
Readers tersayang banyak yang kangen Dio ya 🤗
Penasaran ngapain aja Dio di Jepang 😍. Ini author sisipkan sedikit cerita tentang Dio disana.
Maafkan kalau bahasa Jepangnya belepotan, gomennasai 🤧🙏🙏, jika ada penulisan atau pemakaian bahasa Jepang yang kurang tepat silahkan correct me if i'm wrong 😚🤗, feel free ya jangan sungkan 😚 author akan senang sekali 🤗.
Oya, disini dialog bahasa Indonesianya juga kaku ala-ala terjemahan. Jadi, karena ceritanya emang Dio disana full komunikasi pakai bahasa Jepang 😍🤗.
Happy readings Dio mania 🤗🤗.
**************************************
Dio
Begitu menginjakkan kaki di Tokyo Haneda Airport, ia langsung menemukan sosok Mas Rio diantara puluhan orang yang menunggu di Arrival Halls. Mereka langsung berpelukan tanpa berkata-kata. Beberapa kali Mas Rio menepuk pelan punggungnya sebagai tanda saling menguatkan. Ini menjadi pertemuan pertama mereka setelah kejadian tragis yang menimpa Ayahbunda. Mereka pun berjanji untuk saling mengunjungi.
Minggu pertamanya disibukkan oleh urusan administrasi dan orientasi. Sebagai gaijin (orang asing) yang akan menetap, ia harus mendaftarkan alamat ke city hall (balai kota), mengurus asuransi kesehatan, dan melaporkan diri agar tidak dikenai pajak pensiun Jepang. Karena statusnya sebagai pelajar (dianggap belum memiliki pendapatan tetap). Setelah ketiga prosedur selesai dilakukan, ia baru bisa mengurus rekening bank untuk menerima uang beasiswa.
Minggu kedua ia mulai mengunjungi kampus utama Tokyo Tech di Ōokayama yang terletak di tengah kota, tak jauh dari pemukiman penduduk. Dengan gedung-gedung yang jaraknya saling berdekatan. Semua dapat dicapai dengan berjalan kaki. Deretan pohon sakura yang banyak tumbuh di sekitar kampus dan bangku-bangku di bawah pohon, seakan turut menyambut kedatangannya.
Untuk pertama kali pula ia bertemu dengan Sensei computer science, Sensei Hiroshi Nakayama, yang akan menjadi pembimbing risetnya selama satu tahun ke depan, juga teman-teman satu lab. Saat acara orientasi dan perkenalan, ternyata ia menjadi satu-satunya gaijin di lab, sisanya orang Jepang semua.
"Hajime mashite, Dio Kamadibrata to mooshi masu. Indonesia kara kimashita. Doozo yoroshiku onegai shi-mashu."
(Perkenalkan, nama saya Dio Kamadibrata, dari Indonesia. Mohon bimbingannya)
"Rabo ni youkoso, ganbatte kudasai, ganbare."
(Selamat datang di lab kami, selamat berjuang, bekerja keraslah)
"Hai wakarimashita. Domo arigatou gozaimasu."
(Ya, saya mengerti. Terima kasih banyak)
Dan It's already been tiga bulan lebih ia berada di Tokyo. Kalau masih ngampus di Bandung, sekarang sedang banyak-banyaknya tugas jelang UAS. Masa-masa tidur 3 jam sehari. Dan kalau esok hari ada kuliah pagi, sekelas berubah menjadi zombie semua. Kesenggol dikit langsung bacok, alias emosi jiwa.
Atau nugas kerkel ramean bersama anak-anak sekelas. Sengaja tidur di sekre karena kepagian kalau harus pulang ke kost. Atau tak sengaja ketiduran di McD Sidag saking ngantuknya sampai harus dibangunkan oleh akang McD dan disuruh pindah tempat.
Atau ngelapak di sudut favorit warunk cozy 24 hours yang banyak bertebaran di sekitar kampus. Semua kechaosan itu ternyata ngangenin juga. Entah kangen suasana kampus, teman-temannya, atau....kangen dengan seseorang yang tertinggal disana. Cos he's silently loving her, still.
