
Anggi
Setelah subuh ia langsung berkutat di kamar mandi, menyelesaikan iqob. 5 kamar mandi man, gempor gempor deh.
Untungnya Raudhah memiliki jadwal piket yang sistemik, plus supervisor saklek macam Salsa. Yang selalu memastikan semua orang melakukan kewajibannya, membuat kamar mandi Raudhah senantiasa dalam keadaan rapi dan bersih sepanjang waktu.
Sangat meringankan beban terhukum seperti dirinya. Tak harus mengeluarkan banyak keringat dan waktu, kamar mandi sudah semakin kinclong, dan mission accomplished.
Usai menyelesaikan iqob, ia langsung mandi dan beberes. Menunggu Dio yang akan datang ke kost setelah mengantar bunda ke stasiun. Semalam ia sudah minta ijin nggak bisa ikut mengantar Bunda ke stasiun, karena jadwal kereta yang terlalu pagi.
"Nggak apa-apa sayang, udah ada Dio, Anggi istirahat aja di kost," begitu kata Bunda sambil tersenyum.
"Kapan-kapan kalau Bunda ke Jogja lagi, kita jalan ya, masih banyak tempat yang belum kita kunjungi."
"Wah...wah...udah janjian di belakang nih nggak ngajak-ngajak," Dio mengernyit menggoda.
"Girls only," bisik Bunda membuat mereka bertiga tergelak.
"Iya deh, iya deh," Dio mengangkat tangannya pura-pura menyerah sambil mengerling ke arahnya.
Ia masih tersenyum-senyum sendiri mengingat kebersamaan mereka semalam, tapi senyumnya langsung sirna begitu matanya tak sengaja tertumbuk pada jaket hijau yang tergantung di belakang pintu kamar. Dadanya mendadak berdesir.
"Anggi...ada tamu," teriak Ira dari luar.
Membuatnya buru-buru menyelesaikan sentuhan terakhir di wajahnya. Wah, Dio cepat juga pulang dari stasiun, batinnya melirik jam dinding. Lebih cepat 30 menit dari waktu yang telah mereka sepakati semalam.
Sambil tersenyum ia keluar kamar, berjalan melewati lorong yang entah kenapa kali ini dipenuhi anak-anak yang berdiri di depan kamar masing-masing sambil memandang aneh padanya.
Jawaban dari pandangan menghakimi anak-anak ia peroleh setelah membuka pintu ruang tamu dan melihat siapa yang berdiri di baliknya.
"Hai?"
Rendra berdiri menjulang sambil tersenyum dengan tangan kanan bertumpu ke dinding di samping pintu. Mata Rendra sempat mengerjap takjub demi melihat penampilannya yang memang berbeda dari hari-hari biasa, kali ini ia memakai lipstik tipis-tipis.
"Ada apa?" mendadak dadanya berdesir aneh saat mata mereka saling bertautan.
"Nyari kamu....nggak boleh?" Rendra masih tersenyum.
"Maaf, tapi sebentar lagi saya mau pergi," jawabnya pelan merasa tak enak. "Udah ada janji."
"Oke, kutunggu disini. Sampai kamu selesaiin janji," ujar Rendra santai sambil mendudukkan diri di kursi teras. "Boleh minta minum dong, haus nih."
Dengan perasaan campur aduk, ia masuk ke dalam guna mengambil sebotol air mineral di kamar, yang memang sengaja disiapkan untuk tamu atau teman yang berkunjung. Di sepanjang lorong anak-anak masih berkumpul sambil memberinya tatapan menyelidik.
"Ada perlu apa? Mau ambil jaket? Tapi belum dicuci, mau sekarang atau nunggu dicuci dulu?" ia terpaksa bertanya detail, sambil menyerahkan sebotol air mineral yang langsung diteguk habis sampai licin tandas. Haus beneran?
"Mau ketemu sama kamu," jawab Rendra santai. "Jaket nggak usah dicuci, nggak usah dikembaliin juga."
"Kok bisa?"
"Biar ingat terus sama yang punya."
