KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
55. Achilles Heel


__ADS_3

"Sekarang jam...19.50," Rendra bergumam melihat layar ponsel. "Satu jam cukup?"


Ia tak mengerti mengapa sampai harus menyetel alarm.


"Biar kamu nggak kemalaman," lanjut Rendra lagi. "Kalau dari sini jam sembilan, paling telat setengah sepuluh udah sampai kost. Jadi nggak harus ngajak ribut Salsa lagi," selorohnya.


"Mba Salsa udah under control," jawabnya sambil tertawa. Tawa pertamanya hari ini, sekaligus tawa lepas pertamanya di depan Rendra sejak pertama kali mereka bertemu.


"Nah gini dong, ketawa," Rendra berbinar menatapnya. "Sering-sering ketawa kayak gini di depanku ya."


Membuatnya langsung menghentikan tawa.


"Lesung pipi kamu jadi makin kelihatan kalau ketawa kayak barusan," Rendra tersenyum simpul melihat tawanya berhenti di tengah jalan.


"Jauh-jauh kesini cuma mau bahas ketawa sama lesung pipi," gerutunya kesal tiap kali Rendra memamerkan keahlian berspik-spik iblisnya.


"Enggak dong," kali ini Rendra yang tertawa, sambil mengeluarkan dompet dari saku celana, lalu meletakkannya ke atas meja, dan membukanya.


"Kok ada foto ini?!" ia terperanjat melihat foto mereka berdua terpasang di dalam dompet. Foto dengan background paperboard flower yang cantik, tak salah lagi, itu foto saat mereka menghadiri Baby Shower beberapa waktu lalu.


"No no no, bukan ini yang mau kita bahas," Rendra tertawa.


"Kamu ini....," ia sampai kehabisan kata-kata. "Bisa-bisanya nyimpen foto kayak gitu di dompet?!"


"Pretend you're mine make me feel happier," Rendra tersenyum penuh arti sambil meletakkan tangan kanan di tengah dada agak sedikit ke kiri, tepat dimana jantungnya berada. "All day long, day by day..."


"Sampai meninggalkan kode etik perijinan," desisnya kesal, tak pernah menyangka separah ini tingkat kegesrekan dan kekonsletan otak Rendra.


"Yakali mesti ijin dulu sama kamu, yang tiap dideketin langsung kabur," Rendra tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Minta ijin itu tanda menghargai...."


Mata Rendra membulat, "Noted," sambil mengangkat dua jari tangan kanan keatas, membentuk v -victoy-. "Since this day, i'll always ask for your permisssion...."


"Gila," desisnya sambil membuang pandangan ke arah lain, dimana hiruk pikuk pengunjung semakin bertambah. Menikmati makan malam sambil mendengarkan live music yang saat ini sedang menampilkan lagu dengan lirik menohok.


'Aku mentari, tapi tak menghangatkanmu


Aku pelangi, tak memberi warna hidupmu


Aku sang bulan, tak menerangi malammu


Akulah bintang yang hilang ditelan kegelapan


Selalu itu yang kau ucapkan padaku


Sebagai kekasih yang tak dianggap


Aku hanya bisa mencoba mengalah


Menahan setiap amarah


Sebagai kekasih yang tak dianggap


Aku hanya bisa mencoba bertahan


'Ku yakin kau 'kan berubah, oh'


(Kertas band, Kekasih yang tak dianggap)


"Definitely," Rendra tersenyum simpul, jelas tak mempedulikan sekitar. "Cause my eyes can only see you..."


Ia memutar bola mata lelah sambil mencibir, "Berapa banyak cewek yang kolaps denger sepikan kamu barusan?"


"None," Rendra masih tersenyum menatapnya. "Ini pertama kalinya aku ngomong begini."


"Oh, shit!" ia tertawa sumbang.


"Karena cuma kamu yang bisa bikin aku ngomong begini..."


Mengharuskannya untuk segera mengangkat pergelangan tangan kiri melihat jam tangan, "Kamu cuma buang-buang waktu."


Rendra terkekeh, "Oke...oke," lalu mengeluarkan sebuah foto dari sisi lain dompet, dan meletakkannya di atas meja. Foto yang menurut matanya terlalu terang, jelas mencerminkan hasil repro (restorasi foto lama). Dimana seorang wanita cantik sedang menggendong bayi laki-laki berusia kurang lebih satu tahun.


"Waktu interview kamu nggak pernah nanya kenapa kisah hidupku dimulai sejak SMU, bukan dari masa kecil."


Ia menggeleng. Intuisi jurnalistiknya memang masih cetek, belum teruji sama sekali.


