
Anggi
Ia memperhatikan keseluruhan penampilannya di depan cermin dengan penuh kepuasan.
Mengenakan little dress selutut warna pastel berpotongan simple yang sedikit menonjolkan bagian atas dengan aksen embroidery di sekitar leher.
Jepit rambut berbentuk 4 lembar daun warna silver yang tersemat di sebelah kiri sekaligus berfungsi merapihkan poni agar tak berjatuhan di sekitar dahi.
Lipstik warna nude yang membuat bibirnya terkesan lebih pinky.
Terakhir menyemprotkan parfum aroma vanila favoritnya di sekitar leher dan pergelangan tangan bagian dalam.
"Lo yakin?" Mala memandangnya galau.
Ia hanya tersenyum tak menjawab.
"Gue takut nanti endingnya gimana," Mala memandangnya dari pantulan cermin dengan wajah khawatir.
"Lo udah siap sama segala kemungkinan yang bisa terjadi?"
Ia mengangguk mantap, "Absolutely."
Setelah berdoa, berpikir, berkontlempasi selama hampir tiga hari. Ia akhirnya membuat sebuah keputusan. Dan keputusannya sudah bulat. Bahwa ia akan menemui Rendra dan menyerahkan diri.
"Lo gila ya?!" Mala langsung menolak mentah-mentah ide gilanya.
"Dia lagi kena masalah besar. Lo datang kek gitu apa nggak malah nambah masalah?!"
"Dia itu cowok normal, Nggi! Mana begitu lagi!" Mala geleng-geleng kepala.
"Dia itu ibarat buaya dari segala buaya. Lo mau bunuh diri?!"
"Ini satu-satunya cara yang bisa gue lakuin."
"Nggak ada cara lain yang lebih normal apa?!" Mala menggerutu.
"Gue perlu yakinin diri sendiri. Setelah semua yang terjadi. Dia worth it enggak? Gue mesti waiting or leaving...."
"Jangan sampai lo malah jadi penghuni Crisis Center kek Ninis. Ih, amit-amit, knocked on the woods three times!" Mala mengetukkan buku-buku jarinya ke atas meja.
"Enggaklah, Mal. Gue tahu siapa dia."
Dan setelah penantian panjang seharian menunggu kemunculan Rakai di ManjoMaju. Yang kali ini terkesan suram dan murung karena bos mereka sedang terbelit masalah. Akhirnya alamat apartemen tempat tinggal Rendra saat ini bisa ia peroleh.
"Dia ngelarang ngasih tahu siapapun, tapi....," Rakai memandangnya masygul.
"Kamu tahu...," Rakai lebih dulu menghela napas sebelum melanjutkan. "Dia bener-bener keras kepala, tapi juga butuh support dari kamu. More than anything."
Ia tersenyum mengangguk.
"G luck," Rakai menyerahkan kartu akses apartemen Rendra. "Kabari aku kalau ada apa-apa."
Akhirnya sampailah ia di sebuah apartemen yang terletak di bilangan Jakal. Setelah sebelumnya meminta Mala untuk menunggu, "Gue perlu waktu, Mal. Lo...nggak papa kan nunggu di lounge?"
"Rebes, ntar kalau udah beres, calling aja. Biar kita langsung capcus nggak pakai lama," Mala mengacungkan jempol tanda setuju.
Ia takkan pernah melupakan support Mala sepanjang perjalanannya dengan Rendra. Sekaligus berjanji dalam hati kelak juga akan melakukan hal yang sama saat Mala membutuhkannya. Best friends forever.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 15, dengan hati berdebar ia berjalan menuju kamar 1503. Dan hanya berdiri diam mematung selama beberapa menit sambil memandangi pintu berwarna cokelat di hadapannya dengan perasaan takut. Hati kecil menyuruhnya balik kanan, tapi tangannya justru telah berhasil membuka pintu menggunakan kartu akses pemberian Rakai.
Klek!
Ia buru-buru masuk ke dalam dan kembali menutup pintunya sebelum berubah pikiran. Matanya harus memicing karena suasana apartemen sangat gelap. Semua korden masih tertutup rapat dengan background suara keras berasal dari layar televisi yang menyala menayangkan siaran langsung NBA Playoffs.
Setelah meletakkan tas isi belanjaan di pantry, dengan menekan rasa gugup ia melangkah ke dalam. Sesosok kepala terkulai di atas sofa tepat di depan layar televisi.
"Pagi banget kesini," suara Rendra terdengar berat seperti orang baru bangun tidur. "Ada masalah lagi?"
Ia tak menjawab. Terus melangkahkan kaki telanjangnya di atas lantai kayu yang ketika diinjak menimbulkan sensasi hangat.