Ia mencibir. "Kalau gitu saya cuci dulu, nanti kalau udah beres saya kembaliin."
"Santai aja."
"Sekarang kan udah ketemu," ia menghela napas. "Apa nggak sebaiknya....A-abang pulang, karena bentar lagi tamu saya mau datang."
Sebelum Rendra sempat menjawab, sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang Raudhah, parkir persis di depan Rubicon milik Rendra. Disusul dengan munculnya Dio dari balik kemudi, dengan setengah berlari menuju ke teras.
"Wah, udah siap?" Dio tersenyum. "Lama nunggunya?"
Ia tersenyum sambil menggeleng, berusaha mengabaikan Rendra yang jelas-jelas sedang memelototi Dio dari atas sampai bawah.
"Kamu....lagi ada tamu?" Dio menyadari kehadiran Rendra yang masih memelototinya tanpa ampun.
"Enggak....udah mau pulang kok," ia kembali mencoba tersenyum, bingung harus melakukan apa.
"Siapa bilang, gua baru aja nyampai," sahut Rendra cepat dan tajam, membuatnya berdecak sebal. No no no.
"Duduk dulu," untungnya ia masih bisa berpikir taktis. "Aku ambil tas ke dalam," ujarnya langsung kabur ke dalam rumah, sebelum Rendra berulah macam-macam.
Sesampainya di dalam terlihat anak-anak sedang berkumpul di ruang tengah sambil berbisik-bisik. Apalagi kalau bukan membicarakan dirinya.
Tapi ia tak punya waktu untuk mengklarifikasi, nanti saja, waktunya dengan Dio lebih berharga. Jam 11 sudah harus kembali ke hotel untuk check out dan langsung ke bandara. Jadi untuk saat ini, waktu sangatlah berharga.
Ia mengambil sling bag favorit dan sebotol air mineral untuk Dio. Dalam setiap langkah menuju teras, degup jantungnya semakin bertambah, kira-kira apa yang sedang terjadi di teras?
Namun, kekhawatirannya tak terbukti karena begitu membuka pintu depan, terlihat Rendra dan Dio sedang bercakap-cakap normal seperti manusia pada umumnya.
Tak ada tanda-tanda kekerasan atau perkelahian. Dengan langkah penuh kehati-hatian dan jantung berdebar tak karuan, ia mendekat lalu menyerahkan botol air mineral kearah Dio.
"Minum dulu."
"Makasih," Dio menerima botol sambil tersenyum.
Ia memperhatikan Dio yang sedang membuka seal lalu meminum air di dalamnya. Dari sudut mata ia juga tahu Rendra sedang mengawasinya memperhatikan Dio.
"Sekarang?" Dio telah selesai minum. Ia langsung mengangguk, ingin segera pergi dari teras rasa neraka ini.
"Jalan dulu Bang," tanpa diduga Dio bangkit dan menyalami Rendra. Pamitan heh? Dikira Rendra orangtua apa pakai dipamitin segala. Hadeh.
"Yo. Ketemu lagi kapan-kapan," balas Rendra santai.
Aneh nggak sih? Ia memandang Dio dan Rendra yang sedang saling melempar senyum. Very strange.
Karena tak mampu menahan rasa penasaran, begitu Dio menyalakan mesin mobil, ia langsung bertanya, "Tadi ngobrol apa aja?"
"Sama?"
__ADS_1
"Yang duduk di teras."
"Oh, Bang Rendra."
Ia menelan ludah.
"Keren," Dio mengacungkan jempol. "Masih muda udah sukses."
"Sukses apa?" ia mengernyit.
"Sukses bisnis. Sampai punya company sebesar itu. Most inspiring guy."
Ia semakin mengernyit sekaligus mencibir, company apaan? "Jadi kalian ngobrolin bisnis?"
"Iya. Dia ada rencana mau ekspansi, Bandung bisa jadi pilihan bagus."
Meski masih penasaran ia tak lagi bertanya. Lebih baik bersyukur dengan keadaan yang diluar ekspektasi ternyata baik-baik saja, all is well.
