
Mala melotot memandangnya tak percaya, "Rendra ngelamar di tengah panggung Sendratari?!?"
Ia mengangguk.
"Pertunjukan Roro Jonggrang?!"
Lagi-lagi ia mengangguk.
"Nggak ada tempat lain yang lebih romantis apa!" Mala menggerutu sendiri.
"Kenapa?" ia mengernyit.
"Rendra tahu kisah Roro Jonggrang nggak sih? Lo tahu kan kisahnya? Udah jadi cerita legenda minimal pernah dapat pelajarannya di sekolah."
Ia mengangguk-angguk sambil bingung, "Iya...iya..terus?"
"Ya lo tahu sendiri gimana kisah cinta mereka," Mala mendecak, wajahnya kesal bukan main. "Harusnya ngelamar pas lagi makan, atau lagi keliling Abhayagiri yang suasananya romantis abis, di tepian sawah atau di mana kek asal bukan di panggung Sendratari yang nampilin kisah Roro Jonggrang!"
"Lo kenapa jadi bahas hal teknis sih?" Ia jadi tambah bingung. Nggak biasanya Mala riweuh begini.
"Sori...sori...," Mala mengangkat tangannya meminta maaf. "Gue cuma khawatir kalau kalau...."
"Kalau kalau apa?" ia jadi penasaran.
Mala mengibaskan tangannya cepat, "It's not a big deal. Okeh, lanjut....jadi...yes or no?"
Ia menghela napas, "Ya gimana lagi, Mal. Gue nggak mungkin mempermalukan dia di depan banyak orang kan?"
Mala mengernyit, "Hal seserius ini pertimbangannya mempermalukan orang?" lalu mendecak, "Ini tuh masa depan lo sendiri, Nggi!"
"Iya...iya...," ia ikut mendecak, "Gue tahu...gue tahu..."
Mala meraih tangan kirinya, lalu dengan memakai telunjuk menelusuri cincin yang melingkar di jari manisnya. "Cantik banget....," gumam Mala. "Pretties ring i've ever seen."
------
"Orang-orang Mesir sama Romawi Kuno punya kebiasaan memakai cincin pernikahan di jari manis tangan kiri," begitu kata Rendra saat memakaikan cincin padanya.
"Mereka percaya, di jari manis tangan kiri ada pembuluh darah yang terhubung langsung sama hati, namanya ‘vena amoris’ , pembuluh darah cinta," Rendra tersenyum puas memandangi cincin yang kini melingkar di jari manis tangan kirinya.
"Meski kamu mungkin tahu, pembuluh darah kayak gitu nggak pernah ada," Rendra tersenyum menatapnya. "Aku cuma pingin...selalu ada di hati kamu...."
"I need you. Always wanted you," Rendra menatapnya sungguh-sungguh. "Aku tahu ini nggak mudah buat kamu. I'll wait, i'm here, always here...."
Dengan latar belakang para penari yang mengelilingi mereka dengan gerakan syahdu. Membuatnya tak mampu berkata apa-apa, bahkan untuk sekedar bernafas pun ia ragu, is it real?
-------
"Rendra bilang begitu?" mata Mala mendadak berbinar. "Oh, no...cuteness overload," Mala memeluknya haru. "Doa terbaik buat kalian berdua."
Ia tersenyum di balik punggung Mala, "Makasih Mal...makasih banyak...selama ini udah jadi shoulder to cry on..."
"Anytime, Nggi...anytime," Mala tersenyum.
"Tolong doain gue ya Mal...terus terang gue masih...ngerasa ragu. Kayak ada yang belum sreg gitu. Kayak....apa ya....unspeakable by words...."
Mala memandangnya dengan ekspresi yang tak terbaca, "Best wishes for you two...."
Dan setelah episode melamar, Rendra benar-benar menjadikan dirinya berguna, dengan mengantar jemput ke kampus tiap ada waktu, mengiriminya makanan -ini sih udah dari dulu ya-, menemaninya belajar, mensupport semua hal yang sedang dan akan dilakukannya, Rendra benar-benar berusaha untuk selalu ada disampingnya. He's doing everything.
