KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
63. Tell Me We Belong Together


__ADS_3

"Aku kayaknya disini sampai tahun baru, sekalian refreshing."


"Ijin dulu ke Papah," ia yakin Papah tak akan mengijinkan. Tahun baru masih dua hari lagi, dan Rendra jelas berstatus 'orang asing'.


Sore harinya sepulang dari Petahunan, Rendra langsung menemui Papah yang juga baru pulang dari kantor. Ia yang menguping dari balik partisi ruang tengah langsung jantungan begitu mendengar kalimat pembuka yang diucapkan Rendra,


"Kalau Om berkenan, setelah wisuda, saya mau melamar Anggi."


JEDER!


"Sekitar bulan Februari atau Mei. Saya usahakan bulan Februari."


"Rencananya nggak lama-lama Om, jarak dari lamaran ke pernikahan. Mungkin pas libur semester."


"Nanti setelah menikah kami tinggal di Jogja. Sempat diskusi juga, kami berdua sama-sama mau ambil master."


"Rumah alhamdulillah sudah 70%, target tiga bulan lagi bisa ditempati."


"Saya minta maaf kalau lancang dan terkesan terburu-buru. Semoga Om memaklumi."


Ia tak mampu lagi mendengar kalimat Rendra selanjutnya. Pun jawaban dari Papah. Lebih memilih masuk ke kamar, menenggelamkan kepala di bawah bantal.


"Ciee...ciee...yang dilamar," suara Adit lamat-lamat terdengar. Disusul hardikan Mamah yang menyuruhnya pergi.


"Nggi...," Mamah memijat kakinya pelan. "Bener apa yang dibilang Rendra?"


Ia buru-buru merubah posisi menjadi duduk.


"Kamu ini baru 20 tahun, masih muda banget," Mamah memandangnya masygul.


"Menurut Mamah gimana?"


"Loh, kok malah menurut Mamah. Kamu yang mau ngejalanin."


"Aku tuh tahunya Rendra mau minta ijin ikut tahun baruan disini mah, kok tiba-tiba jadi ngomong begitu ke Papah," ia mengkerut.


"Tapi semua yang diomongin bener?"


Ia terpaksa mengangguk, sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya. "Skripsinya udah mau selesai. Bentar lagi sidang."


Mamah menyambut tangan kirinya dan menyentuh cincin yang melingkar di jari manis. "Ini apa?"


Ia meringis.


"Kapan?"


"Awal bulan ini."


"Udah pernah ketemu orangtuanya?" Mamah masih memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya.


Ingatannya kemudian melayang kepada Naja dan Qeva, "Udah, waktu mama tirinya ke Jogja. Mama kandung Rendra meninggal waktu masih SMU."


Mamah tersenyum sambil memegang tangannya, "Menikah itu...sebisa mungkin sekali seumur hidup. Jangan dipakai main-main. Harus dipikir bener-bener."


"Iya Mah, aku nggak tahu kalau Rendra mau ngomong gitu ke Papah," ia masih mengkerut.


"Mamah tahu," sambil masih tersenyum. "Cah lanang (anak laki-laki) kalau udah serius ya begitu, bakal terus dikejar kemanapun."


"Kalau Mamah sama Papah, yang penting kamu bahagia, yang lain tinggal ngikutin. Tapi pesen Mamah, kamu pikirin yang bener-bener mateng. Bukan cuma tentang kalian berdua, tapi keluarga masing-masing. Karena menikah itu sejatine bukan cuma menyatukan dua pribadi yang berbeda, tapi juga dua keluarga besar yang jauh berbeda."


"Beda latar belakang, beda kebiasaan, beda pola asuh, beda tradisi...."


"Beda suku, beda propinsi, beda pulau lagi," tiba-tiba Adit masuk ke kamar sambil nyeletuk. Yang langsung mendapat hadiah lemparan bantal darinya.


BUK!


"Aduh! Mah, Mba Anggi nih!" rengek Adit kesal. "Dipanggil Papah tuh suruh ke ruang tamu."


Dengan muka ditekuk ia pergi ke ruang tamu, tapi ternyata Papah dan Rendra sudah berdiri di teras.


"Manggil Pah?" tanyanya bingung, disambut senyum simpul Rendra.


"Mana Adit?" Papah malah nanyain Adit, yang mendadak muncul dari ruang tengah sambil terbahak. Rupanya kena dikerjain sama bocah ngeselin.