Malam ini sepulang dari lab, ia sengaja mampir ke supermarket besar. Berniat membeli beberapa bahan makanan. Untuk menyambut Mas Rio dan calon istrinya yang rencananya besok akan datang berkunjung.
"Kita makan diluar aja," begitu kata Mas Rio.
Tapi sebagai tuan rumah, ia tentu ingin menyediakan sedikit jamuan. Sekalian memamerkan kemampuan memasaknya yang meningkat tajam sejak tiga bulan terakhir.
Ya, untuk bertahan hidup, ia memilih memasak sendiri daripada membeli makanan di luar. Jauh lebih hemat dan murah. Ditambah tadi pagi sempat mengecek isi kulkas yang ternyata kosong melompong. Intinya adalah memang sudah waktunya belanja bulanan.
"Irasshaimase (selamat datang)!" begitu sambutan yang didapatnya saat memasuki supermarket.
Ia langsung memilih ayam, telur, sayuran, bumbu-bumbu dapur, tisu roll, beberapa keperluan kamar mandi, dan es krim Hagen Dasz yang sedang diskon. Ia juga sempat melihat-lihat booth di depan supermarket yang menjual CD original musik dengan harga sangat miring. Hampir tergoda untuk membeli First love nya Utada Hikaru, namun masih bisa ditahan setelah ingat banyak kebutuhan lain yang lebih utama, lagipula lagu tersebut sudah masuk di playlist Spotify nya.
Dari Supermarket ia berjalan kaki menuju Stasiun Ookayama untuk naik densha (kereta listrik Jepang) ke Stasiun Nagatsuta, lalu jalan kaki sejauh kira-kira 1,5 km menuju asramanya.
"Sumimasen… Kippu o kaitai desu keredemo, kono denshiki tsukaikata wakarimasen, tetsudau site itadakemasenkan?” tanya seorang nenek yang sedang kebingungan.
(Maaf… saya ingin membeli tiket tapi tidak tahu cara menggunakan mesin tiket ini bisakah anda membantu saya?)
Karena tak ada orang lain yang lebih dekat, ia pun bertanya, "Do no eki ni ikitaidesu ka?"
(Anda ingin pergi ke Stasiun mana?)
"Nagatsudaeki."
(Stasiun Nagatsuta)
Ia membantu memasukkan uang kertas sang nenek ke tempat uang kertas, lalu menyentuh berapa nilai tiket yang diinginkan pada layar, keluarlah tiket yang diminta dan juga uang kembalian dari mesin tersebut.
"Arigatou gozaimasu. Totemo tasukarimashita."
(Terima kasih banyak. Saya sangat terbantu).
"Ie...ie....daijobudesu."
(Sama-sama, tidak apa-apa).
Kereta yang menuju stasiun Nagatsuta akhirnya datang, ia harus berdiri berbaris membentuk antrian untuk masuk ke dalam kereta bersama calon penumpang lainnya.
Di dalam kereta tidak banyak yang bercakap-cakap, masing-masing diam karena tidak saling mengenal dan sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ia memilih mendengarkan Spotify sambil mengecek beberapa email yang masuk.
'You are always gonna be my love
itsuka darekatomata koiniochitemo
i'll remember to love
you taught me how
you are always gonna be the one
imawa madakanashii love song
atarashi uta utaerumade'
(Utada Hikaru, First Love)
“Nagatsuta de gozaimasu...Nagatsuta de gozaimasu…"
(Stasiun Nagatsuta....Stasiun Nagatsuta)
Suara masinis kereta mengingatkan bahwa kereta sudah sampai di Stasiun Nagatsuta. Pintu kereta terbuka otomatis. Saat masih mengantri untuk keluar, ia melihat nenek yang tadi kesulitan membeli tiket masih duduk di kursinya. Dengan terburu-buru ia menghampiri, "Nagatsudaeki ni tsukimashita."
(Kita sudah sampai di Stasiun Nagatsuta).
