Yes!" pekik Rendra kegirangan saat mengetahui lemparannya tepat sasaran.


Tingkah kekanakkan Rendra membuatnya memutar bola mata. "Saya mau istirahat...."


Namun kalimatnya terpotong di udara bersamaan dengan suara Rendra yang menyuruhnya untuk duduk, "Sini," sambil menepuk kursi teras tepat di sebelahnya.


"Sebentar aja....saya bener-bener mau istirahat," ia akhirnya mengalah dan memilih mendudukkan diri di kursi seberang Rendra. "Nggak enak sama temen-temen kalau kamu kelamaan nunggu disini."


Tapi Rendra tak peduli, justru merubah posisi duduknya agak condong ke depan. "Dia yang ngirim hampers waktu ospek?"


Ia jelas tak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan.


"Tipe macam dia yang kamu suka?"


Ini apalagi. Ia cuma bisa menelan ludah.


"Dia yang membuat kamu menjawab sorry ke aku?"


Pertanyaan terakhir spontan membuatnya menatap Rendra. "Ini nggak ada hubungannya sama Dio," kernyitnya tak suka.


"Itu gelang, dari dia?" dagu Rendra terangkat kearah gelang yang lupa ia sembunyikan dibalik sling bag. "Ada momen apa?"


"Maksudnya apa sih?!" ia mulai jengah. Apa-apaan kayak sidang terdakwa saja. Memang Rendra siapa? Bisa seenaknya menginterogasi orang dangan gaya mengintimidasi.


"Cuma dia atau ada yang lain?" sambung Rendra tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Membuatnya kesal bukan kepalang.


"Saya mau istirahat," ujarnya ketus sambil bangkit.


"Kamu selalu menghindar. Takut?" Rendra tertawa kecil, nadanya mengejek. Membuatnya langsung menghentikan langkah kemudian menatap Rendra marah.


"Kamu takut sama aku?" Rendra ikut berdiri, membuat posisi mereka menjadi saling berhadapan.


"Takut aku melakukan ini?" tangan Rendra terulur mencoba menyentuh tangannya. Namun gerak refleksnya lebih cepat, ia berhasil menghindar.


"Apa-apaan sih?!" ia melotot marah. "Kita udah selesai. Nggak ada yang perlu diomongin lagi!" ujarnya gusar kembali melangkah menuju pintu ruang tamu.


"Tahu kenapa kamu takut?" Rendra ikut maju mensejajarkan langkah di sampingnya. "Karena kamu sebenernya juga ingin deket sama aku. Tapi kamu nggak mau mengakuinya!"


Kalimat terakhir Rendra membuat emosinya memuncak dan meledak di kepala. Tanpa menoleh ia melangkah panjang-panjang masuk ke dalam rumah, lalu BRAK! Membanting pintu tepat di depan hidung Rendra yang berusaha mengejar.


"Anggi!" Rendra hendak mengetuk pintu yang tertutup tepat di depan hidung namun diurungkan.


Kepalan tangan Rendra hanya bisa menggantung di udara. Sambil mengeraskan rahang dengan setengah berlari Rendra keluar dari teras menuju si hitam kesayangan. Lalu membanting pintu meluapkan kemarahan.


BRAK!


Begitu masuk ke dalam, dengan setengah berlari ia menuju ke kamar, sambil menahan tangis agar tak pecah di tengah jalan. Nila yang berpapasan dengannya di lorong hanya bisa menatap bingung, "Kenapa, Nggi?"


Namun ia hanya menggelengkan kepala, tak menjawab apapun. Langsung masuk ke kamar lalu mengunci pintu. Dilemparkan tubuhnya ke atas kasur. Lalu menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


***


Rendra


"Shit! I'm fucked up!" teriaknya kesal sambil memukul kemudi.


Hatinya panas bukan kepalang mengingat rangkaian kejadian semalam hingga barusan. Pikirannya buntu, akal sehat menguap entah kemana, sikap impulsif menguasai diri.


