
Libur semester telah tiba. Hari ini seperti biasanya, rebahan di kamar, makan lalu tidur. Aldi yang hampir setiap hari mengajakku untuk jalan tapi aku selalu menolaknya. Dengan alasan yang sama, hatiku masih kecewa. Ntah sampai kapan aku bisa melupakan kejadian yang membuat hatiku pilu. Rasa sayangku masih tetap untuknya, tapi kekecewaanku masih segunung.
Apakah aku harus seperti ini terus - terusan? Aldi berulang kali memohon maaf padaku. Tapi aku selalu mengalihkan ke hal lain.
Hari ini aku berniat untuk datang ke rumah Aldi, aku harus bisa memberikan ia kesempatan. Aku tau bahwa rasa sakit itu masih ada, tapi tidak harus berlarut - larut ku membenci dia. Aku harus memaafkan dan kembali seperti dulu lagi. Tiba - tiba saja Kevin datang, ia telah menggagalkan niatku ini.
"Hai, bolehkah saya berkunjung ke rumahmu?" tanya Kevin kepadaku.
Aku termenung dan menggelengkan kepalaku.
"Kenapa kamu seperti itu? Niat saya kesini baik," ucap Kevin.
"Saya ada urusan penting, penting sekali, Pak Kevin. Bisakah ditunda dulu? Kenapa tidak mengabari saya kalau mau ke rumah?" tanyaku.
"Ya, saya kebetulan lewat. Dan langsung singgah kesini. Ya udah, saya cuma mau mengantarkan ini saja. Ini buat kamu dan keluarga. Saya permisi kalau begitu, mau ke kantor," jawab Kevin sambil memberiku bingkisan.
Kevin pun pergi dengan aroma parfumnya yang masih tertinggal, jas hitam yang rapi, dan mobil yang mewah, membuat orang jatuh cinta tapi tidak berlaku bagiku.
Aku pun membatalkan niatku untuk ke rumah Aldi, karena hari sudah siang. Lalu, aku melanjutkan untuk makan lalu tidur.
"Hari - hari yang sangat membosankan. Makan, tidur, makan, tidur. Niatku gagal gara - gara si Kevin itu. Aku telepon aja deh si Aldi, kali aja dia mau ke rumahku," lirihku.
Aku pun mengambil ponselku yang berada diatas meja. Lalu menelepon Aldi, syukurlah Aldi tidak sibuk dan dia akan ke rumahku sore nanti. Sembari menunggu Aldi, aku pun berniat untuk membuatkan bolu caramel kesukaan Aldi. Aku bergegas ke dapur.
Terdengar suara ketukan pintu, aku pun bergegas ke depan. Ternyata Aldi sudah sampai di rumahku. Aku menyuruhnya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu duduk aja dulu, aku ke dapar bentar," ucapku.
__ADS_1
Aldi menganggukkan kepala lalu duduk di sofa itu. Tak lama kemudian, aku membawakan bolu caramel kesukaannya dan secangkir kopi susu.
"Ini, silahkan dicoba. Aku buat sendiri bolunya. Semoga kamu suka," ujarku.
"Aku tidak hanya suka dengan bolunya, tapi juga suka dengan orangnya," balas Aldi dengan senyuman.
"Oh ya, kamu emang lagi cuti kerja atau libur?" tanyaku ke Aldi.
"Lagi libur, Vi. Besok baru masuk. Muatan belum masuk. Jadi ya bisa nyantai ketemu kamu," jawab Aldi.
"Gimana nilai ujian kamu, Vi?" tanya Aldi.
"Belum keluar, Bang. Mungkin minggu depan. Tapi setelah aku mendapatkan nilai, aku akan berhenti dulu kuliahnya. Kamu tau kan, ekonomi orang tuaku lagi turun. Aku harus cari kerja dulu untuk menyambung kuliahku," ucapku dengan wajah sedih.
"Ya, kamu sabar aja. Ntar aku bantuin kamu. Jangan nyerah ya, aku selalu ada buat kamu, Vio," ujar Aldi menyemangatiku.
