KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love

KISAH TAK BERUJUNG Bad Senior In Love
45. Rapuh dalam Langkah


__ADS_3

Dio


Pagi itu masih lekat dalam ingatan, usai sholat subuh Bunda menghubunginya melalui Skype. Menanyakan kabar sekaligus memberi semangat.


Meski konferensi Biologi yang diikuti sudah selesai kemarin, namun Bunda masih berada di Semarang, karena telah mengajukan cuti selama dua hari untuk menemani Ayah yang masih harus menjadi keynote speaker di Konferensi Internasional Sustainable Agriculture. Rencananya usai dari konferensi, Ayahbunda akan menghadiri akad nikah seorang kerabat.


"Inget Pakde Teguh yang dulu pernah tinggal di Mersi nggak de? Hari ini mau nikahin sing mbarep (yang sulung), Mas Yudhis."


"Mas Yudhis yang pertama kali ngajarin ngoding Bun?"


Bunda tertawa renyah, "Iya, masih inget itu bunda kesel banget, anak SMP kok diajarin ngoding, bikin kamu asyik seharian di depan komputer sampai lupa waktu lupa makan. Haduh."


"Lupa makan yang bisa bikin aku sampai ke Bangkok sekarang."


"Kamu ini," Bunda terus tertawa. "Eh, apakabar Anggi?"


"Baik, Bun," sejak pertama kali Anggi main ke rumah untuk belajar kelompok saat kelas 10, bunda sudah menyimpan atensi lebih dibanding ke teman ceweknya yang lain.


Bunda juga yang pertama kali menyadarkannya tentang 'perasaan spesial' untuk Anggi. Bunda seolah memiliki intuisi tajam bahwa Anggi adalah pilihan terbaik untuknya. "Perlakukan dengan baik. Jangan sampai bikin anak orang sedih dan menangis," begitu bunda sering mengingatkannya.


"Kapan-kapan kalau lagi libur kuliah, kasih tahu Bunda ya, mau tak ajak jalan ke mall baru. Cari buku resep Xanders Kitchen yang terbaru, terus nanti praktek di rumah."


"Bundamu ini kepengin duwe anak wadon (ingin punya anak perempuan)," seloroh Ayah yang tiba-tiba muncul di belakang Bunda.


"Yang bisa diajak kemana-mana. Apa daya menantu jauh, Masmu Rio belum ada tanda-tanda ngenalin calon mantu. Sasarannya ya kamu," Ayah terkekeh.


"Iya nanti kalau libur Anggi mampir ke rumah," jawabnya sambil tersenyum membayangkan dua wanita tercintanya jalan bareng.


"Tenan loh (bener loh), nggak usah nunggu jadwal Ade pulang yang Senen Kemis nggak bisa diarepin. Pokoknya begitu pulang dari Jogja, mampir ke rumah meski nggak ada Ade."


"Iya Bun...iya...," ia terkekeh, kesibukan kampus dan kegiatan lain memang membuatnya lumayan keteteran dalam mengatur waktu. Alhasil jadwal pulang ke rumah suka-suka alias sesempatnya ada waktu untuk pulang, karena liburan semester pun sering ia pakai untuk project lain dengan teman-teman di Bandung.


Ayah juga sempat ngobrol sebentar, menanyakan tentang suasana Bangkok dan kompetisi. Sampai akhirnya harus berpisah karena waktu. Sebelum menutup panggilan, bunda tersenyum sambil berkata,


"Bunda percaya, Ade pasti bisa. Jangan lupa berdoa, semoga Allah memberi hasil terbaik seperti yang diinginkan," dan tak menyangka itu menjadi senyum terakhir bunda yang terus terbayang hingga saat ini.


Hari itu hari terakhir kompetisi, seluruh peserta harus menyelesaikan soal-soal yang terdiri dari Web Hacking, Cryptography, Reverse Engineering, Binary Exploitation, Digital Forensic, dan Puzzle.


Untuk sementara, Ganapati team masih meraih skor total tertinggi, yakni 1.987, namun hanya terpaut selisih 10 poin dengan team dari Thailand dan Singapura yang menempel ketat sejak hari pertama. Posisi ini tentu sangat tidak aman, peluang terlewati sangat besar dengan selisih poin sekecil itu. Membuat ia, Fayyad, dan Gerry berusaha semaksimal mungkin mengerahkan kemampuan yang dimiliki. Push your limit.


