
Hari ketiga pagi-pagi sekali Rendra menelepon, "Ada yang harus kuurus." Membuatnya seharian nongkrong di Raudhah yang telah kosong ditinggal oleh para penghuninya libur semesteran. Baru setelah Ashar Rendra datang, dengan wajah lebih kusut dari hari kemarin.
"Maaf telat," sambil langsung menidurkan diri diatas kursi teras. Akhir-akhir ini Rendra sering tidur di waktu produktif, feelingnya mengambil kesimpulan something happened.
"Kalau cape pulang aja, nggak usah kesini," ujarnya sambil meletakkan segelas air putih ke atas meja.
"Nggak lah, kan udah janji nganter ke Stasiun."
"Aku bisa pergi sendiri."
Rendra terduduk lalu mengambil gelas air putih dan meminumnya tandas. "Berangkat sekarang?"
Kebisuan sepanjang perjalanan menuju Stasiun sangat menggangu. Rendra jelas sedang malas bicara, pandangannya selalu lurus ke depan.
Beberapa kali bahkan perilaku pengguna jalan lain yang tak terduga membuat Rendra berdecak kesal. Seperti motor matic yang sign kiri tapi belok kanan, bus yang berhenti mendadak, atau orang yang tiba-tiba menyeberang jalan tidak di jalur zebra cross. Namun ia tahu Rendra berusaha keras menahan diri, ungkapan kekesalan hanya sebatas decakan kecil, tanpa kata umpatan. Sepertinya Rendra berusaha menelan bulat-bulat seluruh umpatan yang hampir tergelincir, terlihat dari rahang yang mengeras.
Terus terang ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi sisi emosional seorang cowok yang (sepertinya) sedang menghadapi problem. Papah hampir tak pernah memperlihatkan emosi yang berlebih sebesar apapun masalah yang dihadapi.
Lalu cowok-cowok Romansa, Bayu dan Chris, apa sih masalah terbesar yang pernah mereka hadapi? Yang ada juga mereka tipe mengecilkan hal besar.
Dio? -lubuk hatinya selalu menghangat setiap mengingat nama itu- Jelas pernah menghadapi hal besar, yaitu kepergian tragis Ayahbundanya. Tapi Dio tak pernah membuat orang di sekitarnya merasa tak nyaman.
Tidak seperti saat ini. Bahkan sejak semalam ia sudah merasa sedikit tak nyaman berada di dekat Rendra. Seperti sedang berada di tengah gunung berapi aktif yang siap erupsi kapan saja. Menegangkan.
"Sweetie...," Rendra -jelas berusaha keras- tersenyum menatapnya. "Ngelamun ya...udah sampai."
Ia tergeragap menyadari Rendra sudah parkir di halaman Stasiun. Saat sedang sibuk membereskan backpack yang hendak dibawa, tiba-tiba Rendra menarik tangan kanannya.
"Bakalan kangen sama ini," ujar Rendra sambil meletakkan telapak tangan ke pipinya. "Doain cepet kelar semua urusan, nanti aku nyusul."
Ia yang belum pernah mengalami momen sedekat ini dengan Rendra, jadi sedikit bingung. Tapi impuls spontan menggerakkan jempolnya untuk mengelus pelan pipi Rendra. Kulitnya terasa lembut sehalus kulit bayi. Membuatnya semakin berani, kali ini seluruh jari bergerak mengelus pipi Rendra. Menyentuh rahang yang keras dengan kulit sedikit kasar karena belum bercukur.
"I'll miss you," Rendra memejamkan mata selama tangannya mengelus pipi.
Tepat pukul 16.23 kereta yang ditumpanginya meninggalkan Stasiun Lempuyangan. Tak ada pelukan atau ciuman tanda perpisahan. Hanya genggaman erat yang enggan terlepas menjadi salam perpisahan mereka.
"Semoga semua cepet selesai," bisiknya sebelum memasuki peron untuk pengecekan boarding pass. "Jangan lupa makan, jaga kesehatan."
