KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
40. Indescribable Feeling


__ADS_3

Anggi


Acara baby shower di ballroom hotel ternyata diadakan oleh cucu salah satu tokoh politik nasional terkemuka yang juga seorang selebgram.


Suasana mewah sudah terasa sejak di pintu masuk, dimana mereka disambut dengan fairytale entrance berupa kain tile transparan yang terurai panjang.


Kesan mewah semakin kental dengan spot foto instagramable di sebelah kanan dan kiri berupa paperboard flower dan hanging frame yang memajang maternity photo calon mama. Beberapa tamu undangan terlihat excited berfoto di kedua spot tersebut.


Warna biru dan pink terlihat mendominasi dekorasi baby shower kali ini, mungkin sengaja dipilih untuk membuat para tamu undangan penasaran dengan jenis kelamin anak mereka. Di setiap meja dan kursi juga dihiasi aneka balon berwarna biru dan pink.


Sementara itu di tengah terdapat panggung yang juga tak luput dari sentuhan bunga mawar berwarna biru dan pink.


Sontak ruangan ballroom hotel menjadi meriah dan penuh warna. Tidak lupa aneka suguhan kue yang sebagian besar didominasi juga dengan warna biru dan pink. 


Ia mendadak merasa grogi dan minder demi melihat penampilan para tamu undangan yang hadir. Mereka mengenakan dresscode putih yang elegan, membuat dress batik yang dipakainya seolah menjadi sebuah anomali.


Untung Rendra juga memakai kemeja batik, meski tak senada. Ternyata dibalik keslengeannya, dia pribadi yang penuh antisipatif dengan menyimpan beberapa barang penting di dalam mobil. Sehingga bisa langsung dimanfaatkan saat dibutuhkan seperti sekarang ini.


"Hidupku kebanyakan di jalan, mobil udah kayak rumah segala ada. Besok-besok mau bawa Magic com," celoteh Rendra garing saat ia memandangnya takjub karena tiba-tiba sudah mengganti Polo shirt hitamnya dengan kemeja batik.


Rendra mengajaknya menemui si pemilik acara, berkenalan dengan sedikit basa-basi yang langsung disambut dengan,


"Baru lagi Ren?" sambil mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah ia makhluk asing yang terdampar.


Mulai saat itu, acara Baby shower berubah menjadi reuni dadakan, ditandai dengan banyaknya orang yang menyapa dan menghampiri Rendra.


Mereka juga kembali bertemu dengan Darrel yang telah menggandeng seorang gadis cantik. Lalu Rengganis dan laki-laki yang pernah ditemuinya saat di IGD.


"Kalian....kenal?" Rendra jelas heran.


"Iya dong," seloroh Rengganis yang selalu terlihat mesra dan tak segan untuk PDA di depan semua orang, membuatnya kembali teringat cerita mba Suko tentang mereka.


Satu hal yang dipikirkannya adalah, bagaimana perasaan istri pria tersebut saat mengetahui suaminya bermain api. Sedih.


"Kenal dimana?" setelah Rengganis berlalu, rupanya Rendra masih penasaran.


"Pitaloka," jawabnya singkat. Membuat Rendra ber oh panjang.


Tapi yang tak pernah diduganya adalah bertemu dengan Niken dan Prabu -sepertinya mereka balikan-, "Lo disini juga?" wajahnya heran campur bingung melihat kearahnya dan Rendra berkali-kali.


Setiap kali ada yang menyapa, Rendra langsung memperkenalkannya tanpa diminta, "Kenalin nih....Anggi." Membuatnya jengah, padahal tak harus, toh ia hanya interviewer yang sedang mencari bahan untuk script.


"Gandengan baru, Ren?"


"Kok beda sama yang kemarin?"


"Yang biasa kemana?"


"Lho wingi isih karo dekne, saiki wis bedo?"


Begitu rata-rata komentar orang-orang, yang hanya dibalas dengan tawa sumbang.


"Kamu nggak apa-apa kan?" ini pertama kalinya Rendra mengajak bicara empat mata sejak mereka masuk ke dalam ballroom. Kini mereka sudah duduk di kursi menanti acara inti.


"B aja," jawabnya asal. "Kenapa emang?"


"Khawatir kamu jadi nggak nyaman."


"Nggak perlu ngurusin aku," gerutunya sebal.


"Kamu prioritas utamaku sekarang," Rendra menatap tajam, "Bilang kalau nggak nyaman, kita cabut."


