
Anggi
Siang bolong sebelum masuk ke kelas Jurnalisme Konvergensi, sebuah notifikasi masuk ke ponsel. Ternyata Dio yang mengirim video berdurasi pendek berisi gambar lorong kereta api dengan background lagu 'Yogyakarta' nya Kla Project.
Anggi. : 'Now what?' -emoticon tertawa-
Dio. : 'Pulang ke kotamu.'
Anggi. : 'Apa?'
Dio. : 'See u there.' -emoticon senyum-
Chat dari Dio jelas mendistraksi pikiran. Membuatnya tak bisa konsentrasi selama kuliah berlangsung.
Ia tahu Dio sedang pulang ke rumah sebelum minggu depan berangkat ke Tokyo guna mengikuti program exchange. Selain untuk nyekar ke makam ayahbunda, Dio juga sekalian pamitan dan minta doa restu dari keluarga besarnya. Tapi mampir ke Jogja bukanlah hal yang mereka sepakati.
"Kenapa sik?" Mala mulai terganggu dengan tingkahnya yang berulangkali melihat jam di pergelangan tangan.
"Udah jam tiga, kenapa Dio belum kasih kabar ya?"
"Emang kenapa?"
"Lagi otw kesini, harusnya jam tiga udah sampai Lempuyangan."
"Hah? Beneran kesini?"
"Ish."
"Cowok lo hobi banget bikin surprise sih," Mala mencibir. "Gue kan jadi pingin."
Kini gantian ia yang mencibir. Usai kelas ia pun langsung mengirim pesan chat ke Dio,
Anggi. : 'Where r u now?'
As always, tak berubah, Dio selalu fast respons menjawab chat darinya.
Dio. : 'Just arrived.'
Dio. : 'Doing some business.'
Ish, urusan apa coba. Kayak yang punya banyak teman saja di sini. Eh, tapi memang banyak alumni SMANSA sih yang kuliah di sini. Bahkan hampir setengah dari teman seangkatan mereka kuliah di Kampus Biru. Kira-kira urusan dengan siapa ya?
Dio. : 'Nanti kukabari kalau dah beres.'
Dio. : 'Aku ke kampus atau kost?'
Kampus jelas bukan pilihan yang bagus, paling nongkrong di kantin. Sementara ia belum tahu berapa lama waktu Dio disini.
Kost an apalagi. Bisa-bisa anak-anak langsung nyinyir lagi kalau melihatnya membawa tamu cowok ke kost di luar urusan kuliah dan kepengurusan.
Anggi. : 'How long?'
Dio. : 'Ntar malam balik Bandung.'
Anggi. : -stiker menangis di pojokan-
Dio. : -emoticon tertawa-
Ia hampir tak pernah jalan selain ngampus dan kegiatan. Jadi informasi tempat cozy nol besar. Dan disaat kepepet seperti sekarang ini, maka tempat yang menjadi andalan adalah,
Anggi. : 'KFC seberang Mirota aja ya, biar enak ke stasiunnya.'
__ADS_1
Dio. : 'Yuk dimanapun cintaku mau.'
Anggi : 'Gombal banget.' -emoticon manyun-
Dio. : 'Haha...serius padahal.'
Dio. : 'See u there at 6 pm.'
Usai kuliah ia tak langsung pulang ke kost. Sengaja ikut Mala nongkrong di Kopma sambil menunggu Maghrib tiba.
Setelah numpang sholat, ia langsung berjalan kaki menuju KFC yang hanya berjarak sepelemparan batu.
Begitu sampai di sana, ternyata Dio sudah duduk di salah satu kursi. Langsung tersenyum saat melihatnya masuk.
"Udah lama?"
"Baru aja."
"Ke atas aja yuk biar lebih privat."
"Yuk kemanapun cintaku mau."
"Mulai deh...mulai deh," ia pura-pura memasang wajah kesal, membuat Dio terkekeh sambil mengacak rambutnya. Ia tak menyangka itu adalah acakan rambut yang terakhir.
Dio memesan Super Besar 2, "Laper," ujar Dio sambil tertawa.
Sementara ia memilih Rice Box dan Mocca Float favoritnya.
Mereka makan dalam diam, dan ini sedikit mengganggunya. Karena biasanya mereka makan sambil berbagi cerita dan tertawa.
Memang sejak kepergian ayahbunda, Dio menjadi sedikit berbeda. Seperti bukan Dio. Tak seceria dan sesemangat biasanya. Meski sesekali masih bisa bercanda, tapi luka hati terpancar jelas di kedua mata Dio.
"Maaf mendadak dan cuma sebentar kesininya," Dio tersenyum.
Kejadian tragis beberapa waktu lalu membuatnya jadi lebih sering mengkhawatirkan keadaan Dio.
Namun kalimat Dio selanjutnya sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sama sekali tak mengerti maksud dari ucapan Dio. Tapi genggaman erat di tangannya menyadarkan bahwa ini nyata, bukan mimpi.
