
Hari berganti hari, tak terasa sudah memasuki puasa terakhir. Aku mengambil ponselku di atas meja kamar lalu menelepon Aldi, aku menanyakan tentang rencana liburan lebaran besok. Ternyata, Aldi tidak kemana - mana. Aku mengajaknya untuk berlibur ke pantai bersama keluargaku. Aldi pun setuju dengan rencanaku itu.
Keesokan harinya adalah hari raya Idul Fitri. Selesai melaksanakan salat Idul Fitri, kami pun bermaaf - maafan, dan tak lupa makan ketupat bersama keluarga. Sebelum berangkat, kami menyiapkan makanan dan minuman untuk kami nikmati di sana. Jam menujukan pukul 10.00 WIB, aku dan keluarga menunggu kedatangan Aldi. Setelah 10 menit kami menunggu, Aldi pun datang, lalu menyalami semua keluargaku. Aku pun mengajak Aldi keluar. Aldi kaget saat aku menarik tanganya.
"Sayang, ada apa?" tanya Aldi kaget.
"Kesel tau, kamu suka telat datang ke rumah. Janji jam berapa datangnya jam berapa. Ih, bete," jawabku dengan wajah cemberut.
"Tadi keluarga masih ngumpul di rumah nenek, sayang. Makanya agak telat aku datang ke rumahmu. Maaf ya, gak ngabari," ucap Aldi.
Aku cuma membalas senyum.
"Apa kita pergi sekarang?" tanya Pamanku.
"Ya, Man. Sekarang aja, keburu siang. Yuk kita berangkat," Ucapku.
Lalu, kami bergegas untuk pergi. Di perjalanan, Aldi selalu merayuku agar tidak marah lagi. Beribu cara ia lakukan untuk menghiburku dan membuatku tertawa.
"Ih, kamu bisa aja ambil hati aku. Lain kali kamu ngomong aja jujur, kan aku gak marah," ucapku sambil mencubit pipinya.
"Aku takut kamu marah, udah ya, jangan cemberut lagi. Sekarang kita jadi jalan - jalannya. Kamu senangkan sayang?" tanya Aldi.
"Senang dong, maafkan aku ya, Bang. Aku udah nyusahin kamu. Terlalu memaksakan kamu," ucap ku.
"Udah gak apa - apa sayang. Namanya aku sayang kamu, apa pun pasti ku usaha kan untuk mu," balas Aldi.
Selama di perjalanan, aku sangat terhibur dengan aksi kocak Aldi. Tiba - tiba, Aldi menarik tanganku. Ia menyuruhku untuk memegang pinggangnya. Lalu, mulai melajukan sepeda motornya. Hatiku berbunga - bunga, jantungku berdebar. Aku grogi saat memegang erat pinggangnya.
Apa ini? Kenapa jantungku berdebar. Apa aku sedang bermimpi? Kenapa rasanya begitu bahagia saat dia menarik tanganku dan menyuruhku untuk memegang pinggangnya. Ntahlah, susah untuk dijelaskan. Semoga hubungan ini serius tanpa ada orang yang ingin merusak.
Perjalanan yang kami tempuh sekitar 3 jam, karena lumayan jauh. Akhirnya kami sampai di tujuan. Kami segera memarkirkan sepeda motor dibawah pepohonabn yang rindang. Aku pun segera turun dari sepeda motor yang aku naiki. Lalu mengajak Aldi ke arah pantainya. Kami pun berjalan dengan melepaskan sepatu yang kami pakai. Setelah itu, kami mencari tempat untuk berteduh, karena hari ini cuaca begitu panas. Sampai - sampai menyengat ketubuhku. Aldi memberikanku minuman. Lalu, ia mengajakku agak jauh dari tempat teduh itu, Aldi ingin menunjukan sesuatu kepadaku. Dan ternyata, Aldi memberiku setangkai bunga mawar yang ia petik.
"Sayang, semoga kita bisa terus begini" ucap Aldi sambil memberiku setangkai bunga mawar itu.
"Aamiin, semoga apa yang sama - sama kita harapkan terwujud. Tapi ngomong - ngomong ini bunga orang ya, yang kamu petik. Hahahah" jawabku sambil tertawa.
__ADS_1
Aldi mengenggam tanganku, dan menatap kedua mataku dengan serius. Lalu, ia mulai mencium tanganku.
"Maaf, kalau aku belum bisa membahagiakan mu, Viona," bisik Aldi ditelingaku.