Ia buru-buru mengalihkan pandangan, tak mampu menantang nyala di mata Rendra. Untung di depan MC sudah mulai cuap-cuap menyedot perhatian, sangat membantunya dalam menyamarkan rasa grogi dan pipi yang semakin memanas.


Acara intinya adalah mengumumkan jenis kelamin calon bayi. Pasangan selebgram bukannya belum tahu jenis kelamin anak mereka, namun mereka memang sengaja akan mengumumkannya di acara ini.


Nah, sekarang di atas panggung tengah dihadirkan surprise cake yang akan dipotong dan isinya menandakan jenis kelamin calon bayi mereka.


Ternyata, setelah dipotong di dalamnya terdapat cake lagi berwarna biru yang artinya calon bayi mereka adalah laki-laki. Wow!


Para undangan riuh rendah bertepuk tangan. Acara diakhiri dengan makan-makan dan foto bersama.


Sebelum meninggalkan ballroom, Rendra sempat meminta tolong seorang tamu yang kebetulan lewat untuk memotret mereka di depan paperboard flower menggunakan ponsel.


Tanpa memberinya kesempatan untuk protes atau menolak. Cekrek! Cekrek! Dua jepretan berhasil diperoleh.


Mereka meninggalkan hotel tepat saat adzan ashar berkumandang. "Kita sholat dimana?" tanyanya demi melihat arus lalu lintas yang tersendat, sementara tempat baksos terletak lumayan jauh di daerah Bantul.


"Di Mall, gimana?"


"Kok Mall?" protesnya setelah siang tadi mereka menumpang sholat di basement Baby shop yang sempit dan pengap.


"Ada yang harus dibeli buat peserta baksos."


"Belum ada yang handle?"


"Konsumsi aman sama anak-anak. Ini baru kepikiran on the spot. Enaknya....cemilan atau susu?"


"Kalau ada duit, mending beli di warung-warung kecil. Barangnya sama, kadang malah lebih murah. Sekalian nyari masjid buat numpang sholat. Kalau ke Mall terlalu crowded, buang waktu," -Mall, crowded, dan buang waktu mengingatkannya pada Dio -si alergi mall-, yang belum memberi kabar lagi sejak tadi pagi-.


"Kamu memang lain daripada yang lain," ujar Rendra sambil memandangnya lembut.


Dan akhirnya menepikan kemudi ke sebuah toko kelontong di pinggir jalan yang tepat bersebelahan dengan masjid.

__ADS_1


Usai sholat, dilihatnya Rendra sedang memasukkan 3 karton susu UHT ke dalam mobil. Begitu mereka duduk di dalam, Rendra mengangsurkan satu pak amplop dan sejumlah uang, "Tolong lima amplop masing-masing dua ratus."


"Buat?" sambil mengernyit diterimanya amplop dan uang dari tangan Rendra, lalu mengerjakannya sesuai instruksi.


"Buat yang berkepentingan di sekitar sana."


Ia mendelik, kegiatan memasukkan uang langsung terhenti. "Kamu mau nyuap?"


"Bukan. Sekedar ucapan terima kasih."


Ia masih mengernyit, tangannya menggantung di udara. Baru 2 amplop yang dikerjakan.


Membuat Rendra mengalihkan pandangan ke arahnya, lalu tersenyum sambil berkata, "Dunia ini nggak sesederhana seperti apa yang kamu pikirkan. Di lapangan itu....perlu yang begini ini."


Sambil mencibir ia kembali melanjutkan pekerjaannya mengisi amplop dengan uang. Ia jelas tak setuju dengan kalimat Rendra barusan, menurutnya berterima kasih tak harus dengan materi, tapi ditelan mentah-mentah. Tak mau memperpanjang urusan, khawatir jika mereka berdebat akan menambah daftar panjang kegelisahan hatinya.


Mereka sampai di halaman Pendopo dusun tempat baksos diadakan ketika acara sudah berlangsung setengahnya. Angky menyambut dengan senyum terkembang, disusul panitia lain yang dengan sigap menurunkan susu UHT dari mobil Rendra.


"Sori telat," begitu Rendra berhigh five dengan Angky.


"Aman Bang," Angky tersenyum sambil melirik kearahnya. "Kesini juga Nggi."


"Hehehe...iya nih...lagi liputan buat script," ujarnya memberi alasan meski tak ada yang bertanya, agar orang tidak salam paham dengan kedatangan mereka berdua.


Mereka langsung menuju Pendopo dimana anak-anak usia TK-SD sedang menggambar bersama. Kegiatan menggambar ini untuk mengalihkan perhatian anak-anak agar cepat melupakan kejadian traumatik bencana banjir dan tanah longsor yang mereka alami. 


