KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
69. Berdiri di Tengah Badai


__ADS_3

Anggi


"Udah dari Januari Rendra nggak tinggal di rumah itu lagi." Minggu pagi ini ia bela-belain pergi ke rumah Abangnya Mala, hasrat curhat sudah tak tertahankan lagi.


"Habis diserang, Rendra pindah ke apartemen Rakai, rumah di rapihin, for sale. Tapi belum ketemu harga yang cocok, selama nunggu.... rumah sering disewain. Nah, kemungkinan besar yang pesta narkokob itu yang nyewa."


"Lo lihat sendiri kan...dari 12 orang itu siapa aja? Apa ada temen-temen Rendra? Enggak."


"Ada gosip 3 dari 12 itu anak sini, tapi apa dia temen Rendra? Nggak ada sama sekali, gue nggak kenal siapa mereka," ia menjawab pertanyaannya sendiri.


"Gue tahu semua temen yang sering berhubungan sama Rendra," ia harus mengatur napas yang mulai memburu saking emosinya. "Gue bahkan kenal sama mereka. Nggak ada yang main-main pakai begituan."


"Tapi...nggak tahu juga kalau dia punya temen lain yang gue nggak tahu," ia mendadak pias.


"Mal, lo kok diem aja sih. Komen kek...apa kek...," ia mengernyit menyadari Mala tak menanggapi ocehannya. "Lo masih tidur ya?"


Tapi Mala justru mengangsurkan ponsel menunjukkan berita yang terpampang di layar.


Lagi! Petugas berhasil grebek transaksi narkoba di kedai kopi milik mahasiswa.


Jogja - Lanjutan dari kasus penggrebekan sebuah rumah di kawasan elite, petugas berhasil mengungkap transaksi sabu di sebuah kedai kopi kekinian langganan mahasiswa dari berbagai kampus.


"Ini merupakan pengembangan kasus operasi yang kita laksanakan Sabtu kemarin," kata Wadires (wakil direktur reserse) Narkoba Polda DIY, AKBP Bintang Persada.


Ia melotot membaca nama yang tertera di layar ponsel, Bintang Persada bukannya Mas Sada? Bagaimana bisa?!


Kedai kopi yang terletak di jalur utama kampus ternama kota Jogja itu disinyalir adalah milik SD (24 th), mahasiswa berprestasi yang juga dikenal sebagai entrepreneur muda sukses.


Petugas masih mengembangkan kasus tersebut, untuk mengetahui apakah ada keterlibatan SD dibalik peredaran narkoba di kalangan mahasiswa yang marak terjadi akhir-akhir ini. (add/dar).


"Ini yang gue bilang masalah sangat sangat besar....," Mala memandangnya tanpa ekspresi.


"Rendra nggak mau ngelibatin elo di masalah berat kayak gini. Rendra lagi ngelindungin elo...."


Esok pagi, inbox emailnya sudah dipenuhi oleh puluhan surel dari sumber tak dikenal.


"Kalau ada orang nggak dikenal hubungin kamu, jangan pernah digubris," kalimat Rendra kembali berputar di kepalanya. Maka, puluhan surel yang baru masuk langsung diabaikannya.


Namun ada satu surel dengan logo yang familiar, Direktorat Kemahasiswaan. Ya ampun, ia diundang untuk hadir di rapat dengar pendapat yang diadakan oleh subdit pengembangan karakter mahasiswa.


Akhirnya dengan ditemani Mala, setengah jam sebelum waktu yang ditentukan tiba, mereka sudah memasuki kantor subdit pengembangan karakter mahasiswa. Dan pemandangan pertama yang tertangkap oleh matanya justru hal paling tidak ingin dilihatnya. Yaitu sesosok punggung yang begitu familiar kini tengah berbicara di depan front office.


"Bu Palupi, ini kenapa ada nama Anggi di daftar hadir?"


"Itu dapat undangan juga dari subdit."


"Waduh Bu, kemarin udah saya sampaikan ke Pak Haryadi, cukup saya sama Aji, Tommy, beberapa anak Senat yang diundang. Nggak perlu ngundang anak Ilkom, nggak ada hubungannya sama kasus saya."


"Wah ndak tahu ya, itu dari Pak Subditnya langsung."


