KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
38. Senior's Eyes


__ADS_3

Anggi


Ia akhirnya memutuskan untuk membawa jaket hijau dan topi putih Rendra ke laundry, lalu mengirimnya via ojol ke sekre UKM Taekwondo. Demi meminimalisir kemungkinan bisa bertemu muka dengan Rendra secara langsung.


Ia juga memblokir dan menghapus semua jaringan komunikasi dengan Rendra. Cos life must go on. And i'm a happy girlfriend now.


Ia tentu harus mengapresiasi Dio dengan cara tidak berhubungan dengan orang-orang yang berpotensi menimbulkan konflik dan masalah. Yang peringkat pertamanya jatuh kepada : Rendra.


Meski sesekali masih bisa melihat sekelebatan punggung Rendra melintas di Perpusat. Saat ia sedang mengerjakan tugas kerkel dengan anak-anak sekelas.


"Bang Rendra kan lagi skripsi. Tempat favorit bimbingan di Perpusat."


"Kalau kamu ada perlu sama dia, cari aja di sana. Pasti ketemu," terang Elva antusias ketika anak-anak Ilkom angkatannya kasak kusuk sering melihat most wanted to die for di Perpusat.


Sejak saat itu Perpusat masuk list menjadi tempat terakhir yang akan ia datangi.


Pernah juga saat tak sengaja janjian dengan Mala di Kopma. Ia hampir bersilangan jalan dengan Rendra yang sepertinya hendak menuju ke gelanggang. Untung gerak refleksnya cukup gesit sehingga ia bisa cepat berbelok sebelum sempat berpapasan dengan Rendra. Maka Kopma dan sekitarnya resmi menjadi area terlarang baginya.


Kehidupan kembali normal, semua berjalan seperti yang diinginkan. Komunikasi jarak jauhnya dengan Dio hangat dan menyenangkan. Ia juga telah menyelesaikan interview dalam rangkaian proses seleksi beasiswa prestasi tahap akhir, tinggal menunggu pengumuman.


Tapi sekali lagi tak ada yang sempurna di dunia. Kehidupan LDR nya dengan Dio yang membahagiakan berbanding terbalik dengan kehidupan nyatanya di kost. Karena hampir seluruh penghuni Raudhah kini memusuhinya secara terang-terangan, kecuali Nila dan Ira.


Ya meski Ira tetap judes. Tapi masih mau menyapa ataupun mengobrol dengannya. Terutama jika membahas tentang iqob.


Atau karena mereka bertiga seangkatan, jadi seperti ada solidaritas angkatan begitu? Sementara penghuni yang lain kakak tingkat semua. Bahkan sebagian besar sedang mengerjakan skripsi.


Namun karena ia merasa tak pernah berbuat salah kepada para kating ataupun membuat kesalahan di kost. Ia tetap berusaha baik kepada mereka semua. Baik dan diam.


Bukankah ada perumpamaan hati hanya bisa dibeli dengan hati. Semoga dengan sikap 'legowo' nya ini bisa membuat 'cold war' mulai terurai dan akhirnya terselesaikan.


Grup kating high quality person juga beberapa kali masih mengadakan rapat di teras kost. Kebetulan ia lewat melintas sepulang dari kampus Tapi Rendra sama sekali tak kelihatan batang hidungnya, mungkin belum datang.


Jadi untuk antisipasi berlapis, ia mulai mengorek informasi melalui Nila tentang jadwal rapat mereka. Dimana saat jadwalnya, ia akan menginap di tempat Mala, atau seharian nongkrong di HMJ, atau Perpus fakultas.


Pokoknya dimanapun yang bisa mengulur waktu pulang ke kost. Agar mereka tak harus bertemu muka.


"Lo nyiksa diri sendiri nggak sih," gerutu Mala melihatnya mati-matian menghindari Rendra.


"Atau jangan-jangan bener yang dibilang Rendra, kalau lo tuh sebenernya juga suka sama dia tapi geng...."


Ia buru-buru berdecak memotong kalimat Mala.


"Jangan begitu lah Nggi, Rendra udah minta maaf Udah menyesal, udah bersikap baik, udah ngalah...."