Saat ia memilih menyelesaikan tugas di Digilib, Rendra juga mengerjakan skripsi disana. Atau di teras Raudhah, berdiam diri di depan laptop masing-masing sambil sesekali saling melempar senyum. Kalau harus absen karena bimbingan atau ngurusin ManjoMaju, Rendra pasti lebih dulu berkabar. He always put her on the top priority.
Dan setelah beberapa hari mereka tak bertemu, pagi ini Rendra sudah berdiri di teras Raudhah dengan senyum khasnya.
"Karena kamu bilang weekend ini kosong....kita jalan yuk."
Rendra bahkan tak mengijinkannya mandi. "Nggak usah mandi, udah cantik kok."
"Aku nggak pernah keluar tanpa mandi," gerutunya. Yang bener aja Rendra, udahlah datang jam 6 pagi, langsung ngajak jalan pula.
"Oke, aku tunggu," sejak episode melamar juga, komunikasi dua arah mereka mulai terbangun. Rendra tak lagi memberi keputusan sepihak. Selalu ada diskusi sebelum mengambil keputusan.
"Emang kita mau kemana sih?" tanyanya penasaran diatas motor yang membawa mereka menembus dinginnya udara pagi.
"Ke rumahku."
"Ke rumah kamu?" seumur-umur ia belum pernah mau diajak ke rumah Rendra, meski sudah sering diajak. Baginya agak aneh pergi ke rumah cowok tanpa alasan penting, meski itu rumah orang yang telah melamarnya.
"Tenang...nggak ada siapa siapa kok."
Tapi Rendra justru mengarahkan motor ke sebuah pasar tradisional.
"Pasar?" tanyanya bingung.
"Iyap," Rendra tersenyum. "Kita mau masak."
Dengan luwes Rendra mengajaknya memasuki pasar. "Kamu....emang bisa belanja di pasar?" tanyanya curiga. Yang hanya dijawab dengan senyum simpul.
Dan saat ini mereka sudah berdiri di depan sebuah kios sayuran. Rendra langsung membeli sayuran, bawang merah, bawang putih, kencur, dan beberapa bumbu dapur lain.
"Woo, mas ganteng, lak suwe ra ketok (Woo, mas ganteng, lama nggak kelihatan)," sapa pemilik kios sayuran begitu menyadari ternyata Rendra yang datang membeli. Dari cara bicara sepertinya Rendra bukan orang asing di pasar ini. Hmm.
"Sibuk, Mbah, ngurusin iki," gurau Rendra sambil menunjuk kearahnya.
"Hoo, saiki wis nduwe yang to."
__ADS_1
(Hoo, sekarang udah punya pacar ya).
"Sampun, Mbah," Rendra tersenyum bangga. Membuatnya meringis malu. Acara perkenalan pun dimulai. Bukan hanya Mbah pemilik kios sayuran, beberapa penjual di kios sebelah juga ikut nimbrung.
"Kamu?" ia merengut saking malunya menjadi pusat perhatian di pasar. Tapi Rendra malah tersenyum bangga.
Setelah mendapat semua yang diperlukan, sebelum pulang Rendra mengajaknya mampir ke sebuah lapak jamu gendong yang ramai dikelilingi pembeli.
"Mba, aku biasa yo," Rendra mengangkat tangannya.
"Woo, mase suwe ra ketok, nandi wae to (woo, masnya lama nggak kelihatan, kemana aja)," sambutan mba jamu gendong tak beda jauh dengan sebelumnya.
"Piye kabare (apa kabar)?" ujarnya sambil meracik pesanan Rendra.
"Uapik Mba (baik mba)," Rendra mengacungkan jempol.
"Lho, saiki wis ono gandengane to. Yange po (lho, sekarang sudah ada gandengan. Pacarnya?)?" mba jamu menyelidik ke arahnya. Dan dimulailah sesi perkenalan yang kedua.