"Hahaha...," Adit masih ngakak.


"Mo kemana?" tanyanya bingung.


"Hotel dooong."


Rupanya Rendra berniat untuk menginap di hotel dengan ditemani Adit. Sepeninggal Rendra, Papah tak membicarakan apapun dengannya.


Bahkan hingga siang ini, dua hari kemudian, hampir 12 jam menuju malam pergantian tahun, Papah tak pernah sekalipun mengungkit pembicaraan dengan Rendra padanya.


"Dua hari nggak ketemu aja udah kangen banget," tiba-tiba Rendra masuk ke dapur, menghampirinya yang sedang membuat bumbu rendaman barbekyu. Sementara di ruang tamu terdengar riuh rendah suara orang mengobrol, pastinya Papah dan keluarga Om Bowo yang baru datang beberapa menit lalu.


"Kapan datang?"


"Barusan," Rendra meletakkan kresek berisi buah-buahan keatas meja. "Bikin apa sih?" tanya Rendra sambil mencuci tangan di tempat cuci piring.


"Buat rendaman," jawabnya sambil mencampur bawang putih, jahe, gula, kecap asin, dan minyak wijen. 


"Sini aku yang aduk," pinta Rendra mengambil alih spatula kayu yang sedang dipegangnya.


"Betah disini?" tanyanya ingin tahu. Dua hari Rendra menginap di hotel, dua hari pula mereka tak berkomunikasi.


"Banget," Rendra terkekeh. "Dua hari explore Banyumas dan sekitarnya. Banyak tempat seru ternyata. Ada Curug bagus juga sebelum Ajibarang, medannya lebih enak malah. Curug apa tuh..."


"Cipendok."


"Nah, iya," Rendra berbinar. "Si Agung yang jadi guide, diajak kulineran nyari kambing, busyeet jauh banget masuk ke Purbalingga. Apa tuh namanya...Melung...kalau nggak salah. Perjalanannya aja satu jam sendiri, keburu lapar," Rendra menggelengkan kepala. "Tapi worth it," sambil mengacungkan jempol.


"Agung itu anak sipil yang rumahnya di Kober?"


Rendra mengangguk, sambil mencicipi bumbu rendaman, "Kurang rasa dikit," lalu menambahkan sedikit garam dan kecap manis.


"Jadi ada ide, ntar honeymoonnya kita keliling Kalimantan via darat. Mantul dah. Ntar kuajak kamu ke tempat-tempat eksotis yang belum banyak orang tahu," Rendra tersenyum bangga.


Namun ia hanya mencibir, "Honeymoon, pikirin tuh skripsi."


"Iya sayang iya....kamu nggak sabar ba...."


"Nah ini Mba Anggi," pekik seseorang yang tiba-tiba masuk ke dapur. "Dicariin dari tadi...eh, lagi ada tamu ya," orang itu langsung tersipu begitu melihat Rendra.


"Nggi...dicariin sama Shelia tuh," Mamah menyusul di belakang Shelia. "Nah, udah ketemu kan?" ujar Mamah langsung beranjak lagi ke ruang tamu.

__ADS_1


Ia buru-buru menghampiri Shelia dan memeluknya, "Apakabar?"


"Baik Mbaa," Shelia tersenyum lebar. "Mba Anggi kok iteman sih, biasanya kan glowing."


Ia meringis, "Ah, masa sih. Biasanya juga gini, glowing apanya."


"Banyak pikiran ya, tuh ada jerawat satu," Shelia menunjuk keningnya.


"Ah, iya, bener-bener banyak pikiran," ujarnya sambil melirik Rendra yang sedang tersenyum-senyum sendiri.


"Mba Anggiiiii!" seseorang kembali masuk ke dapur dan langsung menubruknya. "Kangen ih."


Membuat Rendra terbelalak, "Kalian....kembar ya?"


"Iya," Shelia menjawab sambil tersenyum. "Mas nya siapa?"


"Kenalin...ini Shelia, ini Shakira, putrinya Om Bowo, adik Papah," ia memperkenalkan sepupu-sepupunya ke Rendra. "Masih ada satu lagi."


"Kembar tiga?" Rendra makin membelalak.


"Yang ketiga cowok," ia mengerling. "Mana Shandy?"


"Diluar tuh sama Adit."