Di sisi lain pendopo terlihat AjiSakti yang sedang melakukan PFA (Psychological First Aid), yaitu mendengarkan tanpa banyak bertanya dari korban bencana usia remaja. Intinya memberi ruang untuk menyampaikan rasa takut karena kehilangan tempat tinggal, buku-buku, peralatan sekolah yang tertimbun longsor dan terbawa banjir.


"Kutinggal sebentar nggak papa," bisik Rendra ketika ia mulai mengeluarkan kamera hendak mengabadikan momen anak-anak yang sedang menggambar. "Kamu keliling aja, nanti kalau perlu apa-apa kasih tahu aku," lanjutnya. "Mau ketemu pak Kadus dulu."


Ia tak sempat membantah karena Rendra keburu pergi. Apa itu tadi? Memangnya ia anak kecil pakai dipamitin segala. Sikap Rendra selalu berlebihan dan overprotect tiap kali mereka sedang bersama. Annoying.


Ia pun memilih untuk kembali berjalan mengelilingi pendopo, memotret setiap kejadian menarik. Ketika sampai di bagian belakang pendopo, terlihat Salsa dan panitia cewek lain sedang melakukan kegiatan memasak bersama ibu-ibu. Ia tersenyum mengangguk ketika Salsa melihatnya dari kejauhan.


"Ada yang bisa dibantu?" ia memberanikan diri menyapa Salsa, setelah mengikat rambut ke belakang dan menyimpan kamera di leher.


Salsa sempat tertegun sebelum akhirnya menjawab, "Yang di panci tolong diaduk biar nggak pecah."


Ia menurut, sambil mengaduk diperhatikannya panitia yang berseliweran, hampir semua kating akhir, hanya sedikit yang dikenalnya, termasuk Angky, Salsa, dan beberapa wajah familiar yang pernah dilihatnya rapat di teras kost. Sementara lainnya baru pernah ia lihat sekarang.


Mereka terkonsentrasi menjadi 2 kelompok, ada yang berhadapan langsung dengan warga, sebagian lain sedang mempersiapkan bantuan yang akan dibagikan. Ia sempat memotret berbagai macam kebutuhan pokok menumpuk di sebuah truk, juga goodie bag berisi peralatan dan seragam sekolah untuk anak-anak. Informasi dari panitia logistik yang sempat ia temui, sebagian bantuan merupakan dana yang berhasil dikumpulkan dari para donatur dan dermawan.


Akhirnya, begitu semua masakan matang, acara selanjutnya adalah makan bersama. Semua duduk berkumpul di bagian tengah Pendopo, membaur bersama antara warga terdampak bencana, perangkat desa setempat, dan para panitia. Sebelum mulai menyantap makanan, seperti biasa ada sedikit sambutan.


Pertama dari pihak pemerintahan desa, yang diwakili oleh Pak Kadus, mengucapkan banyak terima kasih atas kepedulian dan gerak cepat mahasiswa dalam membantu warga menghadapi bencana. Dilanjutkan sambutan dari AjiSakti sebagai Ketupel, yang berharap kunjungan ini tidak hanya bersifat insidental tapi bisa rutin berkelanjutan.


Terakhir penyerahan bantuan secara simbolis dari panitia kepada warga terdampak yang diwakili oleh Mbah Supinah, nenek 65 tahun itu tak kuasa menahan air mata karena merasa terharu dengan bantuan yang diberikan.


Sebelumnya, Mbah Supinah yang hanya tinggal seorang diri, rumahnya hancur diterjang longsor pada Kamis malam. Seluruh bangunan rumah beserta isi dan perabotannya hancur tertimbun tanah longsor, yang tersisa hanyalah bangunan kamar mandi.


Ia mengabadikan semua momen dengan kamera DSLR kesayangan. Beberapa kali lensanya secara tak sengaja menangkap sosok Rendra yang berdiri menjulang di tengah kerumunan warga, atau saat sedang berbincang dengan para Perangkat desa.


Bahkan ketika bercanda dan terbahak dengan anak-anak kecil yang antusias berada di sekitarnya. Membuat telunjuknya secara otomatis menekan tombol shutter berkali-kali mengabadikan momen langka tersebut.


Tak cukup dengan gambar, ia bahkan menekan tombol start untuk merekam video saat Rendra sedang menggendong seorang balita dan bercanda dengannya.


Stop!


Sepertinya ada yang salah. Sedari tadi lensanya hanya fokus ke satu sosok, yaitu Rendra. Padahal ada begitu banyak objek dan momen menarik lain yang bisa dijadikan bahan saat editing nanti. Membuatnya memutar bola mata merasa kesal dengan diri sendiri, lalu dialihkannya lensa ke objek lain.