Sang nenek tampak terkejut, rupanya dia tak menyadari jika kereta telah sampai di tujuan. Akhirnya dengan dibantu olehnya, mereka menjadi orang terakhir yang keluar sebelum pintu kereta tertutup otomatis.
Ternyata rumah nenek Shimada -begitu namanya- hanya selisih dua blok sebelum asramanya. Ia pun memutuskan untuk mengantar nenek Shimada sampai ke rumah, sekalian lewat. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan banyak hal.
"Kupikir kau orang Jepang."
"Bukan Nek, Saya orang Indonesia."
__ADS_1
"Sebelah mananya Bali?"
Ia kembali harus menerangkan hal yang sudah berkali-kali diterangkan kepada tiap orang Jepang yang bertanya tentang Indonesia sebelah mananya Bali.
"Wajahmu tidak seperti orang Indonesia. Dan bahasa Jepangmu sangat bagus."
Ia hanya tersenyum malu mendengar pujian dari nenek Shimada.
"Nenek darimana pergi sendiri, apa tidak ada yang mengantar? Apa selalu tersesat seperti ini?"
Lalu nenek Shimada bercerita bahwa ia sedang kangen sekali dengan anak dan cucunya yang tinggal di Takoyama, lalu nekat mengunjunginya sendiri.
"Biasanya aku diantar, tapi akhir-akhir ini dia sibuk sekali, tak ada waktu untuk mengantarku."
"Lain kali nenek bisa tunggu diantar. Daripada tersesat seperti tadi," ujarnya sehalus mungkin, tak ingin dianggap sok tahu. Karena nenek Shimada tadi bercerita, sempat tersesat dan salah turun di Stasiun Okayama.
"Ya, aku memang tak sabaran," nenek Shimada terkekeh.
Setelah berjalan kaki selama hampir 25 menit, mereka sampai di depan sebuah rumah dengan halaman luas. "Ini rumahku, ayo mampir dulu."
"Terima kasih nek, mungkin lain kali, ini sudah terla....", kalimatnya terpotong di udara bersamaan dengan pekikan seorang perempuan yang keluar dari dalam rumah.
"Oobasan (nenek)...darimana saja, aku mencarimu dari tadi!" sambil berlari menghampiri dan langsung memeluk nenek Shimada. "Aku sangat mengkhawatirkanmu."
Nenek Shimada terkekeh, "Aku kangen sekali dengan Meguri dan Yuriko..."
"Ya ampun, kau pergi ke tempat mereka?! Astaga! Harusnya kau bisa menungguku. Aku akan mengantar kemanapun kau pergi."
"Yang benar saja. Akhir-akhir ini bukannya kau sibuk sekali?"
"Tidak untuk nenek. Nenek tinggal bilang padaku...."
Nenek Shimada lalu mengelus lembut punggung perempuan itu. "Oiya, tadi aku sempat salah turun di Okayama, pemuda ini yang menolongku."
Perempuan itu beralih melihat padanya, membuatnya spontan tersenyum mengangguk.
"Gomennasai (maaf). Nenekku telah merepotkanmu."
"Tak masalah," ia masih tersenyum. "Permisi...," ia sedikit menundukkan bahu seperti layaknya orang Jepang ketika hendak berpisah.
Ia segera melupakan kejadian tersebut. Namun sekitar seminggu kemudian, terjadi hal yang paling tidak diinginkan. Saat ingin pulang naik kereta setelah semalaman ngelab, ia baru sadar kalau dompetnya hilang. Kemungkinan besar jatuh sepanjang berjalan kaki dari lab ke stasiun. Ia sempat mencari dengan berjalan kembali di tempat-tempat yang tadi sempat dilewati, tapi tetap tak ketemu. Karena sudah terlalu malam ia pun menyerah, untung di tengah jalan saat menapak tilasi jejak dompet, ia bertemu dengan Yoshikatsu, teman satu lab yang apartemennya tak jauh dari asramanya. Jadi ia bisa meminjam uang untuk membeli tiket pulang.
"Kamu harus cepat lapor polisi."