Rendra tersenyum mengangguk, tapi mata letihnya tak dapat disembunyikan. Semoga kamu baik-baik saja, bisiknya sungguh-sungguh saat melihat Rendra melambaikan tangan. Ia benar-benar khawatir.
Tapi seminggu kemudian kekhawatirannya menguap demi melihat Rendra berdiri di depan pintu rumahnya. Segar bugar tak kurang suatu apa. Lengkap dengan senyum miringnya. Semua terlihat baik-baik saja.
"K-kamu?! Ya ampun!"
"Kaget ya?" ekspresi wajah Rendra sudah jahil seperti biasa, meski raut letih masih tersisa.
"Nggak ngasih tahu?" ia mengkerut. Semalam saat terakhir mereka chat an nggak ada pembahasan Rendra mau datang ke rumah.
"Namanya juga kejutaaan," Rendra terkekeh membuatnya mencibir.
"Kok sepi? Pada kemana?" sebelum duduk Rendra celingak-celinguk memperhatikan keadaan rumah yang sepi.
"Jam segini Papah masih di kantor lah. Kalau Mamah lagi arisan kompleks di tetangga."
"Adit?"
"Main kali dari tadi nggak kelihatan."
Rendra manggut-manggut.
"Akhirnyaaa...sampai juga di ruang tamu favorit," ujar Rendra seraya mendudukkan diri di atas sofa. Sementara ia memilih masuk ke dalam untuk mengambil minuman dingin.
"Jam berapa dari sana?" dilihatnya Rendra sudah menghempaskan punggung setengah tertidur di atas sofa sambil melihat isi ponsel.
"Habis subuh langsung cabut."
"Kok lama?" ia mengernyit melihat jam dinding, 11.30. "Nyasar?"
"Enggak lah. Tadi mampir dulu ke tempat temen, dimana itu...Kebumen masuk dikit."
Ia mengangsurkan segelas air putih dingin. Yang langsung diterima Rendra dengan senang hati, "Makasih sweetie."
Ia mencibir. "Temen yang mana?"
Pertanyaan singkatnya membuat Rendra terkekeh, "Interogasi nih?"
"Ya baru tahu aja kalau kamu punya temen orang Kebumen."
"Anak elektro, udah wisuda November kemarin, lagi nunggu applyan beasiswa belum ada yang nyantol," jawab Rendra serius. "Dulu anak BEM juga, Bobby, kenal nggak?"
Ia menggeleng. Ada begitu banyak anak BEM yang tentu tak pernah ia hapal satu persatu.
"Ada juga anak Sipil disini. Nih barusan janjian ngajak ketemuan. Rumahnya di...," Rendra membaca tulisan di layar ponsel. "Kober. Deket nggak dari sini?"
Ia menggeleng. "Lumayan, daerah deket Stasiun."
"Kesana yuk...main."
"Wah, anak-anak mau pada kesini," tolaknya. "Kita mau jalan. Kamu sih nggak bilang-bilang dulu kalau mau kesini," ia mengkerut.
"Anak-anak?" Rendra mengernyit.
Anak-anak Romansa siang ini janjian untuk berkumpul di rumahnya. Jauh-jauh hari mereka sudah merencanakan untuk piknik ke Curug Nangga, lalu malamnya menginap di rumah Pakdenya Bayu yang berada tak jauh dari lokasi Curug. Mereka sengaja mengambil waktu beberapa hari sebelum malam tahun baru. Karena biasanya malam tahun baru selalu dilewatkan bersama keluarga masing-masing.
Fira yang pertama kali datang. Matanya jelas tak berkedip melihat Rendra duduk di ruang tamu. "Itu kating yang baru jadian sama elo?!"
Ia hanya meringis.
"Ya ampun keluar dari jerat Lee Min Ho masuk ke perangkap Ji Chang Wook, mau pakai banged."
