
Anggi
Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang dialaminya. Rentetan kejadian di luar dugaan yang bergerak cepat dalam waktu singkat, dan sederet kalimat mengharu biru yang diucapkan Rendra mendadak membuat kinerja otaknya tumpul.
Tapi sebelum benar-benar pergi, impulsnya bekerja cepat dengan memuntahkan seluruh kegundahan yang membuat kepalanya hampir meledak.
"Mungkin kamu belum tahu, kalau cinta itu berjuang sama-sama sampai akhir. Bukan indah di awal terus tiba-tiba pergi ninggalin luka kayak gini."
Rendra menggelengkan kepala sambil menunduk menekuri kemudi.
"Aku nggak tahu sebesar apa masalah yang kamu hadapi, karena meski aku berkali-kali bilang 'we going through', tapi kamu tetep nggak mau terus terang."
"Mungkin kamu pikir aku nggak mampu, nggak capable, nggak bakalan bisa ngadepin masalah sama-sama."
"Ini yang terbaik buat kamu," Rendra memandangnya dengan mata penuh luka. "Kamu bakalan lebih sakit kalau kita terus sama-sama ...."
Membuatnya mencibir, "Harusnya dari dulu aku dengerin kata-katanya Bram."
"Bram?" Rendra mengernyit. "Siapa?"
"Bram pernah bilang ke aku, jangan sampai nangis kalau deket-deket Rendra, harus tahan banting," memori di kepalanya mendadak memutar adegan saat ia sedang menunggu Rendra mengambil hampers dari Dio berbulan-bulan lalu.
"Aku dulu bodoh banget, sampai nggak ngerti maksud kalimat Bram," ia tertawa sumbang. "Sialnya baru sekarang aku sadar. Too late ...."
Rendra tak menjawab, tapi rahang kokoh itu terlihat semakin mengeras.
"Makasih untuk semuanya selama ini. Makasih udah bantu aku jadi orang yang mandiri, sampai bisa mobile ke mana-mana kayak sekarang."
Rendra menatapnya sambil menghela napas.
"Makasih juga udah ngebuka cakrawala di kepalaku tentang tipe cowok ...." Ia harus menelan ludah sebelum melanjutkan, tak mampu melontarkan kata brengsek kepada orang yang diam-diam mulai dicintainya itu.
"Yang harus dihindari jauh-jauh ... yang kayak kamu!"
Rendra mengembuskan napas berat.
"Kamu mau putus, oke ... aku setuju," ia harus menguatkan diri agar suaranya tak terdengar terlalu bergetar saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Tapi satu aku minta," ia memberanikan diri menatap manik Rendra yang semakin jelas menampakkan luka. "Nggak ada nyesel-nyeselan, nggak ada maaf-maafan," ia harus berhenti sejenak sebelum mencibir, "Nggak ada speak-speak iblis lagi!"
Lalu keluar dari mobil sambil berkata, "Kita putus!"
BRUG!
Dibantingnya pintu mobil sekeras mungkin untuk meluapkan sesak di dada. Berusaha cepat membuka gerbang Raudhah, lalu berlari melintasi halaman, dan buru-buru masuk ke dalam.
Suasana temaram ruang tamu tanpa satupun penghuni Raudhah yang terlihat, membuatnya menyandarkan punggung di balik pintu karena lelah, dan tanpa bisa ditahan lagi, air mata kembali luruh membanjiri kedua pipinya.
Entah berapa lama ia bersandar di balik pintu ruang tamu, hingga suara ceklekan pintu kamar yang hendak terbuka menyadarkannya untuk segera menyusut air mata yang masih tersisa. Sebelum berjalan menuju kamar, ia sempatkan diri untuk mengintip dari balik jendela, dan mendapati mobil Rendra masih terparkir di depan gerbang Raudhah dalam keadaan mesin mati. Ya ampun, Rendra belum pergi juga.
Sepasang lampu sorot mobil yang datang dari arah berlawanan berhasil menerangi kabin yang gelap, menampakkan bayangan seseorang yang juga sedang melihat ke arah jendela. Tap! Mata mereka bertautan selama sepersekian detik, tapi harus terputus karena seseorang menyapa,
"Kamu ngintipin siapa, Nggi?" Naila bertanya heran sambil ikut memperhatikan keluar jendela.
Membuatnya menggeleng dan buru-buru membalikkan badan menuju kamar, "Enggak Mba ...." Jawabnya sambil setengah berlari, tak mempedulikan Naila yang menatapnya bingung.
****
Apa semalam ia bermimpi buruk? Sungguh berharap demikian. Sepagian ini berusaha menganggap semua baik-baik saja. Tapi kiriman chat 'Gud mowning sweetie, mau dibawain sarapan apa?' tak lagi diterimanya.