"Kamu mau jamu juga nggak?" Rendra menawarkan. Ia pun memilih jamu beras kencur. Sambil tak bisa membayangkan sepahit apa jamu hitam pekat yang diminum Rendra dalam sekali teguk.
"Bratawali, enak buat badan," Rendra tersenyum demi melihat wajahnya yang bengong. Sebelum ia sempat berkomentar, seorang yang sedang belanja di lapak sebelah mencuri perhatian, "Bu...bayam yang mana ya?" tanyanya dengan wajah nampak kebingungan di depan setumpuk kangkung dan sausin.
Sontak membuat jiwa jahil Rendra kumat, "Wah, mba pasti datang dari masa depan ya. Yang semua makanan dalam bentuk kapsul?" membuatnya langsung mencubit lengan Rendra menyuruhnya untuk tak macam-macam.
Sementara mba-mba yang nyari bayam tersipu malu, "Masnya ganteng-ganteng kok mainnya di pasar sih? Situ artis ya?" kalimat spontan yang mengejutkan membuat mereka tak mampu menahan senyum.
"Wah, bukan artis mba, saya rakyat jelita," Rendra tersenyum. "Iya nih, ke pasar nemenin calon istri belanja," seloroh Rendra skakmat yang langsung membuat mba tersebut ngeloyor pergi.
"Kamu ini," gerutunya sambil mencubit lengan Rendra sambil berlalu dari lapak jamu.
"Ya abis masa bayam aja nggak tahu," Rendra tergelak.
"Ya mungkin dia emang baru kali ini belanja," sungutnya. "Jangan underestimate in orang karena hal kecil yang mereka tampilkan." Kalimat terakhir membuat Rendra langsung melingkarkan lengan kanan ke pundaknya.
Dari pasar mereka langsung pulang ke rumah Rendra. Rumah yang terlalu bagus dan terlalu besar untuk ukuran mahasiswa yang masih menyelesaikan skripsi. Juga terlalu sepi karena tidak ada orang lain di dalamnya.
"Yu Jam libur kalau weekend," terang Rendra sebelum ia sempat bertanya. "Nanti deh kalau kamu kesini lagi kukenalin."
Dan kedatangan mereka langsung disambut oleh kucing cantik berbulu tebal dua warna dengan pola sapi yang telah menunggu di depan pintu. Membuatnya spontan berjongkok untuk mengelusnya.
"Wah, jadi kamu acc Kim?" Rendra terkekeh melihat kucingnya langsung naik ke pangkuan Anggi dan berdiam disana. "Kimberly suka sama kamu. Like father like daughter," kekehnya lagi.
Oh, jadi ini Kimberly yang diceritakan Frida dulu. Hmm, benar-benar kucing yang cantik, sehat, dan terawat.
Rendra tak membuang waktu dengan langsung terjun ke dapur. Ia pun ikut membantu menyiangi bayam dan wortel. Saat sedang asyik memotong-motong, tiba-tiba dari arah belakang Rendra memakaikan apron padanya. "Pakai ini nih biar bajunya nggak kotor," sambil mengikatkan tali apron di belakang pinggangnya. Tapi gerakan Rendra selanjutnya tak pernah bisa ia tebak,
"Sori sebentar...permisi," Rendra tiba-tiba mengikat rambutnya sedikit keatas dengan karet gelang. "Biar nggak gerah."
Membuatnya harus menelan ludah berkali-kali ketika jari jemari Rendra tak sengaja menyentuh tengkuknya saat hendak mengikat rambut. Menimbulkan percikan arus pendek listrik di sekujur tubuh yang membuat hatinya jadi berdebar tak karuan.
"Kamu...jarang masak?" Rendra tersenyum menggoda. Pasti karena gaya kakunya di dapur, mau ngapa-ngapain kagok. Ia bukannya tak bisa masak, tapi memasak jelas bukan hobinya. Dan memang selama ini ia lebih sering membeli makanan jadi ketimbang memasak seperti Salsa atau Naila yang rajin masak di kost.
