
Ia tersenyum puas menatap motor matic sejuta umat miliknya yang terparkir di garasi Raudhah. Fresh dikirim langsung dari rumah via ekspedisi jasa pengangkutan kereta api. Sebenarnya motor sudah dikirim beberapa hari sebelum ia kembali ke Jogja kemarin siang. Dan langsung meminta bantuan petugas ekspedisi menjadikan motor ready on the road. Pasti Rendra tak percaya kalau ia menempuh rute Lempuyangan - Raudhah dengan mengendarai motor, sendiri, yeah finally.
Jadi, setelah hampir tiga minggu mereka tak bertemu, kini saatnya memberi kejutan pada Rendra, coach spesial dalam hal permotoran. Sejak subuh sudah dipersiapkan semua, motor checked, SIM C checked, lontong opor 2 porsi checked. Ia pun melenggang menuju rumah Rendra menembus udara dingin pagi kota Jogja yang dirindukannya.
Namun euforia berlebihan yang dirasakan langsung menguap tanpa bekas demi melihat lalu lalang orang di halaman rumah Rendra, dengan beberapa mobil asing terparkir, salah satunya mobil patroli polisi. What happened?
"Permisi, ada apa ya Pak?" tanyanya dengan perasaan campur aduk ke petugas berseragam cokelat yang berdiri di garis terluar.
Petugas tersebut memperhatikannya lebih dulu sebelum menjawab singkat, "Penyerangan."
Apa?
"Eh, Mba, mau kemana," pak petugas buru-buru menghalangi jalannya. "Ini area terbatas, masih dalam penyidikan."
"S-saya kenal sama yang punya rumah," ujarnya gugup campur gemetar. "Saya kenal sama yang tinggal disini."
Tapi pak petugas tak bergeming, "Maaf Mba, nggak boleh."
Sejurus kemudian, "Eh, Mba jangan masuk!" teriak pak petugas demi melihatnya setengah berlari memaksa masuk ke halaman.
Dari sini mulai terlihat jelas, pecahan kaca pintu ruang tamu yang berserakan memenuhi lantai teras, sedangkan kaca jendela masih tampak menempel di kusen meski tak utuh lagi.
"Mba, tolong keluar!" suara menggelegar petugas menarik perhatian beberapa orang yang sedang mengobrol di ruang tamu, salah satunya adalah,
"Bang Rakai!" panggilnya dengan suara gemetar campur lega, saat melihat Rakai tengah berbicara serius dengan seorang petugas berpakaian sipil. Ditengah kondisi ruang tamu yang hancur berantakan dengan pecahan kaca berserakan dimana-mana.
"Anggi?!" wajah kaget dan pias tak bisa disembunyikan saat Rakai melihatnya.
"Maaf, sebentar," Rakai meminta ijin untuk mengakhiri pembicaraan, dan langsung menghampirinya. "Bisa sampai sini?"
Ia harus menelan ludah berkali-kali sebelum bertanya dengan terbata-bata, "A-ada apa Bang? R-rendra mana?!"
"Maaf Mas, Mba ini nggak boleh masuk ke area...," kalimat petugas yang sejak tadi mengikutinya terpotong di udara.
"Nggak papa Pak, masih keluarga," tukas Rakai cepat.
"Oh, ya sudah. Tolong jangan sampai mengganggu," Pak petugas akhirnya mengalah pergi.
"Siap, Pak," Rakai memastikan.
"R-rendra?" tanyanya takut-takut.
Rakai menghela napas lalu mengajaknya ke ruang tengah. Di atas sofa tempat mereka pernah menonton Mission Impossible, terlihat Yu Jam sedang ditanyai oleh dua orang petugas kepolisian, yang dijawabnya sambil menangis tersedu-sedu. "S-saya b-baru mau mulai bersih-bersih rumah, terus ada orang....."
Rakai membimbingnya melewati ruang tengah yang tak kalah berantakan. Dan disana, di meja makan, seseorang yang sangat dikenalnya sedang duduk bertelanjang dada mendapat perawatan dari petugas medis. Membuat kresek lontong opor yang sedang dipegangnya jatuh berhamburan mengotori lantai.
"Anggi?" Rakai terkejut melihat reaksinya. Pun orang yang sedang mendapat perawatan, langsung menoleh begitu mendengar namanya disebut.
Walaupun mata penuh api Rendra menatapnya nyalang, namun ia sedikit bernapas lega sekaligus bersyukur, karena secara keseluruhan Rendra terlihat sehat dan baik-baik saja. Meski pelipisnya masih berlumuran darah dan lengan kanannya yang terluka lumayan parah sedang disuntik bius lokal.