"Kemarin Pak Haryadi bilang ke saya akan diteruskan ke Pak Akhyar. Tapi kok bisa tetep dapet undangan?"


"Mungkin karena anak Ilkom ini dianggap deket sama kamu, jadi diundang. Lagian kamu tuh Ren, udah lulus sidang tinggal nunggu wisuda kok yo iso (kok ya bisa) keno kasus koyok ngene iki (kena kasus seperti ini)?"


"Waduh, Bu, kami nggak deket sama sekali. Please Bu, tolong di tarik lagi undangannya. Kita berlima udah cukup...."


"Wah, yo ra iso (nggak bisa), coba ngobrol ke Pak Haryadi lagi. Oya tolong geser dikit, ini mba nya mau tanda tangan," Bu Palupi mempersilakannya untuk maju.


Ia yang sejak awal sudah membeku demi mendengar percakapan Rendra dan Bu Palupi, tak siap dengan gerakan cepat Rendra yang menoleh ke belakang.


Tik! Tik! Tik!


Untuk pertama kalinya setelah hampir seminggu tak bertemu, mata mereka bertautan selama sepersekian detik. Meski hanya sebentar, tapi cukup untuk merekam keadaan Rendra saat ini. Rambut panjang acak-acakan, wajah lusuh, cambang belum dicukur, dan yang paling membuat hatinya mencelos adalah tatapan mata penuh luka.


"Disini," Bu Palupi menunjukkan tempat dimana ia harus membubuhkan tanda tangan. Selama itu pula dari sudut mata ia tahu Rendra sedang mengawasinya.


"Kamu harusnya nggak perlu datang," bisik Rendra.


Yang langsung disemprot oleh Bu Palupi, "Ini undangan resmi, wajib datang!"


Ia tak mempedulikan Rendra -padahal hatinya ingin-, lebih memilih untuk mengangguk sopan ke arah Bu Palupi lalu beralih ke kursi tunggu.


Sepanjang rapat dengar pendapat, ia harus menahan diri agar tidak melulu memandangi Rendra yang duduk tepat segaris di depannya. Rendra yang meski berwajah letih namun masih bisa bersuara lantang dan tegas, masih bisa memberi penjelasan paling masuk akal yang bisa didengar, dan masih bisa memberi SKBN (surat keterangan bebas narkoba) dari Polres dan BNN, lengkap dengan lampiran hasil tes uji narkoba dari 3 Rumah Sakit berbeda yang kesemuanya menunjukkan hasil negatif. Alias Rendra jelas bukan pengguna narkoba.


Rendra, meski sedang berada di tengah badai, masih tetap menjadi the young and dangerous yang pernah dikenalnya.


Dalam rapat yang berlangsung selama hampir dua jam itu, ia diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh pihak subdit. Meski sambil terbata-bata karena baru pertama kali menghadiri acara seperti ini, secara garis besar ia puas dengan jawaban yang diberikan. Sangat berharap semoga bisa membantu Rendra keluar dari masalah yang sedang membelitnya.


Usai rapat ia berbelok ke toilet sebentar, berniat mencuci muka setelah dua jam berada dalam suasana menegangkan sekaligus menyedihkan, karena harus melihat wajah letih Rendra yang membuat dadanya sesak.


Hampir 15 menit lamanya ia berdiam diri di toilet, begitu keluar, sesosok tubuh jangkung sudah menunggunya.


"Apa kamu selalu lama tiap ke toilet?" ada seulas senyum di wajah yang lelah.


Ia hanya tersenyum tipis, berusaha keras menahan diri agar tak menghambur ke dalam pelukan si wajah letih yang ternyata sangat dirindukannya itu.


"Apakabar?"


"Baik. Kamu?"


Rendra mengangkat bahunya berusaha tersenyum. "Ada orang yang ganggu kamu?"


Ia menggeleng. Satu-satunya yang mengganggu adalah wajah lusuh dan penampilan dekil Rendra yang membuatnya gatal ingin membantu menyisir rambut yang berantakan seperti baru bangun tidur itu.


"Ada orang yang hubungin kamu?"


Ia teringat beberapa surel yang diterimanya, lalu mengangguk.


"Jangan pernah dijawab."


Lagi-lagi ia mengangguk.


"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Rakai," ia mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu disana. "Atau Mas Sada..."


