
Semua berkas meeting sudahku selesaikan. Aku segera merapikan meja kerjaku dan bergegas ke parkiran untuk bertemu Aldi. Hatiku masih terasa pilu mengingat isi pesan yang belum lama masuk keponselku. SMS itu tak henti-hentinya masuk dengan isi pesan yang sama. Diriku begitu gelisah dihadapan Aldi dengan ponsel digenggamanku. Aldi curiga dengan sikapku. Lalu, menarik ponsel dari tanganku. Ia membuka SMS itu, dengan sangat serius membacanya.
"Sayang, siapa yang SMS beginian?" tanya Aldi sambil menunjukan isi pesan diponselku. "Iseng banget, gak sekali loh. Ini udah sepuluh pesan dengan isi yang sama tapi nomor berbeda."
"Aku gak tau sayang, dari tadi SMS itu masuk sampai detik ini," jawabku dengan wajah bingung. "Sayang, aku takut. Apa salahku? Kenapa harus dapat teror lagi..."
Aldi memintaku untuk tenang, ia akan mencari informasi mengenai SMS itu. Aldi segera mengantarkanku pulang ke rumah. Diperjalanan, tak sengaja aku melihat Fira sedang berada disebuah toko bunga. Lalu, aku alihkan pandangan ke yang lain. Saat hendak berbelok menuju jalan ke rumah, aku meminta Aldi membatalkan untuk pulang.
"Sayang, lurus aja. Kita ke cafe dulu, aku laper," ucapku.
__ADS_1
Aldi pun menganggukan kepala. Sesampainya di cafe itu. Aku dan Aldi berjalan menuju pintu masuk, dari kejauhan aku melihat ada Gina yang tengah duduk menikmati minuman bersama teman lelakinya. Aku menarik tangan Aldi kearah parkiran.
Ada Gina di dalam, duh males banget ketemu tu anak.
"Sayang, kita pulang aja deh. Aku gak jadi laper, udah kenyang," tuturku dengan tersenyum.
"Ya ampun sayang, kamu kenapa sih?" tanya Aldi heran. "Tadi bilangnya laper, sampai di sini kenyang." Sambil memegang kepala dan mengelus-elus rambutku.
"Sayang, jangan marah ya. Aku sayang sama kamu..." lirihku.
__ADS_1
"Aku lebih sayang sama kamu, Vio. Walaupun kamu ngeselin," ucap Aldi.
Saat sampai di depan rumah, aku melihat ada sebuah kotak yang ukurannya lumayan besar pas di depan pintu masuk. Aku berjalan mendekati kotak itu, lalu membawanya ke bangku teras rumah. Aldi pun heran dengan isi kotak itu. Aku meminta Aldi untuk membukanya. Setelah dibuka, ternyata isinya bunga sama persisi dengan yang Fira pegang sewaktu diperjalanan tadi. Aku curiga bahwa ini adalah kerjaan Fira. Ditengah-tengah bunga terdapat sepucuk surat berisi.
TOLONG BATALKAN PERTUNANGAN KAMU VIO!! JIKA TIDAK, HIDUPMU AKAN MENDERITA. JANGAN KAMU KIRA INI HANYA GERTAKAN!!
"Sayang, terus kita harus gimana?" tanyaku dengan wajah ketakutan. "Aku jadi curiga sama Fira."
"Kenapa bisa Fira yang kamu curigai? Dia malah setuju dengan pertunangan kita, sayang," jawab Aldi tersenyum. "Itu hanya orang iseng, percaya sama aku."
__ADS_1
Aldi membuang kotak berisi bunga dan surat aneh itu kedalam tempat sampah rumahku, lalu membakarnya. Aldi memelukku dan meyakiniku bahwa hubungan ini akan baik-baik saja sampai kejenjang pernikahan. Setelah itu, Aldi pun pulang. Aku bergegas masuk ke rumah dengan pikiran yang tak karuan. Hatiku terasa seperti tertusuk jarum, ntah apa salahku hingga banyak sekali penghalang dalam hubungan ini. Aku masih bersikeras bahwa ini semua kerjaan Fira, ia berpura-pura setuju didepan Aldi untuk menghancurakan hubunganku.
Fira, aku tau ini semua ulahmu. Munafik sekali kamu Fira!! Sampai kapanpun aku tidak akan membatalkan pertunangan ini!!