Rakai mengajaknya untuk duduk di meja makan, tepat segaris di depan Rendra yang kini sedang dijahit lukanya, lalu kembali pergi menemui petugas di ruang tamu. Meninggalkannya sendirian menyaksikan proses pengobatan Rendra.
"Sebentar lagi selesai," ujar petugas usai menjahit lengan Rendra sekitar 6 jahitan, lalu membersihkan bagian luka dengan NaCl, dioles betadine, diberi antibiotik topikal, terakhir menutupnya dengan penutup luka waterproof.
"Tinggal pelipis," lanjut petugas mulai membersihkan darah yang masih mengalir hingga garis pipi. Lalu membersihkannya dengan cairan NaCl steril, agar kotoran keluar dan mengurangi konsentrasi bakteri. Selanjutnya luka dan sekitarnya diberi betadine untuk antisepsis.
"Sobek sedikit, nggak perlu dijahit," gumam petugas mengakhiri perawatannya. "Semoga lekas sembuh ya Mas. Ojo gelut meneh ( jangan berantem lagi)," seloroh petugas sebelum pergi.
Ia yang masih duduk mematung tak menyadari jika petugas telah pergi, disusul Rendra yang berjalan menghampiri kursinya, lalu duduk berlutut tepat di hadapannya.
"Kenapa nangis?" ucap Rendra lembut sambil mengulurkan tangan menyeka air mata yang telah mengalir deras di kedua pipinya.
Pertanyaan Rendra dan usapan lembut di pipi justru membuat air mata semakin deras mengucur. Membuatnya harus menggigit bibir keras-keras agar isakan tak lolos keluar dari mulutnya.
"Sshhh," Rendra tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Sambil menahan tangis ia memberanikan diri menyentuh pelipis Rendra. Ujung jarinya terasa lengket saat menyentuh bekas olesan betadine di sekitar luka.
"I'm okay...," Rendra tersenyum menenangkan, membuat hatinya semakin mencelos. Tak mengerti perasaan apa yang sedang menguasai dirinya saat ini.
Takutkah? Takut apa? Takut karena melihat kekacauan di rumah Rendra? Takut melihat pecahan kaca berserakan? Takut melihat luka menganga di pelipis Rendra? Atau....takut kehilangan Rendra?
"Ren, Mas Sada mo ngobrol bentar," suara Rakai membuyarkan aura romantic yang menguar di antara mereka berdua.
"Dua menit," Rendra menjawab tanpa mengalihkan pandangan darinya. Setelah Rakai mengangguk pergi, Rendra berbisik, "Tunggu sebentar, jangan kemana-mana."
Ia menunggu seperti orang linglung, memperhatikan Rendra yang berbincang serius dengan Rakai dan dua aparat berpakaian sipil. Dari tempatnya duduk terlihat sesekali Rendra melengkapi cerita dengan gerak isyarat kedua tangannya. Sementara di sisi lain, Yu Jam sudah didampingi oleh petugas medis yang mengajaknya ngobrol. Bukan untuk mengobati luka fisik seperti Rendra, tapi luka batin alias trauma.
__ADS_1
Saat ia mulai bosan menunggu, Rendra sudah berjalan mendekat, "Sori lama," dengan gaya khas kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Ia hanya tersenyum melihat luka di lengan kanan Rendra sudah tertutup kaos warna hitam yang familiar. Kaos yang sama seperti yang dimilikinya. Kaos yang pernah membuatnya kesal di acara bonding cluster.
"Kamu udah makan belum?"
Belum sempat menjawab, Rendra sudah meraih tangannya. Sesampai di halaman, Rendra sempat terkejut melihat motor yang terparkir, lalu tersenyum miring, "Motor siapa tuh?"
Ia baru mau membuka mulut, tapi Rendra sudah melingkarkan lengan kiri ke bahunya. "Aduh, kesayangan Abang yang satu ini udah jago ternyata. Kesini naik motor?"
Ia mengangguk.
"Punya SIM?"
Lagi-lagi ia mengangguk. Membuat Rendra semakin mengeratkan rangkulannya, "Kereeeen. Besok mulai belajar mobil ya."
"Udah bisa."
"Serius?"
"Udah punya SIM juga."
"Yang bener?" mata Rendra membulat. "Sekarang kamu yang bawa ya, tangan Abang luka nih, atit...," rengeknya dengan ekspresi dibuat-buat.
"Aku belum berani bawa jauh," ia meringis malu. "Masih belajar pede."
"Ah, bisa...bisa...pasti bisa," Rendra mengangsurkan kunci mobil yang tadi dipinjam dari Rakai.