Menyusul Bayu dan Chris yang datang bersamaan. Mereka tak kalah terkejutnya dengan Fira saat melihat Rendra. Tapi yang terjadi selanjutnya tak pernah disangka, mereka bertiga malah ngobrol dengan serunya. Hmm, Rendra memang memiliki kemampuan berkomunikasi diatas rata-rata. Salut.
"Kalau gue jadi elo juga nggak bakal nolak, Nggi," seloroh Fira saat membantunya menyiapkan meja untuk makan siang. Kebetulan Mamah juga sudah pulang dari arisan dan langsung menyuruh mereka semua untuk makan siang.
"Ibarat habis nyobain Cadburry terus dikasih Toblerone, hmmm mau mau mau."
Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti demi mendengar Fira mengistilahkan Dio dan Rendra dengan Cadburry dan Toblerone.
"Emang harus diicip dua-duanya."
__ADS_1
"Apa sih!" ia terpaksa mencubit lengan Fira supaya diam. Dio dan Rendra jelas dua orang yang jauh berbeda. Sifat mereka bahkan bertolak belakang. Meski sama-sama telah berhasil merebut hatinya. Terutama Rendra, yang sukses membuat hidupnya beberapa bulan terakhir jungkir balik tak karuan.
Mereka berenam akhirnya makan siang sambil bercerita. Chris tukang lawak, Bayu yang rame, Adit yang ikut-ikutan bocor, Rendra yang antusias, Fira yang sesekali flirting. Membuatnya tak berhenti menyunggingkan senyum bahagia demi melihat Rendra langsung nge blend dengan anak-anak Romansa.
Usai makan siang mereka langsung jalan. Dengan Adit yang merengek-rengek minta ikut. Dari rencana awal memakai mobil sejuta umatnya Chris, dicancel karena Rendra menawarkan diri. Yang langsung disetujui anak-anak.
"Tamu cukup duduk manis," Chris jelas ingin mengemudikan Rubicon, mobil favoritnya yang belum terbeli. Meski Papa Chris adalah seorang dokter spesialis paling terkenal sepanjang karesidenan. Tapi untuk urusan diluar pendidikan dan kesehatan tak pernah mau tahu.
"Masa gue disuruh beli mobil sendiri. Yakali beli pakai daun," gerutu Chris saat SMU, yang merengek minta dibelikan Rubicon tapi ditolak mentah-mentah oleh Papanya.
Jadi, saat sekarang ada kesempatan, tentu tak ingin disia-siakan. Dan Rendra jelas tamu yang baik hati, mempersilahkan Chris untuk duduk di balik kemudi.
"Gua bagian AKAP (antar kota antar propinsi). Ntar lu part selanjutnya," Chris kegirangan.
"Ambil dah semua," Bayu yang menjawab.
"Nggak dong, mana tahu mo nyoba nanjak kemiringan 60 derajat," Chris menyeringai.
Jalan utama menuju Curug Nangga yang nantinya akan mereka lalui, dari desa Cikawung menuju Semedo, memang harus melewati tanjakan terjal hampir sejauh 1 km lebih.
Namun sebelumnya mereka mampir dulu ke Rita Mall untuk membeli bahan-bahan keperluan barbekyu. Cowok-cowok kebagian berbelanja peralatan dan daging-dagingan. Tapi kenyataan yang ada malah semua melipir ke pameran otomotif di ground floor, hm sudah bisa diduga.
Akhirnya ia dan Fira yang berbelanja daging ayam, daging sapi, sosis, baso, marshmallow, paprika, kentang, buah-buahan, dan semua printilan barbekyu lainnya. Setelah dirasa cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Chris mengemudi lurus ke arah barat, keluar dari kota Purwokerto. Sampai di pertigaan Ajibarang, Chris mengambil lurus ke arah Tegal. Jalan yang mereka lalui adalah jalan utama propinsi yang dilewati banyak kendaraan berat seperti bus, truk, dan tronton. Dan di beberapa titik mereka sempat menemui kemacetan. Rupanya libur akhir tahun yang bersamaan dengan libur sekolah, dimanfaatkan oleh orang-orang untuk berjalan-jalan dan rekreasi.
