
Rendra berniat menyimpan motor di Raudhah, "Biar bisa dipakai latihan tiap hari, nggak harus nunggu aku."
Tapi ia jelas menolak. Modus senyap seperti ini nggak akan mempan baginya. Ia tahu pasti motor warna putih biru itu masih gress, bahkan belum ada plat nomornya.
Ia tentu tak mau berhutang budi terlalu banyak apalagi sampai berhutang harta, meski statusnya diberi pinjaman untuk sementara.
"Wah, nggak usah, makasih, aku bisa latihan pinjem motor Mba Naila atau Mba Gadiza," tolaknya yakin.
Membuat Rendra memandangnya heran, "Keras kepala. Kebanyakan cewek bakalan kegirangan dikasih beginian," keluh Rendra.
"Ada juga yang sampai bela-belain ngasih harta paling berharga ke cowoknya buat dapat ginian," lanjut Rendra lagi.
"Atau malah sengaja beli sendiri, tapi di posting di sosmed seolah-olah surprise gift dari cowoknya, pencitraan sekalian bikin iri cewek lain, double kill," Rendra tertawa sumbang. "Kamu dapat gratisan malah nggak mau."
"Gratisan is worst thing! Jangan pernah banding-bandingin aku sama siapapun," ancamnya kesal.
"Dan jangan pernah underestimate-in cewek lain karena hal 'tanda kutip' yang mereka lakuin. Kita nggak pernah tahu hidup seperti apa yang mereka jalani!"
Mata Rendra langsung melembut, senyumnya terkembang, "I'm your big fan now, more than anything."
Esoknya Rendra kembali datang ke Raudhah pagi-pagi, kali ini sambil membawa dua porsi gudeg yang masih panas. "Latihan hari kedua....harus lebih semangat!" ujar Rendra yakin usai mereka menyantap gudeg.
Di hari kedua ini, teknik yang sama masih diterapkan. Dengan memberinya kesempatan mengitari lapangan sendirian, sementara Rendra menunggu di pinggir, sambil sesekali bersiap menghampiri jika ada kendala.
Laju motornya masih sering tersendat karena tarikan gas yang masih kaku. Kemampuannya memegang stang pun masih sangat buruk. Sering saat ia hendak membelokkan stang ke kiri, tapi stang justru bergerak sendiri ke kanan, berat dan tak bisa diajak kerjasama.
"Stangnya berat," gerutunya saat menepi menghampiri Rendra untuk rehat sejenak. "Aku mau belok ke kiri malah dia ke kanan. Aneh banget. Nggak bisa diajak kerjasama."
Membuat Rendra tergelak. "Ada-ada aja. Udah kelihatan enak kok, kemarin lengan kamu masih kaku," lanjutnya sungguh-sungguh. "Sekarang udah mulai luwes," pungkasnya sambil mengacungkan jempol.
Support dari Rendra membuatnya punya ide cemerlang, yaitu membiarkan kaki berada di bawah pedal agak sedikit menyeret tanah, mencoba menyeimbangkan badan sembari menarik perlahan gas dengan tangan kanan agar motor tak tersendat-sendat. Dan, metode ini cukup berhasil, kemampuannya mengendalikan motor mulai ada peningkatan.
Setelah hampir sepuluh kali memutari lapangan, keseimbangan tubuhnya mulai terbentuk, dengan salah satu kaki perlahan mulai berani naik keatas pedal, lalu berangsur-angsur kedua kaki tak lagi menyusur tanah. Tarikan gas pun terasa lebih halus dan teratur. Membuat Rendra bertepuk tangan sambil mengacungkan dua jempol, "Keren...keren!"
Namun latihan kali ini harus terhenti di tengah jalan, karena ada tim sepakbola yang hendak menggunakan lapangan untuk bertanding. Sialnya sebagian besar diantara mereka mengenalnya, kebanyakan anak-anak yang kost di sekitaran Raudhah, beberapa bahkan sekampus. Membuatnya tak bisa menghindar dari rasa malu. Ditambah beberapa anak yang sekampus sekarang sedang berbincang akrab dengan Rendra. Duh.
Mereka akhirnya kembali menepi ke pinggir lapangan, duduk berteduh di bawah pohon Kiara Payung seperti kemarin. Sambil memperhatikan cowok-cowok yang sedang bermain bola. Sesekali Rendra berteriak menyemangati temannya. Yah begitulah, kenalan Rendra bertebaran dimana-mana.
