
Anggi
Setelah proses panjang revisi, bolak-balik bimbingan, beberapa drama pertengkaran -karena masalah yang masih saja disembunyikan Rendra darinya-, sampai molor dari target wisuda Februari,
akhirnya pagi ini tibalah hari yang paling mendebarkan, judgement day.
Satu jam sebelum waktu sidang tiba, ia sudah berada di FTI. Menemani Rendra menyiapkan ruangan, mengecek laptop, cek dokumen, memastikan proyektor berjalan mulus, kabel ekstensi, pointer, setting meja, dan printilan lainnya.
"I love you," bisik Rendra sambil tersenyum miring saat ia sedang memakaikan dasi. "So thankful you're in my life."
Membuatnya sengaja menarik ujung dasi ke bawah dengan sedikit keras, lalu menggeser simpul ke atas hingga dasi menempel ketat di leher.
"Uhuk ... uhuk ...." Rendra langsung terbatuk. Saat ikatan dasi terasa mencengkeram erat lehernya.
"Mau sidang juga masih sempet sepik sepik," gerutunya sambil sedikit melonggarkan simpul agar Rendra tak merasa tercekik lagi.
"Biar nggak grogi," Rendra hanya terkekeh.
Ternyata Rendra bukanlah satu-satunya orang yang ujian hari ini. Ada sekitar 5 mahasiswa lain yang juga menunggu.
Jika ia yang menjadi peserta ujian, pasti berusaha mengulang kembali bahan yang akan dipresentasikan. Apalagi skripsi Rendra termasuk publikasi internasional, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan dipresentasikan dengan bahasa Inggris pula.
Namun, Rendra lebih memilih untuk ngobrol dan bercanda dengan sesama peserta ujian. Dan pasukan berani mati yang sebagian besar telah datang. Daripada mengulang bahan.
Rendra menjadi peserta ujian kedua yang dipanggil.
Dan sampai sekarang, sudah satu setengah jam mereka menunggu di depan ruang sidang 1, Rendra belum juga keluar. Sepertinya menjadi peserta yang paling lama berada di dalam.
"Lama bet, ngapain aja tuh anak," Tommy yang biasanya selow mulai bosan.
"Keknya malah ngobrol sama Pak Drajat," Aji tertawa.
"Plot twist banget mereka akhirnya ngobrol berempat," Angky ikut tertawa.
Tepat dua jam mereka menunggu, akhirnya yang dinanti datang juga. Rendra keluar dari ruang sidang dengan wajah sumringah. Sambil merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Yang langsung diserbu oleh pasukan berani mati.
"Akhirnya!"
"Selamat-selamat!"
"Congrats!"
"Jadi wisuda juga lu man!"
"Pecah telor!"
Para cowok itu saling berpelukan sambil tertawa lega. Seperti tim sepakbola yang baru saja melesakkan gol ke gawang lawan. Sesekali saling melempar jokes absurd. Begitulah, boys will be boys.
Setelah prosesi ucapan selamat dan basa basi dengan sebagian besar orang yang menunggu di luar ruang sidang, ini untuk pertama kalinya mereka berhadapan dalam jarak kurang dari dua meter, dengan kedua tangan Rendra yang berusaha meraihnya.
Namun ia langsung mundur selangkah sambil menggeleng. Berpelukan di depan umum, apalagi di luar ruang sidang yang ramai, definitely not her style.
Membuat Rendra terkekeh, dan harus puas hanya dengan meraih tangannya. Kemudian bersama-sama berjalan menyusuri selasar meninggalkan ruang sidang.
"Selamat, ya," ia tak mampu menahan euforia. Dengan mengucapkan selamat saat masih berjalan menyusuri selasar.
"Oi, Ren, sukses?!"
"Selamat bro!"
"Tak enteni mangan-mangane (ditunggu makan-makannya)!"
"Finally!"
"Wih, wisuda Mei!"
Begitu sapaan orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka di sepanjang selasar hingga tempat parkir.
"Tadi bilang apa?" ujar Rendra sambil menutup pintu di samping kanannya, lalu menyalakan mesin.
"Yang mana?"
"Waktu di selasar."
"Oh ... selamat ya ... udah se ...."
"Nggak seru ah kalau cuma ucapan selamat doang!" Rendra mencondongkan badan ke arahnya untuk menarik seatbelt dari balik bahu kiri lalu memakaikannya. Hembusan nafas yang hangat sempat meniup sebagian anak rambutnya.
