
Ia memandang masygul dua benda yang sengaja diletakkan berdampingan di atas meja belajar, gelang pemberian Dio dan cincin rumput -yang mulai layu- dari Rendra.
"Istikharah, Nggi," begitu kata Salsa waktu ia lewat di depan kamarnya sepulang dari latihan belajar naik motor. Padahal ia tak pernah cerita apapun, tapi Salsa seolah tahu isi hatinya.
"Jangan sia-siakan laki-laki baik yang sungguh-sungguh datang mendekat," lanjut
Salsa semakin membuat kepalanya pening.
Mungkin, seandainya Dio yang datang, tanpa berpikir akan langsung mengiyakan. Tapi Rendra? Track record dan lifestylenya benar-benar mendistraksi kinerja otak dalam mengambil keputusan.
Ia membelai lembut gelang perak yang kini sudah tak berbentuk. Seluruh bayangan tentang masa depan yang sangat ingin dilalui jelas ada pada Dio. Di pertemuan mereka yang terakhir pun masih ada secercah harapan yang membuncah, "Perasaanku padamu nggak akan berubah....."
"Apa aku harus nunggu kamu?" bisiknya lelah.
"Jangan pernah nunggu, lo terlalu berharga untuk ngelakuin itu. Kalau Dio beneran cinta sama elo, pasti dia nggak akan bikin lo nunggu nggak jelas kayak gini. Dia bakalan ngasih kepastian ke elo walau terpisah ruang, waktu, whatever you name it," Mala jelas masih sebal padanya karena terlalu lama dan lambat mengambil keputusan.
"Now or never," Mala memang nggak pernah selow kalau kasih saran. "Yay or nay....," dan Mala jelas-jelas memihak Rendra.
Tapi kehidupan dunia nyata kembali menariknya dari angan tak berkesudahan, tentang kuliah dan kampus jelang UAS (Ujian Akhir Semester). Sebagai penerima beasiswa unggulan berprestasi, sudah menjadi harga mati IPK tak boleh turun, harus tetap ada di level standar yang telah ditentukan. Jika tidak, beasiswa akan langsung diberhentikan. Itulah mengapa minggu tenang harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mempersiapkan UAS, yaitu dengan belajar, belajar, dan belajar.
Tapi bayangan kenikmatan belajar full di minggu tenang hanyalah fatamorgana. Karena beberapa dosen justru memakainya untuk jadwal kuliah tambahan atau kuliah pengganti. Belum tugas membuat makalah, paper, essay yang wajib dikumpulkan saat UAS dengan embel-embel, “Kalau saat ujian kalian tidak membawa tugasnya, kalian tidak bisa ikut UAS.”
Jadilah minggu tenang seolah hanya propaganda semu, karena kehidupan kampus tak ada bedanya dengan hari biasa. Lebih sibuk malah dengan sederet tugas yang harus segera diselesaikan.
Seperti hari ini, setelah pagi-pagi -seperti biasa selama beberapa hari terakhir- latihan naik motor. Jam 9 ia sudah nongkrong di lantai 2 Digilib (Digital Library) untuk mengerjakan essay dua mata kuliah sekaligus, sebelum nanti masuk kelas tambahan jam 10. Saking serius mengetik di depan flat panel, sampai tak menyadari siapa orang yang sedari tadi duduk di depannya.
"K-kamu?" ia hampir terlonjak begitu menyadari orang yang duduk tepat di seberangnya adalah, Rendra.
"Serius amat dari tadi," Rendra tersenyum miring. "Ngerjain apa sih?"
"Ngapain disini?" ia harus berbisik agar tak mengganggu mahasiswa lain yang juga sedang mengerjakan tugas di area ini.
"Skripsi," ujar Rendra sok serius sambil mengangkat flash drive, lalu berusaha memasukkannya ke dalam port USB. Bisa-bisanya anak TI nugas di Fisipol.
"Kenapa? Nggak boleh?" Rendra tersenyum menggoda seakan bisa membaca isi hatinya. "Serius banget...tugas apa sih?"
"Essay," ia berusaha memusatkan konsentrasi lagi ke depan layar, tapi ini bukan hal mudah, karena Rendra jelas-jelas sedang memperhatikannya.
"Cabut yuk," kalimat ringan Rendra membuatnya melotot.
"Aku bantu ngerjain deh biar cepet selesai," Rendra hendak bangkit dari duduk tapi urung begitu melihatnya melotot lagi.
