KITA

KITA
Episode 1


__ADS_3

Viona, orang memanggilku. Usiaku 17 tahun. Aku adalah anak yang super jutek, cuek, apalagi masalah percintaan, aku sangat tidak peduli. Aku hobi menulis, bahkan setiap momen yang menurutku tak bisa dilupakan aku menulisnya dibuku diary. Saat itu aku sudah menyelesaikan Ujian Nasional dibangku Sekolah Menengah Atas. Dan sedang menunggu hasil ujian dengan penuh harap aku bisa melanjutkan perkuliahanku di luar kota.


Terik matahari menyengat tubuhku, membuat dahaga begitu kering. Aku pun berjalan ke arah luar pagar sekolah, sembari membeli minuman dingin untuk pelepas dahaga. Tak sengaja aku bertemu Reza. Reza pun menghampiriku.


"Semoga saja kita lulus ya, Za. Dan bisa melanjutkan kuliah di Universitas yang selama ini kita impikan," ucapku kepada Reza.


"Ya, Vi. Semangat ya," jawab Reza.


Lalu Reza pun pergi.


Tiba - tiba ada pesan via SMS masuk keponselku.


Siapa ini? Kayaknya aku gak pernah share nomor HP. Jangan - jangan kerjaan si Talita, dia yang suka iseng, ni.


Talita lewat dihadapanku, aku berteriak memanggil namanya.


"Talita ....." aku berteriak.


"Eh, Viona," lirih Talita dengan senyuman.


"Kamu kan yang iseng share nomorku? tanyaku dengan kesal.


"Idih, kamu nuduh aja deh. Aku gak pernah share nomor kamu ke orang lain. Coba deh kamu jawab tu SMS. Siapa tau jodoh lho. Hahahah," ucap Talita sambil tertawa.


"Ih, apaan," jawabku singkat.


Aku pun membalas pesan itu, ternyata Aldi namanya. Ia adalah sepupu dari Reza. Dan Reza yang memberi nomorku pada Aldi. Aku pun mencari Reza tapi tak juga ketemu. Lalu aku pun pulang.


Keesokan harinya aku ke sekolah untuk melihat nomor ujian dan aku bertemu si Reza.


"Hei, Za. Kamu apa - apaan sih. Ngasih nomor HPku ke sepupu kamu," tanyaku dengan sedikit kesal.


"Kenapa emangnya? Kamu belum kenal aja udah marah-marah. Ntar jodoh lho baru tau. Dia orangnya ganteng kok, baik, humoris lagi. Nyesel kalau nolak," jawab Reza. "Ntar malam dia ngajak jumpa tuh, jangan ditolak."


Aku pun pergi melihat nomor ujianku. Alhamdulillah, nomorku keluar dan aku lulus.


"Horeeee, aku lulus!!" seruku.


"Jadi kita kemana, nih? Makan yuk ntar malem," ajak Talita kepadaku.


"Hmm.. boleh, eh tapi ntar malem aku ada janji. Besok aja deh ya, Ta," ucapku sambil memegang pundak Talita.


"Oke siap," jawab Talita lalu pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Aku pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah tiba - tiba ada pesan via SMS masuk. Ternyata dari Aldi. Aku masih bingung kenapa Reza memberikan nomorku ke sepupunya. Padahal Reza tau kalau aku gak suka pacaran. Tiga puluh menit kemudian, suara motor terdengar dari dalam rumah. Aku segera keluar.


"Hai, senang berkenalan dengan mu. Aku Aldi," ucap Aldi sambil mengulurkan tangannya.


"Begitu pun aku, namaku Viona," jawabku sambil menerima uluran tangannya.


"Ngomong-ngomong kita mau kemana ya?" tanyaku berjalan kearah sepeda motor Aldi.


"Hmm.. gimana kalau kamu nemankan aku main band," ajak Aldi sambil menghidupkan sepeda motornya. "Mau kan kamu, Viona?".


"Baiklah, aku mau," jawabku. "Oh, ya boleh aku tau umur kamu?".


"Umurku 22 tahun," ucap Aldi dengan senyuman. "Kamu?"


"Umurku masih 17 tahun, aku baru aja tamat SMA," ucapku dengan membalas senyum.


Ternyata Aldi orangnya asyik, baik pula. Bagaimana jika aku menaruh rasa kepadanya. Aku pun membuang pikiran itu. Lihat saja rambutnya yang hitam, alis yang tebal dan kulitnya yang putih. Sepertinya tipenya bukan sepertiku.