"Kamu pasti belum pernah dalam posisi terjepit."
"Maksudnya?" kini ia sedang membantu menata piring di meja makan.
"Posisi mau nggak mau harus masak buat bertahan hidup."
Bertahan hidup kayak di hutan belantara segala, ia memutar bola mata. Dan langsung terbit air liur begitu melihat hasil masakan yang kini sudah terhidang di atas meja. Ada sayur bening isi bayam, wortel, jagung. Tempe dan tahu goreng. Tak ketinggalan ikan asin dan sambal. Hm, lezat.
"Kamu bisa makan makanan begini?" ia mengernyit heran menyadari sederhananya hidangan di meja.
Kini gantian Rendra mengernyit, "Emang kenapa? Ini bergizi loh. Memenuhi syarat empat sehat lima sempurna."
"Ya kupikir kamu cuma mau makan makanan tertentu aja," ia jadi nggak enak hati. "Lagian ini masakan Jawa banget, emang lidah kamu cocok makanan begini?"
"Ini udah versi lengkap. Dulu aku cuma sayur sama tempe aja, atau ikan asin sama sambal aja," Rendra tersenyum. "Yuk makan keburu dingin."
Sebelum duduk ia teringat sesuatu, "Ini menu tahun pertama kamu disini?"
"Iyap," Rendra menjawab mantap. "Menu kenangan bertahan hidup di tanah rantau," lanjutnya. "Aku pingin kamu tahu banyak tentang aku, yang orang lain nggak pernah tahu."
Ia tersenyum, "Very surprised."
Mereka makan sambil bercerita tentang banyak hal. Baru kali ini ia sadar, ternyata Rendra teman ngobrol yang menyenangkan. Mereka bisa ngomong hal random yang tanpa disadari tiba-tiba berubah haluan jadi membahas hal serius. Dan yang paling penting adalah, sambal dadak buatan Rendra enak banget, asli, ia sampai nambah berkali-kali. Rasa pedasnya pas, agak sedikit manis, membuatnya ingin nambah lagi dan lagi. Ampun.
Setelah makan mereka sama-sama mencuci peralatan bekas masak dan makan. Ia bagian mencuci, Rendra membilas. Sambil sesekali menertawakan banyak hal. Baru kali ini ia merasa nyaman berdua bersama Rendra.
"Aku nggak jago masak," ujarnya terus terang sambil mencuci.
"Tapi kamu jago bikin hatiku bahagia," Rendra tersenyum.
"Nggak nyambung," gerutunya sambil menunduk berusaha menyembunyikan pipinya yang memanas mendengar jawaban Rendra barusan.
"Kamu bikin aku jadi semangat."
"Tambah nggak nyambung," ia makin menggerutu.
"Belum jago masak no problem, yang penting kamu jago bikin aku ngerasa jadi cowok paling beruntung di dunia ini...."
"Gombal banget!" dengan tangan penuh busa ia spontan mencubit lengan Rendra. Sementara yang dicubit hanya tergelak.
Begitu urusan cucian selesai, Rendra punya ide lain, "Kita nonton yuk."
Mereka pun melakukan suit untuk menentukan judul film yang akan ditonton.
__ADS_1
"Aku menang!" Rendra melonjak kegirangan, dan langsung memilih Fifty Shades Freed yang langsung ditolaknya mentah-mentah.
"Midsommar?"
"Udah pernah."
"Hereditary?"
"Terlalu dark."
"Annihilation?"
"Nggak ada genre selain horror apa?!"
Rendra tergelak. Akhirnya mereka sepakat memilih Mission Impossible : Fallout. Dan 20 menit pertama saat rangkaian adegan di layar membuat jantungnya turun ke dengkul karena tegang, ia malah mendengar suara dengkuran halus dari samping. Ya ampun, Rendra sudah tertidur. Benar-benar muka bantal.
Akhirnya ia membiarkan Tom Cruise jungkir balik sendiri di layar televisi, sementara ia lebih memilih bermain-main di halaman belakang dengan Kimberly.