"Galak amat," Rendra pura-pura bersungut-sungut.
"Kamu katanya lagi nyekripsi," kali ini ia benar-benar kesal karena konsentrasi dan mood nugasnya menguap entah kemana.
"Skripsi cincai," jawab Rendra dengan gaya malas. "Jalan yuk....," sekarang gaya malas Rendra mendadak berubah menjadi semangat 45. Dasar!
Ia pun buru-buru mengesave file yang baru saja sempat diketik. Karena kemungkinan besar tak akan bisa menyelesaikan essay sekarang, harus dilanjut di kost karena ada pengganggu.
"Bentar lagi ada kelas," jawabnya sambil melihat pergelangan tangan kiri, 9.45. Lima belas menit cukup untuk jalan kaki sampai ke kelas tanpa telat.
"Yah," Rendra mendecak. "Sampai jam berapa?"
"Dua belas," jawabnya acuh sambil memasukkan buku dan kertas-kertas ke dalam Tote bag miliknya.
"Oke, aku tunggu," tukas Rendra yakin. Sama sekali tak mempedulikan kernyitan herannya.
Dan sepanjang kuliah berlangsung, ia dibuat tak bisa konsentrasi karena sibuk memikirkan apakah Rendra benar-benar sedang menunggunya atau tidak.
"Lo kenapa sih...gelisah banget?" Mala jelas terganggu dengan tingkah anehnya. Tapi ia hanya meringis.
Jawaban pasti diperoleh dua jam kemudian. Begitu keluar kelas, ia melihat Rendra sedang bercakap-cakap dengan salah satu dosen muda Fisipol di selasar. Begitu melihatnya, Rendra langsung menyudahi obrolan dan berjalan menghampiri dengan senyum terkembang.
"Siap untuk petualangan?" tanya Rendra dengan wajah berbinar. Tanpa risih sedikitpun di hadapan puluhan anak Ilkom yang lalu lalang.
Yang sebagian besar memasang wajah kaget sekaligus curious melihat keakraban mereka berdua. Atau malah terkejut mendapati most wanted to die for nya anak teknik tiba-tiba muncul di Fisipol.
Membuatnya buru-buru menarik lengan Rendra agar segera menjauh dari selasar. Namun sebelum benar-benar pergi, sudut matanya sempat menangkap bayangan Mala yang mengacungkan jempol.
"Aduh, sabar dong...," Rendra merengek-rengek seperti anak kecil. Membuatnya menghentakkan cekalan di lengan Rendra.
"Ngapain di selasar?!"
"Nunggu kamu lah. Sekalian ngobrol sama Mas Faisal. Kamu ngambil matkul dia nggak?"
__ADS_1
Ia tak menggubris pertanyaan Rendra, "Kamu nggak ada kerjaan apa nunggu berjam-jam?!"
"Enggak," Rendra menatapnya seperti anak kecil yang sedang dimarahi. "Gabut banget."
"Nggak ke kantor? Proyek kamu? Nggak ada meeting? Skripsi?"
Rendra melipat tangan di depan dada sambil menggelengkan kepala, "Hmm....ternyata kamu tahu semua kegiatan aku," sambil tersenyum simpul. "Udah cocok nih jadi pendamping hidup...."
Berbicara dengan Rendra memang harus ekstra sabar. "Kalau habis ini ada kelas lagi gimana? Sia-sia kamu nunggu dua jam," gerutunya kesal.
"Tadi udah nanya ke akademik, barusan kelas terakhir," Rendra tersenyum penuh kemenangan.
Ia akhirnya -sudah bisa ditebak- mengikuti Rendra menuju ke tempat parkir motor Fisipol. Dan menemui motor matic yang pernah dipakai untuk latihan tempo hari.
"Hari ini, kita bertualangnya pakai motor nggak apa-apa kan?" ujar Rendra sambil memakaikan helm padanya, meski sebelumnya ia berusaha untuk memakai sendiri.
"Jaket?" tawar Rendra seraya mengangsurkan jaket yang diambil dari dalam bagasi.
"Memang kita mau kemana sih?" tanyanya curiga.
"Ada deh," Rendra akhirnya memakaikan jaket karena ia hanya mematung. Bukan jaket warna hijau seperti biasanya. Tapi jaket perempuan berwarna biru muda yang masih bau toko lengkap dengan pricetagnya.