Setelah memperoleh foto yang cukup, ia ikut bergabung dengan panitia cewek yang sedang menyantap makanan bersama ibu-ibu. Beberapa dari mereka terlibat pembicaraan hangat dan serius. Rata-rata menumpahkan perasaan kehilangan dan trauma karena bencana yang terjadi.


Tak terasa adzan Maghrib berkumandang bersamaan dengan ditutupnya acara kegiatan bakti sosial. Panitia dan warga lalu melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di masjid yang terletak persis di sebelah Pendopo. Usai sholat Maghrib, panitia mulai berkemas.


"Cape nggak?" tanya Rendra saat mereka sudah berada di dalam mobil, siap untuk pulang.


"B aja," jawabnya acuh sambil memeriksa ponselnya yang penuh dengan notifikasi masuk. Di bagian paling bawah ada unread messages dari My love Dio. Ya ampuun, sampai nggak notice ada pesan dari Dio. Ia buru-buru membukanya.


"B itu apa? Banget, biasa, bagus, bosen...atau apa?" kalimat Rendra menggantung di udara begitu melihat dahinya berkerut-kerut sambil memandang layar ponsel, tanda sedang serius. "Kamu nggak dengerin ya," lanjut Rendra getir sambil membelokkan kemudi memasuki Jalan Ringroad.


Tapi ia tetap tak menjawab, masih serius di depan layar ponsel. Mengetik chat balasan untuk Dio.


Dio. : 'Slowdown here, wish me luck.'


Dio. : 'Langsung techmeet,' -emoticon mabuk-


Anggi. : 'G luck my love. You go boy!' -stiker semangat-


Anggi. : 'Love u, love u muchhh, love u morrree, semangattt!' -stiker kepalan tangan-


Dio. : 'How lucky i'm to be in love with u.'


Anggi. : 'Me too, me too.' -stiker hati-


"Gimana?"


Ia mendongak kaget, lalu menoleh kearah Rendra, "Gimana apanya?"


Meski Rendra menatapnya sambil tersenyum, tapi mendung di wajahnya tak dapat disembunyikan. "Kamu udah cape belum, aku masih ada satu agenda lagi."


"Oh," ia melihat ke pergelangan tangan kiri, sekarang jam 18.45. "Tadi sempet ijin ke Mba Salsa waktu di Pendopo kalau...."


"Berarti nggak masalah," potong Rendra cepat. "Oke, kita ke destinasi terakhir."

__ADS_1


Yang dimaksud destinasi terakhir adalah Sports Hall Center. Dari basement mereka langsung naik lift menuju lantai dimana tempat Futsal Center berada. Ya, Rendra akan bermain futsal dengan teman-temannya.


"Sebentar kok," ujar Rendra menenangkan, padahal ia tak mengatakan apapun.


Mungkinkah rasa khawatir terpancar jelas dari wajahnya? Terus terang ini pertama kalinya ia pergi ke Futsal Center untuk menemani seorang cowok bermain. Cowok yang bukan siapa-siapanya. Aneh bukan?


Dulu waktu masih SMU, anak-anak Romansa lebih sering main basket di lapangan kompleks perumahan Chris yang memang mempunyai fasilitas lengkap. Waktu itu ia hanya duduk di pinggir lapangan bersama Fira dan Inne, sambil sesekali berteriak kegirangan jika Dio berhasil mencetak three point.


"Udah terlanjur janji sama orang ketemuan disana," lanjut Rendra. "Kadang ada yang suka bawa ceweknya, jadi kamu bisa punya temen buat ngobrol."


Ia memutar bola mata, "Berhenti mengkhawatirkanku. I'm okay," kali ini Rendra sudah berlebihan, sampai memikirkan teman bicara untuknya.


Kalimatnya barusan sontak membuat Rendra mendadak menghentikan langkah. Lalu dengan wajah serius berkata, "Aku harus memastikan kamu baik-baik saja. Kali terakhir kita bermasalah, itu karena kesalahanku. Aku nggak mau terjebak dalam lubang yang sama."


Ia harus menahan nafas sebelum akhirnya berhasil menelan ludah. "I'm okay. I'm okay," jawabnya sambil menunduk.


Futsal Center terdiri dari 4 buah lapangan sekaligus yang semuanya penuh dengan orang-orang yang sedang bermain futsal. Rendra mengajaknya menuju lapangan nomer 2 yang terletak paling ujung. Disana sudah menunggu sekitar 10 orang lebih, sebagian sedang melakukan pemanasan.