"Kembar tiga...cewek, cewek, cowok?" Rendra masih terheran-heran. "Berarti nanti kita kemungkinan bisa punya anak kemb....."


Ia langsung memelototi Rendra yang cengar cengir mesum, "Anak kembar....," Rendra menegaskan ucapannya.


"Masnya siapa?" Shakira meneliti Rendra dari atas sampai bawah.


"Kenalin....gua Rendra, calon suaminya Anggi," dengan penuh percaya diri Rendra mengulurkan tangan.


Membuatnya jadi bulan-bulanan sepanjang sisa hari.


"Esih cilik wis arep pengantenan (masih kecil udah mau nikah)," Om Bowo mengernyit. "Sekolah disit sing duwur (sekolah dulu yang tinggi)."


"Iya Om, rencana kita mau lanjut master sama-sama," Rendra mempersembahkan senyum yang paling manis. Diikuti helaan napas kagum dari Shelia dan Shakira.


Episode pembullyan terhadapnya pending sebentar dengan kedatangan Om Hen sekeluarga. Tapi kelegaannya bersifat fana, karena reaksi Tante Rina -istri Om Hen- justru lebih parah,


"Loh, pacarmu udah pulang dari Jepang?"


"Nggak ada yang ke Jepang Tante," ia sendiri bingung.


"Lha ini...udah disini," sambil menepuk bahu Rendra. "Ini pacar jaman sekolah yang kuliah di Jepang kan?"


Aduh, ampun, "Bukan Tante, Rend...."


"Beda orang Tante," Rendra membantu menjelaskan dengan masih memberikan senyum yang paling manis.


"Lho kok mirip, tinggi badan sama karakter mukanya...."


"Aduh, Tante, udah dibilang beda orang," Shakira ikut menengahi. "Yang itu namanya Mas Dio....yang ini namanya Mas Rendra. Secara pelafalan nama aja udah beda."


Ia hanya bisa memutar bola mata karena Shakira malah membuat masalah jadi semakin terang benderang.


"Maafin Tante Rina ya," bisiknya saat mereka punya kesempatan berdua di dapur. Kali ini sambil memotong-motong daging sapi.


Rendra hanya tersenyum penuh arti. Langsung mengalihkan topik, "Tiap tahun baru gini? Seru juga ya ngumpul keluarga. Lebih bermakna daripada macet-macetan di jalan."


"Yang kita datang ke nikahan anaknya di Klaten?"


Ia mengangguk. "Yang pertama Pakde Warno, tinggal di Medan."


"Wah, seru dong...kapan-kapan kita bisa off road ke tanah Sumatra."


Ia tak menanggapi, "Yang kedua Bude Lilik. Ketiga Pakde Warlan, lagi tugas di Ambon. Keempat Bude Endang, kita ketemu waktu di Klaten. Kalau rumahnya sih di Kudus."


Rendra manggut-manggut. "Terus Papah kamu."


Ia mengangguk.


"Seru ya, banyak saudara," Rendra tersenyum sendiri. "Jadi...nanti kita mesti banyak anak. Biar banyak saudara, nggak pada kesepian. Tujuh...delapan?"


Ia hanya mendecak. "Kamu bukannya malah lebih banyak saudara. Istri Papa kamu aja ada be...," ia sadar terlalu banyak bicara. "Maaf."


"Emang istri Papa ada dimana-mana," Rendra tersenyum sendiri. "Tapi hubungan kita nggak sehangat itu. Yang ada malah berantem terus. Sekarang-sekarang aja kita, anak-anaknya, udah pada dewasa...lebih open minded. Tapi tetap aja nggak ada rasa nyaman."


"Mba Anggi....ada Mba Fira tuh di depan," Shelia tiba-tiba menyeruak di dapur.


"Oh iya, bentar," kemarin ia pesan Klepon Cake dan Kurma Almond Cake ke Fira. Sementara Rendra mengekorinya di belakang, ikut berjalan menuju ke ruang tamu.


"Woi, masih disini!" di teras malah Chris yang menyapa, heran melihat Rendra yang sedang mengikuti di belakangnya.


"Kok elo sih?" ia tak kalah heran melihat Chris. "Fira mana?"


Ternyata Fira sedang kerepotan mengambil kue dari dalam mobil, "Bantuin kek!" gerutu Fira melihat Chris malah asyik ngobrol dengan Rendra.