Menuju jendela besar yang mengelilingi kamar. Lalu menarik talinya hingga korden terbuka lebar dan sinar matahari menyerbu masuk ke seluruh sudut ruangan.
"Gila lu, Bang! Silau tahu!" Kepala yang terkulai itu justru semakin meringkuk ke sofa bagian dalam.
"Gua belom tidur nih, tutup lagi ah!" perintah Rendra kesal.
"Kamu udah selesai skripsi masih aja nggak tidur semalaman, ngerjain apa?" ia memberanikan diri bersuara sambil menarik tali korden yang terakhir agar terbuka.
Berhasil membuat Rendra terperanjat bangun lalu terduduk kaget sambil menatapnya dengan wajah bingung.
Ia berjalan mendekat bermaksud membereskan bekas kaleng minuman ringan yang berserakan di atas meja.
"Apa aku udah mati?" Rendra melolong. "Atau aku ada di surga? Bangun-bangun langsung lihat bidadari?"
Cih! Ia mencibir. Kemampuan speak iblis Rendra benar-benar sudah mendarah daging, tak terpisahkan.
Dengan cepat diambilnya semua sampah dari atas meja, lalu dibuang ke tempat sampah. Selama ia melakukan itu semua, Rendra terus menatapnya takjub.
"Tell me this is real," Rendra berbisik sambil terus menatapnya.
Ia baru mau menjawab dan untuk pertama kalinya menatap wajah Rendra dari jarak dekat, tapi justru membuatnya tertegun demi melihat wajah yang babak belur seperti habis dipukuli massa.
"Wajah kamu kenapa?!" suaranya tak dapat menyembunyikan rasa cemas. Pikiran buruk langsung melintas di kepala. "Diserang orang lagi?!"
Rendra malah tersenyum simpul, "Ini memang kamu...."
Ia buru-buru menelan ludah dan membalikkan badan. Berniat mengambil vacuum cleaner yang sempat dilihatnya ada di salah satu sudut pantry. Suasana kamar benar-benar kotor dan berdebu. Ia sungguh tak dapat membayangkan tinggal di tempat sejorok ini.
Rupanya Rendra mengikuti langkahnya, dan kepalanya hampir menabrak dada Rendra karena saat ia berbalik, Rendra justru terus maju. "Mau ngapain?"
"Bersih-bersih," jawabnya singkat berusaha menghindar dari hadangan tubuh Rendra yang menjulang. "Kamu nggak sumpek apa tinggal di tempat jorok begini!"
Ia sempat mendengar Rendra terkekeh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Membuatnya langsung menelan ludah karena sosok yang menimbulkan kegugupan tak nampak lagi.
Hampir setengah jam Rendra berada di dalam kamar mandi. Hingga ia selesai membereskan ruang tengah, merapihkan sofa dan rak buku yang berantakan, serta memotong-motong sayuran di pantry. Apa dia mati tenggelam di dalam bathtub? batinnya sambil mencibir.
Rendra keluar tepat saat ia sedang kesulitan menyalakan kompor listrik tanam di pantry. Dari tadi mencari tombol On/Off sampai sekarang belum ketemu juga.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dengan bertelanjang dada dan handuk melingkar di leher, Rendra mengulurkan tangan kanan melewati bahunya untuk menyalakan kompor.
Posisi yang demikian dekat membuatnya tercekat. Perut keras Rendra bahkan sedikit menyentuh punggungnya. Ditambah wangi aftershave yang menguar kuat, membuat bulu kuduknya merinding.
__ADS_1
Clek!
Api berhasil menyala, tapi pipinya justru tersipu malu. Jika ada kaca di sekitar mereka pasti jelas terlihat wajahnya merah padam menahan debaran dada.
"Kamu mau ngerebus, ngegoreng, atau ngangetin?" suara Rendra terdengar parau lengkap dengan hembusan hangat tepat di atas ubun-ubunnya.
"Ngerebus," jawabnya dengan leher tercekik.
Rendra menyetel perintah ke mode boil sekaligus mengatur suhunya.
"Kalau mau goreng pakai yang ini," terang Rendra masih dengan tangan kanan melewati bahunya.
Yang beberapa kali karena mereka bergerak secara bersamaan, lengan kokoh itu hampir menyentuh telinga dan pipinya. Membuat buku kuduknya semakin meremang.
"Ini buat atur suhu," lanjut Rendra pelan.
Ia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala tanpa memahami satupun informasi tentang kompor yang Rendra berikan.
Saking sibuknya menetralisir degup jantung yang semakin tak beraturan. Membuatnya khawatir jika sampai terdengar oleh Rendra. Karena pasti akan sangat memalukan.