Setelah melewati rumah makan Sumber Alam Pekuncen, terdapat papan penunjuk berwarna hijau bertuliskan Curug Nangga terletak di sebelah utara jalan, yang sedikit tertutup oleh dahan pohon. Chris mengambil arah kiri atau sebelah selatan jalan, melewati pangkalan ojek Cikawung. Lalu menepikannya di sebuah pekarangan kosong, menawarkan Rendra untuk berganti posisi.
"Ambil bang, seru!" Adit menjadi supporter utama.
Membuatnya buru-buru mencekal lengan Rendra yang duduk di depannya, "Kamu udah pernah lewat tanjakan terjal belum? Ini beda jauh. Bahaya kalau belum pernah."
Tapi Rendra hanya terkekeh-kekeh dan langsung berganti posisi dengan Chris.
"Bisa Bang, jangan dengerin nenek cerewet," Adit makin menjadi. Yang langsung mendapat hadiah cubitan darinya.
Dan benar saja, Rendra sedikit terkejut begitu melihat medan jalan yang langsung menanjak terjal dengan kemiringan 45 derajat lebih.
"Tukeran lagi sama Chris kalau ragu," ia bergidik ngeri melihat wajah Rendra dan tanjakan di depan mereka. Rengekannya justru melecut semangat Rendra, yang langsung mengambil ancang-ancang dengan memundurkan mobil sedikit ke belakang, lalu pelan tapi pasti menarik gas melewati tanjakan terjal.
Selama menanjak Adit tak henti-hentinya bersorak seperti anak TK, Chris dan Bayu hanya bergumam-gumam pelan, Fira entah ngapain tak terdengar suaranya, sementara ia memejamkan mata tak berani melihat Rendra mengemudi melewati rute paling ekstrim. Selain tanjakan terjal sejauh 1 km lebih, juga terdapat tikungan tajam di beberapa titik, dengan sebelah kanan dan kiri diapit oleh jurang. Nervous.
Entah berapa lama matanya terpejam sambil tak henti berdoa, yang terasa berabad-abad lamanya. Tapi kini sorakan Adit terdengar lebih keras. "Udahan Mba, udahan...melek...melek..."
Membuatnya lagi-lagi menghadiahinya dengan cubitan.
"Mantul jalannya, mantap betul," Rendra bernafas lega. "Baru kali ini lewat jalan seekstrim ini."
"Kaliurang lewat Bang?"
Rendra geleng-geleng kepala. "Kaliurang, Somokado, Gondosuli masih lebih enak, nggak seterjal ini."
Tapi ia bernapas lega karena Rendra berhasil melewati jalur paling ekstrim, meski baru pertama kalinya dan ditodong on the spot.
"Apa sih yang enggak buat Bang Rendra. Iya nggak?" Adit jelas sedang cari muka ke Rendra.
"Ntar ada yang lebih ekstrim lagi. Udahlah muat satu mobil, tikungan tajam, nanjak lagi," Bayu ikut bersuara.
"Wah, dimana tuh?" Rendra jelas tertarik.
"Ntar sebelum nyampai rumah Pakde."
Hampir 10 menit Rendra mengemudi, melewati deretan rumah penduduk, areal persawahan dan kebun liar. Setelah melewati jalur ekstrim season 2 yang lebih bikin deg-degan karena jalan sempit, kini Rendra telah menepikan kemudi di halaman rumah Pakde Yatno, Pakdenya Bayu, di desa Petahunan.
Setelah berbasa-basi dengan Pakde Yatno, Bude Endah, dan anak-anaknya, mereka lebih dulu numpang sholat Ashar, sebelum melanjutkan perjalanan ke Curug Nangga.
