
Anggi
Esok paginya ia bangun dengan mata bengkak karena kebanyakan menangis. Dan langsung mendapati notifikasi pesan masuk yang membuat hati semakin membiru,
Dio. : 'Sorry for saying goodbye.'
Balas - enggak - balas - enggak - balas....
Anggi. : 'Never mind.'
As always, Dio masih saja fast response.
Dio. : 'Still friends?'
Anggi. : 'Definitely.'
Dio. : -emoticon tersenyum lega-
Dio. : 'U r the best.'
Ini mungkin akan menjadi chat pribadi terakhir bagi mereka berdua.
Bagaimanapun keadaan sudah jauh berbeda.
Tentu ia tak lagi bisa berharap lebih. Karena keputusan telah disepakati.
Toh mereka berdua bukanlah orang asing. Telah berteman selama bertahun-tahun. Melalui banyak hal bersama. Dan masih ada grup Romansa yang menjadi benang merah mereka berdua.
Doa dan harapannya hanya satu, Dio baik-baik saja dimanapun berada. That's its that's all.
Siangnya ia terpaksa absen kuliah. Tak mau menanggung resiko malu datang ke kampus dengan mata segede bola bekel.
"Kenapa lo?" Mala meneleponnya karena hari ini mereka memiliki jadwal kerkel.
"Gue baru putus Mal...."
"Ya ampuun, couple faveku..."
"Tugas kerkel gue kirim via email ya, tolong bilangin sori ke anak-anak."
Ia menghabiskan hari dengan menyelesaikan iqob dibawah pandangan menghakimi anak-anak kost.
Begitu kewajiban iqob selesai, lanjut membereskan kamar yang mulai terasa sumpek karena jarang dibersihkan.
Saat itulah ia kembali menemukan kotak cokelat keramat yang pernah dilemparnya ke kolong lemari. Dengan menekan rasa jijik dan mual, ia mengambil kotak tersebut dan membersihkannya dari debu. Lalu meletakkan kembali di antara deretan skubb di rak sepatu. Sambil berpikir keras, kira-kira kemana ia bisa membuangnya.
Dan keputusan hari ini untuk tetap tinggal di kost adalah the best choice. Karena selain bermanfaat untuk menyembunyikan mata sembab, juga bisa mengalihkan pikiran dari kesedihan.
Membersihkan sekaligus membereskan kamar jelas menjadi solusi jitu bagi sad girl seperti dirinya agar tak terjebak di kubangan lumpur penuh kenangan. Yang bisa membuatnya kembali galau dan menangis.
Tapi kelegaannya tak berlangsung lama. Karena siang hari tepat di jam makan siang, tiba-tiba datang kiriman makanan dari Ojek Online.
"Mba Anggi?"
"Iya," ia mengernyit bingung.
"Ini pesanannya," ujar pengemudi ojek online tersebut sambil menyerahkan satu paket combo makan siang dari sebuah restoran keluarga ternama.
Ah ya, terasa familiar bukan? Membuatnya terpaksa membuka blokir seseorang.
Anggi. : 'Nggak perlu kirim makanan.'
Rendra. : 'Aku nggak mau kamu sakit karena lupa makan.'
Anggi. : 'I'm fine n i'm okay.'
Ia pikir masalah selesai.
Tapi keesokan hari, kiriman makanan kembali datang. Dengan jumlah yang lebih banyak. Cukup untuk dimakan anak se kost an.
"Wah, sering-sering ya Nggi," seloroh anak-anak kecuali Salsa yang memasang wajah masam.
Membuatnya terpaksa kembali membuka komunikasi,
Anggi. : 'Stop it.'
Rendra. : 'I can't.'
Jangan ditanya seberapa tinggi tingkat keras kepala Rendra. Karena besok, lusa, bahkan selama seminggu penuh, kiriman makan siang untuk seluruh penghuni kost terus berlangsung.
Membuatnya tak bisa menahan diri untuk secepatnya bertemu langsung demi meluruskan masalah.
Dan here iam, usai rapat bulanan HMJ sengaja membulatkan tekad pergi ke gelanggang tempat diselenggarakannya latihan rutin taekwondo.
"Perlu gue temenin nggak?" Mala menawarkan diri.
__ADS_1
"Thanks, gue sendiri aja, khawatir jadi rame."
Padahal Mala berharap bisa menemani demi memuaskan jiwa kepo akutnya, "Kira-kira hal baik apa yang pernah lo lakuin sampai ada dua high quality guy bersikap sweet ke elo?"
"Apa sih Mal," ia mencibir.
"Dio oke high quality, tapi kita udah putus. Nah kalau yang satu ini...," ia kembali mencibir demi mengingat Rendra.
"Apa jangan-jangan orangtua lo punya amalan rahasia yang bisa bikin anak gadisnya mendapat perlakuan baik dari cogans....," Mala menerawang.