Menyadari label harga masih menempel, Rendra mengurungkan sementara kegiatan memakaikan jaket. Karena harus melepas dengan cara menggigitnya. Begitu label terlepas, ia memilih untuk mengambil jaket dari tangan Rendra. Kemudian memakainya sendiri.
"Kamu tahu nggak apa enaknya naik motor dibanding mobil?" Rendra melempar pertanyaan paling nggak penting ketika motor yang mereka tumpangi antri menuju pintu keluar.
"......."
"Kalau panas, nggak kehujanan. Kalau hujan, nggak kepanasan," Rendra menjawab pertanyaan yang dilontarkan sendiri sambil terkekeh. Namun menurutnya sama sekali tak terdengar lucu.
Dari Fisipol, Rendra mengarahkan motor ke arah Maskam. Lalu bertanya, "Kamu udah sholat belum?"
Membuat hatinya sedikit meleleh. Sejak kapan Rendra jadi aware tentang ibadah?
Dari Maskam, Rendra mengemudi menuju ke Jl. Gejayan. Lalu belok kiri lurus menyusuri sepanjang Jl. Solo, Janti, terus melaju ke arah Prambanan. Dan sebelum gapura perbatasan DIY-Jawa Tengah, di traffic light Rendra mengambil kanan, ke arah selatan menuju Pasar Prambanan.
Sepanjang perjalanan mereka hanya berdiam diri. Ia jelas tak ingin menganggu konsentrasi Rendra dalam mengemudi. Sementara Rendra sepertinya ingin cepat-cepat sampai tujuan.
Begitu mereka bertemu dengan penunjuk jalan menuju Candi Ratu Boko, Rendra mengambil kiri. Lalu tanpa disangka justru menepikan motor di sebuah pekarangan kosong tepat di samping kios tukang tambal ban yang ramai.
"Ini udah jalan desa, nggak ada kendaraan besar. Palingan motor sama mobil. Kamu....mau nyoba?" Rendra melepas helm sambil tersenyum.
"Nyoba?" ia masih bingung.
"Naik motor di depan. Sini tasnya aku bawain."
Tanpa pikir panjang ia menerima tawaran Rendra. Tawaran atau tantangan?
Pertama, terus terang ia masih agak kagok dan sedikit kesulitan alias demam panggung. Padahal suasana jalan raya tak terlalu ramai. Tangan kaku. Tarikan gas juga masih belum stabil.
"Tenang...santai....pelan-pelan aja...," bisik Rendra dari belakang. "Fokus ke depan. Anggap sekarang kita lagi muterin lapangan bola."
Lambat laun ia mulai bisa menyesuaikan diri dan menyatu dengan motor. Lengan mulai luwes, tarikan gas lebih halus. Membuat kepercayaan diri mendadak meningkat tajam.
Dari yang awalnya jarum speedometer menunjukkan kecepatan 20 km/jam dengan ritme tersendat-sendat. Kini tanpa sadar telah melaju di 40 km/jam lancar tanpa hambatan dan terasa sangat menyenangkan. Angin kencang yang menerpa wajah karena kaca helm sengaja dibuka, membuatnya merasa sedang cosplay menjadi Marc Marquez. Seru abis!
"Keren...keren....," teriak Rendra berkali-kali. "Anggi kereeeen....."
"Jangan gerak-gerak!" gerutunya karena motor jadi goyang saat Rendra berteriak. "Nanti jatuh!"
"Nggak akan!" Rendra tertawa. "Kereeeen. Besok mulai belajar mobil ya."
Jalan raya pedesaan yang mereka susuri melewati deretan rumah penduduk dan hamparan sawah yang subur menghijau sejauh mata memandang. Semakin lama jalan mulai menanjak, menuju ke atas perbukitan. Tak lama kemudian, pagar tembok keliling kokoh berbahan batuan khas candi menyambut mereka.
"Di depan berhenti ya, pintu gerbangnya di sebelah kanan," ujar Rendra.
Mereka langsung disambut oleh beberapa pegawai yang menjaga parkir dengan pakaian jas bewarna cream. Yang dengan sigap memandu untuk memarkirkan kendaraan.