Atau 'Kita ketemuan di Perpus jam 8 ya, temenin nyekripsi.' juga tak ada. Oh ya, ia lupa kalau Rendra sudah lulus sidang.
Atau modus 'Tolong jemput aku di Stadion dong, nggak bawa kendaraan nih.'
Atau 'Jalan yuk, boring bet.'
Atau chat random 'How i miss you' yang membuatnya senyum-senyum sendiri di dalam kelas.
Jelas otaknya mulai error, bahkan Mala sampai harus menepuk bahunya berkali-kali saat mereka sama-sama sedang mengerjakan tugas kerkel di Digilib, "Nggi, denger nggak sih, ngelamun aja!"
"Ah, payah, gue ngulang dari awal dong?" gerutu Rayyan sang ketua kerkel. "Fokus dong Nggi!"
Usai kerkel sambil menunggu kuliah selanjutnya, Mala mengajak makan di kantin, namun siomay yang selalu menjadi favoritnya, sejak tadi hanya dibolak balik dengan sendok, tak dimakan sedikitpun.
"Lo kenapa sih? Sakit?" Mala mengernyit. "Mata lo sembab gitu. Habis nangis?"
Ia tak menjawab, menunduk memandang piring siomay dengan tatapan kosong, sementara pikirannya melanglang buana entah kemana.
"Nggi?!" Mala merengut. "Kok cuek gitu sih."
Ia mendongak memandang Mala sambil berujar lemah, "Gue diputusin lagi Mal..."
"Diput....APAH?!?" Mala melotot sampai bola matanya seperti hendak keluar.
"Ssst!" ia buru-buru meletakkan telunjuk di depan mulut. Mala hampir selalu tak bisa ngontrol suaranya yang menggelegar.
__ADS_1
"Sebentar...sebentar....gimana tadi...apa lo bilang?" Mala mengernyit berusaha memahami ucapan yang dilontarkannya tadi. "Putus?!"
Ia mengangguk lemah.
"Putus gimana maksudnya?" Mala masih tak mengerti.
"Putus ya putus...udahan...selesai...the end!" gerutunya kesal.
"Iya gue tahu," Mala mendecak. "Maksudnya putus sama siapa.....ya ampun," Mala buru-buru menutup mulutnya kaget. "Rendra?!"
Ia hanya menelan ludah.
"Lo putus sama Rendra?!?" Mala setengah histeris. Membuat tangannya cepat bergerak membungkam mulut Mala.
"Sssttt!" gerutunya. "Pelan dikit dong ngomongnya."
Mala mendecak, "Apa gue bilang," lalu menghembuskan napas berat. "Rendra tuh salah banget ngelamar elo di Sendratari. Ya ampun!" Mala menepuk dahinya. "Di tengah-tengah panggung pula. Mana pertunjukan Roro Jonggrang...."
Ia yang awalnya sedang merasa sedih dengan suasana hati yang mengharu biru, jadi mendadak kesal, "For sure? Lo masih ngurusin hal teknis begitu?!"
Mala kembali menghembuskan napas panjang, "Aduh, Nggi, meski gue bukan orang Jawa, tapi gue tahu kisah-kisah di tanah Jawa."
"Kisah apa?" ia jadi mengernyit.
"Kisah pasangan yang datang ke Candi Prambanan pasti bakalan putus, kisah kutukan Bandung Bondowoso buat cewek-cewek yang tinggal di sisi timur candi Prambanan...."
"Ya ampun," ia mendecak. "Lo percaya hal begitu?"
"Lo lupa gue punya Yuri?!"
Ya ampun, anak filsafat yang hobi sejarah itu emang racun banget buat Mala. Acara ngedate mereka bahkan sering diisi dengan membahas tuntas sebuah kisah sejarah. Bener-bener.
"Lo inget Mba Suko yang di Pitaloka?" Mala berucap serius. "Menurut ngana kenapa sampai umur 50 tahun belum nikah nikah?"
Ia mengernyit, "Ya...mungkin belum ketemu jodoh, atau pernah dikecewain orang, atau...."
"Karena Mba Suko menetap disana," potong Mala antusias. "Udah lazim cewek-cewek usia remaja disana itu pada keluar dulu, merantau, atau tinggal di tempat saudara, sampai dapat jodoh, baru balik lagi kesana."
Ia kembali mendecak, "Mal, gue ini pingin curhat abis diputusin, kok malah kita bahas mitos gini sih?!"
"Karena ada hubungannya," Mala menjentikkan jari.