Karena tadi ia sempat khawatir Rendra akan melakukan hal aneh yang mengerikan, seperti memukul Dio misalnya. Thank God kekhawatirannya tak pernah terjadi.
Ceklekekeekek. Drit.
Mesin mobil yang mendadak berhenti di tengah jalan membuyarkan lamunannya. Membuat Dio harus tangkas menyalakan kembali karena kendaraan di belakang mulai membunyikan klakson. Jalan raya dalam kompleks yang tak terlalu lebar membuat berhentinya mobil secara mendadak menimbulkan kemacetan.
Baru berjalan beberapa meter kejadian yang sama kembali terulang, Ceklekekeekek. Drit.
"Sori...sori...," Dio meminta maaf tiap kali mesin mobil berhenti mendadak.
Hal yang sama kembali berulang tiap sekian puluh meter, membuat mereka akhirnya terbahak bersama.
"Wah, ketahuan banget nih lagi pakai mobil pinjeman," ujar Dio tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala ketika mesin mobil mendadak mati lagi.
"Bukannya mobil baru," ia memperhatikan interior mobil sambil mengingat jenis mobil yang tadi sempat dilihatnya sekilas sebelum naik.
"Iya, masih under 5 years."
"Harusnya masih oke," ia mengernyit.
"Harusnya. Emang tadi udah diingatin sama petugas rental, rada-rada nggak balance mobilnya. Sensitif kalau nggak sinkron, bikin mesin mati."
"Oh..."
"Atau kalau enggak akunya yang gaptek, kebiasaan bawa motor pakai gaya-gayaan bawa mobil," ujar Dio diikuti gelak tawa mereka berdua.
Akhirnya tak lama kemudian, laju mobil mulai lancar, mesinnya tak lagi berhenti mendadak. Sepertinya Dio sudah mulai beradaptasi.
"Follow the way then turn right," begitu suara mba-mba Google maps memandu Dio mengemudi.
"Kita mau kemana sih?" Ia melihat keluar jendela sambil tersenyum, excited sekaligus penasaran kemana Dio akan membawanya pergi.
"Kamu tenang aja," Dio balas tersenyum. "Oiya lupa, ada salam dari Bunda."
"Nggak papa, kan kemarin udah, lagian subuh-subuh."
Dengan laju mobil yang semakin normal dan lancar tanpa mesin mati mendadak, mereka mulai santai membicarakan banyak hal. Tentang kuliah, kampus, Jogja, Bandung, anak-anak Romansa, beasiswa, cuaca terkini, pertandingan MU vs Liverpool, Marquez yang merajalela, sampai serunya perseteruan Kevin/Marcus vs Endo/Watanabe. Hmm, semua aja diobrolin.
"Your destination would be on the right.....," begitu suara mba Google maps membelokkan kemudi Dio ke sebuah pelataran parkir Mall.
"Ke Mall?" ia tersenyum menggoda. Tahu pasti Dio paling alergi pergi ke Mall. Di antara anak-anak Romansa, Dio paling sering absen jika mereka jalan ke Mall.
"Have no idea," Dio tertawa. "Di kota orang nggak tahu tempat bagus yang recommended."
"Ini tahu..."
"Dari sosmed," Dio tergelak.
"Serius?" Wah, kemajuan nih Dio main sosmed. Jumlah post di instagram Dio saja seumur-umur baru 2 biji. Itu juga foto sepeda dan kucing kesayangan. Haha.
"Nyari tempat yang cozy di pagi hari plus limit waktu," Dio mengangkat bahu. "Akhirnya nemu disini," lanjutnya sambil tertawa. "Sorry, nggak maksimal."
"Enggak lah, justru surprise kamu sampai nyari-nyari di sosmed segala," ia tersenyum senang. "Lagian jam 11 kamu mesti ke hotel lagi. Rush hour."
"Rush hour banget," Dio ikut tertawa. "Pernah ke sini?" sambil mengulurkan tangan saat mereka keluar dari lift. Yang disambutnya dengan senang hati.