Sesi terakhir saat mereka memainkan permainan Computer Network Defence, Penetration Test, Capture The Flag dan Forensic Analysis, poin Ganapati team tak terkejar lagi. Di akhir kompetisi, tim Indonesia meraih skor total tertinggi, yakni 2.910. Skor ini jauh mengungguli Thailand dengan skor total 2.870, Singapura skor total 2.850, dan Vietnam dengan skor 2.760, serta diikuti negara-negara ASEAN lain.


Membuatnya sedikit bernafas lega, dan langsung mengirim pesan chat ke ayahbunda.


Dio : 'Alhamdulillah, Ganapati menang lagi. Maturnuwun doanipun yah.'


Dio. : 'Alhamdulillah, Ganapati menang lagi. Maturnuwun doanipun bun.'


Pesan terkirim, tapi tak dibalas. Mungkin karena Ayahbunda masih ada di konferensi. Tak lama setelah seremonial, ia juga langsung mengirim foto penyerahan championship ke Ayahbunda. Tapi kali ini tak terkirim. Namun ia masih berpositif thinking, mungkin ponsel Ayahbunda sedang di isi daya. Membuatnya kembali mengirim foto, kali ini ke Anggi, yang tak pernah bosan memberi support terbaik, berhak tahu capaian yang berhasil ia raih kali ini.


Malam hari jelang Gala Dinner, ia masih bercanda bertiga dengan Fayyad dan Gerry, sambil menyusun rencana jalan-jalan usai Gala Dinner untuk menikmati suasana kota Bangkok di malam hari sambil mencicipi kuliner yang sedang hype, sebelum esoknya mereka kembali mengikuti technical meeting dengan panitia penyelenggara dan tiga tim juara, sebagai persiapan awal menuju kejuaraan internasional hacking dunia di Tokyo (Japan DECCON) bulan depan. Menjadi spesial karena mulai tahun ini, lima peringkat terbaik Japan DECCON berpeluang untuk mengikuti kejuaraan dunia hacking di Las Vegas Amerika Serikat (CTF GEFCON). Impian hampir semua anak TI di Indonesia.


Baru juga keluar dari kamar hotel, bersama Fayyad duduk di lobby menunggu Bang Nizam dan Gerry, mendadak ponselnya diserbu pesan chat masuk bagai air bah.


Saat ia masih berusaha membuka kunci layar ponsel, Bang Nizam datang tergopoh dengan wajah pias, "Lu harus pulang malam ini juga. Tiket pesawat lagi diusahain sama orang KBRI."


"Kenapa Bang?" mereka bahkan masih harus mengikuti technical meeting besok pagi. "Kita berempat pulang semua?"


"Lu sendiri. KBRI hanya bersedia mengusahakan satu tiket pesawat di last minute," Bang Nizam melihat pergelangan tangannya gelisah. "Flight terakhir jam sepuluh. Semoga masih bisa."


Beribu pertanyaan muncul di kepala, tak ada satupun yang dijawab oleh bang Nizam. Pun puluhan pesan chat dari Mas Tio, Mas Rio, dan keluarga besarnya hanya menuliskan, 'Cepat pulang De.' 'Hati-hati di jalan De.' Tak ketinggalan Chris juga mengirim pesan, 'Gw tunggu di Gambir bro, kita pulang bareng.'


Membuat pikirannya semakin berkecamuk. Di dalam mobil hotel yang membawanya menuju bandara ia berusaha menelepon ayahbunda, tapi tak tersambung. Pesan chat terakhir yang ia kirim tadi sore bahkan belum terkirim. Lalu ia mencoba mencari tahu lewat Anggi, tapi hanya dijawab 'Be strong....' Ya Allah, ada apa ini? Kenapa semua orang memberi teka-teki baginya.


Penerbangan selama hampir 3,5 jam dari Don Mueang Airport menuju Halim Perdanakusuma menjadi perjalanan paling menggelisahkan yang pernah ia alami. Dari Halim ia langsung menuju Stasiun Gambir dimana Chris sudah menunggunya dengan wajah yang tak kalah gelisah.


"Mestakung (semesta mendukung) Bro, Bangkok-Jekardah rasa Bandung-Jekardah," Chris menepuk bahunya berusaha mencairkan suasana seperti biasa yang memang menjadi keahliannya, tapi sayang wajah cemasnya tak bisa disembunyikan.


"Ada apa sih semua orang nyuruh pulang?" ia ingin tahu tapi tak berani memikirkan asumsi apapun.


Chris tak seperti biasanya tak langsung menjawab, diam seribu bahasa, dia malah membawanya ke Rail Transit Suite Gambir, "Kita nunggu disini, daripada kedinginan di ruang tunggu, kereta pertama baru berangkat habis subuh soalnya. Biar bisa lonjoran dikit."


