
Rendra
Ia memasang senyum lebar dari telinga ke telinga, sepanjang jalan pulang menuju unitnya.
"Tatatatata!!!" ia mendemonstrasikan gaya menembak melalui senjata laras panjang kearah Aris, security apartemen yang sedang berdiri di sekitar lobby.
"Seneng banget, Bang, habis dapat proyek gede nih pastinya," Aris mengernyit heran melihat tingkah lakunya yang melebihi anak kecil.
"Lebih dari proyek dooong," selorohnya sambil kembali mendemonstrasikan gaya menembak, kali ini ia membayangkan sedang memegang Glock 20.
"Ciuciuciu!!" lalu mengarahkannya ke security lain yang kebetulan sedang ada di lobby juga.
Aris hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurdnya, "Saiki iso nggaya ngono, ngko nek ono wartawan teko langsung kabur meneh (sekarang bisa bergaya begitu, nanti kalau ada wartawan kabur lagi)," seloroh Aris.
Pasti karena ingat kejadian kemarin dan beberapa hari terakhir saat ia lari lintang pukang hanya demi menghindari para wartawan yang menunggu di lobby.
"Ojo macem-macem kowe (jangan macam-macam kamu)," ia pura-pura menggertak.
"Esih pengin urip ora (masih mau hidup nggak)?!" lanjutnya diikuti gelak tawa mereka berdua. Benar-benar absurd.
Dan sepanjang jalan dari lobby, lift, hingga lorong. Ia tak henti menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya, meski tak saling mengenal. Membuat beberapa mengernyit heran, bahkan ada yang lari ketakutan demi melihat 'keramahan berlebihnya'.
"Siang, Om...."
"Siang, Tante...."
"Halooo adiiik...."
"Eh, kakak...kakak....hati-hati....."
"Mari, Pak...."
"Monggo, Bu....."
Sepertinya nadi di sekujur tubuh mengalirkan darah lebih cepat. Membangkitkan perasaan senang dan tenang. Membuatnya merasa telah memiliki Anggi sebagai kekasih hati dengan seutuhnya. Menyisakan kebahagiaan yang begitu mendalam.
Namun perasaan membuncah langsung sirna seketika begitu ia masuk ke dalam apartemen. Apalagi setelah melihat wajah Rakai yang seolah memakinya, "Brengsek lo, turun ke bawah apa naik gunung sih, lama amat!!"
Ia hanya mencibir ke arah Rakai. Setelah melepas topi dan kacamata hitam. Ia mencoba mendudukkan diri di kursi. Namun sama sekali tak menduga dengan datangnya sebuah gerakan yang bahkan tanpa bayangan,
"PLAK!! PLAKK!!"
Yang berhasil membuat kepalanya terlempar ke kiri dan ke kanan sebanyak dua kali. Keras, pedas, pedih, menyakitkan, sekaligus asin. Sepertinya darah sudah mengucur dari salah satu sudut bibirnya. Luka bekas pukulan bertubi-tubi Bayu tempo hari yang baru mengering, kini kembali terkoyak.
"Amang!" Rakai dengan gesit menerjang berusaha melindunginya. "Jangan Amang!"
"PLAK!!!"
Tapi pria tua itu jelas sedang menunjukkan pengalaman dan kekuasaannya. Dengan kembali melayangkan tamparan keras melewati Rakai yang sigap menjaganya.
"Amang!" Rakai mengangkat kedua tangan berusaha memohon.
"Jangan Amang! Rendra udah babak belur dipukuli orang. Jangan. Tolong."
"Biar, Bang!" ia mendesis sambil mengusap darah yang deras mengucur. "Mungkin dia ingin tahu rasanya membunuh darah daging sendiri!"
"PLAKK!!"
Tamparan keempat terasa paling keras, menyakitkan. Sekaligus memecahkan pembuluh darah halus di dalam hidung. Hingga terjadi perdarahan. Membuat pandangannya sedikit kabur dan kepala berkunang-kunang.
"Amang, maafkan Rendra Amang, tolong," Rakai kembali memohon. "Ini bukan sepenuhnya salah Rendra. Ini...."
"Duduk!" perintah Papa tegas.
Membuat Rakai sigap mendudukkan diri di kursinya. Sementara ia masih berdiri nyalang sambil mengusap darah yang mengucur dari hidung. Berniat melawan.
"Punya otak dipakai! Mikir!"
Ia hanya mencibir sambil membuang muka.
"Bodoh dipiara!!"
Ia hendak menjawab, "Ah elah, bodohnya gue nurunin siapa? Elo lah!" tapi hanya dalam hati. Nyalinya tak sebesar itu.