"Kok bisa bareng sih Fir?" Fira dan Chris jelas yang paling sering berantem di Romansa, julukannya aja Tom & Jerry.


Fira mengangkat bahu, "Tahu tuh Kriskros tiba-tiba ke rumah, sekalian aja gue ajak kesini, daripada pakai Gocar yekan..."


Setelah Fira dan Chris pulang, Rendra langsung berkata yakin, "Mereka bakal jadian." Tapi ia tak menanggapi. Bisa hancur dunia persilatan kalau mereka bener jadian.


Setelah Isya, persiapan barbekyu selesai, mereka pun mulai berkumpul di halaman belakang. Ibu-ibu berkumpul dengan ibu-ibu. Para sepupu cewek, asyik ngobrol di teras belakang. Sementara bapak-bapak dan cowok-cowok sibuk mempersiapkan api untuk memanggang. Dilihatnya Rendra sedang bicara serius dengan Papah dan Om Bowo. Rupanya Rendra telah berhasil mengambil hati Om Bowo yang terkenal suka nyelekit kalau ngomong.


Menginjak tengah malam, formasi ngobrol mulai berubah. Tak lagi menurut gender, tapi semua mengelilingi tiga panggangan kabinet yang sengaja diletakkan di tengah-tengah halaman belakang.


Ia bukannya tak tahu Rendra mengambil duduk tepat di belakangnya, tapi speech singkat Papah benar-benar menarik untuk didengarkan. Yang sebagian berupa doa dan harapan terbaik untuk seluruh anggota keluarga.


Malam semakin merangkak naik, daging dan sayur sudah matang tinggal santap. Menyisakan sosis, marshmallow, dan apel sebagai pelengkap rasa. Rendra membawakannya sepiring daging kalbi dan rib eye yang masih mengepul, serta kentang, paprika, dan jagung.


"Enak nih," ujar Rendra sambil memasukkan kalbi yang ketiga ke dalam mulut. "Juicy."


Ia mengangguk setuju. Sementara di sudut lain Papah sedang terbahak bersama Om Bowo dan Om Hen. Para ibu masih asyik ngerumpi. Sheila dkk ketawa ketiwi di sebelah mereka.


"Aku nggak pernah nyangka, bisa ngalamin hal membahagiakan kek gini," Rendra tersenyum memandang sekeliling. "Ada di tengah-tengah keluarga yang hangat."


Ia masih asyik menikmati Kalbi yang endess surendes, hingga tak terlalu memperhatikan ucapan Rendra.


"Kadang sering nanya sama diri sendiri, kalau udah ngerasa bahagia kek gini, apa akan ada akhir? Apa bisa terus sebahagia ini?"


Ia memandang Rendra. "Kamu bener-bener belum pernah ngumpul kayak gini sama keluarga besar?"


Rendra menggeleng, "Ngumpul pasti bahas materi. Nggak ada kebersamaan dari hati kek gini."

__ADS_1


"Padahal kita juga sama kayak keluarga yang lain. Punya masalah dan ujian masing-masing."


"Tapi nggak sekompleks di keluargaku."


"Pasti ada sisi baik di keluarga kamu."


"Sisi baiknya mungkin nggak peduli satu sama lain."


"Kamu kok gitu sih."


"Kamu bakalan shock kalau tahu satu persatu masalah di keluargaku."


Ia menghentikan kunyahan kalbinya.


"Nanti kalau kita pulang setelah nikah, langsung ke hotel, rumah buat silaturahmi sebentar. Nggak perlu lama-lama. Aku nggak mau kamu diperlakukan buruk."


"Kita tinggal di Jogja. Kalau lebaran mudiknya kesini aja. Nggak perlu ke tempatku."


"Jangan khawatir anak-anak kita nggak kenal leluhurnya. Aku bakalan ceritain tentang Mama ke mereka, ngajarin bahasa daerahku. Oya berarti nanti di rumah kita fourlingual dong ya. Bahasa daerahku, daerah kamu, Indonesia, English," Rendra terkekeh sendiri menyadari betapa ngelanturnya dia.


"Kemarin apa kata Papah?" ia tak mau ikut melantur. "Kamu bilang cuma mo minta ijin tahun baruan disini. Kenapa malah ngomongin itu lagi itu lagi."


Rendra terkekeh, "Papah jelas setuju lah, mantu idaman," sambil menepuk dada bangga.