"Ini buat On/Off nya," Rendra masih memberikan tutorial singkat tentang kompor listrik.
Sebelum ia sempat menjawab, sebuah kecupan singkat menyentuh bagian belakang kepalanya, disusul bisikan lembut, "So glad you're here....."
Yang berhasil memicu getaran hebat arus listrik di sekujur tubuhnya. Please, don't.
Saat ia masih kerepotan menetralisir bahasa tubuh agar kembali normal, Rendra sudah berpindah ke depan tv.
"Kamu nggak udah cape-cape beberes, ada jasa CS panggilan seminggu sekali," ujar Rendra yang dari tangkapan sudut matanya telah mengenakan kaos warna hitam favoritnya, kaos kenangan saat bonding cluster. Hmm.
Ia tak menjawab, lebih memilih cepat-cepat menyelesaikan acara memasak agar scene mendebarkan sekaligus menjurus seperti tadi tak terulang lagi.
Namun harapannya buyar karena Rendra sudah berdiri di belakang sambil mengalungkan tali apron padanya.
Dengan tangan lain mengangkat ujung rambut yang tergerai agar tali apron menempel sempurna di lehernya. Ya ampun, ini orang cepet banget movingnya, perasaan tadi masih di depan tv.
"Maaf," bisik Rendra saat mengangkat ujung rambutnya. Lalu mengembalikan lagi ke tempat semula dengan gerakan yang sangat lembut sekaligus gentle.
Rupanya penderitaan yang menimpa jantung dan hatinya belum selesai. Karena Rendra masih harus mengikat tali apron di belakang pinggangnya.
Namun ia bersyukur karena Rendra hanya mengikat, tidak melakukan hal lain yang sempat terlintas di benaknya. Oh, ya ampun Anggi!
"Kamu masak apa sih?" Rendra masih berdiri tepat di belakangnya. Dengan hembusan napas yang meniup-niup ubun-ubunnya hangat.
"Rahasia," jawabnya singkat. Berusaha keras mengabaikan aroma mint segar di atas ubun-ubunnya. "Kamu tunggu aja disana..."
"Aku bantuin ya," Rendra berusaha mengambil alih panci di sebelah kiri. Bertepatan dengan gerakan tangannya yang hendak mengembalikan botol minyak goreng.
Momen yang bersamaan membuat tangan mereka bertabrakan dan otomatis saling bersentuhan. Membuatnya kaget karena getaran arus listrik kembali menjalar. Hingga tanpa sadar melepaskan botol minyak goreng yang sedang dipegang.
"Waduh," untung Rendra berhasil menangkap botol tersebut. Kalau tidak, mungkin dalam sekejap pantry akan berubah menjadi genangan minyak goreng.
"Sori," ujarnya kaku.
Akhirnya Rendra memilih berdiri di belakang dengan bersandar di dinding pantry, memperhatikannya memasak.
"Masak apa banyak banget?" rupanya Rendra masih penasaran.
"Masak menu bertahan hidup," jawabnya tersipu. Membuat Rendra terkekeh.
Guna mengambil Chopper dari susunan rak yang terletak tepat di atas kepalanya. "Di apartemen nggak ada ulekan, pakai Chopper aja ya."
Ia tak menjawab, pura-pura sibuk mencicipi sayur bening yang hampir matang. Hm, kurang garam sedikit.
"Kok bisa sampai sini?" di sela-sela suara raungan mesin Chopper Rendra tak dapat menyembunyikan keingintahuannya.
"Nanya Bang Rakai," jawabnya singkat sambil mematikan tungku sayur bening karena sudah matang. Lalu beralih membalik tahu yang sedang digoreng.
"Oh," Rendra hanya ber oh panjang. "Selama ini nggak ada yang ganggu kamu?"
Ia menggelengkan kepala. Jika rentetan pesan permintaan interview tak masuk ke dalam gangguan yang dimaksud Rendra.
Terdengar helaan napas lega dari arah samping. "Aku kangen banget sama kamu," gumam Rendra sambil mematikan Chopper.
"Kita kan udah putus," cibirnya.
"Tapi kamu kesini...hayo...," Rendra terkekeh.
Ia kembali mencibir.
"Maafin aku udah bikin kamu sakit," kali ini sambil mencuci tabung Chopper bekas sambal.
"Tolong maafin aku udah bikin kamu malu...."
Ia mematikan kompor lalu memindahkan tahu dan tempe goreng ke atas piring saji.
"So sorry, really sorry, very very sorry....," Rendra menyimpan tabung Chopper yang sudah dicuci bersih ke atas rak.