"Perang itu bukan banyaknya pertempuran dan kemenangan yang kau peroleh! Tapi perang itu ngalahin musuh tanpa perang!! Bloon!!!"
Ia menggeletukkan gigi marah mendengar teriakan Papa. "Ini gue juga udah tahu keleus."
Mendadak di kepalanya melintas buku Sun Tzu, The Art Of War karangan Sun Zi Bingfa yang sudah berkali-kali dibacanya, seni memenangkan pertempuran tanpa harus bertempur.
"Kau ini masih hijau! Anak baru! Belum ngerti apa-apa! Level kau masih nol!"
"Tapi kau berani nantangin pemain lama tanpa rencana, tanpa strategi, tanpa amunisi! Keterlaluan bodohnya! Bodoh nggak kira-kira!!!"
Rakai berdehem berusaha menengahi, "Begini Amang...."
"Aku belum selesai!"
Karena mulai lelah, ia akhirnya mengalah dengan mendudukkan diri di kursi yang ditariknya jauh-jauh agar tak perlu berseberangan langsung dengan Papa.
"Terus kalau aku bodoh apa pengaruhnya buat Papa?! Toh selama ini Papa nggak pernah ped....."
"Diam!!" suara Papa terdengar semakin marah. "Aku yang bicara! Kau dengarkan!!"
"Begini, Amang....," Rakai tak patah arang berusaha memediasi.
"Belum giliran kau bicara!"
Membuat Rakai langsung mingkem.
"Kau belajarlah dulu yang serius, cari pengalaman, kenali banyak karakter, baru bergerak. Bukan bak bik buk tanpa strategi. Memalukan!!"
"Kau pikir siapa Harsa?! Teman main?! Dia jelas antek pemain lama, mata-mata!" Papa menatapnya sengit. "Ngatasin mata-mata sebego ini!"
"Kau itu ngatasi masalah sama masalah baru yang lebih besar!"
Ia pura-pura tak mendengar semua kemarahan Papa, berusaha menyibukkan diri dengan menyusut darah di hidung sambil mempermainkan mulut ke kanan dan kiri merasakan kebas sekaligus pedih. Sialan, rasa semanis madu menghilang berganti getir.
"Lepasin Harsa!"
"Udah," jawabnya malas.
__ADS_1
"Narkoba?!"
Ia menggeleng.
"Video?!"
Ia hanya menelan ludah.
"Bloon!! Kau itu pebisnis, modal nama baik!"
Kali ini kesabarannya musnah, "Papa pikir dari mana aku nurunin semua kebejatan ini? Dari Pa..."
"Ehm, Ren...," Rakai berdehem memperingatkan. Membuatnya hanya bisa melirik kesal karena gagal meluapkan kekecewaan.
"Cewek itu?"
Ia mendecak, "Akal-akalan Sapta...."
"Kau mau masalah beres atau kau mau hancur?!"
Ia tak menjawab.
"Jam 8 Papa tunggu di...," sambil menyebut nama suite room sebuah hotel bintang 5 di kawasan Laksda Adisucipto. "Rakai..."
"Iya Amang...," Rakai mengangguk hormat.
"Pastikan cecunguk ini datang!"
"Siap Amang!"
Ia hanya mencibir pelan saat Papa berjalan keluar diikuti Rakai yang memelototinya.
Sepeninggal Papa ia berniat membersihkan diri di kamar mandi. Tapi urung demi melihat sesuatu yang berkilau di atas kompor.
"What's the fucking hell going on here?" ia mendecak kesal begitu mengetahui benda yang berkilauan di atas kompor adalah cincin yang pernah diberikannya kepada Anggi saat melamar di Abhayagiri beberapa waktu lalu.
'Bring back this beautiful ring to the owner.'
Begitu bunyi tulisan diatas kertas yang menjadi alas cincin. Dengan sebuah amplop cokelat panjang di bawahnya.
Yang ternyata berisi dua lembar kertas putih, dengan lembar pertama sebuah surat berisi ungkapan hati seseorang, dan lembar kedua surat pernyataan di atas materai.
Ia menggumam pelan sambil tersenyum senang, "Wait for me, sweetie...."
Sore harinya Rakai sudah nongkrong di apartemen. Hanya sekedar memastikan ia tak berbuat bodoh seperti melarikan diri misalnya.
"Kayaknya besok lo mesti ke dokter," ujar Rakai sambil memindah-mindah chanel televisi mencoba mencari sesuatu yang menarik.
Sementara ia sedang tidur-tidur ayam di atas sofa panjang, sambil membayangkan aroma manis dan kelembutan bibir Anggi. Hmmm.