Ia jelas tak percaya. "Pertengahan tahun depan aku baru 21, masih mu...."


"Oiya, ngomong-ngomong kapan ultah kamu. Cengo gini nggak tahu ultah future wife."


"Jangan ngerubah topik," gerutunya mulai kesal. Rendra ini bisa diajak ngomong serius nggak sih?


"Hehe...sori...sori...," Rendra terkekeh. "21 emang kenapa? Pas kan 21 sama 25, usia produktif."


Ia memutar bola mata, membuat Rendra kembali terkekeh.


"Iya, Papah kamu terus terang agak keberatan..."


Ia mendongak melihat Rendra.


"Papah kamu bilang, tunggu sampai kamu lulus. Aku bilang, waduh, kelamaan Om, keburu rival berat balik lagi ke Indonesia, bisa-bisa...."


Ia merengut, tapi Rendra justru tertawa.


"Iya...kata Papah kamu, ngapain buru-buru. Aku bilang aja...takut direbut lagi sama saingan berat om..."


Membuatnya mencubit lengan Rendra.


"Aduh, beneran cubitan kamu pedes banget," Rendra pura-pura mengelus lengannya merasa kesakitan. "Pantesan Adit melolong terus tiap dicubit sama kamu."


Kali ini ia memukul lengan Rendra.


"Aduh," lagi-lagi Rendra mengaduh.


"Aku baru tahu kamu lagi bangun rumah."


"Oh, iya...kamu belum pernah kuajak kesana ya," Rendra seperti teringat sesuatu. "Kita punya project baru di Kaliurang. Hunian masa depan, dengan view terbaik, lingkungan kondusif. Cocok buat anak-anak kita kelak."


Ia mendecak, "Rumah kamu bukannya masih bagus."


"Oh, yang sekarang?" mata Rendra membulat. "Mau kulepas."


"Wah, sayang, strategis gitu."


"Emang kamu mau tinggal di tempat yang udah sering dipakai sama cewek lain?"


Kali ini ia menatap Rendra serius, giliran Rendra yang meringis karena sudah keceplosan.


"Kamu selalu ajak cewek-cewek kamu yang seksi-seksi itu ke rumah?"


Rendra tak menjawab, pura-pura melahap kentang yang tersisa di piring. Membuatnya mencibir. "Ngapain aja di rumah, ngisi TTS?"


Rendra terkekeh, "Kamu cemburu ya."


"Ih, ngapain cemburu," ia merengut. Sepertinya dunia tak adil. Di belakangnya hanya ada Dio. Sementara di belakang Rendra ada puluhan atau bahkan ratusan gadis di masa lalunya.


Rendra meletakan piring yang telah kosong ke meja, lalu mengambil gitar Adit yang tergeletak di kursi sebelah, "Dit, pinjam gitar."


"Yo bang," Adit hanya menoleh sebentar karena sedang asyik ngobrol dengan Shandy dan Shakira.


Rendra mulai memainkan gitar. "Kau memang bukan yang pertama bagiku...," Rendra memetik nada lagu jadul yang sering di dengarnya diputar di Bus Malam antar kota.


"Jujur saja 'ku 'tak mampu


Hilangkan wajahmu di hatiku...", kali ini menyambung ke nada lain.


"Meski ku bukan yang pertama di hatimu tapi cintaku terbaik untukmu. Meski ku bukan bintang di langit....tapi cintaku yang terbaik...," Rendra tersenyum menatapnya. "Jangan pernah ragukan aku..."


Petikan gitar Rendra ternyata mampu membuat Shelia yang duduk tepat di sebelahnya mulai tertarik. Sekarang dia bahkan mengajak Shakira untuk sama-sama memperhatikan Rendra.


"Tell me we belong together," bisik Rendra sambil menatap sungguh-sungguh, sementara jemarinya mulai memainkan sebuah intro,


'The strands in your eyes that color them wonderful


Stop me and steal my breath


Emeralds from mountains and thrust towards the sky


Never revealing their depth


Tell me that we belong together


Dress it up with the trappings of love


I'll be captivated, I'll hang from your lips


Instead of the gallows of heartache that hang from above


I'll be your cryin' shoulder


I'll be love suicide


I'll be better when I'm older


I'll be the greatest fan of your life'


(Edwin McCain, I'll Be)

__ADS_1


__ADS_2