Membuatnya memutar bola mata, "Kamu mau nambahin luka atau mau berakhir di rumah sakit?!"
"Astaghfirullah," Rendra terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Next ya."
Ia hanya mencibir.
Rendra mengarahkan kemudi persis seperti saat mereka hendak menuju Abhayagiri. Tapi kali ini setelah Candi Sari sudah menepi, di sebuah rumah makan apung, Sendang Ayu Kalasan. Letaknya yang lebih rendah dari badan jalan, terlihat unik karena terlihat dari atas, gazebo-gazebo yang terbuat dari bambu dengan atap bangunan khas Joglo berjajar rapih di antara air dan rimbun pepohonan.
"Mau mancing?" tanyanya heran memperhatikan area parkir yang luas dengan view menarik dan dikelilingi rindang pepohonan. Terlihat beberapa kendaraan sudah terparkir di hari yang sepagi ini.
Rendra hanya tersenyum meraih tangannya, menyusuri area parkir menuju area makan, yang terpisah dengan kolam lumayan besar. Lalu mengajaknya naik gethek (rakit beratap) yang telah berisi 5 orang lebih. Gethek ditarik oleh beberapa kru rumah makan yang stand by. Pelan namun pasti gethek mulai terguncang-guncang menyeberangi kolam.
"Untuk berapa orang Mas?" sapa salah satu kru rumah makan ramah begitu mereka memasuki area makan.
Mereka diajak menyusuri bangunan dan gazebo-gazebo yang kesemuanya berbahan dasar bambu. Lalu berhenti di deretan gazebo untuk perorangan.
"Silahkan mau dipilih yang mana," begitu mba kru menawarkan. "Masih kosong semua."
Rendra memilih gazebo paling ujung, yang bisa dipastikan paling privat karena tak ada orang lalu lalang meski sekedar lewat.
"Gurami bakarnya enak loh," ujar Rendra saat membuka pilihan menu. Hm, apakah dia selalu tahu makanan yang paling enak di setiap tempat yang dikunjungi?
Rendra memilih sup ikan patin, sayur asem, dan cah kangkung. Ia yang tak terlalu lapar akhirnya tertarik memesan gurami bakar, lalapan sambel, dan es jeruk. Tak harus menunggu lama, makanan datang. Rendra, seperti biasa, makan seperti belum ketemu nasi selama tiga hari, lahap luar biasa.
Setelah makan, ngobrol basa-basi nggak jelas, sempat mancing ikan sebentar, tiba-tiba Rendra meminta ijin, "Aku cape banget...boleh tiduran disini ya," sambil merebahkan kepala ke pangkuannya. Hm, ini sih bukan minta ijin ya kalau langsung nyosor begini. Meski merasa kurang nyaman karena posisi mereka jadi sedikit intim, ia tak menolak ketika Rendra meraih tangannya untuk diletakkan di atas kedua mata Rendra yang terpejam.
Hampir 5 menit tak ada yang bersuara, dengan tangan saling menumpuk di kedua mata Rendra.
"Tangan kamu bikin aku tenang," ujar Rendra. "Kamu gini terus ya tiap aku cape, biar capeku cepet ilang."
Ia memandang Rendra yang terpejam, "Kamu ada masalah apa? Sampai rumah hancur gitu."
Rendra menghembuskan napas berat sebelum menjawab, "Biasa orang iseng."
"Kamu punya masalah sama orang?"
"Enggak lah. Ngapain cari musuh, bikin ribet aja."
"Terus itu perbuatan siapa?"
"Orang gila iseng."
"Ada hubungannya sama Harsa?"
"Don't know. Biar pakpol yang urus."
"Tapi kamu sampai luka gini," jarinya menelusuri daerah sekitar luka di pelipis Rendra. "Nggak sempet menghindar atau gimana?" tanpa bermaksud meragukan kemampuan bela diri Rendra sebagai pemegang sabuk hitam Dan 4.
"Semaleman abis ngerjain skripsi, baru tidur abis subuh..."
__ADS_1
"Kamu tuh ya...," ia mengggerutu Rendra memiliki manajemen waktu yang buruk.
"Yu Jam biasa dateng pagi-pagi bawa kunci sendiri. Aku masih tidur kebangun denger suara kaca dipecahin, terus Yu Jam teriak-teriak...."
Ia tak bisa membayangkan suasana saat Rendra dikeroyok lima orang yang membawa senjata tajam. Mungkin seperti adegan film thriller yang selalu dilewatkannya dengan mata tertutup saking takutnya.
"Masih untung kamu cuma luka begini," ia kembali menelusuri pelipis Rendra yang terluka.
