
Keesokan harinya, aku dan Aldi menyelidiki siapa yang sudah menerorku dalam seminggu ini. Aku sangat risih dengan teror itu, sampai-sampai, aku hampir celaka. Begitu sampai di kantor, aku langsung memasuki ruangan kerjaku. Aku berpikiran, pasti ada lagi teror itu. Dan ternyata, benar dugaanku. Sepucuk surat diatas meja kerjaku. Aku membuka surat itu.
"Putus atau celaka? Silahkan kamu pilih Viona". Apa coba maksudnya?.
Aku pun membuang surat itu ke dalam tong sampah. Saat itu, terdengar suara dari dalam kamar mandi sedang menyebut namaku. Aku penasaran, lalu berjalan kearah sana.
Kok mirip suara Gina, ya. Jangan-jangan dia lagi merencanakan sesuatu. Aku pun langsung merekam percakapan Gina yang sedang menelepon ntah dengan siapa itu. Setelah selesai merekam, aku lalu pergi ke arah meja kerjaku. Aku pun lanjut mengetik proposal. Tiba-tiba Gina masuk keruangku, dengan membawa dua minuman. Lalu, Gina menawari minuman itu.
"Hei, Vio. Ini aku bawain minuman dingin. Cuaca lagi panas gini enaknya minum beginian," ucap Gina sambil meletakkan minuman itu diatas mejaku.
"Makasih, Gin," tuturku.
__ADS_1
Gina pun pergi dari meja kerjaku. Aku pun tidak meminum minuman yang Gina berikan itu. Aku curiga, bahwa Gina akan merencanakan sesuatu kepadaku. Aku mengambil ponsel dari saku celana. Lalu, menghubungi Aldi. Aku menceritakan semuanya ke Aldi. Istirahat siang nanti, aku dan Aldi akan bertemu di kantin untuk melanjutkan perbincangan kami.
Jam menujukan pukul 11.40 WIB, proposal sudah selesai. Aku pun menuju ke ruangan Kevin untuk mengantarkan proposal itu. Setiba di ruangannya, Kevin tidak ada. Aku pun menanyakan kepada karyawan lain. Ternyata, Kevin sedang ada meeting. Aku pun melanjutkan ke kantin untuk menemui Aldi yang sudah menungguku.
"Udah lama sayang?" tanyaku. "Maaf lama, tadi ke ruangan Kevin mau antar proposal ini, tapi Kevin lagi meeting."
"Belum lama kok, baru juga sampai sayang," jawab Aldi.
"Pokoknya kita harus sama-sama waspada ya sayang. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Nanti aku temanin kamu ya ke ruangan Kevin. Kita harus bicarakan masalah ini," ucap Aldi.
"Terus Gina juga nawari minuman, tapi aku gak minum. Ya, takut aja ada apa-apanya," balasku.
__ADS_1
Aku dan Aldi pun melanjutkan untuk makan siang. Setelah makan, kami bergegas ke ruangan Kevin untuk mengantarkan proposal sekaligus menanyakan hal yang menjanggal ini. Setiba di ruangan Kevin, aku dan Aldi masuk.
"Permisi, Pak!!" lirihku sambil membuka pintu.
"Ya, masuk," jawab Kevin. "Oh, kamu Viona. Silahkan duduk!"
"Saya mau antarkan proposal, Pak. Udah siap," ucapku. " Sekalian mau memberi tau ke Bapak. Seminggu ini saya diteror, Pak. Saya gelisah, setiap hari dikirim ginian."
"Ya, Pak. Saya rasa ini kerjaan Gina. Coba selidiki Gina, Pak. Kasihan Vio, dia jadi ketakutan," tutur Aldi ke Kevin.
Aku pun meletakkan barang-barang hasil teror itu ke atas meja Kevin. Aku menceritakan semua yang aku alami dalam seminggu ini. Kevin pun tidak mengetahui kejadian yang kualami. Lalu, aku keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruang kerjaku.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Kevin yang sedang asyik bermain ponsel. Tiba-tiba, mendengar suara wanita yang sedang berbincang dengan seorang pria. Kevin langsung mencari tau, dan benar itu adalah Gina yang sedang berdiskusi dengan pria asing yang bukan bagian dari karyawannya. Kevin menaruh curiga ke Gina, lalu menelepon anak buahnya untuk memata-mati Gina.