"Karena masa kecil adalah perjalanan hidup paling buruk yang pernah kualami."


"Kamu nggak harus cerita," wajah letih Rendra mengingatkannya pada cerita Salsa. Jika memang semengerikan itu, mungkin ia juga takkan sanggup untuk mendengarnya.


"Aku selalu ingin berbagi cerita dengan orang yang tepat," Rendra berusaha tersenyum. "Deep talk with the one and only....you...."


Lalu memulai cerita dengan kisah klise tentang bagaimana rasanya menjadi anak broken home. Yang sering melihat kekerasan fisik dan verbal terjadi berulang-ulang di depan mata hingga menimbulkan rasa benci yang mendarah daging. Mendapat ancaman dari orang terdekat yang idealnya mencurahkan kasih sayang memicu perasaan terbuang dan diabaikan hingga menimbulkan trauma.

__ADS_1


Otak kanak-kanaknya hanya mampu merespon dua hal, fight or flight (lawan atau kabur). Ketika dia memilih fight, menjadi biang keonaran, "Orang-orang semakin yakin, 'oh, ini nih Rendra si anak berandal, yang ibunya nggak becus ngurus anak.' "


Kejadian selanjutnya menjadi bagian paling mengerikan, Rendra kecil melihat aktivitas seksual tak lazim yang menimpa ibunya, lagi-lagi dilakukan oleh orang terdekat. Dan bagian paling gilanya adalah kejadian tersebut atas sepengetahuan ayahnya sendiri. End of the world.


Kejadian biadab itu menjadi pemicu stres paling dahsyat. Membuat fungsi pengendalian impulsnya rusak, menyebabkannya mengambil tindakan paling berisiko tinggi saat menghadapi tekanan. Mejadikannya ABG yang obsessed terhadap kegiatan seksual, sex addicted.


Membuatnya hampir menangis, "Kamu nggak harus cerita semua.....," telinganya tak lagi mampu mendengar detail cerita yang ia pikir hanya ada di dunia imajinasi. Hanya ada di skenario film berbudget minim, hanya ada di rubrik psikologi majalah, atau hanya ada di cerita bombastis yang nggak make sense.


Tapi Rendra jelas sedang menggebu-gebu, kini bahkan telah meletakkan lengan tangan kanan keatas meja. Kemudian menarik kemeja putih yang menutupi lengannya -ia baru sadar Rendra mengenakan kemeja putih, biasanya taraf kegantengan cowok bertambah berkali lipat saat memakai kemeja putih. Right?-


"Ini udah mulai hilang," ujar Rendra sambil menunjuk kulit di sepanjang pergelangan tangan hingga batas sebelum siku. Disana terdapat banyak titik hitam kemerahan yang mulai pudar.


"Alasan utama senang pakai jaket di cuaca Jogja yang cenderung panas, awalnya cuman buat nutupin bekas suntikan sama infeksi di tangan. Malah keterusan sampai sekarang."


Perasaan traumatis yang mendalam membuat Rendra ABG terus melawan. Menjadi biang onar dimanapun berada, memicu perkelahian setiap ada kesempatan, tawuran menjadi menu rutin, geng motor dan balap liar dini hari menjadi kebanggaannya, hingga iseng coba-coba narkoba suntik sampai taraf (hampir) kecanduan, sekaligus menjadi pelaku seksual aktif sebelum waktunya.


"Jangan khawatir, otakku masih berfungsi," Rendra tersenyum. "Nggak ngerusak anak orang. Selalu suka sama suka, dengan yang seal is broken."


"Kamu nggak malu cerita ini semua?" ia mulai tak nyaman dengan rekam jejak lifestyle Rendra. Mereka jelas ada di belahan dunia yang berbeda. Dua sudut yang saling berlawanan.


"We're very different people with very different personalities," Rendra seolah bisa membaca isi hatinya. "But certainly, you'll not judging me, right?"


"Tapi ceritamu bikin aku takut...."


"Lebih baik kamu takut karena dengar dari mulutku sendiri, daripada takut karena cerita orang yang belum tentu bener...."


"Dengar dari cerita orang udah sih," ia memberanikan diri menatap manik Rendra.


"Oya? Terus gimana? Mad at me?"


"Absolutely," ia mendesis, konsentrasinya terpecah karena mendengar lagu yang sedang dinyanyikan.


'Dan


Dan bila esok, datang kembali


Seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda


Dan


Perlahan kaupun, lupakan aku


Mimpi burukmu


Dimana t'lah kutancapkan duri tajam


Maafkan aku'


(Sheila on 7, Dan)


"Sekarang masih marah?"