"Kamu keren banget hari ini," Rendra menatapnya bangga. "Aku yakin besok juga udah bisa turun ke jalan."
Ia hanya mencibir, padahal hidungnya kembang kempis.
"Senin udah minggu tenang persiapan UAS, kamu jadi ada waktu luang buat latihan," sambung Rendra lagi sambil menyandarkan punggung ke batang pohon Kiara Payung.
Ia mengangguk setuju, "Latihan pagi-pagi pas masih sepi kayaknya enak ya. Belum banyak orang sama kendaraan," terus terang ia masih takut dengan keramaian dan lalu lalang kendaraan lain.
Tapi Rendra menggeleng, "Sepi sih, tapi kamu harus ekstra hati-hati."
"Kenapa?"
"Karena jalanan masih sepi, orang biasanya jadi ngebut, kurang aware, malah bahaya."
Iya juga ya. Sering saat ia keluar pagi-pagi, motor dan mobil justru lebih ngebut karena jalanan masih lengang.
__ADS_1
"Tapi nggak papa kalau mau ke jalan, it's okay, cuman kamu harus lebih hati-hati," Rendra tersenyum menatapnya. "Bisa kok, yakin bisa."
Ia balas tersenyum, "Makasih udah nyemangatin aku terus."
Mata Rendra melembut, sambil berkata serius, "See you for 3 sec, feel better for 24 hours."
"Nah kan, mulai deh," kali ini gerutuannya terlontar di mulut. Rendra itu tiap ada celah langsung deh sepik sepik.
Rendra langsung tergelak, "Loh, serius. Kamu nggak tahu ya, cuma dengan lihat kamu senyum aja, bisa bikin aku semangat seharian."
"Enough," sungutnya sambil meneguk air putih dari Tumbler. Sepikan Rendra barusan mendadak membuat kerongkongannya kering.
"Sebagai timbal balik, karena senyum manis kamu udah bikin aku tambah semangat....ya cuma ini yang bisa kulakuin," Rendra tersenyum.
"Take and give yang aneh nggak sih?" kali ini Rendra terkekeh. "Habis, kamu dikasih makanan protes mulu. Dikasih motor malah marah-marah. Gimana kalau aku ngasih yang lebih besar...apa nggak bikin kamu ngamuk, haha..."
"Maksudnya?"
Rendra tiba-tiba mengangsurkan rumput teki yang sedari tadi dipegangnya, yang kini sudah membentuk cincin, "The safest thing, wedding ring....."
Ia menatap Rendra tak percaya campur kesal, "Kamu kalau bercanda jangan keterlaluan."
"Ini serius," Rendra mengambil tangan kanannya, "May i?" tanpa menunggu jawaban keluar dari mulutnya, Rendra telah memakaikan cincin rumput tadi ke jari manisnya.
"Sah," senyum Rendra penuh arti.
"Jangan kayak anak kecil," ia masih bersungut, padahal hatinya berdebar tak karuan.
"Bukan gitu maksudnya...," ia menarik kedua kaki keatas hingga sejajar dengan tubuhnya, lalu menopangkan dagu ke atas lutut, sambil matanya menekuri rerumputan lapangan yang tumbuh subur.
"Beres aku wisuda....kita nikah aja yuk," Rendra makin menjadi.
"Kamu ini kalau ngomong yang bener kenapa sih," ia menatapnya sebal, campur gemetar.
"Kita tinggal disini aja...Yogyakarta berhati nyaman...," Rendra tersenyum samar. "Kamu selesain kuliah, aku kerja banting tulang buat kita," Rendra terkekeh pelan. "Best life for evah...."
"Kalau ngehalu yang kira-kira dong," ia masih mencoba denial, padahal sejak awal hatinya sudah tak karuan.
"Kamu masih pingin ke Jepang?"
Pertanyaan Rendra membuatnya terperanjat, "Kamu...kata siapa aku pingin ke Jepang?!"
"Ada deh...," Rendra tersenyum simpul. "Ngapain sih jauh-jauh kesana? Hidup kita kan disini. Kamu ambil masternya disini aja, kita sama-sama ambil master di almamater, gimana?"
Ia harus menelan ludah berkali-kali. "Kamu sebelum kesini habis jatuh trus kepala kepentok dimana?"
"Kenapa gitu?"