"Ngalah apanya?!" semburnya kesal. Kali terakhir mereka bertemu di teras, Rendra hampir berbuat nekat.


"Gue ini pacar orang, Mal. Ini bentuk respek gue ke Dio."


Mala memang akhirnya mengangkat tangan, tapi sambil berujar serius, "Kalau suatu saat keadaan berubah, gue yang pertama tepuk tangan."


Ish, berubah apanya. Keberuntungan yang berubah drastis mungkin iya. Karena UTS kali ini ada independent project membuat film pendek.


Sialnya, saat pertama kumpul kelompok ada sedikit misskom yang membuatnya harus absen. Padahal agenda pertama mereka adalah menentukan tema, tokoh, sekaligus pembagian tugas. Ia hanya sempat mengirim chat ke Rayyan,


Anggi. : 'Aku ngikut aja.'


Rayyan. : 'Ok.'


Entah kesialan apa lagi yang sedang menaunginya, hingga dari 8 kelompok di kelas, kelompoknya lah yang memilih Syailendra Darmastawa sebagai tokoh. WHAT?


"Pilihan dosen muda, aktivis BEM KM, Mapres, udah biasa," jawab Rayyan saat ia protes tentang tokoh yang akan mereka angkat.


"Kita mau yang extraordinary...mewakili banyak sisi kehidupan. Anak rantau, cumlaude, aktivis kampus, sukses bisnis, filantropis, mantap kan?"


Mantap apanya. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, karena tugas menulis script jatuh padanya. Oh my God!


"Bisa tukeran nggak? Aku yang bikin proposal deh. Atau ngurus ijin."


Rayyan, Galin, Elva, Jihan jelas menolak mentah-mentah hasil rapat pertama dirubah hanya demi satu orang.


"Udah fixed. Kamu bilang ngikut aja," Rayyan sebagai leader mulai kesal dengan kerewelannya. "Diantara kita berlima, kamu yang paling bisa nulis."


"Nulis script doang Nggi," Elva menenangkan. "Cuma cari bahan, interview, nulis, jadi deh."


Jadi deh gimana? Itu cari bahan dan interview, apa bisa lewat virtual saja, enggak kan?


"Lagian kamu udah lumayan kenal sama Bang Rendra, bisa lebih cepet prosesnya," Jihan ikut nimbrung. "Inget deadline. Kalau nyari tokoh baru lagi udah nggak keburu."

__ADS_1


Mau tak mau ia harus menerima keputusan yang berasal dari suara terbanyak. Dan siang ini perjalanan panjang membuat film pendek dimulai.


Berbekal surat keterangan dosen matkul bersangkutan, surat pengantar Kaprodi, dan surat ijin Fakultas, ia pun menuju ruang akademik Fakultas Teknik untuk mencari data awal. Data dari Syailendra Darmastawa.


"Target tiga hari," Rayyan mewanti-wanti. "Kalau bisa ada live interview. Hari ketiga kita ngumpul bareng sama Bang Rendra bahas script. Kalau oke langsung take."


"Live interview nggak janji ya Ray," tawarnya di detik terakhir.


Berbekal data dari bagian akademik, potongan artikel-artikel di majalah kampus edisi lama, stalking akun sosmed -yang sudah centang biru, hmm...-.


Kecuali live interview, bisa ditarik kesimpulan bahwa Syailendra Darmastawa adalah mahasiswa teknik industri semester akhir yang sedang menyusun skripsi, perantauan dari luar Jawa, cemerlang sejak semester awal, mantan Mapres 2 tahun berturut-turut, pemilik PT Manjomaju yang bergerak di bidang properti, event organizer, otomotif, coffe house. Dan deretan panjang perolehan lain yang berhasil diraih di usia kurang dari seperempat abad. The brightest side hah?


Hari ketiga menjadi hari yang paling tidak dinantikannya, janjian untuk bertemu Rendra di Mreneo. Menjadi satu-satunya kedai kopi yang terletak di jalan utama penghubung antara beberapa kampus, Mreneo tampil menonjol di banding bangunan lain di sekitarnya.


