
Rendra tertawa sumbang mendengar jawaban yang dilontarkannya. "Kemarin juga bisa nolak, nyatanya enggak. Kenapa sekarang beda?"
"Kemarin profesional tugas," seharusnya ia tak boleh lupa, meski menyandang predikat rising star yang financially stable dibanding orang kebanyakan seusianya, Rendra tetaplah cowok biasa berego tinggi dengan kepribadian menyebalkan yang selalu penuh percaya diri. Benar-benar perpaduan sempurna. Damn it!
"Besok jadwal take, dalam rangka profesional," Rendra tersenyum miring. "Kita bisa jalan setelahnya, gimana?"
Ia harus menghela napas panjang sebelum berkata, "Besok juga nggak bisa."
"Besoknya lagi. Jadwal take 3 hari, kalau besok ngga bisa, masih ada dua hari lain," senyum Rendra semakin miring, ia yakin sesuai dengan otaknya yang semakin gesrek.
Melihatnya semakin mengerutkan kening Rendra lantas berujar, "Nggak bisa juga?" kali ini kedua tangan sudah berpindah ke saku celana. "Beruntung banget si kacamata," lanjut Rendra sambil menyandarkan punggung ke dinding, matanya menerawang. "Kira-kira kapan kita bisa tuker posisi," Rendra tersenyum, "Kamu mati-matian nolak dia demi aku?"
"Hati-hati kalau ngomong," ia sama sekali tak menyukai nada bicara Rendra. "Kata-kata adalah doa."
Membuat Rendra menatap dengan mata berbinar, "Right here waiting."
Kini ia semakin paham, berada dalam radius jarak tertentu dengan Rendra, bisa membuat segala hal menjadi runyam. Untungnya tugas sebagai scriptwriter telah selesai, tongkat estafet berpindah ke sutradara dan cameraman. Supporting tim sepertinya bisa ijin pulang lebih cepat dengan berbagai alasan. Tanpa harus pusing berurusan dengan Rendra yang banyak gaya.
Tapi perumpamaan keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau kembali menghampirinya, usai kelas terakhir sebelum terbang ke gelanggang membantu anak-anak yang sedang take, seseorang tak dikenal sudah menunggu di luar kelas.
"Anggi?" tanyanya tanpa ada niatan untuk berbasa-basi.
"Iya?" ia berusaha keras mengingat dimana pernah bertemu cewek modis nan cantik ini. Seperti somewhere outhere.
"Ada yang mau gue omongin, tapi nggak disini, kita ke kantin."
Mereka berjalan beriringan menuju kantin diikuti pandangan menyelidik Mala yang berniat mengembalikan buku catatan kuliah.
"Mm...ada apa ya?" kini mereka telah duduk di bangku kantin paling pojok, terhalang tiang penyangga di sebelah stand nasi pecel.
"Lo yang namanya Anggi?"
"Iya," ia mengernyit masih berusaha mengingat siapa gerangan cewek yang duduk di depannya, seperti tak asing. Meski berpakaian normal seperti mahasiswi lain, tapi tetap tak bisa menutupi sex appealnya yang tinggi. Kombinasi sempurna antara cantik, seksi dan 'menggiurkan'.
"Kemarin dateng ke Baby Showernya Mba Laras?"
"Mmm," ia harus berpikir sebentar. "Yang di Mercure? Oh, iya...kamu datang juga?" mungkin cewek ini salah satu tamu undangan, sehingga wajahnya terlihat familiar.
"Lo juga yang ke Futsal Center?" cewek ini jelas lebih suka bertanya daripada ditanya balik.
"Mmm..iya," ia mengernyit sambil bertanya-tanya kemana arah pembicaraan ini bermuara. "Ada apa ya?"
"Jadi bener lo pacar Rendra?"
APA?!
"Kenalin, gue Frida, mantan terindah Rendra," sambil mengulurkan tangan dan tersenyum penuh arti.
Ia masih melongo dengan dahi berkerut, berusaha keras mencerna kalimat barusan. Membuat tangan Frida menggantung di udara karena tak mendapat sambutan.
"Udah berapa lama?" Frida menarik kembali tangannya sambil tetap tersenyum penuh arti. "Sebulan? Dua bulan? Sejak Ospek atau sebelum itu?"
"Oya, sebagai ucapan selamat," Frida menyorongkan kotak warna cokelat yang dari tadi dipegangnya. "Ada hadiah buat lo," sambil tersenyum simpul. "Jangan lupa dibuka ya."