Tapi kata Pakde Yatno, "Gyeh, wis arep Maghrib, sandekala, ora ilok lah lunga adoh. Ngesuk esuk baen."
(Begini, sudah mau Maghrib, senja hari, nggak baik pergi jauh. Besok pagi saja).
Mereka menurut, akhirnya memilih pergi ke Watukumpul yang direkomendasikan oleh Bude Endah. "Watukumpul bae li pe rek. Sedela tekan."
(Ke Watukumpul saja lebih dekat. Sebentar juga sampai).
Mereka berjalan kaki kurang lebih 1km menuju atas bukit Watukumpul. Melewati warga sekitar yang welcome dan ramah, serta gugusan hutan pinus yang asri. Jalan terjal yang semakin menanjak menandai hampir sampai di titik paling atas. Sayangnya pemandangan hamparan pepohonan, sawah, dan keindahan alam dari atas bukit yang biasanya bisa dinikmati saat cuaca cerah kini tertutup kabut yang membatasi jarak pandang.
"Mirip Punthuk Setumbu?" Rendra menaiki batu paling besar yang ada di atas bukit, sambil memperhatikan sekeliling.
"Iya," Bayu setuju. "Sayang ada kabut, biasanya bisa lihat sunset disini."
Mereka hanya sebentar karena hari mulai menjelang malam. Usai Maghrib, cowok-cowok mulai mendirikan tenda di pekarangan rumah Pakde Yatno. Sementara ia, Fira, Bude Endah, dan Ismi -anak Bude Endah- memotong-motong daging dan sayur yang akan dipakai barbekyu.
Jam delapan malam Bayu selesai menyiapkan api yang akan digunakan untuk memanggang. Mereka lebih dulu memanggang sebagian ayam dan daging yang telah dibumbui serta beberapa paprika, kentang, dan jagung.
Setelah matang langsung diserahkan ke Ismi yang ikut memanggang, "Is, buat di rumah," begitu kata Bayu. Ismi menurut masuk ke dalam rumah, dan tak keluar lagi. Kini tinggal mereka berenam.
Dari tempatnya berdiri terlihat Rendra sedang ngobrol serius dengan Adit dan Bayu yang memegang drone. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Sementara Chris asyik bercanda dengan Fira.
Karena tak ingin menganggu keluarga Pakde Yatno dan tetangga sekitar, jam setengah sepuluh mereka sudah mengemasi peralatan barbekyu dan bersiap untuk tidur. Cowok kebagian di tenda, sementara ia dan Fira mendapat jatah satu kamar di rumah Pakde Yatno. Sebelum tidur Fira sempat curhat tentang hubungannya dengan Reza yang putus nyambung.
"Gue cape, Nggi. Lo tahu sendiri dari jaman kapan."
Fira dan Reza adalah couple goals sejak SMU. Tiap hari Minggu, Reza lebih dulu mengantar Fira ke gereja, sebelum pergi ke sekolah untuk mengikuti kajian rutin Ahad pagi yang diperuntukkan bagi siswa muslim.
Atau Reza menemani Mami Fira berbelanja ke pasar, karena akan mengadakan persekutuan doa di rumah. Pun sebaliknya, Fira tak canggung ikut membantu memasak saat rumah Reza kebagian giliran pengajian ibu-ibu kompleks.
Tapi harapan tak selalu seindah kenyataan. Seiring pertambahan usia dan pengalaman, perbedaan justru semakin menggelisahkan.
"Kayaknya gue mau udahan aja, Nggi. Cape."
Ia yang tak berpengalaman tentang perbedaan jelas tak bisa memberi problem solving apapun meski sekedar kalimat singkat. Yang bisa dilakukan hanya tersenyum menenangkan, "I feel you."
Esoknya setelah sarapan mereka langsung start berjalan kaki menuju Curug Nangga. Sepanjang jalan warga sekitar yang sedang beraktivitas menyapa ramah. Terasa sekali kekeluargaannya. Beberapa abg dengan malu-malu meminta foto bersama Rendra. Yang langsung dikerubuti Bayu, Chris, dan Adit.