Berdesain minimalis industrial namun tetap hangat dengan banyak spot instagramable yang mampu membuat para pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama disana.


"Iki sing ndesain cah arsi koncone bang Rendra, saiki lagi master nang Colorado (ini yang mendesain anak arsitektur teman Bang Rendra. Sekarang sedang menempuh pendidikan master di Colorado)," terang Bagus, GM Mreneo yang menemani mereka sebelum Rendra datang.


Ia lebih banyak diam mendengarkan sambil menikmati extraordinary welcome drink yaitu wedhang uwuh dan keripik welut. Ternyata dibalik desain kedai yang modern minimalis, tersimpan kearifan lokal. Unik.


"Lho iku wonge teko (itu orangnya datang)," seru Bagus menunjuk Rendra yang melangkah panjang-panjang menuju mereka.


Ia spontan ikut menoleh. Rendra tak berubah, masih sama seperti bagaimana terakhir ia mengingatnya. Hanya rambut Rendra kini telah dipangkas rapi. Membuat kesan yang lebih segar.


Eh, gimana-gimana? Stop it, Anggi!


"Sori, lama nunggunya?" Rendra langsung mendudukkan diri di kursi yang kosong, tepat segaris di depannya. Membuatnya langsung menunduk.


"Enggak Bang, baru banget ini juga," Rayyan tertawa renyah.


Setelah berbasa-basi sebentar, Rayyan mulai menjelaskan project yang sedang mereka garap.


"Wah, nggak salah pilih nih?" Rendra terkekeh, membuatnya spontan mencibir.


Cibiran halus yang tak disadari siapapun kecuali Rendra. Yang kini sedang tersenyum menatapnya.


Mata Rendra seolah berkata, 'Kamu masih seperti yang dulu.'


No no no, Anggi, ini jelas kesalahan. Berhenti selagi kamu bisa!


Rayyan yang memang jagonya ngomong, menerangkan secara sistematis dan komprehensif semua hal yang berhubungan dengan film mereka.


Selama itu pula, ia hanya diam menunduk. Berusaha mengabaikan setiap kerlingan dan senyuman Rendra yang beberapa kali tertangkap oleh sudut matanya.


"Ini scriptnya Bang," Rayyan menyerahkan script hasil karyanya.


"Silakan dibaca dulu, kalau ada yang kurang pas atau perlu ditambah bisa langsung revisi. Begitu Abang oke, kita langsung pengambilan gambar."


"Ok, gua lihat dulu," Rendra mulai membaca script.


Sementara Bagus kembali menghampiri mereka untuk menawarkan main menu andalan kedai, "Silahkan, tamu bebas memesan," selorohnya.


Main menunya juga unik, selain Western dan Asian food kekinian, terdapat Local Delight seperti gudeg, pecel, sego megono, garang asem, dan makanan khas angkringan.


Ia memilih sego kucing dan sate telur puyuh, suasana yang kurang mendukung -karena terpaksa berada dalam radius jarak yang sangat dekat dengan Rendra- membuat nafsu makan menguap entah kemana.


Pertimbangannya, porsi sego kucing yang mungil masih bisa dimakan sampai habis agar tak mubazir. Sekilas lintasan heran sempat tertangkap saat Rendra melihat makanan yang dipesannya.


"Ayo, ojo isin-isin, koyo karo sopo wae (jangan malu-malu. Seperti sama siap aja)," seloroh Bagus begitu makanan terhidang di meja.


Bagus juga ikut duduk menemani mereka ngobrol selama Rendra konsentrasi membaca script.


Sambil menikmati hidangan, beberapa kali mereka tergelak karena cerita lucu Bagus atau celetukan Elva yang ceriwis.


Entah kebetulan yang aneh, ternyata Bagus asli Prambanan dan tetanggaan dengan mba Suko.


"Mba Sukowati yang maunya dipanggil Mba itu?" Bagus mengernyit.


"Iya, yang tinggalnya di Tlogo deket Prambanan," jawabnya antusias.