Jika semalam ia masih bisa 'menahan' maka siang ini adalah batas akhir kesabaran yang memang tak pernah ia miliki sebelumnya.


Betapa sulitnya menghadapi cewek judes keras kepala yang satu ini. Semua jurus andalan yang selama ini selalu sukses dipraktekkan pada cewek manapun, patah di tengah jalan.


Sedang berlagak too hard to get ha? Lu jual gue beli, makinya dalam hati. Cos i'am a fighter. Real fighter.


Insting menggerakkannya mengarahkan kemudi ke Mreneo, kedai kopi miliknya yang terletak di bilangan jalan protokol yang dikelilingi oleh beberapa kampus ternama.


"Oy bang," sapa Bagus begitu melihat bosnya datang.


Sudah hampir 2 bulan bos besarnya ini tak datang mengunjungi kedai, semua report dan evaluasi dilakukan secara online.


"Gua lagi banyak kerjaan di kampus," begitu jawabnya tiap kali anak-anak Mreneo bertanya kemana gerangan si bos.


"Aman Gus?" ia berjalan cepat memasuki kedai.


Sambil sesekali mengangguk dan melambai pada beberapa pegawai yang juga menyapanya. Lalu mendudukkan diri di kursi favorit tiap kali berkunjung kemari. Kursi yang berada di salah satu sudut kedai itu letaknya memang agak tersembunyi, terhalang ornamen partisi berupa tanaman bunga di bagian tengah kedai. Meski tersembunyi, namun memiliki jarak pandang yang luas meliputi sentero kedai tanpa kecuali.


Dari pengawasan sekilas matanya, siang jelang sore ini suasana kedai sangat ramai, hampir semua kursi terisi oleh pengunjung. Beberapa terlihat berkumpul untuk selfie dan wefie di spot yang instragamable. Sambil dihibur oleh band lokal yang menyuguhkan live acoustic performance.


Di sudut lain kedai terlihat sebuah pesta perayaan ulang tahun sederhana dari salah satu pengunjung. Acara tiup lilin dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun sayup-sayup terdengar hingga ke kursinya. Gelak tawa memenuhi ruangan seluruh kedai.


"Mantap bos!" Bagus langsung sigap meracik minuman favorit bosnya.


Ia tak menanggapi jawaban Bagus, lebih memilih mengeluarkan ponsel lalu mencoba memainkan salah satu game survival yang ada di dalamnya. Berusaha menetralisir emosi yang masih membara.


"Sialan!" makinya saat "aku" di game mulai menunjukkan tanda dehidrasi, karena lupa mengambil air laut dengan tin can untuk diisi ke water purifier, disebabkan terlalu asyik melindungi rakit dari gigitan hiu.


Bagus datang dengan membawa nampan berisi secangkir Long black.


"Brengsek!" umpatnya lagi ketika water purifier yang sudah diisi penuh musnah dimakan hiu yang tiba-tiba menggerogoti bagian tengah, padahal biasanya bagian pinggir.


Membuat Bagus yang sudah mau membuka mulut untuk bicara langsung menutup mulutnya kembali.


"Sori," ia melihat sekilas kearah Bagus, lalu kembali fokus ke layar ponsel. "Gua hampir game over."


Bagus menggelengkan kepala, "Ngopo raimu ketok suntuk ngunu ki?" sambil mendudukkan diri di depannya.


"J ancuk!" makinya terpaksa mengakhiri game dan mematikan ponsel lalu meletakkannya ke atas meja. Disusul dengan meraih Long black dan langsung menyesapnya. "Ketok po?"


Bagus tertawa. "Koyo kumbahan ra garing seminggu. Kusut."


Ia menyeringai, kembali menyesap Long black favoritnya yang entah mengapa kali ini terasa sepahit Espresso.


"Ndek wingi wis rodo suwe meh sakmingguan, Kak Frida teko mrene karo konco-koncone."


Ia tak bergeming, tetap konsentrasi menyesap minumannya.