"Berkali lipat," gerutunya. "Kamu bangga cerita ini semua?!"


Rendra menghela napas, "Bangga karena berani cerita sama orang yang aku suka."


Nah, mulai kan. Sepik sepik iblis is his soul.


"Kamu nggak pingin tahu turning pointnya?"


"Pastikan lolos sensor."


Rendra terbahak. Kelas 3 SMP menjadi masa keemasan, dengan berhasil menyabet gelar berandal cilik paling dicari. Kantor polisi menjadi rumah kedua baginya. Sayang, kegemilangan karier jalanan terusik oleh sakit yang diderita ibunya.


"Stres Mama memicu asam lambung, meningkat menjadi Gerd, naik ke paru-paru, akhirnya kena kanker esofagus."


"Berat badan Mama menurun drastis, wajahnya tambah pucat. Tiap batuk dadaku ikut sakit. Batuk yang dalam persis seperti waktu kamu batuk di Villa dulu."


Ia masih ingat, bagaimana cara Rendra menatapnya saat batuk.


"Mama jadi cepat lelah, tiap lelah pasti mimisan. Makanya waktu kamu mimisan aku takut banget," mata Rendra melembut menatapnya. "Takut kehilangan kamu seperti aku kehilangan Mama. Meskipun kita bahkan belum pernah saling memiliki..."


Kilatan aneh di mata Rendra yang dulu sempat mengusiknya kini terjawab sudah.


"Jelang UN aku masih sempet kelahi. Sialnya salah nyari musuh. Bapaknya yang pejabat marah-marah datang ke rumah bawa aparat. Maki-maki Mama, menghina Mama habis-habisan..."


"Itu pertama kalinya aku nangis karena nyesal. Aku memang brengsek, tapi jangan pernah menghina Mamaku."


"Aku marah karena keadaan, memilih jadi ba ji ngan, tapi yang dihina tetap Mamaku juga. Ini jelas nggak adil. Kalau mau menghina, hinalah aku, jangan Mamaku. Mama nggak salah apa-apa."


Ini menjadi titik balik paling ekstrim bagi seorang Rendra. Meninggalkan gemerlap kehidupan malam dan jalanan yang selama ini dilakoni. Memutus hubungan dengan semua orang yang berpotensi menariknya kembali ke dalam lingkaran setan.


Dan keajaiban seolah turun dari langit, dari yang awalnya ABG less motivated tiba-tiba berbalik menjadi remaja penuh ambisi, belajar mati-matian demi mengejar nilai UN agar bisa masuk SMU terbaik. Berusaha sekeras mungkin membahagiakan Mama di saat terakhirnya.


"Papa kamu benar-benar nggak ada andil...."

__ADS_1


"Zero."


"Kamu.....benci dia?"


"Damn true," Rendra mendesis. "Sayangnya aku malah mengadopsi semua sifat dan kebiasaan buruknya."


"Tentang.....cewek."


"Salah satunya. Aku ngerasa...sering lost control. Nggak pernah bisa mengendalikan diriku sendiri."


"Seperti kejadian di dapur Pitaloka."


"The best mistake i've ever made."


Tetap ya, tak ketinggalan sepik sepik iblis.


"Setelah itu cerita persis seperti yang kutahu?"


Rendra mengangguk, "Mama meninggal sebelum kenaikan kelas 11. That really hurt. Tapi minimal Mama bisa melihat the new me. Bisa tenang karena anak satu-satunya nggak blangsak lagi."


Ia tersenyum, "Mama kamu pasti bangga."


"Hope so."


"Cerita berakhir happy ending?"


"Not yet," Rendra menyeringai. "Kita belum sampai di cerita petualangan cinta......"


"Ya ya ya," ia sudah bisa menebak kearah mana maksud perkataan Rendra. "Itu bisa di skip skip next."


Rendra tergelak. "Sekarang...apa perasaanmu setelah denger ceritaku?"


Ia harus menelan ludah sebelum bicara, "You're just a kid. Rasa takut, marah, nggak ngerti mesti ngapain. I feel you...."


"Kalau masa ABG kamu pasti indah banget ya," Rendra tersenyum menatapnya. "Kayak yang sering terpampang di gambar-gambar iklan layanan masyarakat tentang keluarga berencana. Bahagia dikelilingi keluarga yang hangat, teman-teman yang baik, lingkungan kondusif..."


"Kamu juga sekarang dikelilingi keluarga yang sayang sama kamu, temen-temen yang baik..."


Rendra tertawa, "Setelah bisa meraih semua."


"Jadi konklusinya, salah satu yang pantas mendapat ucapan terima kasih kamu adalah orang-orang yang ngeremehin, Papa yang nggak pernah peduli, keluarga besar yang apatis."