"Jadi sengklek gitu otaknya."
Rendra terbahak. Bersamaan dengan teriakan "GOOOLL!!" dari arah lapangan karena salah satu tim berhasil melesakkan bola ke gawang lawan.
Beberapa pemain bahkan berlarian ke arah mereka berdua untuk melakukan selebrasi paling absurd yang pernah ada. Membuat Rendra terbahak, lalu berdiri, menirukan selebrasi konyol teman-temannya. Tapi ia tak terpengaruh, matanya justru memandang di kejauhan.
__ADS_1
"Haha...sori...sori..," Rendra kembali duduk di sampingnya setelah berlaku seperti anak kecil.
"Kamu masih 'sakit'?" pertanyaan yang paling ingin diketahuinya meluncur begitu saja tanpa sempat diproses oleh otak.
Diluar dugaan, Rendra justru menatapnya lembut sebelum berkata dengan penuh keyakinan, "Dari kemarin nunggu-nunggu kamu nanya ini."
Membuatnya menoleh hingga mata mereka saling bertautan.
"Proudly present...," ujar Rendra dengan mata mereka berdua yang masih saling bertatapan. "I'm a normal guy now."
Kali ini membuatnya buru-buru mengalihkan pandangan karena jengah. "Secepat itu?" ia jelas tak mudah percaya.
"Aku juga nggak nyangka. Kayaknya sibuk ngurus sekre, kepengurusan, kepanitiaan, jualan mobil, ampuh buat mengalihkan perhatian."
Diam-diam ia bersyukur dalam hati. Tapi mendadak teringat sesuatu, "Tapi kehidupan seksual kamu...," ia tak mampu untuk melanjutkan kalimat.
"Ya ya ya, as far as you know," Rendra tertawa kecil. "Lupa-lupa ingat. Sebelum Ospek mungkin, waktu kita masih kayak Tom & Jerry, waktu aku belum bisa lihat sesuatu yang luar biasa di kamu...."
"Setelah itu?" mulutnya kali ini benar-benar tanpa rem.
"Self service," Rendra menatapnya penuh arti. "Kalau kamu mau penjelasan singkat apa itu self service...."
"Stop!" ia mendesis sebal. Bagaimana mungkin mereka bisa membicarakan kehidupan paling pribadi di pinggir lapangan yang penuh dengan teriakan orang-orang yang sedang bermain bola. Damn well.
"GOOLL!!" teriakan serupa kembali terdengar dari tengah lapangan. Bedanya kali ini selebrasi absurd dilakukan di depan teman-teman mereka sendiri yang sedang duduk di bangku cadangan.
"What else?" Rendra memecah kesunyian diantara mereka.
"Kalau kamu mau tahu, aku juga rutin MCU. Awalnya cuma manfaatin fasilitas asuransi biar nggak hangus kalau nggak dipakai. Lama-lama jadi kebutuhan rutin, apalagi dengan gaya hidup lamaku yang....yeah fucking hell. Jadi don't worry...i'm clean. Clean and healthy."
Ia tak bergeming. Hampir semua saran Mala terjawab dengan sangat mudah dan tanpa intrik. How come? Apakah semua kemudahan dan jalan yang terbuka lebar ini sebuah pertanda baik? Petunjuk dari langit? Matanya nanar memandang jari manis yang kini telah berhiaskan cincin rumput.
"Aku....pernah dapat hadiah dari orang yang isinya...."
Mata Rendra membulat menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Isinya barang paling pribadi....punya kamu..."
Diluar dugaan Rendra justru tertawa, "Frida yang ngasih?"
Membuatnya terdiam dan menunduk, menekuri deretan rumput yang tertiup angin.
"Aku minta maaf kalau itu yang bikin kamu berat buat nerima aku. Kalau saranku sih mending buang aja barang nggak guna kek gitu."
Cibiran halusnya membuat Rendra terbelalak, "Jadi belum dibuang? Selama ini kamu simpan?"
Ia memang bodoh, mau-maunya menyimpan barang begituan.
"Kamu tahu nggak," Rendra merubah posisi duduk agar bisa lebih leluasa memandangnya, "If you hear people from my past speak of me...keep in mind they're speaking of a person they don't even know anymore."
Kalimat terakhir membuatnya memberanikan diri untuk menatap manik Rendra, mencari kesungguhan disana.
"Now you see me?"
__ADS_1