__ADS_1
"Gue nggak nyangka Rendra bisa tertarik sama cewek kayak elo," Frida terus saja bicara. "Aneh aja. Apa mungkin karena....service lo lebih yahud?" sambil tertawa kecil saat menekankan kata yahud. Membuatnya semakin bias tak mengerti.
"Masih suka ansos kalau lagi ngegame? Dia nyuruh kamu konsumsi rutin atau suntik? Oh ya, pasti konsumsi rutin, nggak mungkin suntik bisa bikin badan rusak. Dibeliin Giane atau Vasmin?"
"Udah diajak ke rumahnya? Salam ya buat Kimberly. Jangan lupa dicek KMRnya, kalau kehabisan bisa berabe, nggak suka merk lain soalnya. Picky, persis kayak tuannya," Frida terkekeh sambil menerawang. "Aduh, malah gue jadi ngomong nggak jelas gini."
"Mba....," setelah mencerna seluruh kalimat Frida -yang justru semakin membuatnya bingung-, ia baru bisa bersuara. "Sepertinya salah paham...."
"Bagian mana yang salah paham?" giliran Frida mengernyit. "Selama ini kamu udah tahu gaya fave nya belum? Jangan sampai sa...."
"Mba!" ia tak sanggup lagi mendengar kalimat Frida yang 'aneh'. "Salah orang! Saya bukan pacar Rendra!"
"Gimana gimana?" Frida semakin mengernyit.
"Pacar saya namanya Dio, kuliah di Bandung," hatinya selalu menghangat tiap kali menyebut nama Dio. "Bukan Rendra."
"Apa?"
Insiden salah paham di kantin tak hanya membuatnya terlambat sampai di gelanggang, tapi juga kehilangan orientasi sepanjang waktu pengambilan gambar. Kepalanya dipenuhi dengan kalimat-kalimat aneh yang diucapkan oleh Frida. Membuat beberapa scene penting gagal total karena dirinya. Rayyan sampai memasang muka sebal, "Kamu kenapa sih?"
Membuat Galin, Elva, dan Jihan harus berusaha keras menutup celah yang dibuat olehnya agar pengambilan gambar hari terakhir ini bisa selesai tepat waktu.
Di sela break pengambilan gambar, saat Rayyan sedang berdiskusi dengan Galin sang cameraman, sementara Elva dan Jihan sibuk dengan properti masing-masing, mendadak Rendra sudah berdiri di belakangnya, "Kamu nggak papa?"
Kemunculan Rendra yang tiba-tiba jelas mengagetkannya, membuat botol air minum yang sedang dipegang hampir jatuh ke lantai jika tak sempat ditangkap oleh Rendra, "Kamu melamun?"
Ia hanya bisa tersenyum kaku sambil buru-buru menutup botol air mineral yang hampir jatuh barusan.
"Nggak papa...saya nggak papa," ia masih tersenyum kaku sambil berlalu berusaha menghindar.
Acara pengambilan gambar sore itu molor sampai hampir satu jam. Membuat Rayyan harus berkali-kali meminta maaf karena Rendra jadi telat menemui dosen pembimbing. Yang hanya dijawab Rendra dengan, "Santai."
Saat semua sibuk berkemas Rendra menghampirinya sambil membawa sekaleng Bear brand, "Kamu pucat banget," kaleng itu sudah berpindah ke tangannya. "Minum ya, jangan sampai sakit."
Sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata baik tolakan atau ucapan terima kasih, Rendra sudah keburu pergi untuk menemui dosen pembimbing. Hanya bisa melihat punggungnya keluar dari gelanggang sembari masygul menyadari kotak cokelat dari Frida berada di dalam tasnya.
Sesampai di kost ia langsung melempar tas sembarangan ke atas kasur, sama sekali tak tertarik untuk membuka kotak cokelat di dalamnya. Ia melanjutkan rutinitas seperti biasa, sholat maghrib berjamaah, tilawah, holaqoh mingguan bersama Salsa, dan makan malam. Kali ini Nila berbaik hati mau berbagi paket makanan dari ibunya yang baru diterima tadi siang.
"Aku punya rendang, kentang mustofa, cemilan. Kita makan di kamarmu ya...nggak enak sama yang lain, cuma berbagi sama kamu soalnya."
Ia dengan senang hati menerima permintaan Nila. Suasana kost yang belum terlalu kondusif karena para kating masih mendiamkannya, membuat keceriaan Nila terasa begitu berharga. Kebetulan ia memasak nasi lumayan banyak tadi sore. Mereka bisa berbagi bersama, ia nasi, Nila lauknya, sedap.
Mereka mulai menikmati makan malam dengan nikmat, sambil sesekali diselingi cerita tentang kampus dan sekitarnya.