Aku mengambil ponselku dari dalam saku, aku mengecek Facebook. Tiba - tiba terlihat postingan Gina foto berdua dengan Aldi. Seketika amarahku mulai muncul. Niatku ingin memaafkan Aldi dan kembali bersamanya kini hilang.
"Wah, Gina post foto berdua dengan kamu loh. Nih lihat," ucapku sambil melihatkan ponselku ke Aldi.
"Apaan sih Gina, dia sengaja ingin menghancurkan hubungan kita lagi. Kamu masih aja tidak percaya denganku. Aku udah tidak pernah menghubunginya lagi, Vi. Semua kontak udah aku blokir," ujar Aldi.
Aku bertanya ke Aldi "Terus, kok dia tau kamu sakit?"
"Bahkan sampai maksa aku buat datang jenguk kamu," ucapku.
"Aku gak tau soal itu, mungkin dia punya mata - mata. Tolonglah percaya kali ini sama aku," ucap Aldi memohon.
__ADS_1
Setelah lama aku mengobrol dengan Aldi, akhirnya Aldi pun pulang. Aku masih bingung dengan perasaan aku ke dia. Apakah harus lanjut atau berhenti disini.
Aku sudah berniat ingin memaafkannya. Tapi, waktu Gina memposting tu foto kok aku jadi makin kesal, cemburu, bahkan pengen ku jambak tu si Gina.
Lalu aku masuk ke dalam rumah dan mencari Ibuku. Ada sesuatu yang harus ku tanyakan, selain Tari, Ibuku lah tempat aku mencurahkan perasaan yang aku alami ini.
"Bu, Vio mau curhat ke Ibu," ucapku.
"Sinilah, Nak. Kamu mau curhat apa? Kamu udah makan? tanya Ibu kepadaku.
"Sudah, Bu. Curhat tentang Aldi, Bu. Kesel pokoknya," jawabku.
"Yaudah, ayo cerita si Aldi kenapa?" tanya Ibu sambil tersenyum.
"Aldi sempet mau selingkuh, Bu. Tapi, Vio dan teman - teman mergoki dia di Mall waktu itu. Gagal deh selingkuhnya," jawabku.
"Kamu udah tau penyebabnya apa dia seperti itu?" tanya Ibu sambil memengang pundakku.
"Gina itu teman kerja Aldi, Bu. Mungkin karena sering jumpa timbul rasa suka. Vio bingung, Bu. Kadang Vio tu kesal sama Aldi, kadang juga timbul rasa sayang ke dia, Bu," balasku dengan raut wajah sedih.
"Vio, yang namanya hidup pasti ada masalah, cobaan. Kalian baru segitu aja udah nyerah? Bicarakan lagi, Nak. Ibu tau Aldi masih sayang kepadamu," balas Ibu menyemangatiku.
Setelah cukup lama berbincang dengan Ibu. Lalu, aku bergegas ke kamar. Aku mengambil kotak yang diberi Aldi. Ku buka kembali kotak itu, aku mengingat semua kenanganku bersamanya. Angin malam menghantarkan rinduku ke Aldi. Apakah harus seperti ini, setiap malam kepikiran, hanyut dalam kesedihan berkepanjangan. Jangankan setahun, sehari saja aku tak bertemu Aldi, rasa hati tidak karuan.
Pokoknya besok aku harus maafin dia, aku harus balikan lagi, mau sampai kapan kayak gini terus? Jujur, aku masih sayang padamu Aldi. Aku tak ingin terus - terusan seperti ini, menggantungkan hubungan aku dan kamu Aldi. Aku tau kamu pernah berbuat salah, tapi aku harus bisa memaafkan dan kita bisa mengulangnya dari awal. Aku yakin, Aldi orang yang baik.
Malam ini sangat kelabu bagiku, aku merindukan Aldi yang biasanya suka meledekku. Setiap malam dirimu menjelma, menjarah isi kepalaku. Rasa hati yang berkecamuk, kenangan tentangmu selalu melintasi pikiranku. Ntah apa yang salah dariku, hingga aku harus mendapat ujian seperti ini. Pertama hubunganku, kedua kuliahku, ketiga aku tak tau apa lagi yang akan menimpaku. Jam menujukan pukul 23.00 WIB, aku pun segera tidur karena besok harus bangun pagi.
__ADS_1