"Saat spesial, ucapannya spesial juga dooong," lanjut Rendra dengan wajah menggoda.
Membuatnya buru-buru menjewer telinga Rendra, yang diluar dugaan justru bergerak cepat menangkap tangannya. Lalu menempelkan di pipi sambil memejamkan mata, "Thanks for accepting me, being by my side, being mine."
Kemudian mengecup lembut punggung tangannya dengan mata terpejam, "I wish i could turn back time. I'd find you sooner and love you longer."
Suasana yang begitu mendayu mendorong kinerja otaknya menjadi lebih impulsif. Di luar nalar akal sehat, jarinya bergerak menyentuh bekas luka di pelipis kanan Rendra. Lalu entah darimana asalnya tiba-tiba meluncur kalimat, "Just realized, since i met you, you've never left."
Rendra membuka kedua matanya lalu menatap dalam-dalam, "Thanks for making me feel a love like no other."
Rendra mengemudi hanya dengan satu tangan, dengan tangan lain menggenggamnya erat. "Masih sibuk LPJ?" tanya Rendra sambil mengerling.
"LPJ sekre udah. Tinggal nunggu bendum (bendahara umum) belum beres."
"Jadi, nanti sore kosong dong? Enakan kita keluar sore atau malam?" Rendra harus tangkas mengemudi hanya dengan satu tangan. Ia ingin melepaskan diri, tapi genggaman tangan Rendra terlalu erat.
"Terserah kamu aja. Yang penting jangan sampai kemalaman."
"Karena jam 10 gerbang Raudhah ditutup," Rendra menjawab mantap, lalu mereka saling mengerling sambil melempar tawa.
Rendra berjanji menjemputnya jam 17.00 WIB, tapi hingga angka menunjukkan pukul 17.30 WIB, belum juga kelihatan batang hidungnya. Baru di jam 17.35 WIB, sebuah pesan chat masuk.
__ADS_1
Rendra. : "So sorry sweetie, ada yang harus kuberesin."
Rendra. : "Maaf telat ngabarin."
Rendra. : "Kita jalan malam aja ya."
Anggi. : "Ok."
Anggi. : "You okay?"
Rendra. : "I'm okay."
Tapi ia tahu pasti jika Rendra berbohong. Terlebih saat jam 19.30 WIB, Rendra baru datang menjemputnya dengan wajah pias.
"Ada apa?" ia jadi sedikit khawatir demi melihat wajah letih Rendra. Beberapa asumsi mulai berputar liar di kepalanya.
"Nggak papa," Rendra jelas memaksakan untuk tersenyum.
Apa Rendra diserang orang tak dikenal lagi? Tapi secara fisik Rendra terlihat sangat bugar tanpa bekas kekerasan.
Atau mobil Rendra? Mobil jelas sedang mereka naiki. Dan dalam keadaan normal serta baik-baik saja tanpa bekas kerusakan apapun.
"Tapi yang tadi udah beres?" ia masih penasaran. Dan anggukan lemah Rendra membuat rasa ingin tahu semakin membuncah.
"Kalau kamu lagi ada masalah, kita cancel aja. Masih ada besok, besoknya lagi ...."
Rendra memandangnya sambil tersenyum pahit, "Kita harus tetap pergi malam ini. Karena mungkin ini akan jadi yang terakhir."
Terlalu banyak asumsi liar yang memenuhi kepalanya, hingga ia tak mampu memahami maksud dari ucapan Rendra.
Rendra mengarahkan kemudi ke Jl. Malioboro, lalu belok kanan di Gapura Selamat Datang di kawasan wisata Dagen. Ada banyak hotel yang berada di jalan ini, dan Rendra menepikan kemudi ke sebuah hotel yang terletak di paling ujung.
Dari lift lantai 1 Rendra langsung memencet angka 7. Sambil terus menggenggam tangannya, mereka berjalan menuju restoran yang terletak di lantai paling atas, rooftop.
Sebuah restoran beratmosfer romantis yang berada tepat di samping kolam renang, dengan suguhan pemandangan lampu-lampu kota Jogja. Yang kelap-kelip menyerupai kunang-kunang di malam hari.