Ia hanya bisa menelan ludah.


"Nomernya udah kukirim ke kamu."

__ADS_1


"Mas Sada itu...AKBP Bintang Persada yang Wadires Narkoba?" ia memberanikan diri bertanya. "Namanya ada di portal berita online...."


"Jangan percaya semua yang ditulis sama berita online. Memang ada yang bener tapi ada juga yang keliru."


"Tapi di berita Mas Sada...."


"Nggrebek Mreneo?"


Ia mengangguk.


"Mas Sada cuma menjalankan tugas. Diluar itu kita temenan. Kamu bisa percaya sama dia..."


Ia menelan ludah sambil mengangguk.


"Dia banyak bantuin aku sebelum dan selama kasus ini. Kamu nggak usah khawatir."


Lagi-lagi ia mengangguk.


"Oke...karena kamu baik-baik aja, aku jadi lega," Rendra tersenyum lembut menatapnya. "Besok kalau ada undangan kayak gini lagi, nggak perlu datang."


Ia membalas tatapan Rendra.


"Nanti kuusahakan kamu nggak akan diundang lagi untuk hal-hal kayak gini. Gomennasai (maaf)," Rendra membungkukkan punggungnya sebelum berbalik pergi. Membuat mata yang sejak tadi memanas mulai berkaca-kaca.


'Rasa cinta


Yang dulu telah hilang


Kini berseri kembali


T'lah kau coba


Lupakan dirinya


Hapus cerita lalu


Dan lihatlah


Dirimu bagai bunga


Di musim semi


Yang tersenyum


Menatap indahnya dunia


Yang seiring menyambut


Jawaban segala gundahmu


Walau badai menghadang


Ingatlah ku 'kan selalu


Setia menjagamu


Jalan yang berliku tajam


Resah yang kau rasakan


'Kan jadi bagian hidupku


Bersamamu


Letakanlah segala lara


Di pundakku ini'


(Ada Band, Masih)


"Rendra itu...lebih milih harakiri daripada ngorbanin orang lain," Mala menerawang. "Rendra itu...mirip pasukan Kamikaze yang rela mempertaruhkan apapun demi elo..."


"Gue pingin bantu dia, Mal. Gimana caranya biar dia tahu kalau gue bisa ngasih kekuatan ke dia....," tadi ia sempat menghubungi Rakai, menanyakan alamat apartemen baru Rendra, karena ternyata Rendra sudah tidak tinggal menumpang di apartemen Rakai.


Tapi Rakai bilang, "Kasih Rendra sedikit ruang dan waktu....", membuatnya mengurungkan niat untuk menemui Rendra secara langsung.


"Nanti kukabari kalau udah nyantai. Sekarang masih rada crowdit," begitu lanjut Rakai.


"Ya udah mungkin sekarang lo musti sabar dulu. Nanti kalau udah mulai tenang, lo bisa usaha lagi buat nemuin Rendra," Mala tersenyum menenangkan.


Tapi kenyataan yang ada jauh panggang dari api. Keadaan bukannya semakin tenang justru bertambah kacau. Rupanya kasus narkoba kemarin baru puncak dari fenomena gunung es yang siap meledak kapan saja. Kasus narkoba hanya bagian permukaan yang nampak sedikit, sementara bagian bawah atau masalah yang lebih besar justru baru meledak seminggu kemudian.


Tanpa ada firasat apapun sebelumnya, di hari minggu pagi yang cerah, Mala datang tergopoh-gopoh ke Raudhah hanya untuk memberinya berita buruk.


"Yuri anak twitter, ini udah trending dari semalem," ekspresi wajah Mala tak bisa terbaca.


"Trending apa?" ia yang tak pernah bermain twitter jelas tak paham.


Mala menyorongkan layar ponsel yang menunjukkan urutan trending topic hari ini.


Populer di Indonesia


#skandaldikampusbiru


476,9 rb Tweet


#MapresvsFinalisPutri


333,5 rb Tweet


#Aktivisbiasanyafakboy


251,8 rb Tweet


#skandalpengusahamuda


214,9 rb Tweet

__ADS_1


Ia yang tak mengerti mengernyit ke arah Mala. "Maksudnya apa?"


