KITA

KITA
Episode 14


__ADS_3

Jam menujukan pukul 19.00 WIB. Setelah aku bersiap - siap, tiba - tiba terdengar suara motor di teras rumah. Aku segera keluar. Ternyata Aldi.


"Cantik banget malam ini, mau ke mana sayang?" tanya Aldi.


"Kamu gak perlu tau," jawabku cuek.


"Kenapa? Kamu mau jalan sama Nicko?" tanya Aldi sedikit cemburu.


"Kok kamu malah nuduh aku, kebalik gak?" tanyaku balik ke Aldi.


Aldi diam tidak menjawab pertanyaanku.


"Kamu gak usah sok - sokan. Sehebat apa sih kamu menyembunyikannya!!!" sindirku ke Aldi.


"Aku gak ngerti, maksud kamu apa?" tanya Aldi.


"Gak ngerti? Kamu mau tau? Nih, apa maksud kamu ha?" tanyaku sambil menunjukan bukti foto yang sudahku siapkan.


Aldi terdiam saat aku menunjukan pesan dari Gina yang sudah discreen shot.


"Kenapa kamu diam? udah ketahuankan, gak bisa ngelak lagi," cetusku.


"Ya ampun sayang, ini saudara jauhku," jawab Aldi "Kamu cemburu lagi?"


"Saudara? Saudara kamu bilang, Al?" tanyaku dengan rasa tidak percaya.


"Ya sayang, ini saudaraku yang di kampung. Gina mau ke rumah nenek tapi gak ada yang antarin dan gak tau jalan juga dia. Kebetulan rumahku dengan rumah nenek dekat. Jadi, aku yang jemput dia," jawab Aldi.


Aku pun dibuat yakin dengan Aldi, sehingga secepat itu percaya bahwa Gina adalah saudara jauhnya. Aldi pun membujukku dengan membelikanku ice cream dan cokelat.


"Sayang, ni hadiah buat kamu. Jangan marah - marah lagi ya. Percaya sama aku," ucap Aldi.


"Ya sayang, maafin Vio udah nuduh kamu," jawabku.


Aku tidak bisa 100% percaya dengan mu, Bang. Tidak mungkin Gina saudara mu. Apalagi sampai janjian gitu, mesra lagi chatingannya.


Ponsel Aldi berbunyi, dia mulai gelisah.


"Kenapa gak kamu angkat?" tanyaku.


"Temanku sayang, males. Paling ngajak main band," jawab Aldi.

__ADS_1


"Ya udah angkat aja, aku kan gak marah," ucapku.


Lalu Aldi mengangkat telepon itu. Dan dia sedikit menghindar dariku. Aku pun menguping pembicaraan Aldi diponsel itu. Tapi sayangnya tidak terdengar, karena suara Aldi yang berbisik - bisik. Aku pun menghampirnya.


"Eh, kamu ngomong kok bisik - bisik. Kenapa?" tanyaku curiga.


Aldi langsung mematikan teleponnya.


"Kenapa diam? Terus kenapa kamu kayak ketakutan gitu? Ada apa sih?" tanyaku lagi.


"Tidak apa - apa sayang. Yuk, kita duduk di sana lagi," jawab Aldi mengalihkan pembicaraan.


"Sayang, kamu bohong lagi ya?" tanyaku.


"Enggak kok, aku gak bohong ke kamu. Sayang, aku numpang toilet ya," jawab Aldi.


Aldi masuk ke dalam rumah, aku melihat ponselnya tertinggal di meja teras rumah. Dengan rasa penasaran, aku membuka ponselnya. Ternyata ada pesan via SMS dari Gina. Aku kaget, dan langsung membaca pesan itu. Ternyata, Gina sudah menunggu Aldi di Mall. Aku cepat - cepat menghapus pesan dari Gina diponselnya Aldi, agar Aldi tidak curiga. Aku segera menyimpan nomor Gina diponselku dan menaruh ponsel Aldi di atas meja. Aldi pun datang.


" Sayang, kamu ada lihat HPku?" tanya Aldi sambil memeriksa saku celananya.


"Ini HP kamu tinggal di meja, tadi aku mau mengantarkan ke kamu, tapi kamu udah keburu masuk. Ya udah, aku biarin aja disini," jawabku.


"Sayang, sekarang jam berapa?" tanya Aldi.


"Bener nih? Ya udah, aku pulang ya sayang," jawab Aldi dengan semangat.


Lalu, Aldi pun pulang. Aku lalu menelepon Nicko dan Tari, aku menyuruh mereka untuk menjemputku. Sambil menunggu mereka, aku duduk di kursi teras rumah.