Rendra menuntunnya menuju sebuah meja yang terletak persis di samping dinding pembatas kaca. Dengan dekorasi yang diatur sedemikian indahnya, untaian lampu kelap-kelip yang mengelilingi area meja, table setting lengkap dengan nyala lilin dan taburan kelopak bunga mawar di sekitarnya. Beautiful.
Rendra menarik kursi untuknya. Begitu ia duduk, seorang pegawai datang membawakan sebuah buket bunga mawar merah segar yang sangat indah.
"Makasih," ia tersenyum simpul sementara Rendra justru menatapnya nyalang. Lengkap dengan api yang menyala. Membuatnya kembali bertanya-tanya dalam hati, what happened? Namun segera menguap demi mendengar alunan musik mendayu yang sedang ditampilkan oleh live music di atas panggung.
'Wise men say
Only fools rush in
But I can't help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
(Richard Marx, Can't Help Falling in Love)
Dinner dibuka dengan tropical fried calamary with vegetable sauce yang rasanya asam manis, disusul chicken wing yang renyah. Ia begitu menikmati menu starter hingga tak menyadari wajah Rendra menggelap dan tak seceria tadi siang.
Rasa sky grill salmon yang terasa sangat lezat di lidah, membuat perilaku canggung Rendra luput dari pengawasan matanya.
'Take my hand
Take my whole life too
For I can't help falling in love with you'
Dinner ditutup dengan sajian baked cheese cake dipadu saus orange mango yang tak kalah lezat.
'Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Some things are meant to be
Take my hand
Take my whole life too
For I can't help falling in love with you'
(Richard Marx, Can't Help Falling in Love).
"Kamu ... kenapa jadi pendiam?" ia baru menyadari Rendra benar-benar tak bicara sepatah katapun sejak mereka duduk disini.
Pertanyaannya disambut dengan rengkuhan tangan Rendra, lalu menggenggamnya hangat, "If we can't be together, just remember that you're always in my heart, forever."
Ia memandang Rendra sambil mengernyit, "Kok ngomongnya gitu?"
Rendra tak menjawab, matanya justru nyalang melihat ke segala arah tanpa fokus yang jelas.
"Kamu ... kena masalah lagi?" tanyanya hati-hati.
Rendra terlihat menelan ludah. Dengan mata yang terus saja nyalang entah ke mana.
"Masalahnya ... berat?"
Rendra menunduk sambil menarik tangannya yang masih ada digenggaman. Lalu menciumnya lembut penuh perasaan. "I feel bad."
Ia ikut menelan ludah, "You can fixed it?"
__ADS_1
Rendra menggeleng, "Have no idea."
"Ada yang bisa kubantu?" tanyanya hati-hati, tanpa bermaksud menyinggung ego Rendra.
"Ada," Rendra memandangnya lelah.
"Apa?"
Ia harus menunggu selama hampir 3 menit sebelum Rendra menjawab dengan suara bergetar, "Kita udahan ...."
Rendra masih merangkul bahunya lembut, juga merengkuh tangannya dalam genggaman mantap saat mereka berjalan pulang dari rooftop menuju tempat parkir. Sementara ia berjalan kaku seperti robot dengan kepala hampir meledak dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab, sekaligus berusaha mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Rendra masih membukakan pintu mobil, menutupnya pelan, memakaikan seat belt lengkap dengan hembusan nafas hangat beraroma mint yang lewat selintas di atas bahunya. Mengemudi hanya dengan satu tangan persis seperti tadi siang dengan tangan kiri meremas jemarinya erat.
Pikirannya masih buntu, tapi juga tak berani bertanya, khawatir mengganggu konsentrasi Rendra dalam mengemudi. Kondisi lalu lintas malam yang cukup padat bukan setting sempurna untuk membahas hal yang serius. Begitu Rendra menepikan kemudi di depan gerbang Raudhah, suasana hatinya tumpah ruah.
"Maksudnya apa tadi?!?!"
Rendra masih berusaha menggenggam tangannya tapi ia keburu menarik diri dengan cepat.
"Kamu ngajak aku dinner jauh-jauh ke hotel cuma buat bilang putus?!" ia tak percaya dua kali diputuskan secara sepihak oleh cowok.
Pertama Dio, dan sekarang Rendra. Ya ampun, mimpi apa ia semalam. Euforia kebahagiaan karena Rendra lulus sidang skripsi tadi siang langsung terhempas dengan kalimat Rendra yang terakhir tadi. What the....
