KITA

KITA
Episode 28


__ADS_3

Hari ini aku tidak masuk kerja ataupun kuliah, dikarenakan Ayahku sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Di kantor, Kevin menayakan hal apa yang menyebabkan aku tidak masuk. Aldi menceritakan semua yang terjadi, ia meminta bantuan kepada Kevin masalah biaya operasi Ayahku. Kevin pun akhirnya mau membantu, ia berncana malam ini akan menemuiku.


Di kampus pun begitu, Tari dan Nicko menungguku di tempat biasa kami nongkrong. Sampai jam mata kuliah selesai mereka masih menunggu.


"Bang, ke mana ya Vio?" tanya Tari dengan wajah sedih. "Aku kok jadi khawatir gini."


"Apa kita ke rumahnya aja, Vio gak ada ngabari juga," jawab Nicko.


Akhirnya merekapun datang ke rumahku. Saat itu aku sedang duduk di teras rumah, berbincang dengan Aldi. Nicko dan Tari pun menghampiriku.


"Vio!!!" teriak Tari.


"Eh, ada Tari sama Bang Nicko," ucapku sambil menyuruh mereka duduk. "Sini duduk!"

__ADS_1


"Kenapa gak masuk kuliah?" tanya Nicko. "Kalau ada masalah cerita dong, katanya sahabat."


"Maafin Vio. Ayah sakit parah, sekarang lagi di rawat," jawabku dengan wajah sedih. "Ayah sakit kanker harus dioperasi. Vio harus cari uang sepuluh juta untuk biaya Ayah."


"Vio kenapa kamu gak bilang, kita akan bantuin kamu," ucap Tari dengan kesal.


Tari memelukku agar tidak lagi sedih. Mereka akan membantu biaya operasi Ayah. Kevin pun datang menghampiriku dengan rasa khawatir. Aku sedikit bercerita mengenai penyakit yang diderita Ayah. Setelah cukup lama aku bercerita, Kevin menyodorkan sebuah amplop dan memberi bingkisan kepadaku. Aku terharu, begitu banyak orang yang menolongku termasuk dua sahabatku itu.


"Terima kasih banyak, Pak Kevin," lirihku dengan meneteskan air mata. "Maafkan saya tidak bisa masuk kerja hari ini, Pak. Saya harus mengurus biaya operasi Ayah."


"Sama-sama, Vio. Semoga Ayah kamu lekas sembuh. Saya sayang kamu, walaupun saya tidak bisa memilikimu. Tapi, saya akan tetap membantu kamu," ucap Kevin dengan tersenyum.


Keesokan harinya, Tari dan Nicko akan melakukan penggangan dana. Mulai dari di kampus, di persimpangan jalan sampai ke komunitas mereka. Mereka pun pergi ke kampus. Sesampainya di sana, mereka mendatangi satu per satu kelas mulai dari jadwal kampus pagi hingga malam. Lanjut menuju persimpangan. Jiwa solidaritas mereka begitu tinggi tanpa rasa malu.

__ADS_1


"Ada untungnya punya wajah ganteng, Tar," tutur Nicko. "Udah penuh aja ni uang sekardus. Ya walaupun pada minta nomor HP dan minta foto bareng yang penting Vio terbantu." Sambil menyusun uang di dalam kardus.


"Dasar, Bang Nicko. Kamu aja tu yang tebar pesona. Hahahah," ucap Tari sambil tertawa.


"Tar, kamu hitung uang yang didapat dari kelas pagi sama siang, ya," ucap Nicko. "Ntar berapa kurangnya kita tambah."


"Baik, Bang Nicko," jawab Tari.


Mereka pun segera ke rumah Tari untuk menghitung uang yang mereka dapatkan hari ini. Setelah sejam menghitung, uang yang didapat sebanyak Delapan juta rupiah. Tari pun meminta bantuan ke Mama dan Papanya, akhirnya uang bertambah. Begitupun Nicko, ia meminta kiriman dari Papanya. Lalu, mereka segera bergegas ke rumahku. Aku dan Aldi sedang duduk di bangku teras, mereka memberiku amplop berisi uang bantuan untuk operasi Ayah. Aku begitu terharu melihat kebaikan dua sahabat itu.


"Makasih udah baik sama aku, kalian memang sahabat yang selalu ada buat aku," lirihku s1ambil meneteskan air mata.


"Ya udah, yuk kita ke Rumah Sakit!" ajak Aldi. "Biar Ayah segera di operasi dan cepat pulang ke rumah."

__ADS_1


__ADS_2