"Dekne takon-takon awakmu. Jarene, 'Rendra udah kesini sama pacar barunya belum?' ngunu ki," Bagus menyelidik. "Yo belum, lha wong bos udah lama ngga mampir kesini. Opo meneh iku pacar baru," ujarnya menggelengkan kepala.


Ia meletakkan cangkir yang sudah kosong ke meja, tak berniat menanggapi ucapan Bagus yang tendensius campur kepo.


"Rai suntukmu iku mergo putus karo Kak Frida po?"


Ia mendesis kesal. Belum sempat menanggapi keingintahuan Bagus, terdengar keriuhan yang berasal dari panggung kecil di tengah spotlight kedai.


Ternyata pengunjung yang tadi sedang ulang tahun dipaksa oleh teman-temannya untuk menyanyikan sebuah lagu di atas panggung. Untuk sementara perhatiannya tersita kearah panggung, mengabaikan Bagus yang sedari tadi menunggu tanggapan darinya.


"Aku tresno karo kowe


Nanging aku iso opo


Ngerteni kowe uwes nyanding uwong liyo...."


Begitu birthday boy mulai bernyanyi dengan penuh perasaan, diikuti sorakan riuh rendah dari pengunjung seisi kedai. Hm, suaranya lumayan juga. Penampilannya semakin mantap karena diiringi petikan gitar akustik dari salah seorang anggota band.


"Aku kudu iso nerimo


Snadyan ati loro rasane


Mungkin kabeh iki wes dalan e...."


"Brengsek lagunya!" ia tertawa sendiri mendengar lirik lagu yang dinyanyikan. Bisa pas banget. Membuat Bagus yang masih setia menunggu tanggapannya semakin mengernyit heran.


'Kelingan nalikane aku ketemu ro kowe

__ADS_1


Ati iki langsung iso tresno rasane


Saben ketemu sliramu tansah ayem atiku


Naliko nyawang esem lan guyumu'


'Sampai tiba waktu yang ku nanti


Tak ungkapke roso ning njero ati iki


Nanging nyatane kowe ono sing nduweni


Aku tresno karo kowe


Nanging aku iso opo


Ngerteni kowe uwes nyanding uwong liyo


Aku kudu iso nerimo


Snadyan ati loro rasane


Mungkin kabeh iki wes dalan e'


"Lo pernah ditolak cewek?" tanyanya tiba-tiba setelah puas menertawakan diri sendiri demi mendengar lirik lagu yang dinyanyikan.


Bagus memicingkan mata melihatnya tak percaya, "Sering, Bang. Kenapa?"


'Sepurane aku wes tresno sliramu


Snadyan aku iki dudu pilihan mu


Mending tak ikhlasno


Dari pada cidro


Mugo kowe bahagia karo wong liyo'


Karena ia tak menjawab Bagus kembali bertanya penasaran, "Ngopo...awakmu bar ditolak cewek po?" dengan nada kaget yang tak bisa disembunyikan.


"Ndi cewek e gowo rene, tak traktir menu spesial dur sakwulan, gratisss!"


***


Catatan :


Mreneo. : mampir sini, kesini yuk


Ngopo raimu


ketok suntuk ngunu ki. : kenapa wajahmu kelihatan suntuk


J ancuk. : kata makian


Ketok po. : kelihatan ya


Koyo kumbahan


ra.garing seminggu. : seperti cucian baju nggak kering seminggu


Ndek wingi wis


rodo suwe : kemarin sudah agak lama


meh sakmingguan. : hampir seminggu yang lalu


Kak Frida teko mrene : kak Frida datang kesini


karo konco-koncone. : dengan teman-temannya


Dekne. : dia


takon-takon. : bertanya-tanya


awakmu. : kamu, tentangmu


Jarene. : katanya


ngunu ki. : begitu


mergo. : karena


ndi. : mana

__ADS_1


dur sakwulan. : sebulan penuh


lirik lagu Jawa. : lirik lagu Balik Kanan Wae by Happy Asmara


__ADS_2