Aku menikmati permainan gitar yang dipetik oleh tangannya yang lihai itu. Aku seperti terbawa suasana, tiba - tiba Aldi melihat kearahku. Segera ku alihkan pandangan kearah lain. Jam menujukan pukul 21.00 WIB Aldi mengantarku pulang. Aku lalu masuk dan bergegas untuk tidur.


**


Keesokan harinya, Aldi datang ke rumahku untuk bertemu Ibu dan Ayahku. Mereka menyukai Aldi yang begitu sopan terhadap orang tuaku. Setelah itu, Aldi mengajakku ke teras rumah.


"Ya, Abang mau ngomong apa?" tanyaku.


"Aku pengen jujur nih sama kamu, walaupun perkenalan kita belum cukup lama. Tapi, gak ada salahnya kan kalau aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?" tanya Aldi sambil menatap mataku.


Tatapannya membuat jantungku berdetak, aku gugup melihat bola mata indahnya. Ini kali pertama aku merasakan jatuh cinta. Bagaimana tak gugup dan grogi.


"Aaaa.. aku..


"Ya, gak apa sih. Aku juga punya rasa yang sama denganmu, aku juga menyukaimu, Bang Aldi," jawabku dengan tersipu malu.


"Jadi kita pacaran kan?" tanya Aldi dengan semangat.


Aku pun menganggukkan kepalaku.


Lalu, Aldi mengajak ku untuk berkunjung ke rumahnya. Begitu sampai di rumah Aldi, semua mata tertuju padaku.


Kenapa mereka semua melihat kearahku. Adakah yang aneh dariku.


Aldi pun mengenalkanku kepada keluarganya.

__ADS_1


Ibu dan Ayah Aldi menerimaku dengan baik.


Lalu, Aldi membawaku ke rumah Om Dodi. Ia adalah Adik dari Ayahnya Aldi. Saat itu aku


merasa deg degan, karena takut jika keluarganya tidak menyukaiku. Dan benar, salah satunya Fira. Ia adalah anak dari Om Dodi sekaligus sepupu perempuan dari Aldi.


"Kenalin nih pacar aku," ucap Aldi kepada Fira.


"Oh, jadi ini pacar kamu bang. Kenalin, aku Fira," jawab Fira sambil sesekali melirikku.


"Aku Viona," jawabku dengan senyuman.


Mereka sepertinya tidak suka dengan kedatanganku.


Tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata ada pemberitahuan bahwa aku tidak lulus dari Universitas yang aku daftar.


Aku tidak lulus, malam ini seperti mimpi burukku.


Mataku berkaca - kaca. Aldi pun mengantarkanku pulang.


**


Keesokan harinya, Aldi datang ke rumahku.


Aku pun berpikir akan menanyakan tentang Fira. Aldi mengatakan bahwa Fira memang orang yang agak judes. Aldi memintaku untuk melupakan hal itu.


"Udahlah, gak usah dipikirin. Dia emang gitu kalau belum akrab," ujar Aldi.


"Hmm.. ya udahlah. Mungkin perasaanku aja."


Jam menujukan pukul 21.00 WIB, Aldi pun berpamitan untuk pulang. Mataku berkaca-kaca, aku belum menceritakan masalah semalam. Aldi pun memandangku dengan heran.


Aldi bertanya kepadaku "Kamu kenapa, ada masalah?".


"Gak ada kok, gak ada masalah," jawabku sambil tersenyum.


"Udah, jujur aja. Aku tau kok, tu lihat mata kamu. Seperti nahan air mata. Udah cerita aja, aku ini pacar kamu. Aku siap mendengar keluh kesah kamu," ucap Aldi sambil menggengam tanganku.


"Aku gak lulus di Universitas yang aku inginkan, gimana gak sedih. Terus semalam juga sikap sepupu kamu terhadapku, bikin aku tambah sedih lagi," ucapku dengan perasaan sedih.


"Yaudah, mungkin bukan rezeki kamu disitu. Coba lagi, semangat jangan menyerah. Soal sepupu aku tu udah lupain aja ya sayang. Gak usah diambil hati," balas Aldi menyemangatiku.


Akhirnya, Aldi pulang dan aku segera masuk ke dalam rumah. Hatiku yang tadinya sedih jadi hilang setelah Aldi memberi semangat. Aku pun melanjutkan untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2