Dengan wajah pias Mala mengambil ponsel yang sedang dipegangnya, lalu mengetikkan sesuatu, dan kembali diangsurkan padanya, "Ini...."


Sebuah video yang berasal dari kamera resolusi tinggi menayangkan adegan tak senonoh yang dilakukan sepasang muda mudi di sebuah kamar berdesain tak asing....ya ampun, ia tercekat....itu....bukannya desain kamar di Pitaloka?!?


Ia memandang Mala bingung, tapi Mala justru pura-pura tak melihatnya.


Badannya bergetar hebat meski siang hari bolong dan cuaca terik, keringat dingin membanjiri sekujur tubuh, tangan yang terulur hendak membuka kran air mendadak gemetar dan lemas tak bertenaga. Tulang-tulang serasa lolos satu per satu, menyisakan tubuh lemah yang lembek seperti jelly.


Begitu ia kembali ke kamar, Mala masih memasang wajah tegang. "Lo nggak papa?"


Untuk sekedar menggeleng pun ia sudah tak sanggup. Lebih memilih meringkuk di atas kasur sambil memegang dadanya yang pedih luar biasa. Sementara ponsel di atas meja belajar menggelepar-gelepar tanda banyak pesan chat masuk.


Dddrrrttttttt Dddrrrttttttt Dddrrrttttttt


Mala menatap gelisah, "Coba dilihat, siapa tahu penting..."


Tapi ia menggeleng, tubuhnya terlalu lemah meski hanya untuk melihat pesan masuk.


"Kulihat ya," Mala meminta ijin. "Khawatir ada yang penting ntar nggak ketahuan."


Ia hanya mengangguk lemah.


Begitu Mala membuka ponselnya, kerut di wajah Mala justru semakin bertambah.


"Siapa?" tanyanya letih.


Mala memperlihatkan layar ponsel kearahnya, disana tertulis sederet pesan masuk dari puluhan nomer tak dikenal. Ketika Mala membuka satu pesan, disana tertulis,


'Selamat siang Mba Anggi,


Perkenalkan saya Lia dari menit forum ingin mewawancarai tentang kasus yang menimpa Mas Rendra, apakah bersedia? Silahkan mba tentukan waktu dan tempatnya nanti kami yang datang kesana.'


Mala kembali membuka pesan yang lain,


'Siang Mba Anggi,


Saya Arum dari AntenaJogja ingin konfirmasi tentang skandal yang menimpa Mas Rendra, apakah bisa? Kapan mba bisanya?'


Dan pesan lainnya yang hampir serupa meski tak sama,


'Siang Mba Anggi,


Benar Mba calon istri Mas Rendra? Apa pendapat mba tentang video yang telah beredar luas?


-Hutami, GeraiJogja-'


Atau yang tanpa sopan santun,


'Siang,


Kapan saya bisa wawancara tentang skandal video saudara SD?'


Bahkan tanpa memperkenalkan diri dan tanpa menyebutkan nama, less attitude.


'Halo,


Bisa wawancara tentang kasus SD? Kami ingin tahu bagaimana keseharian SD selama di kampus dan circle pertemanan.'


Atau,


'Siang,


Kami ingin konfirmasi apa benar SD bandar narkoba untuk kalangan mahasiswa. Dan apa pendapat anda tentang video mesum yang beredar luas? Benar itu SD?'


Ia semakin meringkuk di atas kasur, menyembunyikan diri di balik selimut, berharap bisa menetralkan tubuh yang masih saja gemetar.


'Seringkali bertanya saat bahagia hadir


Akankah ada akhir


Akankah 'tuk selamanya


Seringkali bertanya adilkah hidup ini


Kala sedih melanda


Meruntuhkan rasa di jiwa 


Tak mudah untuk di hati


Tak mudah untuk dihadapi


Saat harus mengucap selamat tinggal 


Segala tentang cinta buat hati terlena


Membawa kedamaian


Menyejukkan dunia


Segala tentang sesal membuat hati kecewa


Membawa air mata


Meruntuhkan rasa di jiwa 


Tak mudah untuk di hati


Tak mudah untuk dihadapi


Saat harus mengucap selamat tinggal 


Kadang ingin jauh berlari,


Bila diri bertemu realita 

__ADS_1


(Indra Lesmana feat Gilang Ramadhan, Selamat Tinggal).


__ADS_2