"Walah, omahe dekne adep-adepan karo omahku mbiak (rumahnya dia hadap-hadapan dengan rumahku mba)...," seru Bagus tak menyangka.


"Iso kenal nang ndi (bisa kenal -dengan Mba Suko- dimana)?"


Ia pun menjelaskan dimana dan bagaimana bisa kenal Mba Suko.


Sesekali Rendra melirik saat ia sedang bercerita.

__ADS_1


"Nek ketemu, salam yo nggo Mba Suko," ujarnya senang. Janji akan mampir ke rumah Mba Suko dan bertemu Sibu mungkin bisa terealisasi kapan-kapan.


Mereka kembali melanjutkan makan sambil mengobrolkan banyak hal. Sementara Rendra masih membaca script sambil sesekali mengangkat panggilan masuk ke ponselnya.


Ia pun kembali diam menekuni sego kucing yang sebenarnya enak tapi terasa susah untuk ditelan. Apalagi kalau bukan karena aura yang menguar tajam dari seberang tempat duduknya.


"Bagus scriptnya," Rendra mengakhiri membacanya.


"Tapi masih ada beberapa yang 'kurang pas', kurang menguatkan tema, harusnya bisa lebih fokus lagi biar maksimal. Masih bisa revisi?"


"Masih Bang, masih," jawab Rayyan cepat. "Anggi nanti yang akan revisi sesuai masukan dari Abang."


Rendra spontan berbinar menatapnya. Membuatnya ingin menimpuk kepala Rayyan saat itu juga.


"Siapa yang buat script?" ada getaran lain dalam pertanyaan cepat Rendra.


Semua menunjuk ke arahnya. Ampuuun.


"Siap revisi ya Nggi?" Rayyan memandangnya polos tanpa merasa bersalah.


Yang lain juga menatapnya dengan penuh pengharapan.


"Kapan deadline?" pertanyaan singkat dan menyelidik Rendra mendadak membuat hatinya was-was dengan apa yang mungkin sedang direncanakan Rendra.


"Seminggu lebih dikit, Bang. Ini buat tugas UTS. Masih ada 9 hari dari sekarang. Kalau sesuai rundown yang kami buat, pengambilan gambar dijatah 3 hari. Maksimal. Editing ada Galin sang pakar bisa lah 2 hari," seloroh Rayyan.


"Pengambilan gambar sebagian bisa ambil dari file kantor, tinggal edit-edit dikit, beres. Nah, kalau script..."


"Iya gimana, Bang?"


"Menurut gua perlu ada interview, ini data ambil darimana aja sih...banyak yang udah kadaluwarsa?" Rendra mengerling kearahnya menyelidik.


Ia harus menelan ludah sebelum menjawab, "Bagian akademik, majalah kampus, sosmed...."


"Kamu stalking?" Rendra terkekeh.


"Kenapa mesti stalking sih Nggi, kalau bisa nanya langsung ke orangnya," Elva geleng-geleng kepala.


"Kadaluwarsa gimana, ini udah sesuai semua kok...," ia memberanikan diri mengambil kertas script dari tangan Rendra.


"Langsung interview aja Nggi, biar cepet beres," saran Galin yang langsung ditolaknya mentah-mentah, tapi cuma dalam hati. Huft.


"Karena script ini krusial, gimana kalau sistemnya reportase langsung. Jadi, ngikutin jadwal gua seharian ngapain aja, kemana aja. Kira-kira penulis script bisa nggak?" tanya Rendra sambil tersenyum penuh arti.


Dengan mata yang jelas-jelas mengatakan 'don't you ever think that you can free from senior's eyes'.


***


Catatan :


kerkel. : kerja kelompok


Iki. : ini


sing ndesain. : yang mendesain


cah arsi. : anak arsitektur


koncone. : temennya


saiki. : sekarang


nang. : di


iku. : itu


wonge. : orangnya


teko. : datang


ojo isin-isin. : jangan malu-malu


koyo karo sopo wae. : kayak sama siapa aja


omahe. : rumahnya


dekne. : dia

__ADS_1


adep-adepan. : hadap-hadapan


__ADS_2