"Belum," jawabnya dengan hati berdebar merasakan genggaman tangan Dio yang mantap.
Suasana di dalam Mall masih lengang, sebagian besar bahkan masih tutup, hanya terlihat beberapa petugas kebersihan yang sedang menyapu.
Mereka berjalan menyusuri game center yang juga masih sepi, sebuah papan petunjuk membuat Dio mengajaknya untuk berbelok ke tangga darurat, hingga mereka menemukan sebuah restoran yang terletak di lantai paling atas, rooftop.
Dio menggenggam tangannya menyusuri kursi-kursi restoran yang kosong dan lengang, terus berjalan hingga ke bagian luar, udara segar pagi berhembus pelan memainkan anak-anak rambutnya.
Dio lalu memilih duduk di sebuah sofa yang masih ada atapnya. Tepat berhadapan dengan tulisan besar sebuah hotel berbintang. "Di sini aja ya."
Ia mengangguk. Disusul dengan seorang pelayan berseragam yang datang menghampiri mereka sambil menyerahkan buku menu.
Karena Mall bahkan belum seluruhnya buka, maka menu yang tersedia juga masih terbatas. Datangnya kepagian haha. Mereka tak hentinya saling menertawakan.
"Pengunjungnya terlalu rajin sih," ujarnya sambil tertawa. Ia akhirnya memesan Hot Chocolate dan Mille Feuillet sementara Dio memesan Espresso dan Crazy Fries. Sambil menunggu pesanan datang mereka kembali ngobrol.
"Beasiswa apakabar....udah beres?"
"Oh...tinggal dua syarat yang belum. Besok senin mau diurus, biar siangnya bisa langsung dikumpulin."
"Good luck."
"Tengkiu."
"Aku juga mau exchange sama research internship......"
__ADS_1
Ia mendadak menghentikan kegiatannya memotong Mille Feuillet, "Ke?"
"Jepang."
Ia menelan ludah. "Kapan?"
"Belum tahu dapat yang kapan."
"Kenapa?"
"Jadi ada delapan yang lolos, tiap periode dikirim empat orang. Nggak tahu nih kebagian yang mana. Antara ke Bangkok dulu nyelesaiin kompetisi atau kebagian berangkat duluan ke Jepang, nanti posisi ke Bangkok diganti sama yang lain."
"Kamu prefer mana?"
"Ke Bangkok dulu sih," Dio tersenyum. "Biar bisa lanjut ke DECCON. Masih penasaran," Dio tertawa. "Tapi gimana baiknya aja deh."
"Semoga semua keinginan kamu terkabul," kali ini ia sungguh-sungguh dalam mengucapkannya.
"Aamiin. Makasih. Kamu juga...sukses beasiswa, lancar kuliah, cepat selesai, nanti kita ke Jepang sama-sama," Dio menatap tajam, membuatnya tersipu.
Dio masih ingat saja tulisan yang dibuatnya waktu pelajaran Bimbingan Konseling di kelas X. Saat menjawab pertanyaan Bu Guru BK tentang,
"Bagaimana kamu 10 tahun yang akan datang?"
Dan jawaban yang ditulisnya adalah :
"Sedang melanjutkan pendidikan master/ doktoral di Jepang bersama suami tercinta."
Dan jawabannya dibacakan keras-keras di depan kelas oleh Bu Agnes, guru BK waktu itu, yang langsung disambut sorakan anak-anak sekelas.
Terutama Chris yang paling keras tertawanya. Hih, dasar Chris. Kalau diingat-ingat, waktu itu hanya Dio yang tidak tertawa. Dio justru menatapnya tajam sambil tersenyum penuh arti, karena letak bangku mereka yang berjauhan.
Waduh, jadi malu kalau diingat lagi sekarang. Serasa ambis sejak baru netes. Heee.
"Maaf kalau selama ini kita begini begini aja. Makasih banyak udah mau ngertiin aku."
Ia tersenyum, "Apaan sih?" mencoba tertawa menghilangkan rasa salah tingkah.
