
Anggi
Antara terkejut campur senang menyadari orang yang menyapa bukanlah stranger, membuat tangannya spontan terulur menerima tisu dari tangan Rendra.
Eh, tapi sebentar. Tapi bagaimana bisa Rendra tiba-tiba sudah duduk di belakangnya? Apa Rendra jatuh dari langit? Sejenis falling stars challenge begitu?
Ah ya, tentu tidak.
Atau kebetulan saja Rendra sedang berada di Stasiun. Dan tak sengaja melihatnya dalam keadaan kacau begini?
Hmm, sungguh kebetulan yang mencurigakan.
"Ini," Rendra kembali mengangsurkan sesuatu, kali ini sebotol air mineral.
"Minum yang kayak ada manis-manisnya gitu," sambung Rendra kocak mengikuti gaya iklan air mineral tersebut.
"Biar sedihnya hilang...."
Ia yang masih sibuk menyusut hidung dan mengelap bekas tetesan airmata di pipi tak kuasa menahan senyum kesal. Dan entah impuls darimana, untuk yang kedua kali dalam waktu singkat, tangannya kembali terulur untuk menerima botol air mineral dari tangan Rendra.
"Apa?!" begitu botol air mineral berpindah tangan, Rendra langsung membelalakan mata dengan antusiasme yang dibuat-buat.
"Sama sama....sama sama....," lanjut Rendra lagi sambil tersenyum lebar. Membuatnya spontan mencibir, siapa juga yang berterima kasih.
Ia mulai membuka botol, tapi tenaganya seolah habis setelah menangis, membuatnya lumayan kesulitan untuk membuka seal yang mendadak keras dan susah dibuka.
"Sini," Rendra yang tiba-tiba sudah pindah duduk di samping kanannya mengulurkan tangan. Dan dengan sekali uliran seal berhasil terbuka.
Membuatnya tersenyum kecut saat menerima botol yang telah terbuka.
"Makasih," bisiknya kaku sambil langsung meminum air mineral dalam beberapa tegukan.
Hm, memang ada manis-manisnya, sedikit banyak membantu membasahi kerongkongan yang kering kerontang.
Rendra tak menjawab, justru berdiri untuk melepas jaket yang kemudian disampirkan ke atas pundaknya.
Kehangatan langsung menjalar ke sekujur tubuh. Yang bahkan tak berdaya untuk sekedar menolak atau menghindar.
Meski tak melihat, ia tahu Rendra tersenyum karena tak ada insiden penolakan jaket darinya. Sungguh ia sama sekali tak bertenaga, hati yang hampa betul-betul mempengaruhi keseluruhan fungsi normal tubuhnya.
Rendra kembali mendudukkan diri di samping kanan, dengan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
1 detik, 10 detik, 5 menit, diantara mereka tak ada yang bersuara. Hanya terdengar suara lalu lalang para calon penumpang kereta api yang berjalan melewati mereka menuju meja peron untuk melakukan pengecekan boarding pass.
Ting tong ting tong ting....ting tong ting tong...tong ting tong ting....ting tong ting tong ting....
Suara instrumental lagu Sepasang Mata Bola kembali terdengar melalui speaker. Diikuti peluit panjang menandakan ada kereta yang akan memasuki Stasiun.
Ting tong ting tong ting....ting tong ting tong...tong ting tong ting....ting tong ting tong ting....
"Selamat datang bagi anda penumpang kereta api Bima dengan tujuan akhir Stasiun Jakarta Gambir......"
Berada di Stasiun selama hampir satu jam membuatnya nyaris hapal tiap detail kalimat announcement yang diumumkan oleh pegawai PT KAI. So weird.
Ia meringis sambil kembali meneguk air mineral untuk mengusir kesunyian. Sementara di sebelah, Rendra tetap berdiam diri sambil sesekali memperhatikan lalu lalang penumpang baik yang akan menaiki kereta atau baru saja turun.
"Untuk perjalanan anda saat ini sudah sampai di Stasiun Jogjakarta. Bagi anda yang mengakhiri perjalanan sampai dengan Jogjakarta, sebelum meninggalkan kereta silahkan periksa lebih dahulu barang bawaan anda, jangan sampai ada yang tertinggal di dalam kereta....."