'Aku tidak bodoh, bisa - bisanya Aldi membohongiku. Apa dia lupa dengan janjinya itu. Laki - laki memang pandai bersilat lidah.'


Tari dan Nicko pun sampai, mereka langsung mengajakku untuk mendatangi Aldi dan Gina.


"Tunggu dulu, aku mau mengerjain Gina," ucapku.


"Kamu dapat nomornya, Vio?" tanya Tari.


"Ya, barusan Aldi pulang. Aku melihat isi pesan di HP Aldi. Gina udah nungguin dari tadi," jawabku ke Tari.


Aku pun mengirim pesan via SMS ke Gina. Gina merespontku dengan cepat. Setelah 5 menit membalas SMS dari Gina. Aku pun menceritakan ke Tari dan Nicko apa yang dibilang Gina soal Aldi.


"Ternyata, Gina itu satu kerja sama Aldi. Dia magang disana," ucapku.

__ADS_1


"Terus, Vi?" tanya Tari.


"Ya, benar. Mereka itu udah dekat dari tiga hari yang lalu. Bahkan Aldi juga pernah mengantarkan Gina pulang. Ih, serius kesal guys," ucapku dengan rasa kecewa.


"Memang tu si Gina, kemarin dia deketin aku cuma manfaatin aja. Sekarang Aldi lagi yang dideketin," ucap Nicko dengan nada marah.


Kami pun masuk ke dalam mobil Nicko.


Diperjalanan aku meneteskan air mata, aku mencoba menahan tangisanku agar tidak ada yang tau.


"Vio, udah kamu jangan sedih ya. Kita selesaikan semuanya malam ini juga," ucap Nicko kepadaku.


"Ya, Bang. Aldi melanggar janjinya. Padahal dia udah bahas pernikahan, sanggup dia jalan sama cewek lain," ucapku sambil meneteskan air mata.


Sesampainya di Mall, kami segera memarkirkan mobil. Tak lama kemudian, aku melihat Aldi dan Gina di pintu masuk Mall.


Aku melihat Aldi dan Gina duduk berhadapan sambil memesan minuman. Tak lama kemudian, Gina memegang tangan Aldi dan mereka saling pandang.


"Apa harus aku menunggu lagi? Lihat apa yang Gina dan Aldi buat. Hiks.. hiks.. " ucapku sambil memeluk Tari dan meneteskan air mata.


Aku pun berlari menuju meja Aldi dan Gina duduki. Aldi terkejut melihat kehadiranku dihadapannya.


"Jadi ini? Ini saudara jauh mu itu? Saudara yang kamu maksud tadi? Kalian pegang - pegangan tangan gini? Saudara?" tanyaku dengan emos.


"Vi...Vio.. tunggu dulu, aku bisa jelasin," jawab Aldi terbata - bata.


"Dan kamu, Gina. Tega merebut Aldi dari aku. Sementara kamu udah punya Nicko gebetan kamu. Kamu gak puas ya dengan satu lelaki? Kamu kan tau aku pacar Aldi. Apa kurang puas mata kamu dengan foto profil Aldi di Facebook?" tanyaku ke Gina dengan penuh rasa marah.


Gina pun terdiam dan menunduk.


Aku pun menyiram wajah Gina dengan air mineral yang ada di hadapannya.


"Nih, buat kamu, Gina. Cewek yang udah merusak, merebut pasangan orang. Silahkan kamu ambil Aldi!!!" ucapku ke Gina.


Aku pun pergi meninggalkan mereka berdua dengan tangsian yang mendalam. Aldi mengejarku dan menarik tanganku.


"Sayang, maafkan aku. Aku udah bohongin kamu," ucap Aldi dengan rasa penyesalan.


Aku melepaskan tangan Aldi dan pergi menjumpai Tari dan Nicko. Mereka menenangkanku lalu mengantarkan pulang. Aldi sibuk meneleponku. Aku pun mematikan ponselku. Sesampainya di rumah, aku langsung berpamitan dengan Tari dan Nicko. Lalu masuk ke dalam rumah. Ku lihat Ibu dan Ayah sudah tidur. Aku pun masuk ke kamar, aku masih mengingat kejadian tadi. Air mataku tak terbendung malam ini. Benar - benar sakit hati dengan sikap Aldi yang sudah membohongiku.


Jam menujukan pukul 23.00 WIB aku pun melanjutkan untuk tidur.

__ADS_1


Semoga aku bisa lupa dengan kejadian malam ini.


__ADS_2