Aku hanya diam membisu dan menunduk, aku tersipu malu.
Jam menujukan pukul 16.00 WIB. Kami pun bergegas untuk pulang. Aldi melajukan motornya. Aldi memang selalu membuat moodku yang tadinya berantakan kini jadi berbunga - bunga. Bahkan kami bagaikan Romeo dan Juliet, aku benar - benar tak ingin jauh darinya. Ntah kenapa rasa sayangku begitu dalam.
Kenapa aku terasa nyaman bersama kamu, Bang. Tolong jangan buat hatiku hancur. Ternyata, yang Reza katakan itu benar. Bang Aldi orangnya baik, humoris lagi.
"Pegang kuat - kuat sayang. Abang mau laju, ni," ucap Aldi.
"Jangan laju - laju dong. Ntar Ibu, Ayah sama Paman ketinggalan," jawabku.
"Tenang, kita akan minta izin terlebih dahulu," balas Aldi.
Aldi pun mendekatkan motornya ke Ayah lalu ke Pamanku. Ia meminta izin ingin duluan membawaku. Mereka pun mengizinkan dengan syarat menjagaku dengan baik.
"Jaga itu Viona, jangan sampai kenapa - kenapa, ya," ucap Ibuku.
"Sayang, kamu pegangan yang kuat. Mau cepat sampai gak?" tanya Aldi.
"Ya, udah nih. Duh, aku takut. Hati - hati, jangan terlalu ngebut," ucapku sambil menutup mata karena ketakutan.
"Siap tuan putri. Laksanakan perintah tuan putri," jawab Aldi.
"Ejek terus ya, mau dijewer ni telinganya," balasku.
"Ampun!!!!" teriak Aldi.
Aldi pun melajukan motornya. Di perjalanan pulang, kami menikmati pemandangan yang begitu indah. Pohon - pohon disekitar bukit, persawahan yang membentang luas, tak lupa dengan candaan Aldi yang tak henti membuatku tertawa bahagia. Akhirnya kami sampai di rumah. Kami pun menunggu keluargaku tiba. Tak lama kemudian mereka sampai.
"Cepat kali kalian ya," ucap Ibu.
"Ya, Bu. Aldi pembalap ni hahahah," ucap Aldi sambil tertawa.
__ADS_1
Setelah itu kami pun beristirahat, aku menyuruh Aldi untuk makan malam. Aku segera mengambilkan makanan di dapur. Dan Aldi pun mengikutiku dengan mengagetkanku
"Sayang, lapar ni," ucap Aldi.
"Ya, ni aku lagi ambilin makan buat kamu, ngagetin aja ih kamu," jawabku.
"Sayang, kamu suapin aku ya. Pengen disuapin sama kamu. Mana tau lebih enak makanannya," kata Aldi.
"Ih, udah besar makan sendiri dong kamu," jawabku.
"Yaudah, aku aja deh yang suapin kamu makan kalau gitu ya," jawab Aldi dengan senyum.
Aku pun menganggukkan kepala.
Lalu Aldi mulai menyuapiku makan, aku serasa jadi ratu. Aldi pandai sekali mengambil hatiku. Tapi, selalu saja muncul perasaan tidak enak ketika kami asyik berdua. Ntah kenapa perasaan itu selalu muncul. Aku tidak tau, aku hanya berharap semoga tidak ada penghalang hubungan aku dan Aldi. Karena sudah terlanjur sayang dengannya. Begitu banyak cerita kami, hampir tiap saat aku berjumpa dengannya.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakan semua itu jika hatiku dilukai olehnya.
Dengan tatapan kosong lalu Aldi memanggil ku.
"Viona.. sayang.. hei," panggil Aldi sambil mengipasi mataku dengan sebuah kertas.
Aku pun kaget.
"Ya, kenapa Bang Aldi," jawab ku.
"Kamu jangan mengkhayal heheh," ucap Aldi.
Dia masih saja meledekku. Lalu Aldi pun pamit pulang karena juga hari sudah malam.
"Abang harus pulang sayang, udah malam," ucap Aldi.
"Ya, hati - hati sayang," ucap ku.
Dan akhirnya Aldi pulang, hari ini cukup bahagia aku dibuatnya. Aldi yang selalu membuatku kesal ternyata bisa membuat moodku happy lagi. Aku pun mengganti pakaianku lalu bergegas untuk tidur.
__ADS_1