Ia terus-terusan meneguk air mineral dengan gelisah. Kesunyian diantara mereka berdua benar-benar sangat mengganggunya.
"Informasi untuk pintu keluar, pintu keluar berada di sebelah kiri dari arah datangnya kereta, atau sebelah selatan menuju arah Jakarta...."
__ADS_1
"Lagi ngapain di sini?" ia memberanikan diri untuk bersuara.
"Nungguin kamu," Rendra tersenyum.
"Udahan sedihnya? Bisa jalan pulang nggak?" senyum Rendra berubah menjadi smirk. "Atau harus kugendong?"
Mulutnya spontan mendesiskan cibiran.
"Cuma mau ngingetin, kalau pintu gerbang kost kamu udah ditutup," Rendra mengangkat pergelangan tangan kanan untuk melihat jam.
"Nih sekarang nih, sebentar lagi pas jam sepuluh. Kecuali kamu mau ngajak ribut Salsa lagi," kalimat Rendra yang awalnya serius diakhiri dengan tawa yang menyebalkan.
Membuatnya juga ikut tertawa sumbang.
"Nah, gitu dong ketawa," suara Rendra terdengar surprise. Mungkin tak menyangka usaha untuk membuat dirinya tertawa ternyata berhasil.
Ia mencoba tersenyum menanggapi gurauan Rendra. Sambil menutup botol air mineral yang telah habis setengahnya, lalu mulai merogoh tas untuk mengambil ponsel.
"Mau ngapain?" Rendra mulai curiga dengan aktivitasnya di depan ponsel.
"Pesan Ojek online," jawabnya datar.
Membuat Rendra mendecak. "Pulang sama aku."
Ia mengkerut. Sementara dari speaker Stasiun kembali terdengar announcement keberangkatan kereta api Bima diikuti oleh pemutaran lagu Sepasang Mata Bola.
"Ini zona merah, kamu mesti jalan kaki sampai ke Hotel Neo atau Polsek. Bahaya malam-malam jalan sendiri."
Ia baru mau membuka mulut untuk memprotes tapi Rendra lebih dulu melanjutkan kalimatnya.
"Anggap aku Ojol. Sama aja toh sama-sama naik motor ke kostan. Kita pura-pura nggak saling kenal," sambung Rendra sambil meraih tangan kanannya. Lalu menarik pergi dari kursi tunggu.
Sontak membuatnya berusaha melepaskan diri dari genggaman erat tangan Rendra. Tapi semakin ia memberontak, semakin erat pula Rendra menggenggam tangannya.
"Lepasin!" pekiknya semakin kesal.
Membuat Rendra menghentikan langkah, dengan tanpa melepaskan tangan Rendra berkata dengan wajah memohon,
"Please, kali ini aja...aku minta tolong sama kamu," mata Rendra jelas menyiratkan keputusasaan.
Ia pun tak bisa berkutik lagi. Terpaksa menurut digenggam sedemikian rupa hingga keluar dari Stasiun.
Sesampainya di luar, dengan bantuan tangan kiri ia berusaha melepas genggaman tangan Rendra. Kali ini berhasil. Bukan karena kekuatan tenaga yang dimiliki, tapi Rendra sendiri yang melepaskan genggamannya.
"Oke...oke...," Rendra mengangkat kedua tangan keatas, menyerah dengan kekeraskepalaannya.
"No touch, no body contact, physical distancing, begitu?" Rendra menatapnya tajam. "Tapi please, sekali ini aja, kita bekerja sama, oke?"
Ia masih mengkerut berusaha membuang jauh-jauh bekas genggaman tangan Rendra yang masih terasa hangat di telapak tangan.
This is not good.
"Ini udah malam banget, aku nggak akan ngebiarin kamu pulang sendiri, bahaya," Rendra kembali menarik tangannya menuju deretan motor di tempat parkir. Langsung lupa dengan propaganda yang baru saja didengungkan tentang konsep pshysical distancing di antara mereka berdua.
"No debat, no protes," sambung Rendra seolah mengerti isi kepalanya. Lalu menghentikan langkah tepat di belakang motor matic warna hitam.
Rendra terlihat buru-buru hendak mengambil sesuatu dari dalam saku celana. Namun barang yang dimaksud tak juga diketemukan. Membuat kening Rendra berkerut berusaha mengingat.