"Masa yang diajak foto lo terus sih Ren, kita dianggap apa?" Chris mencibir, membuat semua terbahak.
Setelah melewati jalanan aspal, jalanan berbatu, jalan dari tanah, tanjakan terjal dan turunan, mereka pun sampai di loket yang belum ada petugasnya. Sepertinya karena datang terlalu pagi. Fira sebagai bendahara perjalanan kali ini berjanji akan membayar tiket masuk saat pulang nanti.
Dari loket, kondisi jalan lebih menurun lagi dan berupa jalan batu. Meski begitu, di depan mata sudah terlihat pemandangan yang sangat memukau. Indah sekali, ternyata sekeping surga tersembunyi di balik bebukitan ini. Begitu sampai di sebuah saung kosong di pinggir sawah, barulah terlihat dengan jelas keseluruhan pemandangan menakjubkan.
__ADS_1
"Proudly present...," Bayu merentangkan kedua tangannya bangga.
"Worth it," Rendra geleng-geleng kepala tak ada habisnya melihat lukisan alam menakjubkan berupa curug yang berundak menyerupai tangga hingga ketinggian, juga
areal persawahan terasering-terasering yang berada di lembah hingga ke puncak bukit. "Beautiful..."
Ia ikut terpesona melihat pemandangan yang tersaji, hidungnya menghirup udara segar pegunungan dalam-dalam, menahannya selama mungkin di paru-paru sebelum menghembuskannya lagi.
Sementara Chris mulai sibuk dengan kamera DSLR nya, mengabadikan keindahan Curug yang berundak-undak. Beberapa kali meminta Fira untuk berpose dengan background Curug yang bertingkat.
"Tak ada makan siang yang gratis ini loh," gurau Fira. "Tak ada foto yang gratis ya, inget."
Chris hanya mendecak sambil sesekali memberi aba-aba, "Miring dikit palanya, Fir." atau "Senyum dong," begitu Fira tersenyum, Chris berteriak, "Eh, jangan jangan....mingkem aja mingkem."
Sementara Bayu dan Adit asyik memainkan drone. Dengan drone terlihat jelas pemandangan yang tak bisa terlihat oleh mata. Salah satunya Curug Penganten yang tersembunyi di balik bukit. Tapi sayang, drone tidak bisa mendekat karena terhalang jarak maksimum. Saat sedang asyik memperhatikan Bayu dan Adit sebuah suara mengagetkannya,
"Bagus banget sumpah. Bener-bener liburan yang tak terlupakan," dilihatnya Rendra sudah menggulung celana hingga lutut, dan kini duduk di atas batu besar dengan kaki menggantung di dalam air.
"Ini juga pertama kalinya kesini," ia memang baru pertama kali ke Curug Nangga meski sudah hype lumayan lama.
"Oya?" Rendra manggut-manggut. "Honeymoonnya survival ke tempat-tempat tersembunyi kayak gini atau naik gunung, seru kali ya," sambil mengerling kearahnya.
Namun ia hanya mencibir, karena sedang melepas sneakers dan menggulung celana untuk mengikuti jejak Rendra duduk di atas batu.
"Temen kamu asyik-asyik ya."
Ia setuju, anak-anak Romansa memang selalu mengasyikkan.
"Kebayang gimana indahnya kehidupan kamu," Rendra menerawang. "Keluarga hangat, lingkungan kondusif, teman-teman yang baik," lalu mengerling, "Pantesan kamu terus lari dari aku."
"Bahas itu terus," ia kembali mencibir, merasa kurang nyaman jika Rendra membahas hal yang sama berulang-ulang.
Sementara di kejauhan Chris masih saja ribut berdebat dengan Fira tentang pose pengambilan gambar. Bayu dan Adit juga masih asyik bermain drone.