"Kamu bisa nunggu di sana," tunjuknya ke bangku penonton di samping lapangan. "Toilet di sebelah kanan, cafetaria sebelah kiri tapi mesti keluar dulu, nggak jauh kok."


Ia hanya mengangguk-angguk sambil menelan ludah berkali-kali. Lalu berjalan cepat menuju bangku penonton yang telah terisi sebagian oleh beberapa cewek modis yang tak dikenalnya.


Mungkin ini yang dibilang Rendra tadi, cewek-cewek yang menemani pacarnya bermain futsal. Ia memilih duduk di sebelah cewek yang menurutnya memiliki wajah paling welcome, sambil tersenyum ia menyapa, "Disini kosong, Mba?"


Sementara di lapangan Rendra terlihat sudah berganti memakai kostum futsal berwarna sama dengan yang lain, bernomer punggung 21. Rendra.


"Woy, Ren!" mereka saling menyapa sambil berhigh five. "Telat lu!"


"Ah elah belom mulai juga," Rendra sempat mengerling kearahnya di bangku penonton sebelum melakukan pemanasan. Membuatnya spontan menunduk, pura-pura melihat sesuatu di ponsel.


Gaya bermain Rendra mengingatkannya pada gaya permainan CR7 yang gesit dan penuh energi, memiliki tendangan jarak jauh yang mematikan bahkan sering membuahkan gol, serta skill individu dan teknik bermain yang lumayan. Apa sih yang nggak bisa dilakukan oleh Rendra? Coba sebutkan satu.


Mendadak lamunannya buyar karena teriakan "GOL!" dari cewek-cewek yang duduk di samping, membuatnya langsung mencibiri diri sendiri karena telah berpikir terlalu jauh.


Dan yang tak pernah disangka saat ia asyik dengan kameranya memotret kanan kiri adalah kembali bertemu dengan Bram, yang sedang menghampiri ceweknya di bangku penonton untuk mengambil minuman.


"Eh, kayak kenal?" tunjuk Bram kearahnya sambil berpikir keras. "Kita pernah ketemu kan?"


Ia hanya bisa meringis.


"Ospek?" tebak Bram yakin. "Rendra?!"


"Bukan, saya Anggi," ralatnya sambil tertawa.


"Iya, yang sama Rendra kan?"


"Buka....," kata-katanya terpotong dengan cepat oleh Bram, "Wah, sampai disini juga ternyata. Keren...keren.....," Bram menyeringai sambil mengacungkan jempol. Apa sih?


"Siapa?" terdengar ceweknya Bram bertanya sedikit berbisik, sambil menyerahkan tumbler besar berisi air minum.


"Ceweknya Rendra," jawab Bram langsung berlalu.


"Eh, bukan!" sergahnya cepat.


Tapi Bram keburu pergi, sementara cewek disamping mulai memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. As always.


Rendra berkemas lebih dulu saat teman-temannya masih bermain. "Jangan sampai kamu kemalaman," begitu alasannya saat mereka berjalan keluar dari Futsal Center.


Namun Rendra memilih berbelok ke kiri, bukannya lurus menuju lift, ternyata Rendra menuju cafetaria.


"Lapar," kekeh Rendra. Ia pun hanya menurut sambil pura-pura mengutak-atik kamera.


Di cafetaria Rendra memesan Kare Jepang dan Chicken Katsu lalu makan dengan lahap, sepertinya memang lapar betulan.


Sedangkan ia hanya memesan segelas es jeruk, sambil memperhatikan cara Rendra makan yang membuatnya ikut merasa kenyang.


Selesai makan, Rendra langsung mengarahkan kemudi menuju Raudhah. Tak ada yang berminat untuk membuka pembicaraan selama perjalanan menembus lalu lintas malam yang masih saja padat, semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


Ia memilih melempar pandangan ke jendela samping sementara Rendra fokus mengemudi. Dari audio mobil mengalun siaran radio malam yang sedang memutarkan lagu request dari para pendengar, lagu yang terakhir diputar mendadak membuat hatinya mencelos, indescribable feeling.


'Walau kau menghapus


Menghempas diriku


Mengganti cintaku


Semua tak mampu


Hilangkan cinta


Yang telah kau beri'


'Walau kau berubah


Aku 'kan bertahan


Di sepanjang waktuku


Biarkan aku mencintaimu


Dengan caraku'


(Dengan caraku, Arsy Widianto feat Brisia Jody)

__ADS_1


***


 


__ADS_2