"Masalahnya apa ... di mana ... aku salah apa?!" ia mulai emosional.
Rendra menggeleng sambil berusaha meraih tangannya, tapi ia menolak dengan keras. "Bukan kamu yang salah. Kamu nggak salah apa-apa."
"Terus, setelah semua masa depan yang selalu kamu omongin ... jadi gini akhirnya?! Aku nggak ngerti!" ia membuang muka ke jendela samping. Yang mulai berembun, karena Rendra belum mematikan mesin dan AC yang masih menyala.
"Gue harusnya tahu dari awal, kamu tuh cuma main-main! Iya kan?!" ia mencibir. "Tapi bodohnya, aku mau aja dimainin sama kamu!"
"Anggi, please ... denger dulu ...." Rendra mengulurkan tangan berusaha meraih bahunya, tapi ia lebih dulu menghindar.
"Aku juga nggak tahu kenapa jadi begini!" Rendra mengepalkan tangan ke udara berusaha menahan diri agar tak memukul benda apapun. "Aku yang salah! Aku yang bodoh! Aku yang brengsek! Bukan kamu ...."
Ia menghembuskan napas keras. "The point is?!?"
Rendra bergerak cepat meraih tangannya, dan kali ini ia kalah cepat, tak sempat menghindar. "I love you. I need you. I want you ...." suara Rendra mulai bergetar.
"Wanna grow old with you. Can't stop thinking about you ...."
Ia tak mampu melawan tatapan Rendra.
"You're the one that i want to be with until the end ...."
"I like me better when i'm with you ...."
"Sama kamu itu ... happiest day in my life, ever ...."
"Kalau kamu tahu ... first time i met you, i had no damn idea i'd love you this much ...."
"You're my wish ...."
Ia tak sadar airmata telah mengalir deras di kedua pipinya.
"Sshhh ...." Rendra mengulurkan tangan menghapus air mata di pipinya dengan pandangan berkaca-kaca. "Jangan nangis ...."
Ia semakin terisak.
"Aku ... aku akan semakin ngerasa bersalah udah bikin kamu nangis kayak gini ...."
Ia harus menggigit bibir agar isakan yang keluar tak semakin keras.
"I know you're hurting ...." Rendra menghapus setiap air mata yang jatuh di kedua pipinya. "Me too ...."
"Terus aku mesti gimana?!" ia sedih sekaligus kesal juga marah ke Rendra.
Rendra meraih pipinya dengan kedua tangan, lalu mengelus lembut melalui ujung jempol, "Ini yang terbaik buat kamu ...."
"Nonsense!" ia mencibir sambil berlinang air mata.
"Even though we don't talk anymore, doesn't mean i don't think about you, i'm trying to distance my self, because i know i can't have you ... we can't be together ...."
Ia harus kembali menggigit bibir menahan isakan yang ingin melesat keluar.
"Kamu kuat, kamu berani, aku tahu itu ...." Rendra menatapnya sungguh-sungguh.
"Mulai malam ini ... kalau ada orang asing yang nelpon kamu, nge chat kamu, hubungi kamu lewat apapun, jangan pernah digubris."
"Kalau ada orang nanya apa hubungan kita, jangan pernah dijawab!"
"Bilang aja kamu nggak pernah kenal sama aku."
"How come?" ia mengernyit di sela menahan isakan.
"Anggap kita nggak pernah kenal, nggak pernah ketemu."
"Terus ... kalau besok-besok ada yang ngomong buruk tentang aku, kamu jangan pernah belain aku, jangan ngomong apapun. Kamu cukup diam dan maafkan aku, itu udah lebih dari cukup ...."
"Aku nggak ngerti ...." Ia memejamkan mata lelah.
"Aku juga nggak ngerti," Rendra menatapnya tak kalah lelah. "Tapi aku yakin kamu bisa melalui ini semua ...."
"Jadi intinya?!" Ia hampir menjerit marah.
"Tolong maafin aku ...." Rendra menatapnya dengan mata penuh kaca. "Lupain aku, kuliah yang rajin, jangan sedih ... jangan lupa senyum ... bahagia terus ...."
Setetes air mata tak lagi bisa ditahan, jatuh bergulir membasahi pipi Rendra yang kokoh. Membuatnya harus kembali menggigit bibir agar tak kembali terisak.
__ADS_1