Setelah memarkirkan motor, mendadak hatinya merasa puas dengan perjalanan yang telah ditempuh. Hampir 5 Km mengemudi di depan, perjalanan lancar sampai tujuan. Membuatnya berpikir, setelah UAS harus pulang untuk membuat SIM, sekaligus mengambil salah satu motor yang ada di rumah untuk dibawa ke Jogja.
Lamunan tentang motor buyar ketika Rendra mengulurkan tangan, "Yuk."
Dengan sedikit ragu ia pun menyambut uluran tangan Rendra.
Kesan pertama yang dirasakan begitu memasuki Abhayagiri Restaurant adalah sejuk dan takjub. Bagaimana tidak, posisinya yang berada di atas ketinggian, dengan udara segar khas pegunungan. Ditambah interior bangunan dan suguhan pemandangan menakjubkan terhampar luas dengan view Gunung Merapi, Candi Prambanan, puncak Candi Sojiwan, dan desa-desa sekitar yang masih hijau. Membuatnya menarik kesimpulan, ini tempat keren banget.
__ADS_1
"Kamu mau duduk di luar atau di dalam?" Rendra menawarkan.
Tapi ia hanya mengangkat bahu, "Terserah."
Ternyata meja di outdoor sudah full booked, akhirnya Rendra memilih duduk di bagian dalam.
Begitu memasuki restaurant, mereka langsung disambut oleh alunan musik Jawa yang syahdu. Dengan interior ruangan yang sangat cantik beserta jendela-jendela kaca yang mengelilingi hampir seluruh ruangan. Langsung memperlihatkan view di luar.
"Kita langsung makan ya, lapar," Rendra memegang perut, sementara ia hanya mengangguk.
Rendra memilih Rib Eye Steak, Lemonade, dan Apple Tart. Sementara ia memilih Chicken Steak dan Strawberry Blush.
"Archilla Churros nya bikin nagih loh," seperti biasa, Rendra menambahkan pesanannya secara sepihak.
"Udah pernah kesini?" Rendra tersenyum, namun tak dapat menyembunyikan raut lelah di wajahnya.
Ia hanya menggelengkan kepala sambil memperhatikan live music accoustic performance berupa gamelan jawa dan alunan lagu yang dinyanyikan oleh para sinden. Suasana restoran siang ini terbilang ramai, hampir semua kursi terisi penuh.
"Kapan-kapan kita ajak Papah sama Mamah kamu kesini....pasti suka."
Ia hanya tersenyum. Bersamaan dengan pesanan makanan yang diantar ke meja. Mungkin karena lapar, naik motor dari Kampus sampai Prambanan, mereka menghabiskan makan dengan cepat.
Usai makan Rendra mengajaknya berkeliling, menikmati suasana yang begitu asri dan teduh. Sekeliling mata memandang yang terlihat hanyalah warna menyegarkan yang serba hijau. Pepohonan, sawah, dan pemandangan di sekitar kota Jogja tersaji dengan sangat indah disini.
Selain bagian indoor berjendela kaca yang mereka tempati, Abhayagiri juga memiliki bagian indoor lain berupa pendopo khas Jawa yang terbuka tanpa pintu. Dengan dinding batu dan bangunan yang terbuat dari kayu mendominasi hampir di seluruh area.
Disana juga terdapat 'sawah mini' yang ditanami padi, terlihat subur dan gembur. Sedangkan lampu-lampu gantung yang mengelilingi bagian outdoor membuatnya tak bisa membayangkan seberapa romantisnya suasana pada malam hari.
Di akhir perjalanan berkeliling, Rendra mengajaknya melihat pertunjukan Sendratari Roro Jonggrang. Legenda Roro Jonggrang yang melatarbelakangi pembangunan Candi Prambanan ini merupakan kisah drama percintaan yang sangat indah untuk dipentaskan. Menceritakan kisah cinta Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang yang tak terbalas.
-------------
Kisah diawali dengan kekalahan Prabu Damarmoyo, Raja dari Kerajaan Pengging, terhadap Prabu Boko, ayahanda Roro Jonggrang. Mendengar kekalahan ayahnya, Bandung sang putra pun sangat murka dan akhirnya memutuskan untuk pergi berperang melawan Prabu Boko.
Di dalam perjalanan, Bandung bertemu dengan Bondowoso, jin yang sangat sakti. Mereka pun bertanding, dan dimenangkan oleh Bandung. Sehingga mereka bersatu menjadi satu raga yang sakti, Bandung Bondowoso. Karena kesaktiannya itu, ia dapat mengalahkan Prabu Boko.