Sikap misterius semua orang membuatnya takut untuk terus mencari tahu, akhirnya lebih memilih untuk meluruskan tulang yang terasa remuk setelah melalui penerbangan injury time yang melelahkan jiwa dan raga.


Jam 05.00 tepat kereta Argo Wilis jurusan Surabaya bertolak dari Stasiun Gambir, "Ini paling pagi, kalau nunggu Dwipangga atau Taksaka kesiangan," Chris berusaha memberi penjelasan, tapi ia sudah tak tertarik untuk bertanya lebih lanjut. Telepon Mas Tio dari Massachusetts dini hari tadi dengan suara bergetar cukup membuatnya ketakutan. Disusul Mas Rio yang hampir menangis di telepon membuatnya tak berani memikirkan kemungkinan apapun.

__ADS_1


Mereka harus turun di Stasiun Kroya sebagai Stasiun pemberhentian terdekat, dan langsung menemukan wajah cemas Eki -putra bungsu Pakde Pin- diantara kerumunan para penjemput. Eki juga sama misteriusnya dengan yang lain, hanya menepuk bahunya sekilas, lalu berjalan cepat menuju mobil, tak mengucapkan sepatah katapun. Perjalanan Kroya-rumah menjadi perjalanan paling menegangkan yang pernah ia rasakan. Kebisuan Eki dan Chris semakin membuat hatinya tak menentu.


Jawaban paling menyakitkan ia peroleh saat mobil yang dikemudikan Eki harus berhenti di halaman kantor kelurahan Grendeng, karena jalan masuk menuju ke rumah sudah dipenuhi oleh deretan mobil yang parkir di sisi kiri jalan. Dan dadanya langsung meledak saat menangkap lambaian bendera warna kuning terpasang di tiang listrik jalan masuk menuju ke rumah.


Pandangan orang-orang di sepanjang jalan yang mereka lewati serta wajah Chris dan Eki yang pias membuat langkahnya seolah melayang di udara. Meski begitu hatinya masih mencoba berprasangka baik. Tapi wajah murung Pakde Pin yang setengah berlari menyambut lalu memeluknya membuat pertahanan dirinya runtuh seketika. Ia belum paham dengan apa yang terjadi, tapi air mata sudah luruh.


Ia hanya menangis sebentar di pelukan Pakde Pin, meluapkan sesak di dada sejak dari hotel, lalu berusaha keras menguatkan diri saat melihat wajah ayahbunda untuk yang terakhir kalinya, tak ingin membasahi jenazah ayahbunda dengan airmata kesedihan. Ia juga berusaha tegar saat mengangkat keranda jenazah ayah menuju mobil ambulan, mengeraskan rahang sekeras mungkin saat mengangkat keranda jenazah bunda dari mobil ambulan menuju pemakaman. Merasa sedang bermimpi buruk saat ikut turun ke liang lahat membantu memposisikan jenazah Ayahbunda, melantunkan adzan dengan suara bergetar menahan tangis, semua ia rasakan dilakukan dengan gerakan slow motion yang menyakitkan.


Kepergian mendadak ayahbunda untuk selamanya sangat mengguncang jiwa. Meninggalkan duka yang tak kunjung hilang. Menyisakan hati yang hancur berkeping.


Maafkan anakmu ini yang tak bisa menemani di saat terakhir Ayahbunda, maafkan kami yang tak sempat membantu melafalkan syahadat di telinga, maafkan Mas Tio dan Mas Rio yang tak bisa langsung pulang karena jarak dan waktu, maafkan kami bertiga yang belum bisa berbakti membahagiakan ayahbunda, maafkan kami yang meski sudah sebesar ini tapi masih sering merepotkan. Maafkan Ade yah, Bun...maafkan ade....maafkan Ade....


Usai pemakaman, begitu sampai di rumah ia langsung disambut pelukan haru para kerabat dan keluarga besar. Hampir semua orang yang memeluknya sambil berderai airmata,


"Sabar ya De..."


"Kuat ya De...."


"Ayahbunda udah bahagia disana..."


"Ayahbunda pasti bangga sama Ade...."


Dan sederet kalimat menenangkan lain.


Meski dadanya sesak, ia tak bisa menangis, hanya mengangguk sambil berusaha tersenyum pahit.