"Ish!" Mala jelas ngawur. "Cuma kiriman makan siang doang jangan berekspektasi aneh-aneh."
"Ini nih....ini nih," Mala mengangguk-angguk penuh keyakinan. "Ke enggak pekaan lo itu yang bikin orang jadi makin penasaran...."
Jadi, solusi untuk menyelesaikan masalah adalah dengan bertemu.
Tanpa harus sulit mencari, ia langsung bisa menemukan tempat latihan anak-anak taekwondo.
Di atas bentangan matras warna merah, mereka sedang berlatih memukul sekaligus menendang satu target yang dipegang oleh rekan lainnya. Ia harus meneliti satu persatu karena semua tampak serupa. Yaitu mengenakan seragam taekwondo warna putih. Hanya warna sabuk yang membedakan.
Setelah memicingkan mata mencari-cari, ternyata Rendra berada di paling ujung.
Memakai sabuk hitam, sedang latihan sparring (kyorugi) dengan seseorang.
Rendra dan sang lawan saling serang sekaligus bertahan untuk menjatuhkan satu sama lain. Dengan menggunakan teknik-teknik tendangan maupun pukulan.
Beberapa kali tendangan Rendra tepat mengenai sasaran. Jelas terlihat lawan mainnya kerepotan menghadapi keagresifan Rendra.
Tepat ketika Rendra berhasil menahan serangan lawan dan bersiap melakukan counter attack, saat itulah mata mereka tak sengaja bertemu.
1 detik, 2 detik....
Kini justru lawan yang berhasil menjatuhkan Rendra dengan sangat mudah. Yang awalnya dipastikan menang, sekarang malah terkapar di atas matras. The end, pertarungan selesai.
"Nyari?" Rendra tersenyum menghampiri dengan wajah kemerahan setelah jatuh bangun di atas matras.
Rambut Rendra terlihat lepek dan basah karena berkeringat. Banyak yang bahkan menetes di dahi, sampai ke garis cambang di samping telinga. Definisi sebenarnya dari bersimbah keringat.
"Saya tunggu sampai latihan selesai," ia harus buru-buru menunduk agar tak terpengaruh oleh penampilan maskulin Rendra yang menguar tajam dalam balutan seragam taekwondo yang basah dibanjiri peluh.
Namun usahanya terlambat.
Kepalanya telah lebih dulu merekam bayangan Rendra yang terlihat sangat menantang dalam balutan seragam taekwondo.
Gila dan mengerikan. Mengerikan dan gila, batinnya kesal pada diri sendiri.
Tak sampai lima menit kemudian, Rendra kembali muncul dengan mencangklong messenger bag warna hijau. Dan sudah berganti kostum mengenakan kaos warna biru muda bertuliskan Panitia Taekwondo Championship tahun lalu dipadu dengan celana putih seragam taekwondo yang digulung hingga diatas mata kaki.
Membuatnya harus kembali cepat-cepat menunduk. Karena wajah berkeringat Rendra jelas menimbulkan efek yang tidak baik bagi tubuhnya.
"Kamu kelihatan baik-baik aja," Rendra tersenyum memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Membuat pipinya tiba-tiba memanas.
"Saya memang baik-baik aja," jawabnya sedikit ketus.
Jawaban yang diucapkannya sontak membuat Rendra tertawa.
"Iya, kamu baik-baik aja berarti. Udah keluar juteknya. Asli."
"Saya mau ngomong sesuatu," ujarnya cepat sembari harus menelan ludah sebelumnya.
"Loh, dari tadi kan udah ngomong," Rendra terkekeh.
"Di foodcourt aja gimana? Aku laper nih habis ditendang-tendang," sambung Rendra lagi sambil memasang wajah memelas sekaligus menyebalkan. Membuatnya tak bisa menolak.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke sebelah barat gedung. Sesekali berpapasan dengan orang-orang yang bisa dipastikan akan menyapa Rendra.
"Oi, Bang!"
"Yo Bang!"
Suasana food court lumayan ramai dan penuh. Mereka langsung memilih duduk di salah satu sudut. Rendra memesan bihun goreng dan es teh. Sementara ia tak memesan apapun.
"Kenapa?" Rendra mengernyit.
"Cuma sebentar."
Ia jelas tak memiliki niatan untuk duduk berlama-lama di depan Rendra. Begitu urusan selesai, langsung pulang.
Sebab terlalu lama duduk di depan Rendra, bisa dipastikan akan mendistraksi dan menggoyahkan pikirannya.
Very bad, not recommended.
"Tuh kan, kamu malas makan, gimana aku nggak khawatir coba," Rendra menggerutu.
Lalu tanpa meminta persetujuannya, Rendra telah memesankan kwetiaw siram dan teh botol.
__ADS_1
"Kwetiawnya enak loh."
Ia bukannya tak tahu kwetiaw di sini enak. Semua orang di kampus juga tahu kwetiaw di food court gelanggang adalah yang terdaebakk.
