KITA

KITA
Episode 37


__ADS_3

Pagi itu mentari belum bangun dari peraduannya. Aku terbangun dari tidur pulasku. Kuambil ponsel dari bawah bantal, aku tersontak kaget melihat jam menujukan pukul 04.00 WIB. Tak seperti biasanya aku bangun dengan perasaan was-was. Tiba-tiba saja aku mendengar dari arah luar jendela kamar, seperti suara orang sedang bercengkrama. Kubuka kain jendela sedikit untuk mengintip siapa orang itu. Tapi, wajahnya tak terlihat oleh mataku yang masih setengah sadar. Setelah cukup lama aku duduk diatas kasur, aku kembali untuk mengintip dari balik kain jendela kamarku. Kulihat ada dua orang lelaki berbadan tegap sedang membicarakan tentang pernikahan.


Siapa sih dua laki-laki itu, jam segini kok ngobrol di depan rumahku.


Aku semakin penasaran siapa dua lelaki itu. Aku berjalan kearah luar kamar untuk membangunkan Ibu, tapi kulihat Ibu tengah solat. Kubatalkan niat untuk memberitahu Ibu. Lalu, aku menunggu sampai matahari terbit untuk berani keluar rumah. Aku kaget melihat ada bucket bunga didalamnya terdapat sepucuk surat. Aku pun membuka surat itu lalu membacanya.


Hei Viona!! Bagaimana, kamu masih akan melanjutkan pertunanganmu? Apa kamu sanggup dan kuat menghadapi hari-harimu dengan gangguan seperti ini? Sudahlah, lupakan saja Aldi. Dia bukan jodoh yang tepat buatmu.


Tiba-tiba aku melihat Fira datang menghampiriku dengan gaya angkuhnya. Ia melemparkan gulungan kertas kearahku. Aku hanya terdiam, Fira menyuruhku untuk mengambil gulungan kertas itu lalu membacanya. Isi surat itu sama dengan yang ada di bucket bunga tadi.


Jelas, ini kerjaan Fira. Kenapa sih, mereka selalu mencampuri hubunganku. Sampai berkata Aldi bukan jodohku.


"Kamu masih mau lanjut, Viona?" tanya Fira. "Harusnya kamu kasihani diri kamu, jangan egois mikirin Aldi. Emang dia mikirin yang kamu rasain saat ini?"


"Cukup, Fira!!" bentakku. "Terserah kamu mau ngomong apa, aku gak peduli. Aku tau, semalam juga pasti kamu kan yang neror aku? Kamu juga kerjasama dengan Kinara mantan Aldi. Bener, kan?"


"Jangan sok tau kamu. Udah deh, males tau ngeliat kamu," ucap Fira. "Aku cuma ingatin ya, batalin pertunangan kalian. Denger tu!!".


Fira pun pergi meninggalkan surat ancaman itu. Aku segera menghubungi Aldi untuk datang ke rumah secepatnya. Dan yang masih penasaran dengan dua lelaki yang berbincang di arah luar jendela kamarku.


Sambil menunggu Aldi datang, aku membuatkan sarapan untuknya. Aku memasakan nasi goreng kesukaan Aldi. Tak lama itu, terdengar suara klakson sepeda motor dari teras rumah. Aku pun bergegas keluar, ternyata Aldi yang datang. Aku pun menyuruhnya untuk masuk dan duduk di ruang tamu sambil menyodorkan nasi goreng yang sudah kubuat tadi.

__ADS_1


"Sayang, kamu sarapan dulu. Biar kuat hadapi kenyataan," cetusku.


"Kenyataannya, dua hari lagi kita tunangan sayang....," lirih Aldi. "Kamu seneng gak?"


Aku termenung dengan pertanyaan Aldi. Aku senang, sedih bercampur khawatir dengan ancaman Fira. Lalu, Aldi mengagetkanku.


"Viona..." bisik Aldi ditelingaku yang menyadarkan dari lamunanku.


"Eh, ya sayang. Kenapa?" tanyaku dengan wajah kaget.


"Ya ampun, aku nanya ke kamu. Kamu seneng gak, dua hari lagi pertunangan kita..." lihihnya.


"Ya.. ya.. aku.. aku se.. senang kok," jawabku terbata-bata.


Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan, aku mencintai Aldi tapi, haruskan begini? Cobaan demi cobaan terus datang. Ini baru tahap pertunangan, gimana kedepannya setelah menikah, pasti cobaan lebih dari ini.


Aku masih ragu memberitahu ke Aldi, bahwa pagi tadi Fira datang ke rumah dengan ancaman itu lagi. Aku takut, Aldi akan marah besar ke Fira soal ini. Aku pun merahasiakannya dari Aldi. Setelah cukup lama berbincang, aku dan Aldi bergegas untuk berangkat kerja.


Jam menujukan pukul 16.00 WIB, Aldi mengantarkanku pulang ke rumah. Setiba di rumah, aku meminta Aldi untuk mengantarkan ke kampus. Aldi pun mengangguk. Aku segera mengganti pakaian dan mengambil tas sandangku.


Setelah selesai, Aldi mengantarkanku ke kampus. Terihat Tari sedang berdiri di depan gerbang kampus, aku pun berjalan kearahnya.

__ADS_1


"Hei, Tari. Nungguin siapa?" tanyaku.


"Ya nungguin kamulah, Vi. Yuk, ke kelas," jawab Tari sambil menarik tanganku.


Jam mata kuliah pun selesai, aku dan Tari berjalan menuruni tangga menuju kantin. Dari tadi hingga jam kuliah telah habis, Nicko tak kelihatan batang hidungnya.


"Tar, Bang Nicko ke mana?" tanyaku. "Kok dari tadi gak kelihatan."


"Gak tau, Vi. Aku juga nyariin dia dari tadi," jawab Tari sambil menoleh kekanan dan kekiri.


Setelah cukup lama menunggu Nicko di kantin, tak lama kemudian Nicko pun datang dengan membawakan plastik berisi makanan, lalu menaruhnya di atas meja.


"Hei, pada nyari pasti kan," tutut Nicko.


"Ih, Bang Nicko ke mana aja?" tanyaku sambil membuka plastik itu. "Banyak banget makanan, Tar. Gagal diet kamu hari ini."


"Ini untuk kita ya, Bang Nicko?" tanya Tari.


Nicko pun mengangguk, setelah cukup lama bercengrama dengan mereka. Aku pulang, karena Aldi sudah menungguku di halte. Hari ini Aldi langsung mengantarkanku pulang ke rumah, tak seperti biasanya mampir ke cafe langganan kami. Sesampainya di rumah, Aldi berpamitan. Karena keluarganya sedang berkumpul menunggu di rumah membahas acara pertunangan besok.


"Hati-hati di jalan ya, sayang..." lirihku.

__ADS_1


"Siap, Bos!!" balas Aldi sambil mencubit pipiku.


__ADS_2