Ia setuju, karena hampir semua kartu identitas penting ada di dalam dompetnya. Kehilangan dompet saja sudah merepotkan, ditambah kehilangan di negara orang. Besok pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kampus, ia akan mampir ke koban (kantor polisi) terdekat.
Saking capeknya setelah beberapa hari selalu pulang larut malam dari ngelab, usai sholat subuh ia tidur lagi, dan ujungnya adalah kesiangan saudara-saudara. Hanya dengan gosok gigi dan cuci muka ia langsung berlari keluar asrama. Dan langkahnya langsung terhenti begitu melihat seseorang yang berdiri di depan asrama.
"Sumimasen...anata wa Di o Ka ma di bra ta to iu namaedesu ka?"
(Permisi...apakah kamu yang bernama Dio Kamadibrata?)
"Hai...sore wa watashidesu."
(Ya....itu saya).
Dia mengangsurkan sebuah barang yang sangat dikenalnya, "Aku menemukan dompetmu di kampus."
"Aku menemukannya di dekat lab Nakayama."
"Ah, ya ya...pasti terjatuh di sekitar sana," ia tertawa senang. "Sekali lagi terima kasih banyak."
"Sama-sama. Oya, bukankah kau yang pernah mengantar nenekku pulang?"
Ia sampai harus membetulkan letak kacamata agar bisa melihat lebih jelas. Tapi sayang otaknya seakan tumpul tak bisa mengingat apapun.
"Nenek Shimada...kau pernah mengantarnya pulang saat tersesat."
"Oh, ya...ya...," ia tertawa karena akhirnya bisa ingat. "Nenek Shimada. Wah, kebetulan sekali."
"Ya, memang kebetulan sekali. Perkenalkan, namaku Hibiki Shimada."
Hibiki ternyata juga sedang menyelesaikan S1 nya di Tokyo Tech jurusan Chemical Engineering. "Lab ku terletak di paling ujung," terangnya.
Akhirnya pagi itu mereka pergi ke kampus bersama. Begitu juga pagi-pagi selanjutnya, atau malam-malam sepulang dari lab, mereka hampir selalu bertemu. Entah di dalam lingkungan kampus, di kantin, di jalan sekitar kampus, di stasiun kereta, atau saat berjalan dari stasiun menuju asrama.
"Awalnya kupikir kau orang Jepang," ujar Hibiki saat mereka sedang berjalan kaki pulang dari kampus ke stasiun kereta.
"Saya orang Indonesia asli."
"Ya ya, wajahmu sedikit berbeda dengan orang Indonesia yang kukenal. Beberapa teman lab ku ada yang berasal dari Indonesia. Mereka dari...Sur a ba....."
"Surabaya?"
"Ya ya, benar, Surabaya. Ada juga dari mana itu susah disebut."
Ia tertawa.
"Wajahmu lebih mirip orang Korea dibanding Asia Tenggara."
Kali ini ia tergelak. Yang nggak nggak aja Hibiki. Ia jelas orang Jawa asli, ora ngapak ora kepenak, masa dibilang mirip orang Korea.
"Tapi waktu aku menemukan dompetmu, kulihat namamu aneh, sama sekali bukan nama orang Korea."
Ia kembali tertawa.
"Apa kau selalu tersenyum dan tertawa seperti ini?"
Ia memandang Hibiki heran, "Maksudnya?"
"Kau memiliki wajah yang tersenyum. Sedang marah pun kau mungkin terlihat seperti sedang tersenyum. Apalagi tertawa seperti ini, kau jadi terlihat lebih tampan."
Well, sepertinya Hibiki salah lihat atau sedang sakit mata, karena baru kali ini ada cewek yang berani terang-terangan menyebutnya tampan secara langsung. "Sepertinya matamu terganggu," selorohnya.
"Tidak tidak tidak, aku tak salah, kau memang tampan."
Atau memang begini cara berkomunikasi cewek Jepang, to the point tanpa tedeng aling-aling.