"Jadi...siapa yang mau mukul kamu di parkiran?" ia memberanikan diri bertanya setelah mereka berdiam diri cukup lama.
"Temennya si Harsa."
"Harsa itu...yang gelapin dana ManjoMaju?"
Rendra mengangguk. "Karena jumlah yang diambil nggak kira-kira, aku sama Rakai sepakat libatin kepolisian."
"Dia...ditahan?"
"Mau nggak mau masuk pidana," lagi-lagi Rendra mengangguk. "Awalnya kita pakai cara kekeluargaan, tapi ternyata udah nggak ada yang bisa diambil. Jaminan juga nggak ada. Mana anaknya ngilang-ngilang terus," Rendra menghembuskan napas berat.
"Tapi kamu udah punya pengacara yang bagus? Terus dari pihak keluarga Harsa nggak ada yang bisa menjamin gitu? Tukar guling kek."
Rendra tersenyum, "Semua udah beres kok," tapi matanya menyiratkan kelelahan.
"Syukur kalau udah beres. Kamu bisa konsen ngerjain skripsi...."
"Kamu takut skripsiku molor yaaa....," Rendra kembali ke versi jahil. "Udah nggak sabar nih mau dipinang Abang?"
"Bukan gitu maksudnya," ia mengkerut. "Skripsi kan salah satu project besar di hidup kamu, perlu effort yang besar. Sementara kalau kamu juga ada masalah lain yang lebih besar, menguras energi, kan jadi mendistraksi pikiran. Jadi nggak maksimal. Jadi...."
"Ahhh," Rendra memegang dada dengan kedua tangannya. "Perkataan adinda terasa sejuk sekali di dada Abang...."
Membuatnya tak jadi melanjutkan kalimat. "Kamu nih ya...becandaaa mulu...kapan seriusnya sih?"
"Woiii! Jangan pacaran mulu!!!!" teriak Adit dari tingkat dua Curug. Wow, ternyata Bayu dan Adit sudah berdiri di depan Curug. Sementara Chris dan Fira sedang mencoba menyeberangi sungai yang airnya cukup deras.
"Mau kesana?" Rendra mengulurkan tangan.
Dengan berpegang erat pada lengan Rendra, mereka berusaha mendekati curug lebih dekat, dengan menyeberangi sungai melewati batu cadas yang membentang selebar sungai. Tidak ada jembatan atau tali pegangan hingga mereka benar-benar harus hati-hati. Beberapa kali kakinya hampir terpeleset, untung Rendra bisa cepat meraihnya agar tak terjatuh ke sungai.
Sementara mereka masih susah payah menyeberang, Chris dan Fira sudah sampai ke tingkat 2, Bayu dan Adit malah sudah sampai di tangga Curug yang ketiga.
Ia semakin erat mencengkeram lengan Rendra karena takut melewati derasnya air sungai. Setelah melewati batu cadas yang pas untuk berjalan, akhirnya sampai di seberang. Tapi untuk naik ke tingkat atas, mereka harus melewati jalan setapak yang dipenuhi semak dan duri.
"Kita disini aja ya," Rendra melihat kakinya yang tak memakai alas. "Ntar kena duri lagi."
Ia mengangguk setuju. Sambil terus berpegangan ke lengan Rendra, ia memperhatikan Chris dan Fira yang terus naik ke tingkat selanjutnya. Sementara Bayu dan Adit sudah sampai di tingkatan paling atas. Dengan berdiri di bibir tebing, mereka berdua berteriak penuh kepuasan.
"Wohoooo!!!!!"
"Yuhuuuuuuu!!!!"
'You are just too young to find the
Senses in your life
Looking for something else like the
Dream that you have
Filled your life with something
Else like teardrop in your eyes
Who does care what you are while
The river flows in you?
You are not the fool, no
You're a beautiful one
You are like the sun
Cause this one river flows in you
You are not the no one
You just look for more here
Who does care because you are the one with it inside'
(Yiruma, River Flows in You)
__ADS_1