Dan kini beralih menatapnya lembut. "Aku nggak tahu masalahnya bakal jadi begini....."
Ia hanya tersenyum singkat sambil memindahkan sayur bening ke dalam mangkok besar berbahan kaca. Lalu membawanya ke meja makan dengan Rendra ikut mengekor di belakangnya.
"Kamu berhak marah ke aku, bahkan benci ke aku."
Ia masih menyibukkan diri menata makanan di atas meja, berusaha tak menghiraukan Rendra.
"Aku terima."
Ia kembali berjalan ke pantry untuk mengambil piring berisi tahu dan tempe, dan menyimpannya di atas meja makan. Selama itu pula Rendra terus mengikutinya dari belakang.
"Tapi kuharap kamu nggak percaya dengan semua berita bombastis yang beredar...."
Ia kembali berjalan ke pantry untuk mengambil piring, sendok, serta gelas untuk makan.
"Video sama Frida jelas kesalahan dan kebodohan terbesarku...."
Ia menelan ludah.
"Tapi soal Rengganis...."
"Aku udah ketemu sama Mba Ninis," potongnya cepat. Membuat Rendra terbelalak.
"Kapan?"
__ADS_1
"Beberapa hari lalu," ia kembali menyusun piring, sendok, dan gelas di atas meja.
"Kok bisa?" Rendra menatapnya penasaran.
"Karena aku tahu...," ia harus menelan ludah sebelum melanjutkan. "Aku tahu siapa pasangan Mba Ninis. Dan itu bukan kamu...."
Tatapan Rendra melembut mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya.
"Setelah semua ini...apa kamu masih mau maafin aku?"
Ia yang tak lagi punya kegiatan karena semua makanan sudah terhidang di atas meja jadi salah tingkah.
"Kamu masih mau ngelihat aku?" Rendra semakin maju mendekat dengan tatapan lebih dalam.
Ia memberanikan diri menatap Rendra. 3 detik, 10 detik, semakin menyadari jika bola mata berwarna cokelat yang penuh luka itu memang sangat dirindukannya.
"Kamu pikir kamu siapa?!" ujarnya menahan gemuruh di dada.
"Maksudnya?" Rendra mengernyit.
"Nggak pernah mau cerita terus terang tentang masalah yang lagi kamu hadapi. Mutusin aku seenaknya. Ngadepin semua sendiri. Kamu pikir kamu manusia super bisa ngelakuin itu semua?!"
"Mungkin aku nggak bisa bantu banyak, tapi kalau dari awal kamu cerita duduk masalahnya, semua nggak akan hancur kayak gini...."
"Aku pingin bantuin kamu, kita berdua sama-sama ngadepin semua...."
'Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu
Tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu?
Sekilas galau mata ingin berbagi cerita
'Ku datang sahabat bagi jiwa
Saat batin merintih
Usah kau lara sendiri
Masih ada asa tersisa
Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Di depan sana cahya kecil 'tuk memandu
Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya'
(Katon Bagaskara & Ruth Sahanaya, Usah Kau Lara Sendiri).
"Tapi kamu pilih ngadepin sendiri," lanjutnya dengan mata yang semakin memanas.
"Aku...."
Kalimat Rendra terpotong di udara karena ia kembali bersuara, "Sejak kamu tiba-tiba datang ke rumahku nemuin Papah Mamah....aku tahu kamu sebenernya orang yang baik."
"Sejak malam di Pendopo Lawas waktu kamu cerita tentang luka masa lalu....aku bisa lihat .... Ada sisi baik dari semua hal buruk yang kamu lakuin...."
"Aku tahu....kamu mampu ngejalanin hidup yang lebih baik dari masa lalu kamu....aku...."
"Sshhh. Don't say anything ...."
Dan dari jarak sedekat ini jelas terlihat luka lebam di pelipis, sudut bibir, rahang, hingga pipi Rendra. Pemandangan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Kamu kenapa babak belur begini?"
Ia pun memberanikan diri mengulurkan tangan menelusuri luka lebam yang sepertinya belum lama dibuat. Karena masih berwarna biru keunguan, belum menghitam.
"Kamu dipukuli orang lagi?" jarinya kini beralih menelusuri luka di tulang pipi Rendra.
Tapi Rendra tak menjawab pertanyaannya.
Dadanya hampir meledak, kepalanya tak mampu berpikir.
"Thanks for accepting me twice. One day i will marry you....i promise....."
'Everyone can see
There's a change in me
They all say
I'm not the same kid I used to be
Don't go out and play
I just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say
It's my first love
What I dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
Thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Cause I'm feeling my first love'
__ADS_1
(Nikka Costa, First Love).