Selama proses tersebut tangannya tetap berada dalam genggaman Rendra. Telapak tangan yang besar, hangat dan mantap. Membuat sekujur tubuhnya bagai tersengat listrik ribuan volt.
This is big no.
__ADS_1
"Aduh, lupa!" Rendra terkekeh sambil merogoh saku di jaket yang sedang dipakainya. Membuatnya spontan menghindar.
"Sori..sori...," Rendra masih terkekeh geli. "Lupa kalau kunci motor ada di saku jaket. May i?"
Sebelum tangan Rendra kembali nyelonong ke saku jaket Ia terlebih dahulu mengambil kunci yang dimaksud lalu menyerahkannya.
"Tengkiu," Rendra tersenyum menerima kunci.
Dan tanpa peringatan apapun, Rendra mendadak memakaikan helm ke atas kepalanya.
Setelah terpasang, dengan penuh kehati-hatian, Rendra mengunci helm hingga berbunyi klik.
Selama adegan tersebut berlangsung, ia hanya bisa berdiri mematung sembari berusaha menyembunyikan degup jantung yang mendadak tak beraturan. Saat ujung jari tangan Rendra secara tak sengaja menyentuh dagunya ketika sedang mengunci helm.
Enough.
Ia langsung berusaha untuk melepas jaket. Akan sangat aneh jika penumpang yang memakai jaket, sementara pengemudi justru hanya berkemeja.
Sebentar, lebih tepatnya berkemeja batik.
Baru kali ini ia melihat Rendra mengenakan kemeja batik lengan panjang.
Waktu di Baby Shower tempo hari, Rendra mengenakan kemeja batik lengan pendek.
Hmm, sepertinya Rendra baru selesai menghadiri suatu acara dan belum sempat berganti baju. Lalu langsung pergi ke Stasiun.
Ah ya, tapi itu bukan urusannya bukan?
Ia pun buru-buru membuang jauh-jauh pikiran ngelanturnya.
"Nggak usah," usahanya melepas jaket keburu kepergok Rendra. Yang langsung memakaikannya kembali.
Kali ini bukan hanya disampirkan di atas bahu, tapi dipakai dengan benar. Sekaligus menarik resletingnya hingga tertutup sempurna.
"Nanti kalau kamu kedinginan...terus mimisan....berabe lagi," seloroh Rendra sambil menstater motor.
Membuatnya sedikit bernafas lega, karena semburat panas di pipinya menjadi tak kentara.
Enough, enough, enough.
Sepanjang perjalanan mereka lalui dalam diam. Pun ketika sampai di depan pintu gerbang Raudhah. Dan Rendra mengambil ponsel menelepon Salsa.
Lalu tak lama kemudian, Salsa muncul dengan muka cemberut membuka pintu gerbang.
Semua terjadi layaknya dalam gerakan film slow motion. Lambat, tanpa ia bisa mencegahnya.
Dan seperti yang pernah terjadi sebelumnya, Salsa hanya membuka pintu gerbang lalu langsung berlari masuk ke dalam.
Begitu pula Rendra. Memimpin pelan kedua lengannya agar masuk, menutup gerbang, mengunci, menyerahkan kunci melalui sela-sela pintu gerbang, sambil berkata,
"Masuk, di luar dingin."
Entah apa yang sedang berkecamuk di pikiran. Sebab ia mengikuti setiap ucapan yang keluar dari mulut Rendra tanpa protes, tanpa menoleh, sekaligus tanpa mengatakan sepatah pun meski itu sekedar ucapan terima kasih basa basi.
Begitu sadar, ia sudah berada di dalam kost mendengar deru suara motor Rendra yang menjauh.
"Kamu ini nggak ada kapoknya," suara Salsa di kegelapan ruang tamu mengagetkannya. "Iqob bebersih kamar mandi nggak mempan ya di kamu."
Tubuhnya lelah, jiwanya apalagi, "Terserah Mba Salsa," jawabnya sambil berlalu.
Sama sekali tak menghiraukan Salsa yang menggerutu, "Kamu...."
__ADS_1
Di kamar ia langsung melemparkan diri ke atas kasur, menatap nanar langit-langit, hingga tanpa sadar air mata mulai menetes lagi. Kali ini lebih deras, terisak-isak hingga dadanya terasa sesak seperti hampir meledak.