Dan setelah kejadian Hibiki menemukan dompetnya, nenek Shimada beberapa kali mengundang ke rumah untuk sekedar minum teh atau mencicipi kue buatannya. Ia pun sebisa mungkin memenuhi undangan nenek Shimada. Selain sebagai bentuk penghargaan, ia jadi bisa silaturahmi sekaligus mencicipi kue-kue khas Jepang buatan nenek Shimada yang luar biasa lezat.
Seperti hari ini, tepat tanggal merah di hari libur nasional, nenek Shimada kembali mengundangnya untuk minum teh dan makan siang. Sebagai anak rantau yang harus efektif dan efisien dalam mengatur keuangan, undangan makan siang tentu tak boleh dilewatkan. Usai makan siang dan berbincang sebentar, ia pamit pulang dengan Hibiki yang mengantarnya sampai halaman.
__ADS_1
"Dio..."
"Ya?"
"Waktu aku menemukan dompetmu dan melihat isinya...."
Ia tersenyum menunggu kelanjutan kalimat Hibiki.
"Maaf, waktu itu aku harus memeriksanya untuk menemukan kartu identitasmu."
"Tak masalah."
Hibiki memandangnya ragu, "Aku...melihat beberapa foto di dalam dompetmu."
Ia tersenyum, "Foto keluargaku."
"Apakah foto dua orang perempuan yang memakai baju tradisional juga keluargamu?"
Ia tercekat.
"Senyum perempuan yang lebih tua memang sangat mirip denganmu. Tapi perempuan yang satu lagi....kalian sama sekali tak mirip untuk disebut saudara. Aku tak melihat dirimu disana."
Ia menelan ludah sebelum menjawab, "Itu foto almarhumah ibuku...."
"Maaf aku tak tahu kalau ibumu sudah meninggal..."
"Tak apa," ia tersenyum. "Ayah ibuku meninggal karena kecelakaan lalu lintas."
"So sorry to hear that...."
"Never mind," ia tersenyum menenangkan. Kepergian Ayahbunda sudah dalam taraf diikhlaskannya.
"Lalu gadis di sebelah ibumu....siapa dia?"
"Dia.....'kekasihku'."
Mata dan mulut Hibiki membulat menandakan keterkejutan. Beberapa saat dia hanya terpana memandangnya. Hingga akhirnya berkata, "Tolong sampaikan salamku padanya...dia benar-benar gadis yang sangat beruntung...."
Ya, Anggi memang gadis yang sangat beruntung, ia setuju itu. Karena beberapa hari sebelumnya Bayu sempat mengechatnya.
Bayu. : 'Oi, bruh, kemane aje nggak pernah nongol di grup. Fira sama Anggi kangen tuh.'
Dio. : 'Sori man. Lagi adaptasi.'
Bayu. : 'Bruh, bener lu udah putus?'
Dio. : 'Nape?'
Bayu. : 'Kata Fira, Anggi udah jadian sama katingnya.'
Bayu : 'For sure?'
Bayu : 'Lu lepas gitu aja setelah selama ini?'
Bayu. : 'Think twice man.'
Hanashite okitainda
(Saatnya ku berkata)
Kitto Kore ga saigosa
(Mungkin yang terakhir kalinya)
Subete tebanashite shimaou
(Sudahlah lepaskan semua)
Sore ga ima dato omounda
(Kuyakin inilah waktunya)
Kimi wa kawatte shimattandarou
(Mungkin saja kau bukan yang dulu lagi)
Ai wa kiete shimattandarou
(Mungkin saja rasa itu telah pergi)
Moshimo mata itsuka
(Dan mungkin bila nanti)
Bokura ga deau nara
(Kita kan bertemu lagi)
Onegai dakara mou nanimo kikanai de
(Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali)
Kinou made koko ni atta
(Rasa yang ku tinggal mati)
Kimi e no ai wa
(Seperti hari kemarin)
Okizari ni shitekita kara
(Saat semua di sini)
(Ariel Noah feat Ariel Nidji, Moshimo Mata Itsuka)
****
Catatan :
Moshimo mata itsuka. : mungkin bila nanti
__ADS_1