"Kalau Papa dan keluarga besarnya baik-baik dan manis-manis aja ke kamu, menyetujui apapun pilihan hidup kamu yang jelas-jelas blangsak. Mungkin kamu nggak akan jadi kayak sekarang."


Rendra tersenyum menatapnya lembut, "Apa kamu selalu semenyenangkan ini tiap kali diajak ngobrol?"


Ia tak menggubris, "Kalau kata pepatah, semua akan indah pada waktunya. Mungkin, ini buah dari segala pengalaman pahit yang pernah kamu alami dulu."


"Iya, aku juga mikir gitu," Rendra menyesap wedang uwuhnya yang terakhir. "Sekarang udah nothing to lose. Daripada jadi penyakit nyimpen dendam. Toh darah bisnis Papa juga yang mengalir disini," Rendra menunjuk dada dan kepalanya.


"Iya, kamu nggak akan jadi kamu yang sekarang kalau nggak ada Papa kamu," ia jelas setuju. "Tangan dingin Papa kamu dalam mengelola bisnis pasti diambil semua sama kamu."


Rendra tergelak. "Totally agree. Sialnya begitu. Anak-anak Papa yang lain masih belum kelihatan taringnya di bidang bisnis."


"Jadi...main ideanya bersyukur dibalik musibah?"


"Bisa jadi," Rendra kembali tertawa. "Tapi sikap mereka bertiga tadi bikin aku naik darah. Naja jelas brengsek kayak aku, tapi Mama Amy dan Qeva harusnya bisa lebih down to earth."


"It's okay," ia tak mempermasalahkan. "Jadi Mama Amy istri keberapa Papa kamu?" just curious, istri pemilik tambang batubara terbesar yang gayanya ngalah-ngalahin crazy rich old money sosialita Jekardah.


"Kalau kujawab apa kamu percaya?" Rendra terkekeh.


Ia mengalihkan pandangan ke seantero pendopo yang sudah tak sehiruk pikuk tadi karena mulai ditinggalkan pengunjung, pertanda malam semakin beranjak.


"Kenapa alarmnya nggak bunyi-bunyi?" ia merasa percakapan mereka sudah terlalu lama. "Kamu sabotase ya?" tuduhnya sambil melihat pergelangan tangan kirinya, 20.44.


Rendra tak menanggapi tuduhannya, "Setelah semua ceritaku....kamu masih mau lari dariku?"


Ia menghela napas, "Sebenernya kamu maunya apa sih? Kenapa nggak nyerah aja? Nggak cape apa begini terus. Apa mau bikin aku terus merasa bersalah? Berapa kali harus kuulangi kalimat i can't."


"Sejak pertama kali secara langsung dengar presentasi kamu di workshop," Rendra menatapnya sungguh-sungguh.


"Dengar pendapat dan pandangan kamu tiap kali diskusi cofas."


"Sikap dan sifat kamu yang unik, aku jadi sadar....di usia yang sekarang...harus mulai cari pasangan yang bisa ngerubah hidup, yang bisa nyemangatin, yang punya tujuan sama-sama membangun masa depan."


"Bukan lagi cari pacar buat hepi-hepi hura-hura nggak jelas. Wasting time."


"Aku yakin kamu orang yang bisa bikin aku jadi lebih baik lagi."


Rentetan kalimat Rendra membuatnya mencibir, "Kupikir ada satu penyakit kamu yang belum sembuh. Malah tambah akut."


"Apa?" Rendra membelalak.


"Sepik-sepik iblis kayak begini," gerutunya, campur deg-degan. Membuat Rendra langsung terbahak. Bersamaan dengan bunyi alarm yang keluar dari ponsel Rendra. Menjadi sesi penutup yang mengakhiri deep talk pertama mereka malam ini.

__ADS_1


Keterusterangan Rendra tentang masa lalu kelamnya, langsung mengingatkannya pada kisah Achilles heel. Istilah yang menunjukkan kelemahan yang mematikan pada sesuatu yang kuat. Kelemahan yang secara potensial sangat berakibat fatal.


Istilah ini berasal dari mitos Achilles dalam kisah mitologi Yunani. Achilles diceritakan kebal kecuali pada bagian tumitnya. Sama seperti Rendra, dia kuat dan tangguh sebagai pemuda, berhasil melalui saat terburuk dalam hidupnya. Tapi luka masa lalu yang tersimpan seolah seperti tumit Achilles yang rentan serangan mematikan. Hanya tinggal menunggu waktu, time will heal atau malah justru hit you back and then kill you.


__ADS_2