"Gue udah feeling nggak enak waktu lo bilang Rendra ngelamar di tengah-tengah panggung. Ya ampun, cowok se update Rendra apa nggak bisa milih tempat yang lebih netral daripada nyerempet mitos kek gitu."
"Gini ya, di kisah kan Roro Jonggrang nggak bisa bersatu sama Bandung Bondowoso. Nah, filosofinya, mitos putus cinta berlaku untuk semua yang berhubungan dengan Roro Jonggrang."
"Yang rugi kan dia sendiri coba," lanjutnya sambil menggerutu. "Padahal di sana ada buanyak spot romantis yang bisa dijadiin tempat buat propose."
"Sekarang nggak ada angin nggak ada hujan malah begini....," Mala menghembuskan napas panjang. "Padahal kemarin bukannya Rendra ngajakin lo dinner romantis di rooftop. Kok sekarang malah gini?!"
Ia menghela napas lelah. Mendengar penjelasan panjang dan berbelit Mala tentang kisah Roro Jonggrang membuat hasrat curhatnya menguap seketika.
"Masalahnya apa?" Mala sadar telah melenceng terlalu jauh.
"Di luaran sana ada cewek ngenes kek gue nggak sih Mal, dalam waktu kurang dari setahun diputusin sepihak sama dua cowok berbeda...."
Mala membelalak, "Serius Rendra yang mutusin lo?!"
"Dua-duanya alasannya sama 'buat kebaikan kamu sendiri'," ia mencibir. "Kebaikan apa sih Mal, yang ada malah bikin gue jadi tambah insecure gini."
"Atau emang gue yang gampang banget dibegoin cowok...," matanya menerawang sambil menopangkan kepala ke satu tangan.
"Atau gue terlalu lemah, terlalu gampang percaya, terlalu mudah jatuh cinta, terla...."
"Nggi, kalau feeling gue, nggak mungkin Rendra mutusin lo kalau nggak ada sesuatu yang besar di belakangnya," potong Mala.
"Maksudnya?" ia terlalu lelah untuk menangkap makna dibalik kalimat konotasi Mala.
"Rendra pasti punya alasan yang sangat sangat kuat sampai tega mutusin lo."
"Sama kayak Dio...."
Ia mengkerut.
"Dengerin dulu...," Mala mendecak. "Dio yang trauma karena kehilangan orangtua dengan cara tragis, menghasilkan Dio yang nggak mau merasa kehilangan, akhirnya milih mutusin lo," Mala memandangnya yakin.
"Bagi Dio, ngelepasin elo secara sadar, lebih bisa ditolerir daripada kehilangan elo diluar kuasa."
Ia semakin mengkerut.
"Nah, Rendra yang sori...," Mala mengangkat dua jari membentuk huruf V, "Brengsek, ex sinner, player, apalagi?"
Ia menggeleng.
"Ketemu elo yang unik, galak, nggak bisa di sepikin, ngeselin...."
__ADS_1
Ia memutar bola mata.
"Bikin dia kolaps, membuka matanya sama a whole new world, susah payah didapetin, harus menempuh jalan berliku sampai bisa jadian."
"Dia tahu kalau tetep megang elo, bakalan luka dua-duanya. Jadi....Rendra lebih milih lepasin elo, buat ngelindungin elo biar nggak terluka....."
Ia mendecak, "Lo ngomong apa sih Mal....gue beneran nggak ngerti? Bisa pakai bahasa yang lebih sederhana nggak? Bahasa umum?" gerutunya sambil menghembuskan napas berat.
"Gue tebak, Rendra punya masalah besar yang bisa bikin lo terluka kalau kalian tetap bersama."
"Rendra nggak mau ngelukain elo, jadi dia milih lepasin lo duluan...."
Ya, masalah besar yang tak pernah Rendra ceritakan padanya. Masalah yang telah merubah wajah penuh optimis Rendra menjadi lelah tak berkesudahan. Masalah sebesar apa sih yang Rendra sembunyikan darinya? Bukankah mereka bisa sama-sama menghadapinya?
Malam hari usai holaqoh rutin di ruang tengah, ponselnya menggelepar tanda ada panggilan masuk. Panggilan video dari...
"Assalamualaikum, anak wedok (anak perempuan) kesayangan Papah, lagi apa nih?"
"Papah?" ia jelas kaget, karena dua hari lalu mereka baru saja video call an. Biasanya seminggu sekali mereka video call an. "Wa'alaikumsalam, baru selesai holaqoh Pah. Ada apa Pah? Mamah mana?"
"Mamah masih di kamar mandi, bentar lagi kesini."
Ia manggut-manggut. "Kenapa Pah vidcall lagi...kemarin kan udah?"