Di Keraton Boko, Bandung Bondowoso melihat Roro Jonggrang yang sangat cantik, membuatnya langsung jatuh cinta, love at the first sight. Bandung memberanikan diri melamar Roro Jonggrang.
Namun Roro Jonggrang yang mengetahui bahwa Bandung adalah pembunuh ayahnya, langsung menolak mentah-mentah lamaran Bandung.
Karena terus dirayu, akhirnya Roro Jonggrang bersedia menerima lamaran Bandung dengan meminta syarat yaitu dibuatkan seribu candi dalam waktu satu malam. Roro Jonggrang berpikir, Bandung takkan mampu memenuhi permintaannya yang mustahil.
Diluar dugaan, Bandung justru menyanggupi permintaan tersebut. Dia yakin dengan kesaktian yang dimilikinya, serta bantuan dari para jin yang merupakan anak buah Bondowoso, ia mampu menyelesaikan seribu candi tersebut.
Roro Jonggang yang sebenarnya tak menyukai Bandung dan masih marah karena Bandung telah membunuh ayahnya, merasa cemas melihat pembangunan candi hampir selesai.
Ia pun berusaha untuk menggagalkannya. Ia membangunkan para perempuan di seluruh kerajaan dan meminta mereka untuk memukul-mukul lesung. Mendengar suara lesung, ayam jago berkokok. Para jin mengira hari sudah pagi, mereka pun segera pergi karena takut dengan matahari.
Mengetahui pembangunan candi belum genap seribu karena ulah Roro Jonggrang, Bandung sangat marah dan mengutuk Roro Jonggang menjadi arca untuk menggenapi candi yang keseribu.
Arca yang sekarang dapat kita lihat di candi utama Kompleks Candi Prambanan, yaitu Candi Siwa. Arca seorang dewi yang sangat cantik di salah satu bilik Candi Siwa bernama Arca Durgamahisasuramardhini. Arca Dewi Durga inilah yang dipercaya oleh masyarakat sebagai perwujudan Roro Jonggrang dari legenda tersebut.
--------
Pertunjukan Sendratari telah berakhir. Namun para penonton yang terpesona masih belum beranjak. Banyak yang masih berdiam diri di tempat duduk masing-masing. Termasuk dirinya dan Rendra.
Saat itulah secara mengagetkan, wanita cuantik ayu yang menjadi pemeran Roro Jonggrang dan pemuda gagah pemeran Bandung Bondowoso keluar dari balik panggung. Dengan diikuti beberapa orang penari, mereka mulai menghampiri kursi penonton.
Ya ampun, jantungnya hampir copot ketika wanita cantik itu tiba-tiba menarik tangannya untuk naik ke atas panggung. Dengan kebingungan ia pun mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi ke arah Rendra. Tapi yang dimintai tolong hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Membuatnya terpaksa bersedia memenuhi ajakan Roro Jonggrang untuk naik keatas panggung. Meski wajahnya sampai memerah karena menahan malu. Sementara hatinya bingung bukan main.
Dan keberadaannya yang memakai baju casual di antara para pelakon Sendratari yang mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, langsung menarik perhatian banyak orang. Hingga memancing tepukan tangan spontan dari para penonton yang masih berada di sana.
Begitu ia sampai di tengah panggung, para penari yang jumlahnya lumayan banyak langsung membuat gerakan tarian yang membentuk lingkaran mengelilinginya. Hingga tak bisa melihat kemanapun, terkunci di dalam.
Tak harus menunggu lama, gerakan tari perlahan mulai berubah. Membuatnya kembali bisa melihat sekitar. Dan hal pertama yang berhasil tertangkap oleh retina matanya adalah....Rendra, sedang berjalan menyusuri panggung in a very romantic way sambil tersenyum penuh arti.
Ia yang tak menduga apapun mendadak shock begitu Rendra sampai di hadapannya, langsung berlutut dengan menekuk kaki sebelah kanan. Sembari tangan kanan Rendra mengangkat kotak kecil berbentuk limas berbahan kaca berisi cincin yang berkilau.
"Rahayu Anggiantisa....maukah kamu menikah denganku?"
Lalu dilanjutkan dengan bisikan yang sedikit melenceng dari aura romantis yang begitu kuat menguar-nguar, "Ini ganti cincin rumput yang kemarin..."
***
__ADS_1