Setelah urusan memesan makanan selesai, Rendra kembali tersenyum kearahnya, "Nyariin ada apa?"
Lagi-lagi ia harus menelan ludah sebelum menjawab, "Makasih sebelumnya udah nganter saya pulang waktu dari Stasiun kemarin."
Senyum Rendra semakin lebar, "Kembali kasih."
"Tolong jangan kirim makanan lagi."
Senyum di wajah Rendra mendadak hilang, "Aku cuma khawatir kamu malas makan karena sedih...."
"Saya nggak sedih, dan saya baik-baik aja."
"Bagus dong."
"Jadi, ini mungkin pertemuan terakhir, karena kita nggak ada urusan lagi....."
"Maksudnya?" Rendra mengernyit.
"Nggak usah temui saya lagi."
Rendra merubah posisi duduknya, "Kenapa kamu selalu menghindar?"
Ia sempat menatap manik Rendra sebelum menjawab sekenanya, "Ya...karena...memang harus menghindar....," lalu buru-buru mengalihkan pandangan ke seantero food court, berusaha menghilangkan nervous.
Rendra menghela napas, "Lihat aku."
Meski ragu, ia terpaksa kembali menatap mata Rendra. Mata yang masih sama tajamnya seperti hari kemarin. Meski kini terdapat sedikit mendung di sana.
"Apa semua cowok selain Dio, nggak ada artinya di mata kamu?"
Tumben Rendra menyebut nama Dio dengan sangat baik dan sopan.
"Lihat aku...."
Tapi kali ini ia tak berani, lebih memilih untuk pura-pura menunduk.
Seharusnya ia ingat, berkomunikasi langsung dengan Rendra dalam jarak dekat seringkali berakhir buruk. Tapi entah mengapa, justru ia selalu mengulangi kebodohan yang sama. Seperti saat ini, the real stupidity.
"Begini rasanya menjadi pilihan kedua," gumam Rendra sumbang. "Being someone's second. Nggak enak banget ternyata. Atau malah not even being someones choice?"
Ia harus menelan ludah berkali-kali.
Sesungguhnya mereka ada di posisi serupa, yaitu menjadi someones second. Dio lebih memilih mengejar cita-cita daripada mempertahankan dirinya, sementara ia sangat menyukai hidup dalam bayang-bayang first love never dies daripada memberi ruang pada Rendra, 1:1.
Percakapan mereka terinterupsi oleh pesanan yang datang. Setelah mengucapkan terima kasih dan sedikit berbasa-basi pada pengantar makanan, perhatian Rendra kembali padanya.
"Kayaknya insiden awal kita ketemu, bener-bener bikin kamu nggak nyaman...."
"Meski aku udah minta maaf, berusaha memperbaiki, ngasih kamu ruang...."
"Tapi kamu tetep begini..."
"What should've i do?"
"You don't even know that iam here, right?"
"Kupikir dengan hilangnya saingan berat, semua jadi lebih mudah, ternyata nggak ada bedanya. Malah makin susah," Rendra tertawa sumbang.
Ia tak menjawab apapun, mendadak hatinya nyeri mendengar sederet ucapan dan tawa sumbang Rendra.
"Apa yang harus kulakukan agar kamu bisa nerima keberadaanku di sekitarmu?"
Pertanyaan ini justru semakin membuat nyeri di hati bertambah berkali lipat. Have no idea. I'm scared.
"Oke, gini aja, kita mulai dari awal. Kita temenan, gimana?"
Ia sama sekali tak memiliki ide bagaimana konsep pertemanan dengan seorang Rendra. Mission impossible.
"Oke, kenalin, gua Rendra," Rendra mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Tapi karena terlalu lama berpikir, sebelum ia sempat membalas uluran tangan, Rendra keburu menarik kembali tangannya.
"Dari TI, lagi nyusun skripsi, doain cepet kelar," lagi-lagi tawa sumbang ke sekian kali dalam waktu singkat.
"Asal dari Balikpapan, tinggal di.....," sambung Rendra menyebut alamat tempat tinggal sekaligus hobi dan hal paling tak penting lainnya.
"Aku tahu, kamu yang namanya Anggi kan? Anak Ilkom yang sama sekali nggak kayak anak Ilkom," ujar Rendra sambil terkekeh.
"Kost di Raudhah, aktif di BEM Fakultas, anak HMJ, cofas favorit ospek kemarin, baru aja dapatin beasiswa prestasi unggulan yang begitu lulus bisa langsung masuk kualifikasi slot posisi di sesekorporat. Cool. Apalagi?"
Ia memilih untuk menunduk sambil pura-pura mengaduk kwetiaw. Hingga Rendra kembali bicara dengan nada penuh penyesalan yang membuat hatinya tambah mencelos,
__ADS_1
"Give me a chance....."