Papah menghela napas sebelum angkat bicara, "Barusan Rendra kesini....ini baru banget pulang."
Ia tercekat. Ya ampun, itu orang.
"Dia ngembaliin kamu ke Papah."
Kalimat papah membuat dadanya nyeri, hampir tak bisa bernapas.
"Dia juga maaf selama ini masih banyak salah dan khilaf. Minta maaf kalau udah memperlakukan kamu dengan kurang baik. Minta maaf semuanya..."
Kini matanya mulai memanas.
"Ya sudah, Papah bilang, ya sakarepmu (terserah kamu), wong kalian yang menjalani, Papah nggak bisa maksa toh."
"Kalau memang udah nggak bisa dilanjut...ya ndak papa. Namanya hubungan pasti ada pertemuan, ada perpisahan. Lha wong kalian ini masih sama-sama muda. Kalau memang jodoh ndak bakalan kemana-mana...."
"Yang penting Rendra udah nunjukkin rasa hormat ke orangtua, ngregani wong tuwa (menghargai orang tua). Dulu waktu minta kamu ke Papah secara baik-baik....sekarang ngembaliin juga baik-baik. Yo wis cukup kayakuwe (ya sudah cukup begitu)."
"Nah, sekarang, kalau Papah boleh saran...kamu selesaiin dulu kuliah, kalau udah beres, baru mikir yang lain. Jangan sampai hal-hal kayak begini ngganggu kuliah kamu."
"Nggih (baik) Pah....."
"Yo wis (ya sudah), Papah cuman mau ngomong begitu. Sehat disana?"
Ia mengangguk lemah, "Sehat Pah...alhamdulillah..."
"Nah ini Mamahmu udah keluar dari kamar mandi...."
Lalu layar berganti menampilkan wajah Mamah. Belum juga Mamah bicara, air matanya sudah berdesakan keluar tak mampu ditahan lagi, terisak-isak di depan layar ponsel.
Mamah tersenyum menenangkan, "Nangis sampai lega....Mamah tungguin...."
Membuatnya semakin terisak.
Dua hari kemudian, satu per satu dari banyak pertanyaannya mulai terjawab. Berawal di rapat terakhir LPJ HMJ, yang semula ngobrolin sekitaran kampus akhirnya berujung ke kasus yang lagi ramai. Kasus?
"Kasus apa? Kok gue nggak tahu?" tanyanya heran.
"Nih, ada di portal berita online," tunjuk Sigit ke layar ponsel.
Digrebek! Puluhan mahasiswa pesta narkoba di dalam rumah.
Begitu judul yang sangat bombastis.
Jogja - Sebuah rumah di kompleks perumahan elite xxxxxxx yang dijadikan tempat pesta sabu oleh puluhan mahasiswa digrebek petugas, Sabtu (9/2).
Dua belas pemuda yang merupakan mahasiswa aktif dari berbagai universitas ternama di kota Jogja, diamankan saat penggrebekan. Tidak ada perlawanan yang berarti, namun, mereka mencoba menyulitkan petugas dengan tidak mengaku telah mengkonsumsi sabu. Setelah dilakukan penelusuran, tujuh orang mengaku mengkonsumsi narkoba.
Para tetangga pun terkejut dengan kejadian tersebut. Banyak yang tidak mengira, mahasiswa yang keluar masuk rumah itu sedang melakukan pesta narkoba.
"Memang banyak anak muda yang keluar masuk di rumah itu Mas, saya kira kerja kelompok," ucap Ketua RT setempat.
Untuk diketahui, rumah tersebut adalah milik SD (24th), mahasiswa berprestasi yang juga dikenal sebagai entrepreneur muda. Meski pada saat penggrebekan SD tidak berada di tempat, namun petugas memastikan akan tetap memanggilnya untuk dimintai keterangan. (add/dar)
"Gosipnya anak sini," ujar Sigit. "Mapres tahun berapa kira-kira..."
"Ndi ono mahasiswa nduwe omah nang perumahan elite (mana ada mahasiswa punya rumah di perumahan elite)."
"Loh di berita kan dikenal sebagai entrepreneur muda."
"Sopo yo (siapa ya) entrepreneur muda sukses disini? Cah Fekon iki mesti (anak Fekon ini pasti)."
__ADS_1
"Cah-cah jurusan elite biasane (anak-anak jurusan elite biasanya)."
Ia tak mampu lagi mendengar obrolan anak-anak, lebih memilih keluar ruangan untuk menghirup udara segar. Sulit dipercaya, alamat rumah yang tertulis di portal berita online persis seperti alamat rumah Rendra. Dan inisial pemilik rumahnya adalah SD, Syailendra Darmastawa?