Saat ia sedang asyik memainkan tali yang ditarik ulur oleh Kimberly di rerumputan halaman belakang, terdengar suara berat dengan nada ngantuk, "Kamu nggak nonton?"
Dilihatnya Rendra sudah berdiri di teras belakang sambil meregangkan badan, wajahnya terlihat masih ngantuk berat. Ia hanya menggeleng sambil terus bermain tali berdua Kimberly.
Rendra menyusul ikut duduk di atas rerumputan, "Kim...Kim....," panggilnya yang langsung disambut dengan lompatan Kimberly ke dalam pangkuannya.
"Kamu kelihatan cape banget," ia tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahu. Wajah lelah Rendra bahkan sudah terlihat sebelum perjalanan mereka ke Abhayagiri. Tipe fighting seperti Rendra sepertinya jauh dari kata 'mengeluh'. Jadi, ketika wajah lelah tak mampu lagi disembunyikan oleh empunya, ia mulai sedikit khawatir.
"Abis ngerjain Bab 3 sampai subuh," jawab Rendra sambil merebahkan diri di atas rerumputan. Disusul Kimberly yang melompat ke dadanya. "Mumpung otak lagi ngalir."
"Kamu tuh," ia menunduk memainkan rumput sambil mengkerut. "Jam tidurnya yang bener. Kalau kurang tidur, nggak bisa diganti meski seharian kamu balas dendam tidur. Metabolisme tubuh tetap terganggu."
Rendra masih terkekeh-kekeh bermain-main dengan Kimberly di dadanya. "Yah, gimana lagi...ngejar wisuda Februari. Biar bisa ngelamar resmi ke orangtua kamu."
Sambil tetap mengkerut ia harus menelan ludah lebih dulu. "Masih ada wisuda Mei. Agustus juga. Kamu mau sakit gara-gara kecapekan?"
"Mei masih oke lah," kali ini Rendra sudah kembali duduk dengan Kimberly di atas pangkuan. "Kalau Agustus kelamaan. Keburu disamber orang lagi nanti," Rendra terkekeh, membuatnya memutar bola mata.
"Emang kamu bener-bener serius mau 'nikah'?" tanyanya hati-hati.
Rendra menatapnya lembut, "Aku serius sejak pertama kali nganterin kamu yang cemberut ke FKG buat naik Ojek online."
Hell yeah.
"Kamu pikir aku main-main?"
Ia kembali menunduk pura-pura mencabuti rumput liar yang mengganggu. "Aku bener-bener belum ada bayangan kesana. Masih kuliah, belum KKN, TA. Menikah bagiku kayak fatamorgana...."
Diluar dugaan Rendra meraih tangannya, "Biar kubuktikan kalau yang kamu lihat itu oase, bukan fatamorgana." Rendra tersenyum meyakinkan, "Kamu masih bisa kuliah, kamu bisa KKN kemanapun kamu mau, ngerjain TA tanpa gangguan. Kamu bisa langsung lanjut master, kamu boleh kerja, kamu bebas lakuin semua yang pingin kamu lakuin."
"Aku nggak akan jadi penghalang," Rendra semakin menggenggam erat tangannya. "Kamu justru bakalan nemuin supporter fanatik, that's me. Absolutely me, always me...."
'Teruntukmu hatiku
Ingin kubersuara
Merangkai semua tanya
Imaji yang terlintas
Berjalan pada satu
Tanya selalu menggangguku
Seseorang
Itukah dirimu, kasih?
Kepada yang tercinta
Inginnya 'ku mengeluh
Semua resah di diri
Mencari jawab pasti
Akankah seseorang
Yang kuimpikan 'kan hadir?
Raut halus
Menyelimuti jantungku
Cinta hanyalah cinta
Hidup dan mati untukmu
Mungkinkah semua tanya
Kau yang jawab?
Dan tentang seseorang
Itu pula dirimu
Kubersumpah akan mencinta'
__ADS_1
(Anda, Tentang Seseorang)