
Hari ini tepat di hari Kamis, aku dan Aldi akan melangsungkan acara pertunangan. Itu adalah momen yang sudah aku tunggu sejak lama. Semua keluargaku hadir, mereka terlihat senang ketika aku akan bertunangan dengan kekasih hati yang selama ini aku impikan. Teman-teman kampusku juga hadir, mereka membantu menghias ruang tamuku agar terlihat cantik di acara malam ini.
Jam menujukan pukul 13.00 WIB, aku berjalan menuju teras rumah. Kulihat ada seorang lelaki dengan kemeja abu-abu sedang berdiri di depan teras rumah. Aku berjalan kearahnya, untuk menyuruhnya segera masuk ke dalam rumah. Aku kaget, saat ia berbalik badan. Ternyata Jauzan lagi, dia menatap kearahku.
Kenapa dia lagi, kenapa harus muncul lagi? Kenapa Jauzan!! Aku sudah melupakanmu selama ini.
"Kamu lagi, ngapain ke sini?" tanyaku dengan ketus.
"Maafin aku, Vi. Aku terlambat, aku juga nyesal udah nyia-nyiain kamu," jawabnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku pulang padahal ingin melamar kamu, tapi apalah daya, kamu sudah dilamar duluan."
Kenapa kamu menyesalinya? Kenapa sekarang? Kamu itu penghianat, Zan.
"Udah, jangan bahas masa lalu. Aku sudah memaafkan kesalahan kamu...," lirihku.
"Makasih, Vio. Oh ya, selamat ya atas pertunangan kamu, Viona," balasnya.
__ADS_1
Jauzan pun pergi setelah berjabat tangan denganku. Aku harus bisa mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Jodohku sudah diatur dengan yang Kuasa, yaitu Aldi orangnya. Walaupun, dipihak sepupunya tidak menyetujui pertunangan ini. Aku tak tau apa yang akan terjadi, jika aku tetap melanjutkan hingga kejenjang pernikahan. Apa aku akan semakin dibenci atau diterima dikeluarga mereka. Lalu, Tari pun datang menghampiriku.
"Vi, aku ikutan seneng. Akhirnya setelah menanti lama, Bang Aldi serius dengan hubungan kalian," ucap Tari sambil memelukku.
"Makasih banyak, Tari sahabatku," jawabku.
Setelah cukup lama, akhirnya semua terselesaikan. Aku segera bersiap-siap, Tari yang akan mendandaniku secantik mungkin malam ini. Tari memilihkanku baju kebaya berwarna dongker. Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, keluarga Aldi pun tiba di rumahku. Aku pun berjalan menuju ruang tamu untuk bertemu Aldi dan keluarganya. Langkah demi langkah, semakin dekat jantung berdebar kencang, tanganku mulai keringat dingin. Begitu sampai dihadapan mereka, semua mata tertuju kearahku. Mereka yang berada di sana terkejut, aku begitu berbeda malam ini. Cantik dan anggun, tak lupa aku menebar senyum kebahagiaan kesemua orang yang melihatku. Aldi begitu terkesima saat aku mendekat kearahnya.
"Hei, Aldi Wijaya," bisikku ditelinga Aldi. "Kita akan segera bertunangan, apa kamu bahagia?"
"Viona Rinata, sayang. Kamu cantik sekali malam ini. Aku jelas bahagia sayang...," lirihnya dengan tersenyum.
"Baiklah, untuk Aldi dan Viona. Ayah harap kalian bisa saling menjaga hubungan keseriusan ini. Aldi, kamu pasangkan cincinnya kejari manis Viona, sekarang," ucap Ayah Aldi dengan raut wajah bahagia.
Aldi menarik pelan tanganku, lalu ia masukkan cincin indah itu kejari manis, aku dan Aldi saling menatap. Sungguh ini momen bersejarah bagiku. Setelah acara selesai, aku dan Aldi menuju teras rumah. Kulihat seperti Kinara sedang duduk dibangku teras, aku segera memberitahu Aldi.
__ADS_1
"Sayang, bukannya itu Kinara?" tanyaku dengan penasaran.
"Ya, sayang. Ngapain coba dia ke sini? Dia selalu aja ingin mengacaukan tujuanku sayang, dia orang yang licik. Itulah alasanku untuk tidak melanjutkan hubungan dengannya," jawab Aldi dengan wajah kesal.
Aku berjalan mendekati Kinara dengan hati yang agak cemburu. Siang Jauzan, malam Kinara yang hadir. Aku tak tau apa yang membuat para mantan hadir di sini.
"Hei, Kinara," sapaku. "Kamu kenapa sendirian di sini?"
"Hei, Viona. Selamat ya, kamu udah bertunangan dengan Aldi," jawabnya. "Aku tadi sama Fira sepupu Aldi datang ke sini, tapi dia ntah pergi ke mana, aku ditinggal sendirian."
Tiba-tiba Fira pun datang menghampiri aku dan Kinara yang tengah mengobrol. Ia berjalan kearahku, lalu mendorongku hingga terjatuh. Aldi yang melihatku jatuh langsung menolongku.
"Kamu apa-apaan Fira, bisa kamu sopan terhadap calon ipar kamu!!" bentak Aldi.
"Apa? Calon ipar? Aku gak sudi punya ipar kayak dia!!" Dira membalas bentakan itu.
__ADS_1
"Udah, cukup!! Kenapa kalian ribut," ucap Kinara dengan sedikit mengeraskan suara. "Aku yakin, Viona adalah perempuan yang cocok untuk Aldi."
Aldi mengajakku untuk meninggalkan Fira dan Kinara. Aldi tidak suka melihat kemunafikan Kinara yang berpura-pura baik bak malaikat memujiku seperti itu. Saat aku mulai melangkahkan kaki, Fira menatap sinis kearahku. Rasa kebenciannya begitu mendalam.