Setelah obrolan singkat dengan Pakde Pin, ia memilih keluar menuju halaman, dimana tadi sempat melihat wajah sembab Anggi diantara para pelayat. Mencari alasan agar bisa mengantarnya pulang, lalu menggenggam tangan Anggi erat mencoba mencari kekuatan. Kesedihan dan penyesalannya meledak tak tertahan lagi. Meluapkan semua sesak di dada dengan menyembunyikan kepala diantara kedua kaki. Namun tepukan ringan di punggung disertai suara isakan tertahan Anggi mengingatkannya bahwa ia tak sendiri.


Namun melanjutkan hidup setelah kehilangan tragis takkan pernah sama. Jika boleh jujur rasanya ia tak pernah benar-benar siap menghadapi kenyataan saat Ayahbunda akhirnya pergi untuk selamanya. Kalau boleh memilih, ia ingin bisa terus bersama Ayahbunda sampai akhir hayat. Hanya saja saat takdir berkata lain, mau tak mau ia harus menerimanya. Meski masih meninggalkan ruang di hati yang kosong dan hampa.


Hidup terus berjalan. Kesibukan kuliah dan kampus sedikit demi sedikit mulai bisa mengalihkan kesedihan meski tak secara keseluruhan. Tepat sebulan setelah wafatnya ayahbunda, ia bersama Ganapati team bertolak ke Jepang untuk mengikuti kompetisi. Dari peringkat ke 7 yang berhasil mereka raih tahun lalu, kini meningkat menjadi peringkat ke 5 dari 10 negara peserta. Cukup untuk mengantarkan Ganapati team menjadi peserta kejuaraan dunia hacking di Las Vegas, Amerika Serikat (CTF GEFCON).


Tapi semua capaian tak mampu menambal luka dan lubang di hatinya. Pengalaman memilukan ditinggal Ayahbunda dengan cara yang cukup tragis semakin menambah rasa takut akan kehilangan. Hatinya takkan sanggup lagi untuk menerima rasa kehilangan yang diluar jangkauan.


Akhirnya setelah berkontemplasi cukup lama, memikirkan semua kemungkinan, memetakan hal yang bisa terjadi, mengambil pilihan sulit dari sedikit pilihan yang tak kalah sulit, beberapa hari sebelum bertolak ke Tokyo untuk mengikuti program research exchange, sebagian besar dirinya memutuskan untuk melakukan hal paling menyakitkan.


Dan disinilah ia, menunggu seseorang yang menurutnya bisa membantu 'mengurangi rasa sakit'. Orang yang sejak pertemuan pertama di teras kost Anggi waktu itu, langsung menyadarkannya bahwa mereka memiliki perasaan untuk satu orang yang sama. Dari tatapan mata, cara bicara, dan tingkah laku, ia tahu mereka menyimpan perasaan yang sama besarnya. Hal yang sempat membuatnya kesal waktu itu, namun tidak untuk saat ini. Dan setelah melalui perjalanan panjang stalking sana sini, ia yakin telah memilih orang yang tepat.


"Wah, si Abang jarang kesini, lagi sibuk skripsi," begitu jawaban orang yang paling bertanggungjawab di Mreneo, yang tadi memperkenalkan diri bernama Bagus.


"Wah, yo jangan, kasihan Mas e, nggak jelas hari ini kesini atau enggak. Lagi banyak urusan penting selain skripsi."


"Kalau gitu minta nomor ponselnya."


"Waduh, maaf Mas, nggak berani ngasih nomor ke sembarang orang."


"Kalau gitu, tolong kasih nomor saya kalau Bang Rendra kesini," sambil menuliskan nomer ponselnya.


"Siap Mas," Bagus mengangguk setuju.


Dan bagian paling sulit yang kedua adalah mengatakan langsung pada wanita kedua yang ia cintai setelah bunda, satu-satunya gadis yang berhasil menarik perhatiannya sejak MOS hari pertama masuk SMU, seseorang yang saat ia menatap matanya tergambar jelas masa depannya disana, Anggi tersayang.


"M-maksudnya?" jelas terdengar di telinganya suara Anggi bingung campur khawatir. Membuatnya tak sanggup untuk menatap matanya langsung.


"Exchange satu tahun nggak ada apa-apanya dibanding perjalanan kita selama ini...."


"Ada telepon, WA, Line, Skype, video call, email...."


"Aku baik-baik aja disini, kamu jangan khawatir..."


"Kamu konsentrasi riset disana, nggak usah mikirin apa-apa disini. I'm fine. I'm okay...."


Ia berusaha menenangkan dengan menggenggam tangan Anggi, yang terasa dingin seperti es. "Ini buat kebaikan kamu sendiri...."


"Kebaikan yang kayak gimana?" suara Anggi belum pernah seemosional ini. Itu membuatnya semakin sakit.