"Biar lukanya diobatin bener. Siapa tahu ada yang perlu dijahit," Rakai menunjuk wajahnya yang babak belur. "Sekalian visum."
Ia mendesis.
"Buat kenang-kenangan anak lo besok," Rakai mencibir.
"Biar ada yang bisa dibanggain dari babenya. Nih, nak, Papa dulu awal-awal bangun korporat sampai babak belur dipukulin orang," lanjut Rakai yang tertawa penuh kepuasan.
"Puassss!" Rakai tersenyum mengejek. "Kapan lagi liat lo abis dipukulin gini," sambil terbahak. "Mantul! Mantap betul!"
"Brengsek lo!" makinya sambil memonyong-monyongkan bibir ke kiri dan ke kanan karena masih terasa sakit dan perih.
"Tapi semua badai ini bikin kita belajar banyak," Rakai menerawang, masih sambil memindah-mindah chanel televisi.
Ia mengangguk setuju.
"Lo kapok?"
Ia tersenyum menggeleng.
"Bener darah Amang ngalir deras di tubuh lo," ujar Rakai penuh keyakinan. "Gue jadi nggak sabar gebrakan besar apa yang bisa dicapai Darmastawa 2,0."
"Pastiin lo tetep disini," jawabnya tak kalah yakin.
"Gua masih punya waktu setahun lebih buat puas-puasin main."
"Kenapa cuman setahun lebih? Apa yang bisa dihasilin dalam jangka sependek itu?" Rakai mencibir tak percaya.
"Ya habis kawin gua mau main aman. Nggak mau nyerempet bahaya, kasihan anak istri gua nanti."
"Gua ada rencana besar setelah semua ini beres," lanjutnya optimis.
"Habis itu gua lepas. Gua mau hidup normal sama istri tercinta," sambil tersenyum membayangkan wajah seseorang.
"Emang sekarang nggak normal?" Rakai masih mencibir.
"Gua mau main kecil-kecilan tapi longlast. Tahan di semua keadaan. Nggak terpengaruh situasi politik, keamanan negara, bencana, wabah, kondisi dunia. Kalaupun kepengaruh nggak besar, nggak bikin mati, masih bisa jalan."
"Atau malah gua mau jadi dosen aja kayak Pak Drajat," ia menerawang. "Hidupnya adem banget nggak bergejolak kek kita."
"Ngaco lo!" Rakai mencemooh. "Mana ada klan Darmastawa jadi dosen. Buang-buang bakat alam lo! Payah lo ah, belum juga kawin udah memble gini."
Namun ia tak mempedulikan cemoohan Rakai, justru tersenyum sambil membayangkan masa depan seperti apa yang ingin dilaluinya bersama pujaan hati.
Jam 7 mereka sudah sampai di lobby hotel, "Biar nggak telat. Daripada kena macet yekan?" Rakai membela diri.
Selama hampir satu jam mereka menikmati suasana exclusive lounge, sebelum akhirnya Papa datang bersama ajudannya.
Papa hanya mengajaknya seorang diri, "Ini pertemuan penting." Meninggalkan Rakai dan ajudan di lounge.
Sepanjang perjalanan menuju suite room Papa mewanti-wanti, "Diam, dengarkan, perhatikan! Jangan jadi orang bodoh!"
Ia hanya mencibir.
"Jangan mempermalukan Papa!"
Kali ini ia mendesis sebal.
Seseorang berpenampilan rapi membukakan pintu suite room sambil berkata, "Silahkan, Bapak sudah menunggu di dalam."
Ia masih celingak-celinguk memperhatikan keseluruhan kondisi suite room saat sebuah tawa keras menyambut mereka, "Darma! Darma! Darma!"
__ADS_1
Yang dijawab Papa dengan tawa keras pula, "Apa kabar?" Mereka lalu berpelukan seperti sahabat lama yang terpisah.
"Baik...baik....," lalu pria yang hanya memakai kimono itu melihat kearahnya. "Is that you?"
Ia hanya meringis bingung. Baru kali ini bertemu langsung dengan -seseorang yang tak boleh disebut namanya-.
The Untouchable kalau kata Sada. Meski sudah sering mendengar sepak terjang dan nama besarnya. Ternyata orang yang menjadi otak dibalik semua masalah yang menimpa dirinya tak lebih dari seorang pria bertubuh kecil dengan penampilan yang terlalu sederhana. What a surprise.
"Ini Rendra....anakku," Papa menepuk bahunya. Yang entah mengapa ia merasakan ada nada bangga di dalam suara Papa.
"Ya...ya...ya....kamu si bocah nakal itu kan?" pria itu terkekeh. "Gemana, puas main-mainnya?"