Dan entah darimana datangnya, kini Dio sudah mengangsurkan sebuah kotak cantik berwarna biru muda ke atas meja. "Buat kamu."
"Wah, ulang tahun masih lama," lagi-lagi ia mencoba tertawa. Tapi demi melihat wajah serius Dio, diterimanya kotak tersebut. "Makasih."
Dio tersenyum mengangguk.
"Tapi maaf nih aku belum bawa apa-apa. Nggak tahu kalau mau ada acara tuker kado," ia jadi nggak enak karena memang nggak persiapan apa-apa.
"Ini bukan acara tuker kado," Dio tertawa. "Lagian kado dari kamu udah banyak kok."
"Hah? Banyak? Kapan?" ia mengernyit.
"Selalu bales chat ku meski kamu lagi sibuk, semangatin aku, nemenin bunda kemarin, mau hadir di awarding night semalem....banyak banget tuh kan....," lagi-lagi Dio tertawa.
"Itu sih bukan kado," ia merengut.
"Coba buka," Dio mengerling kearah kotak biru muda yang sekarang sudah dipegangnya.
"Sekarang?"
Dio mengangguk."
"Disini?"
"Biar tahu pas enggak," lagi-lagi Dio tersenyum.
Dengan penuh kehati-hatian ia membuka kotak tersebut yang ternyata isinya adalah....
"Cantik banget," gumamnya spontan demi melihat sebuah gelang tangan perak yang berkilauan terkena pantulan cahaya matahari.
"Sini aku pakaiin," Dio mengambil alih gelang dari tangannya. "Mau sebelah kanan atau kiri?"
Karena ia memakai jam tangan di pergelangan tangan kiri, maka ia memilih pergelangan tangan kanan sebagai tempat bersemayam gelang spesial dari orang spesial.
Lalu Dio memakaikan gelang ke pergelangan tangannya dengan sangat pelan dan hati-hati, "Ini gabungan dari batu kelahiran kita," ujar Dio sambil menyentuh sekilas batu-batu kecil cantik yang menghiasi gelang.
"Semoga kamu suka," lanjut Dio lagi yang tanpa diduga meminta ijin, "May i?"
What can i do? Apa yang bisa ia lakukan saat orang yang begitu disukainya sejak masa sekolah meminta ijin untuk mencium punggung tangannya? Tanpa meminta ijinpun ia tak keberatan sama sekali. Love you more.
Karena Dio harus segera check out dan pergi ke bandara, mereka tak bisa berlama-lama menikmati suasana pagi kota Jogja dari ketinggian rooftop.
Sepanjang perjalanan pulang, sambil tetap mengemudi, beberapa kali Dio menggenggam erat tangannya, seolah enggan berpisah.
Ia sempat memaksa untuk ikut pulang ke hotel dan mengantarnya ke bandara. Tapi Dio keberatan, "Nanti kamu pulangnya gimana, sama siapa? Kuantar ke kost aja."
Saat mobil menepi di depan gerbang Raudhah, Dio semakin erat menggenggam tangannya. "Jaga diri baik-baik, jangan telat makan."
"Kamu juga," tiba-tiba ia merasa berat harus berpisah dengan Dio.
Apa ini karena kejadian di cafe rooftop tadi, karena perlakuan dan pernyataan Dio padanya, yang membuat perpisahan ini seolah menjadi perpisahan yang sangat menyedihkan.
Dio mengikutinya keluar dari mobil, lalu mengantar sampai ke teras. Kali ini tanpa sentuhan dan kata-kata -karena ia tahu anak-anak kost pasti sedang mengintip dari balik jendela- hanya lambaian tangan dan wajah yang tak terdefinisikan yang menjadi kalimat perpisahan mereka.
Setelah mobil yang dikendarai Dio menghilang di balik tikungan, sebuah suara keras yang berasal dari bantingan pintu mobil terdengar.
BRUG!
Diikuti langkah-langkah panjang orang yang sangat dikenalnya, yang dalam hitungan detik sudah berdiri di teras dengan ciri khas kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana jeans.
"Urusan kita belum selesai."
__ADS_1