"Rendang buatan ibu kamu sendiri?" rendang telur dan parunya lezat sekali. Baru kali ini ia memakan rendang selezat ini.
"Iya, ibu aku kan punya katering."
"Oh, pantesan."
"Kenapa?"
"Enak bangeeeet."
__ADS_1
"Bisa aja," Nila tertawa. "Nanti simpen sebagian di Tupperware kamu ya. Bisa buat sarapan besok."
Ia langsung berbinar, "Serius? Makasih...."
"Eh, ada tisu nggak?" saking semangatnya makan Nila sampai menjatuhkan bumbu rendang diatas bajunya, hingga membentuk noda kental berwarna oranye.
"Di tas ambil aja," jarak Nila ke tas lebih dekat dibanding dirinya yang sedang asyik menikmati kelezatan rendang.
Nila langsung merogoh tas yang berada tepat di sampingnya, mencari-cari letak tisu, saking buru-burunya mencari membuatnya tanpa sengaja menyenggol kotak cokelat hingga jatuh ke lantai, membuat isinya berhamburan keluar.
"Anggi!" Nila memekik. "Ini apa?!" tunjuknya kearah kotak cokelat yang terhempas di lantai dengan isi berhamburan keluar.
"Apaan?" keasyikannya menikmati rendang terinterupsi, dengan malas ia melihat lantai yang ditunjuk Nila. Seketika jantungnya berhenti berdetak, rasa panas menyebar ke seluruh tubuh terutama bagian wajah dan kepala, tangannya spontan mengepal sambil gemetaran.
"Kamu habis belanja CD cowok????"
Dengan sekali terjangan ia membereskan isi kotak yang tercecer dimana-mana, cepat-cepat memasukkannya meski serabutan ke dalam kotak, lalu menutup dan melemparkannya sembarangan ke kolong lemari. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Belanja sebanyak itu buat siapa?" Nila semakin penasaran terutama setelah melihat reaksinya yang emosional.
"A-adik....," jawabnya cepat. "A-adikku udah SMU tapi dalemannya masih dibeliin," akhir-akhir ini ia tangkas berbohong.
"Oh, kirain....," Nila terkekeh. "Aneh aja liat daleman cowok...."
Kepalanya mendadak pening, kamar seolah berputar 180 derajat, Nila yang kembali asyik menyantap makan malam terlihat semakin mengecil, sementara bayangan isi kotak cokelat memenuhi matanya. Barusan...di sana di lantai kamar....berserakan celana boxer merk ternama. Sial, sial, sial! Jadi....kado dari Frida tadi isinya....boxer? My God! Boxer siapa lagi kalau bukan milik...the young and dangerous. The real young and dangerous. Membuatnya mau muntah saat itu juga. Sekaligus menghilangkan nafsu makan yang awalnya menggebu menguap tanpa bekas. Ia mendadak kenyang lahir batin.
Untung tak lama kemudian Nila sudah selesai makan, langsung pamit balik ke kamarnya sendiri karena mau mengerjakan Laprak. Setelah Nila pergi ia buru-buru pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan gosok gigi, lalu bersembunyi di balik selimut sambil mengutuk-ngutuk, entah mengutuki siapa. Sial, sial, sial. Menjijikkan. Jadi...Frida itu...kenapa ia merasa tak asing....Frida itu cewek cantik berbaju tidur bertali satu yang dilihatnya di ruang tamu bersama Rendra. God damn it!
Perutnya masih mual membayangkan adegan celana boxer berserakan di atas lantai ketika ponsel di atas nakas menggelepar tanda ada panggilan masuk. Awas aja kalau....ia langsung tertegun begitu melihat nama yang muncul di layar. Bayu?
"Ya Yu?" sudah seminggu ini grup Romansa sepi, apalagi kalau bukan karena musim UTS dan tugas. Jadi kalau Bayu sampai menelepon berarti ada hal yang sangat penting.
"Kamu...udah denger berita?" suara Bayu terdengar cemas dan khawatir.
"Berita apa?"
"Dio...."
Hatinya tercekat, "Dio kenapa??"
"Kapan terakhir kamu ngobrol sama dia?" Bayu jelas sengaja mengulur waktu.
Ia mengernyit, "Nggak sempet ngobrol, chat aja, Dio masih di Bangkok, ini hari terakhir kompetisi.....kenapa Yu?" hatinya mendadak berdebar tak karuan.
***
Catatan :
Giane, Vasmin. : merk kontrasepsi (samaran)
KMR. : merk susu kucing
Laprak. : laporan praktikum
__ADS_1