Ia semakin meringis bingung. Membuat Papa langsung menoyor kepalanya. "Kasih salam!"
Membuatnya mendesis kesal sebelum mengangguk hormat, "Selamat malam...," bingung harus memanggil apa. Pak, Om, Pakde?
"Silahkan duduk," pria itu mempersilahkan dengan tangannya. Sambil menyorongkan sekotak penuh cerutu berbentuk perfecto.
Papa mengambil satu.
"Rokok?" tawar pria itu padanya.
Ia pun ikut mengambil satu untuk sopan santun.
Papa dan pria itu mulai membicarakan bisnis, keadaan politik terkini, hingga kondisi perekonomian dunia. Sementara ia hanya mendengarkan sambil menghisap rokok yang sedikit terasa asing karena sudah 6 bulan lebih ia tak lagi merokok. Beberapa kali bahkan membuatnya terbatuk.
"Itu bonyok kenapa?" pria itu menunjuk wajahnya yang babak belur.
"Biasa, anak laki," Papa yang menyahut.
"Gimana," lanjut pria itu sambil tersenyum kearahnya. "Enak to main-main."
Ia kembali meringis.
"Masih mau main-main?"
"Rendra kesini mau menyerahkan diri," ucap Papa dengan nada santai. Tapi berhasil membuatnya kaget.
"Menyerahkan diri gimana?" ia langsung protes.
"Anak kecil main-main di wilayah orangtua," Papa tak menjawab, justru terkekeh.
"Aku nggak menyangka kalau pengusaha muda yang mengalahkan tender proyek kami itu anak kau," pria itu terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Anak kandung," Papa menegaskan.
Sekali lagi ia mendengar selipan nada bangga dalam suara Papa.
"Luar biasa Darma, kau sudah punya penerus. Sementara aku?" pria itu seperti sedang mencibir diri sendiri. "Apa resepnya bisa punya anak setangguh ini?"
Papa hanya tertawa dengan hidung kembang kempis.
"Maaf sebelumnya Om, Pak...," ia buru-buru memotong pembicaraan. Tapi sebelum ia berhasil melanjutkan kalimat, Papa lebih dulu bersuara.
"Dia masih perlu banyak belajar," sambil menepuk bahunya. "Biar nggak seradak seruduk kayak sekarang."
Pria itu terbahak. "Tapi anak ini hebat bisa buat kami kelimpungan."
"Nggak lagi. Udah kapok dia," Papa ikut terbahak.
Membuatnya memaki dalam hati, "Pembicaraan macam apa ini?!"
Ia masih harus menyabarkan diri dengan diam mendengarkan obrolan Papa dan pria itu selama hampir dua jam. Beberapa tentang kesepakatan bisnis, sebagian obrolan ringan tak penting. Lainnya obrolan seputar dunia bisnis dan perekonomian. Benar-benar membosankan dan membuang waktu.
"Rendra," kata pria itu sebelum mereka berpisah.
"Om bangga sama kau!" sambil menepuk bahunya.
"Kau kuat, tangguh, penuh energi. Om yakin kau akan jauh lebih sukses dari ayah kau. Bisa belajar banyak dari kasus ini kan?!"
"Mulai besok semua sudah beres. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
"Om minta maaf sudah mengajak kau main-main," lalu terkekeh. "Jangan macam-macam lagi!"
Ia kembali meringis. Begitu keluar dari suite room dan masuk ke dalam lift, tanpa diduga Papa merangkul bahunya,
"Tadi namanya perang cerdas. Kau harus banyak belajar. Jadikan musuh itu teman. Lebih mudah mengalahkannya."
Papa tak menuju lounge tempat Rakai dan ajudannya menunggu. Tapi mengajaknya ke bar yang berada tepat satu lantai di bawah suite room.
Selama hampir setengah jam mereka hanya duduk berdiam diri menikmati minuman sambil mendengarkan sajian live music.
Sebelum ia sempat pamit ke toilet karena mati bosan, Papa lebih dulu berkata,
"Kau harus kuat. Harus lebih baik dari Papa. Mulai sekarang jangan pernah main-main di tempat yang salah. Harus bisa atur strategi, jangan sampai salah perhitungan."
"Karena cuma kau yang bisa Papa andalkan. Saudara-saudaramu payah semua. Nggak ada yang setangguh kau!"
"Kalau kau cepat belajar, nggak kekanak-kanakan kayak sekarang, pakai otak kau buat mikir! Papa bisa lebih cepat ngasih semuanya."
"Papa udah tua, udah capek, mau istirahat...."
'Dimana akan 'ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi'
__ADS_1
(Rinto Harahap, Ayah)