"Ya keburu tetangga denger teriakan Yu Jam. Kalau enggak...," Rendra menggeser telapak tangannya hingga bisa membuka mata. "Aku juga nggak tahu gimana akhirnya."
Ia memandang mata Rendra yang terlihat semakin letih dibanding saat terakhir mereka bertemu.
"Kamu kenapa nangis tadi?" mata letih Rendra masih bisa memberi kilatan menggoda. "Kamu takut aku mati?"
"Kalau ngomong tuh yang bener kenapa sih," sungutnya. "Kata-kata itu doa. Hati-hati kalau ngomong."
"Tapi itu tadi....tangisan kamu yang bikin aku bahagia," kali ini Rendra tersenyum penuh arti. "Karena aku jadi yakin kalau kamu beneran calon istriku...."
Ia tak sempat berpikir saat menjawab, "Aku tuh sayang sama kamu. Kamu bisa jaga perasaanku nggak sih dengan cara hidup lurus dan baik-baik aja. Nggak ada orang asing yang tiba-tiba mukul, nggak ada kejadian mengerikan kayak tadi. Kamu bisa hidup damai kayak orang normal lainnya nggak sih?"
"Say it loud," Rendra tersenyum lebar.
Membuatnya menjewer telinga Rendra, "Kamu bisa serius nggak sih?!"
"Iya iya," Rendra terkekeh. "Aku janji nggak akan bikin kamu khawatir lagi, nggak akan bikin kamu sedih, nggak akan bikin kamu nangis..."
"Kalau suatu saat aku ingkar janji....kamu nggak usah peduliin aku lagi. Kamu harus langsung tinggalin aku, no matter what...."
Ia kembali menjewer telinga Rendra, "Hati-hati kalau ngomong!"
"I'm serious," Rendra menatapnya sungguh-sungguh. "Kalau sampai bikin kamu nangis sedih, i'm a bastard!"
Kali ini ia tak menanggapi Rendra yang semakin ngelantur. Apa mungkin Rendra masih dalam pengaruh bius lokal setelah dijahit tadi? Hmm. Ia pun lebih memilih untuk memperhatikan gazebo lain yang sebagian besar telah dipenuhi oleh pengunjung. Sementara langit yang tadinya cerah kini mulai menggelap tertutup awan mendung.
"Kira-kira bakal ketahuan nggak siapa dalangnya?" ia masih menerawang memerhatikan kolam yang mulai ditetesi rintik hujan.
"Nggak mungkin orang yang nyerang kamu cuma iseng gambling kan? Ada barang yang hilang nggak? Kalau enggak udah jelas mereka ada yang nyuruh."
"Tergantung," Rendra kembali menarik telapak tangannya untuk menutupi kedua mata terpejamnya lagi. "Sebesar apa power yang dipunya."
"Kamu punya orang yang dicurigai?"
Rendra menggeleng, "Biarlah aparat yang kerja. Aku ada kenal baik sama beberapa. Semoga bisa jadi jalan."
"Yang tadi ngobrol sama kamu?"
Rendra mengangguk, "Mas Sada, temen main paralayang."
Ia sedikit bernapas lega. Minimal Rendra punya link orang yang mungkin bisa membantunya menyelesaikan masalah hukum.
"Jadi nanti malem kamu tidur dimana? Rumah ancur begitu," ia mendadak teringat sesuatu.
"Tidur sama kamu ya...."
Ia langsung menjewer telinga Rendra.
"Tiduran di kaki kamu aja bikin aku tenang, gimana kalau....," Rendra sengaja menggantung kalimatnya di udara, lalu terkekeh. "Tidur di apartemennya Rakai. Kebetulan lagi kosong belum ada yang nyewa."
Ia kembali bernapas lega. Matanya menerawang memperhatikan anak-anak kecil yang asyik bermain hujan di pinggiran gazebo. Namun ingatannya mendadak memikirkan sesuatu, "Kimberly dimana? Tadi pas di rumah aku nggak lihat?" Jangan bilang Kimberly....
"Kuminta sama anak kantor buat bawa Kimberly ke Pet Care punya temen."
Ia pun kembali bernapas lega. Kucing cantik itu sudah berada di tempat yang aman sekarang.
"Lagian aku juga jarang di rumah, kebanyakan diurus sama Yu Jam. Apalagi setelah kejadian barusan, jadi makin malas pulang," lanjut Rendra sambil terus menghirup tangannya.
'I've never felt this way
To be so in love
To have someone there
Yet feel so alone
Aren't you supposed to be
The one to wipe my tears
__ADS_1
The on to say that you would never leave'
(Yiruma, Kiss The Rain)