Ia berusaha tersenyum sambil terus menggenggam tangan Anggi, "Kami bertiga nggak sempat menemani ayahbunda untuk yang terakhir karena jarak dan waktu. Itu luar biasa menyedihkan bagiku..."


"Tapi kita sudah melaluinya...kamu baik-baik saja, kita baik-baik saja...."


"Tapi aku nggak mau menyesal lagi..."


"Nggak ada yang menyesal..."


"Anggi....perasaanku padamu nggak akan berubah.....tapi aktivitas yang harus kita lakukan terpisah jarak dan waktu....jauh....diluar jangkauan....aku...nggak mau....kehilangan diluar jangkauan....."

__ADS_1


"Nggak ada yang akan kehilangan," setetes airmata jatuh, membuatnya segera mengulurkan tangan untuk menghapusnya. "Aku disini baik-baik aja, nunggu sampai kamu pulang....."


"Jangan nungguin..."


"Kenapa?"


"Aku nggak mau ada beban...."


"Aku jadi beban buat kamu?"


"Bukan kamu...tapi aku sendiri yang jadi beban. Lebih baik kehilangan kamu dengan cara begini, masih di dalam jangkauan....daripada kehilangan diluar jangkauan, lebih menyakitkan....."


Meski ia lebih suka mengantar Anggi kembali ke kost, lebih aman dan membuat hatinya tenang, tapi ia sendiri yakin takkan mampu mencegah keinginannya.


"Ya ampun, kamu masih ngelarang aku buat nganter ke stasiun?" meski masih pias tapi wajah cemberut Anggi sedikit melegakan hatinya. Memang Anggi yang ia kenal selama ini.


"Udah malem banget, gimana nanti pulangnya?"


"Kayak dimana aja, Ojol banyak, Jogja udah jadi rumah keduaku, nggak usah macem-macem deh."


"Nanti kamu tambah sedih...nangis...gimana nanti bisa pulang nggak?" ia berusaha bercanda, disusul pukulan keras di lengannya. "Lagian cuma bisa nganter sampai peron. Sama aja kuantar ke kost."


"Aku mau putus kalau boleh ikut ke stasiun, kalau kamu tetep nganter ke kost an, aku nggak mau putus! Hayo mau apa?"


Anggi...Anggi...suasana begini masih merajuk. Dengan suasana aneh dan kagok yang menyelimuti, ia akhirnya setuju Anggi mengantarnya sampai ke stasiun. Sebelum masuk ke peron ia sempat memeluk seseorang yang ia kira masa depannya itu, isakan tertahan terdengar dari wajah yang terbenam di dadanya.


"Jangan nangis...nggak boleh nangis....," ujarnya dengan nada tercekat, tak pernah menyangka kehilangan dalam jangkauan yang direncanakan tetap semenyakitkan ini.


"Jaga kesehatan, jaga diri, jangan lupa bahagia....," bisiknya lagi sambil mengecup sekilas puncak rambut Anggi. How i love you so much.


Hingga tepat jam 21.18, dari jendela kereta api Turangga yang akan membawanya kembali ke Bandung, terlihat jelas di balik peron seorang yang masih tersimpan di hati melambaikan tangan. Really hurt.


Satu hal yang membuatnya sedikit lega, dibalut rasa penyesalan dan cemburu. Saat melihat seseorang berjaket hijau berlarian kesana kemari seperti sedang mencari seseorang. Dan akhirnya berhenti di dekat peron, tepat di belakang seseorang yang akan selalu tersimpan di hati.


Anggi....be good, be brave, stay healthy, love yourself, jangan lupa bahagia. Ia selalu berharap mereka bisa bertemu lagi dalam suasana yang membahagiakan. Naluri mengatakan engkaulah milikku, namun keadaan berkata lain.


Dddrrrttttttt Dddrrrttttttt Dddrrrttttttt


"Halo?"


"Udah ketemu.....di depan peron."


"Take care of her....."


'Ini aku kau genggam hatiku


Simpan di dalam lubuk hatimu


Tak tersisa untuk diriku


Habis semua rasa di dada


Selamat tinggal kisah tak berujung


Kini ku kan berhenti berharap


Perpisahan kali ini untukku


Akan menjadi kisah sedih yang tak berujung'


(Glenn Fredly, Sedih tak berujung)


***


Catatan :


Sing mbarep. : yang sulung


Ngoding. : 'membuat kode' dari suatu program


Duwe anak wadon. : punya anak perempuan


Maturnuwun doanipun : 'terima kasih atas doanya'


Mestakung. : semesta mendukung

__ADS_1


__ADS_2