"Perasaanku padamu nggak akan berubah ...."
"Tapi aktivitas yang harus kita lakukan terpisah jarak dan waktu ...."
"Jauh ...."
"Di luar jangkauan ...."
"Aku...nggak mau....kehilangan diluar jangkauan....."
Ia tahu, ia tahu.
Tanpa Dio mengatakannya pun ia tahu. Perasaan yang telah terpupuk sekian lama sejak masa sekolah membuat mereka lebih bisa untuk saling memahami satu sama lain.
Karena sejatinya, mencintai adalah bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, meski tidak bersama.
Dan harapan terakhir agar tak menyesal berkepanjangan adalah mengantar Dio ke stasiun. Meski Dio menolak dan bersikeras untuk mengantarnya ke kost. Ia ingin melihat Dio untuk terakhir kalinya. Agar sosok Dio bisa tersimpan dengan baik di hati.
Dan sepanjang perjalanan menuju ke stasiun, mereka saling berpegangan tangan. Seolah enggan melepaskan satu sama lain. Menyakitkan tapi sudah menjadi jalannya harus begini.
Tak lama sampai di stasiun, terdengar suara lagu Sepasang Mata Bola yang berasal dari speaker Stasiun diikuti announcement oleh pegawai PT. KAI. Menandakan adanya kedatangan kereta. Mengingatkan mereka bahwa perpisahan sudah di pelupuk mata.
"Selamat malam dan selamat datang kepada seluruh penumpang kereta api Turangga dari Stasiun Surabaya Gubeng dengan tujuan Bandung dan tujuan akhir stasiun Jakarta Gambir."
__ADS_1
"Saat ini perjalanan anda telah tiba di stasiun Besar Yogyakarta. Bagi yang ingin mengakhiri perjalanan di stasiun Besar Yogyakarta, kami persilahkan untuk segera turun."
"Periksa kembali barang bawaan anda, pastikan tidak ada yang tertinggal di dalam kereta. Pintu keluar ada di sebelah barat stasiun."
"Jangan nangis...nggak boleh nangis....," ucapan Dio justru semakin membuatnya kian terisak.
"Jaga kesehatan, jaga diri, jangan lupa bahagia...."
Dan saat ia harus melihat punggung Dio memasuki peron lalu berjalan menjauh, itu menjadi momen yang paling menyedihkan. Sakit tapi tak berdarah. Membuat airmata terus berderai.
Sebelum memasuki kereta Dio masih sempat berbalik ke arahnya sembari melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Membuatnya menangis sekaligus tertawa, tawa pahit.
Pergilah Dio....kejar semua keinginanmu...semoga tercapai semua impianmu....aku disini baik-baik saja....baik-baik saja.....till we meet again.....
Tak pernah 'ku sangka ini terjadi
Kisah cinta yang suci ini
Kau tinggalkan begitu saja
Sekian lamanya kita berdua
Tak 'ku sangka begitu cepat berlalu
'Tuk mencari kesombongan diri
Lupa segala yang pernah kau ucapkan
Kau tinggalkan daku
Pergilah, kasih, kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu
(Chrisye, Pergilah Kasih)
Ia masih bisa melihat Dio tersenyum dari balik kaca jendela saat kereta mulai bergerak pelan. Untuk kemudian rangkaian panjang gerbong itu menghilang di tengah gelapnya malam.
Ia tak ingat berapa lama berdiri di depan peron. Ketika angin malam yang cukup dingin dan lembab mulai menerpa wajah dan mempermainkan anak rambutnya.
Saat itulah ia merasa sangat lelah tak berdaya. Dengan sisa tenaga, ia pun berjalan menuju kursi tunggu terdekat. Lalu mendudukkan diri disana.
Ia harus memejamkan mata barang sejenak untuk mengatur detak jantung yang tak beraturan. Kemudian mengambil nafas panjang, merasakan sakit di dada.
Hingga tanpa terasa air mata menetes lagi. Ia kembali terisak. Meski telah berusaha sekeras mungkin menggigit bibir, tapi suara isakan kecil tetap lolos dari mulutnya.
Untung suasana stasiun di malam hari lumayan sepi. Kursi tunggu di sebelah kanan kirinya bahkan kosong. Membuatnya leluasa untuk meluapkan perasaan tanpa harus merasa sungkan atau malu dipergoki oleh orang lain.
Entah berapa lama ia terisak di kursi tunggu. Karena sekarang pipinya mulai terasa lengket dan kaku oleh airmata. Dengan nafas yang masih tersengal.
Saat itulah seseorang yang duduk tepat di belakangnya mengangsurkan sebuah tisu.
Seseorang dengan telapak tangan besar dan jam tangan sport menempel di pergelangannya. Bentuk dan warna jam yang sangat familiar membuatnya spontan menoleh ke belakang.
__ADS_1
Dan disana....tepat di belakangnya, Rendra sedang duduk sambil tersenyum,
"Udah nangisnya? Sampai kapan mau disini?"